
"gak mungkin. Elvano gak mungkin melakukan hal ini" Arsya tidak ingin mempercayai perkataan wanita itu.
Dari dulu elvano selalu baik. Iya tidak mungkin membunuh apalagi menyiksa orang lain hingga begitu biadab seperti iblis.
Saat tengah memikirkan elvano dada Arsya terasa sakit. dadanya seakan membuatnya sulit bernafas. Kepalanya juga begitu sakit.
Arsya kemudian berlari menuju kamarnya dan mengambil obat yang iya simpan di kamarnya
Arsya meminum beberapa obat nya dan merasa jantung nya lebih baik setelah meminumnya
"aku harus percaya pada elvano. Dia tidak sekejam itu. Ini pasti hanya bualan orang orang itu”.
Namun walau Arsya menolak untuk mempercayainya namun pikirannya masih saja terganggu dengan bayangan foto foto itu.
Arsya kemudian memutuskan untuk mencari kebenaran yang di katakan oleh lita.
Arsya berjalan menuju ruang kerja elvano. Iya mulai mencari bukti yang dikatakan Lita yang di simpan elvano di ruang kerjanya.
Setelah mencari-cari Arsya masih tidak menemukannya. Arsya semakin yakin apa yang di katakan oleh lita hanya lah kebohongan.
Namun Arsya melihat sebuah brankas di lemari elvano. Arsya berpikir ingin membuka brankas itu namun memerlukan kata sandi untuk membukanya.
Arsya mencoba memasukkan kata sandi mulai dari ulang tahun elvano hingga yang lainnya namun tidak berhasil. Saat hampir putus asa Arsya kemudian mencoba membukanya menggunakan tanggal ulang tahunnya. Ternyata benar saja brankas itu terbuka.
Arsya mengambil beberapa kertas yang tersimpan rapi di dalam brankas itu. Arsya melihat sebuah amplop coklat lalu mengambilnya. Iya melihat dan membuka isi map itu.
Benar saja itu adalah foto yang hampir sama dengan yang di berikan Lita pada Arsya sebelumnya. Bahkan di dalamnya ada beberapa foto Luna dan gadis yang di temuinya saat malam pesta itu.
di foto itu terlihat wanita wanita itu penuh dengan luka dan memar. Terlihat dari wajah mereka sangat frustasi.
Arsya semakin sulit untuk menerima kenyataan seperti ini. Iya benar benar takut sekarang. Iya takut apa yang di katakan Lita itu benar.
Iya takut elvano hanya terobsesi saja padanya lalu bosan dan membuangnya lalu menyiksanya seperti yang iya lakukan pada wanita wanita itu.
"kenapa. Kenapa jadi begini. Ini tidak benar."
perlahan pandangan Arsya mulai menghilang lalu kehilangan kesadarannya di ruang kerja elvano dengan kertas yang masih di tangannya.
Tak lama akhirnya Arsya terbangun dan melihat iya masih ada di ruang kerja elvano. Hanya saja waktu terlihat telah gelap menandakan iya sudah tidak sadarkan diri seharian.
Arsya berusaha bangkit dengan tubuhnya yang lemah dan kepala yang pusing. Iya rasanya ingin segera pergi dari tempat itu.
Arsya berjalan perlahan dengan bantuan tembok di sampingnya. Saat keluar dari ruang kerja elvano Arsya tak sengaja berpapasan dengan elvano yang mencari dirinya ke mana mana.
"Arsya." elvano meraih Arsya. iya melihat wajah Arsya yang pucat dengan tubuh yang berantakan. Di tangannya terlihat memegang sebuah kertas.
Saat elvano ingin menyentuh Arsya. Arsya segera mundur kebelakang dan hampir membuatnya terjatuh kelantai jika elvano tidak menangkapnya.
"ada apa Arsya" tanya elvano khawatir.
"tidak. Tidak apa apa. sepertinya aku terlalu kelelahan karena membantumu membersihkan ruang kerja ini" ucap Arsya seakan tidak terjadi apapun.
"mengapa kau harus melakukannya. Banyak pelayan yang akan membersihkannya." ucap elvano tidak tega melihat Arsya kelelahan.
"hehe. iyiy."
elvano menggendong tubuh Arsa tanpa aba aba membuat Arsya terkejut.
__ADS_1
"elvano. Apa yang kau lakukan. turunkan aku" ucap Arsya.
"Sttt.. Tenanglah. Aku akan membawamu istirahat. Kau sudah terlalu lelah hari ini bukan" ucap elvano seraya berjalan menuju kamar mereka.
Di dalam kamar Arsya di letakkan di atas kasurnya dengan perlahan. Elvano lalu keluar dan mengambilkan segelas air untuk Arsya minum.
"elvano.." panggil Arsya dengan tatapan lembut.
"ada apa."
"tidak. Tidak apa apa. Bisakah malam ini aku tidur di pelukanmu" tanya Arsya dengan wajah seperti bersedih.
"ada apa denganmu. Kau bisa melakukannya tanpa bertanya."
Elvano kemudian duduk di ranjangnya dan di sambut pelukan oleh Arsya.

Arsya pun tertidur di pelukan elvano. Elvano menatap Arsya dengan aneh namun tidak begitu iya hiraukan. Iya cukup senang Arsya berinisiatif meminta pelukan darinya.
Elvano menatap Arsya yang sedang tertidur pulas lalu mengecup pipinya.
Pagi harinya Arsya terbangun dengan posisi masih memeluk elvano. Iya ingin bangun namun pelukan elvano semakin erat sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.
"tidurlah sebentar lagi. Aku masih ingin memelukmu" ucap elvano dengan mata yang masih terpejam.
"tapi aku harus bekerja.".
"hanya sebentar saja."
"huh.. Baiklah." Arsya pasrah dan tetap berada di pelukan elvano dengan santai.
Tanpa sadar Arsya kembali tertidur dan kembali terbangun tak lama kemudian.
"Ahhhh... Ini sudah terlambat" teriak Arsya.
Arsya dengan terburu buru bersiap siap hendak kerumah sakit.
"dasar elvano brengsek. Dia yang membuatku tertidur sekarang dia yang pergi entah kemana tanpa membangunkan ku" Arsya kesal dengan elvano.
__ADS_1
Dengan langkah yang cepat Arsya kemudian berjalan keluar kamarnya.
"mengapa terburu buru nona" ucap sebuah suara yang sangat terdengar familiar.
"huh.. Kau masih bisa bersantai setelah membuatku terlambat" ucap Arsya melihat elvano dengan santai memakan sarapannya.
"kau tenang saja. Aku sudah menghubungi departemen rumah sakit kau sedang ada kesibukan jadi akan datang terlambat jadi sekarang kau bisa duduk dan makan sarapan mu." ucap elvano santai seraya memakan sarapannya.
"apa. Kau kira rumah sakit itu milikmu" ucap Arsya seraya duduk dan meminum susu yang telah di sediakan.
"kalau aku bilang aku sudah membelinya bagaimana"
"puffttt..." Arsya menyemprotkan susunya keluar mendengar elvano membeli rumah sakit tempat iya bekerja.
Yang benar saja. Itu rumah sakit terbesar Lo. Bagaimana bisa di beli dengan begitu mudah.
"jangan bercanda denganku. Itu tidak lucu" ucap Arsya mengelap mulutnya yang kotor dengan tisu karena susu.
Ting...
Ponsel Arsya berbunyi menandakan pesan masuk. Pesan itu berasal dari elvano yang ada di sampingnya. Arsya merasa heran dengan pesan itu lalu membukanya.
Arsya kembali dikejutkan dengan bukti bahwa elvano benar benar telah membeli rumah sakit tempat nya bekerja.
"elvano. Apa kau sudah gila. U tuk apa kau melakukan nya." tanya Arsya melihat kegilaan elvano.
"aku hanya suka saja dengan rumah skit itu. Jadi membelinya. Jika kau mau aku bisa memberikannya untukmu" ucap elvano dengan santai seraya meminum teh nya.
"sepertinya kau benar benar sudah gila. Aku harus membawamu kerumah sakit secepatnya".
"untuk apa. Bukankah aku punya dokter pribadi 24 jam di rumahku sekarang " elvano tersenyum menatap Arsya.
"si..siapa yang mau jadi dokter mu" Arsya sedikit salting melihat tatapan elvano padanya.
"baiklah. Kau makanlah sarapan mu aku akan mengantarmu kerumah sakit nanti."
"tidak perlu. kebetulan aku ingin ke beberapa toko untuk membeli sesuatu. kau tidak perlu mengantarku" tolak Arsya yang tidak ingin elvano mengantar nya.
"baiklah. Ikut apa katamu saja".
LIKE NYA JANGAN LUPA SAYANK..
__ADS_1
BINTANG DAN DUKUNGANNYA SANGAT BERARTI BUAT AUTHOR🥺🤧