cinta dalam luka

cinta dalam luka
bab 11


__ADS_3

Karena kelelahan Arsya beristirahat di Sofanya. Perlahan iya tertidur karena terus bergadang beberapa hari.


Samar samar iya merasakan sesuatu yang hangat menyentuh kakinya.


"elvano" Arya kaget melihat elvano yang sudah duduk di sampingnya dengan rapi.


Arsya langsung duduk menghadap elvano dengan refleks.


"mengapa kau ada di sini" tanya Arsya.


"aku lapar" ucap elvano santai


"hah.. " Arsya merasa aneh dengan jawaban elvano.


Jika lapar mengapa datang kerumah sakit. Apa otaknya bermasalah. Ini rumah sakit bukan restauran"


"jika kau lapar kau bisa pergi ke restauran. Disini tidak menyediakan makanan" ucap Arsya bangkit dari kursinya seraya mengingat rambutnya yang terurai.


brukkk.


Tangan Arsya di tarik oleh elvano sehingga membuat Arsya jatuh di atas tubuh elvano dengan wajah yang saling berhadapan hingga membuat keduanya dapat merasakan nafas satu sama lain.


"aku tidak mau. Kau istriku. Apa kau pikir aku menikahi mu hanya untuk bersenang senang" ucap elvano seraya semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Arsya sehingga bibir keduanya hampir bersentuhan.


Arsya membulatkan matanya mendengar ucapan elvano juga dengan elvano yang semakin dekat dengannya.


Arsya langsung bangkit dari tubuh elvano namun di tarik kembali hingga tanpa sengaja bibir keduanya saling bersentuhan.


lagi lagi Arsya mendorong tubuh elvano dan berhasil menjauh darinya.


"apa kau gila. Mengapa kau menarikku. Sudah aku katakan di sini tidak ada makanan." ucap Arsya dengan wajah yang kesal.


"kalau begitu masaklah" ucap elvano


"hah. ini rumah sakit tempat semua orang sakit berkumpul untuk berobat. Bukan tempat untuk memasak dan memuaskan perutmu" ucap Arsya


"kalau begitu ikut aku pulang dan masaklah"


"tidak bisa. Aku masih memiliki pekerjaan disini. masih banyak pasien yang membutuhkan ku"


"satu juta untuk satu jam"


"kau.."


"jika menolak. Aku akan mencabut izinmu untuk kembali menjadi dokter." ancam elvano.


mendengar ancaman elvano Arsya tak bisa menolaknya. Mau tidak mau iya harus menurutinya. Sejak kapan iya jadi begitu gila. bahkan untuk makan saja harus merepotkan ya. Padahal iya punya banyak pelayan di rumah nya.


"cepatlah. waktuku tidak banyak" ucap Arsya seraya berjalan keluar.


tanpa Arsya sadari tersurat sebuah senyum kecil di wajah elvano melihat Arsya tanpa berkedip.


Saat berjalan Arsya merasakan kakinya sudah tidak sakit lagi seperti sebelumnya.


"apa dia yang membatu mengobati kakiku" ucap Arsya dalam hati seraya melihat elvano di belakangnya.


"tidak mungkin." ucap Arsya seraya mempercepat langkahnya di ikuti oleh elvano di belakangnya.




Arsya terlihat sedang memasak sesuatu di dapur. Karena tidak mau menunggu lama elvano menghampiri Arsya untuk melihat apa yang akan di masak Arsya.



"kau benar memasak kan. Bukan menghancurkan dapurku" ucap elvano yang tengah berdiri tidak jauh dari Arsya.



"jika kau tidak bisa menjaga mulutmu sebaiknya kau pergi saja" ucap Arsya tidak senang.



"aku tidak tau sejak kapan kau bisa masak"



"jika begitu mengapa kau memintaku untuk masak" ucap Arsya sedikit cemberut.



"hanya iseng".



"kau. Sudahlah. kali ini aku tidak akan berdebat denganmu".



Elvano hanya terus memperhatikan apa yang akan Arsya masak. Setelah beberapa saat akhirnya Arsya selesai memasak.


__ADS_1


"yah. Akhirnya selesai." ucap Arsya tertawa senang seraya mengambil sebuah kue yang iya buat.



"kue??" tanya elvano.



"maaf. Aku tidak bisa masak. Selain membuat kue ini aku tidak tahu harus masak apa" ucap Arsya yang sedikit takut jika elvano tidak suka dan akan marah padanya.



"ku harap ini tidak membunuhku" ucap elvano mengambil kue dari tangan Arsya dan memperhatikan setiap bentuknya.



"suapi aku" ucap elvano membuat Arsya kembali terkejut.



"tidak. Kau punya tangan. Lagipula aku akan kembali kerumah sakit. jadi makan lah sendiri". Tolak Arsya.



"tiga juta untuk satu suapan"



"tidak"



"lima juta"



"tidak"



"tujuh juta"



"elvano stop."




"ok. Aku suapi sampai kenyang" ucap arsya dengan senyum paksa.



Arsya kemudian mengambil sebuah Sendok lalu mengambil kue itu dengan sendoknya dan memberikannya pada elvano .



![](contribute/fiction/7640002/markdown/5641180/1696179553763.jpeg)



"rasanya terlalu manis. Lain kali kurangi gula di dalamnya" ucap elvano.



"sudahlah. Kalau begitu tidak usah dimakan saja"



Arsya lalu ingin mengambil kue di tangan elvano namun di tarik oleh elvano



"makananku adalah milikku. Walaupun terlalu manis kau tidak bisa mengambilnya" ucap elvano membawa kue itu pergi menuju ruang makan.



Elvano lalu duduk di kursi makan dan kembali meminta Arsya untuk menyuapinya.



Mau tidak mau Arsya harus menyuapinya. Itu juga di lakukan demi mendapat uang dari elvano.



Saat tengah menyuapi elvano. Lagi lagi elvano menarik tangan Arsya hingga membuatnya terduduk di paha elvano. Namun saat akan bangkit elvano menahan tubuh Arsya.



"Van. Lepasin aku" ucap Arsya sedikit khawatir di wajahnya.


__ADS_1


"stttt... diam saja dan terus suapi aku" ucap elvano seraya tangannya memeluk pinggang Arsya membuat Arsya semakin tidak tenang.



"elvano. A.. Aku.. Aku tidak bisa. Tolong lepaskan." ucap Arsya yang terus bergerak melepaskan diri dari elvano.



mata Arsya terbelalak saat tangan elvano masuk melalui pakaiannya.



"ja.. Jangan"



tanpa mendengarkan ucapan Arsya tangan elvano semakin dalam masuk kedalam tubuh Arsya melalui sela sela pakaiannya.



Elvano kemudian mencium leher Arsya yang membuat Arsya terpejam merasakan hangat nafas elvano.



"elvano.."



Elvano tiba tiba saja menarik wajah Arsya kemudian mencium bibir Arsya sehingga membuat Arsya kesulitan bernafas.



"huh..ugh.. Ehmm.."



Elvano seperti menggila bermain di ruang makan. Di tempat terbuka.



namun entah mengapa kali ini Arsya seperti merasakan sedikit kelembutan. Berbeda dari biasanya yang di lakukan elvano dengan kasar dan brutal padanya.



"elvano. Sudah. Jangan begini. nanti ada yang melihat. plis. Aku harus kembali kerumah sakit" ucap Arsya.



"tidak perlu kembali. Kau bisa kembali besok saja"



"ha..apa. Tidak aku\_"



Belum sempat berbicara tubuh Arsya sudah di gendong saja oleh elvano sehingga membuat ucapan Arsya terputus..



Elvano membawa Arsya kembali kekamar. nafsunya saat melihat Arsya kembali memburu. Iya melakukan hubungan itu lagi bersama Arsya.



![](contribute/fiction/7640002/markdown/5641180/1696250138017.jpeg)



(duh mau kasihan juga ma Arsya. Seminggu bisa berkali kali di embat oleh elvano)



Arsya menikmati malam itu. Elvano bersikap lebih lembut sehingga Arsya bisa ikut dalam permainan elvano



Namun Arsya sadar. Sekarang iya bukan hanya istri namun juga sebagai penghangat ranjang elvano.



Dengan sedikit trik dari elvano Arsya merasa bodoh karena mudah tertarik begitu saja.



Iy benar benar telah jatuh kedalam genggaman elvano. Tidak ada kesempatan lagi baginya untuk pergi.



Tidak peduli mau bagaimana. saat ini Arsya juga sudah begitu bergantung dengan elvano. Untuk biaya pengobatan ibunya iya hanya bisa mengandalkan elvano untuk menghasilkan uang. Iya tidak bisa memprovokasi elvano. Atau iya akan kehilangan biaya pengobatan ibunya yang sudah payah iya dapatkan.



DUKUNG AUTHOR YA BIAR SEMANGAT UPDETNYA

__ADS_1


__ADS_2