
Terkadang setiap pulang sekolah Arsya akan bekerja paruh waktu. Begitu pula dengan elvano mereka bekerja bersama untuk membangun masa depan indah bersama.
"kalian sudah pulang" sambut ibu Arsya yang baru kembali dari pasar.
"mama." ucap Arsya.
"nak elvano. ayok masuk dulu. Tante akan memasakkan makanan untuk kalian" ajak ibu Arsya.
"sungguh. Tapi bagaimana jika aku saja yang memasak bagaimana Tante" elvano sudah sangat dekat dengan ibu Arsya.
"kamu masak. Nanti dapur Tante hangus gimana.hehe" canda ibu Arsya.
"ma. Elvano itu jago masak. Mama tenang aja" bela Arsya melihat ibunya menggoda elvano
"baik baik. Terserah kalian saja" pasrah ibu Arsya
"sini Tante biar aku bawa" elvano mengambil tas belanja ibu Arsya dan membantunya membawa tas itu.
Arsya lalu memeluk memeluk ibunya sambil berjalan memasuki rumah.
Elvano lalu bersiap memasak di dapur. Sementara Arsya dan ibunya hanya menunggu saja. awalnya ibu Arsya ingin membantu namun di larang oleh elvano.
Setelah beberapa saat akhirnya elvano selesai memasak makanannya dan menghidangkan nya di meja makan.
"wah... Ini terlihat lezat" ucap Arsya seraya dengan cepat mengambil makanan diatas meja.
"Arsya belajarlah dari elvano." ucap ibu Arsya yang mengakui kehebatan masak elvano.
"tidak perlu ibu. Jika aku menikah nanti elvano yang akan memasak untukku" ucap Arsya dengan mulut yang penuh makanan.
"iya Tante. aku akan selalu memasak untuknya." bela elvano.
"hais.. Dasar anak muda" ibu Arsya pasrah melihat pasangan di depannya.
Merekapun akhirnya makan bersama dengan senang.
Terutama Arsya. Iya paling suka dengan masakan elvano yang terkesan sangat lezat.
Hari hari mereka lewati hingga bahagia. Hingga suatu hari Arsya dan elvano tidak bertemu selama tiga hari.
Elvano selalu menjemput Arsya ke sekolahnya setiap pulang sekolah namun tidak pernah bertemu dengannya.
Elvano juga pergi mencari Arsya ke tempat biasa iya bekerja. Namun hasilnya masih sama. Arsya tidak ada di sana.
Setelah tiga hari elvano melihat Arsya sedang masuk kedalam sebuah mobil mewah bersama dengan seorang pria.
"Arsya" panggil elvano seraya menghampiri Arsya di mobilnya
"kemana saja kau. Mengapa tidak menghubungiku." tanya elvano.
Elvano terlihat senang saat melihat Arsya lagi
__ADS_1
"elvano. Sebaiknya mulai sekarang kau menjauh dari ku" ucap Arsya.
"apa?. Apa yang kau katakan Arsya." tanya elvano.
Arsya kemudian keluar dari mobilnya.
"elvano. Kau harus nya sadar diri. kau itu miskin. Aku cantik dan berbakat bagaimana mungkin menghabiskan sisa hidupku bersama orang seperti mu" ucapan Arsya membuat elvano shock.
elvano tidak percaya Arsya akan mengatakan kata kata seperti itu.
"sayang. Siapa lelaki ini" ucap seorang pria seraya merangkul pinggang Arsya.
"dia. Hanya pengemis saja"
"Arsya. Kau pasti sedang bercanda denganku kan. Ayolah Arsya. Ini tidak lucu" ucap elvano menarik tangan Arsya.
"elvano kau harus sadar. ini adalah kekasih ku. iya sangat kaya. Iya memiliki segala yang aku inginkan. Berbeda denganmu. bahkan tidak bisa membelikan ku sepasang pakaian" ucap Arsya merendahkan elvano seraya melepaskan tangannya dari elvano.
"Arsya. Kau_"
"hais.. Kau benar benar keras kepala. Pergilah jangan mengganggu aku lagi".
"Arsya" elvano memegang tangan Arsya kembali.
"hei. Kau tidak dengar. Pacarku memintamu untuk pergi. Lebih baik kau pergi saja" ucap pria di samping Arsya.
"sayang ayo masuk" pria itu membawa arsya masuk ke dalam mobilnya.
elvano meremas uang di tangannya. Iya tidak terima di campakkan dan dihina begitu saja. Jika bukan demi bersama Arsya dia juga tidak mungkin ingin menderita seperti ini.
"Arsya. Kau pikir uangmu ini bisa menyelesaikan segalanya" ucap elvano dengan bibir bergetar karena amarah.
saat elvano tengah emosi menatap kepergian Arsya ibu elvano menghampiri nya.
"bukankah sudah ibu katakan. Tidak ada wanita yang akan setia denganmu saat susah" ucap ibu elvano.
"lihatlah sekarang. Iya mencampakkan mu dan memilih pergi bersama dengan pria lain yang baru di kenalnya tanpa menoleh"
Ucapan ibu elvano semakin membuat darah elvano mengalir dengan deras dalam dirinya.
Ingin rasanya iya menghancurkan Arsya dan pria di sampingnya.
sejak saat itu elvano bersedia pergi keluar negri hingga tiga tahun lamanya.
Lalu setelah kembali elvano mendengar bahwa Arsya sedang membutuhkan pinjaman uang yang besar. Elvano lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk memancing Arsya kembali kepadanya untuk membalaskan sakit hatinya.
Kembali kemasa sekarang
Arsya berada di ruangan ibunya. Bersama ibunya akan membuat nya lebih tenang.
Setelah beberapa saat Arsya keluar dari ruangan ibunya dan pergi dari rumah sakit.
hingga larut malam Arsya minum beberapa alkohol untuk meredakan pikiran nya.
__ADS_1
Arsya kemudian berjalan di jalanan dengan sebuah botol anggur di tangannya. Ini pertama kalinya iya begitu putus asa hingga minum banyak anggur.
Arsya merasa takdir benar benar mempermainkannya. iya seperti dihujani belati bertubuh tubuh di tubuhnya.
Arsya terus berjalan dengan sempoyongan hingga terhenti di sebuah jembatan.
Arsya terlihat begitu berantakan. Entah berapa banyak botol wine yang sudah di habiskan ya. Walau kadar alkoholnya rendah namun karena Arsya yang tidak bisa minum alkohol itu tetap membuatnya mabuk berat.
Ahhhhhhh....
Arsya berteriak di sisi jembatan menghilangkan rasa sakit di hatinya. Kemudian menangis di tempatnya.
saat tengah menangis arkha kebetulan lewat dari tempat itu dan menemukan Arsya dalam kondisi yang tidak baik.
"Arsya"
arkha mendekati Arsya yang tengah mabuk. Iya merasa khawatir melihat kondisi Arsya.
"Arsya apa yang kau lakukan. Berikan ini" arkha berusaha mengambil botol alkohol Arsya dan ingin menjauhkan nya.
"tidak. Jangan ambil. Biarkan aku minum sedikit lagi" ucap Arsya merengek.
"apa yang kau lakukan sya. Ada apa. Mengapa kau seperti ini." tanya arkha.
"huhuhu...arkha. Takdir begitu kejam padaku. Aku capek arkha" Arsya kemudian menangis di dada arkha.
arkha prihatin melihat kondisi Arsya. arkha berpikir ini adalah perbuatan elvano yang bersikap tidak baik pada Arsya sehingga menyebabkan tekanan pada Arsya.
"arkha biarkan aku minum sedikit saja" rengek Arsya kembali
"tidak. Kau sudah mabuk. Aku akan membawamu kembali" ucap Arsya seraya mengangkat tubuh Arsya yang mabuk.
"tidak..tidak..tidak mau. Aku mau minum" Arsya memberontak dan berusaha turun dari gendongan arkha.
"Arsya. Kau sudah mabuk. Jika kau tidak nurut aku akan sangat marah"
"jangan. Jangan marah. Jika kau marah padaku siapa yang akan bersikap baik padaku nanti" ucap Arsya lalu bersikap tenang di dekapan arkha.
melihat Arsya mulai tenang arkha ingin membawa Arsya kembali karena cuaca sangat dingin dengan pakaian tipis Arsya akan mudah sakit.
Brukkk...
Tiba tiba saja seseorang memukul wajah arkha dan hampir membuatnya terjatuh bersama Arsya. Orang itu adalah elvano yang tidak senang melihat arkha bersama dengan Arsya.
"elvano" ucap arkha lalu meletakkan Arsya agar tidak terganggu.
"sudah aku katakan berhenti mengganggu istri ku"
"istri. Apa kau memperlakukan nya sebagai istri. Aku tau kau selalu bersikap tidak baik dengannya." ucap arkha.
"kau tidak berhak ikut campur dalam hubungan kami".
__ADS_1