cinta dalam luka

cinta dalam luka
bab 12


__ADS_3

Pagi hari Arsya membuka matanya. Iya berada di kamarnya dengan kondisi tidak berpakaian namun tertutup selimut.


Tubuhnya terasa hangat karena berada di pelukan elvano. Jarang sekali Arsya membuka mata dan langsung melihat elvano di sampingnya


Perlahan Arsya bangun dari tempat tidurnya. Iya berhati hati agar tidak membangunkan elvano.


Degh..


Tiba tiba saja Arsya merasakan dadanya sedikit sakit dan nyeri.


"ugh. Sepertinya aku terlalu kelelahan." ucap Arsya seraya berjalan kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"huh. sudah berhari hari. Apa yang harus aku lakukan agar ibu bisa segera sembuh." ucap arsya seraya membersihkan tubuhnya dengan air shower.


Saat sedang mandi tiba tiba saja elvano masuk kedalam kamar mandi.


"ah. mengapa kau masuk" ucap Arsya seraya menutupi tubuhnya yang tak berbusana.


"apa yang kau lakukan. kau tidak perlu menutupinya. Aku sudah berulang kali melihatnya bahkan menyentuhnya" ucap elvano seraya mendekap tubuh Arsya.


Arsya tertunduk malu mendengar ucapan elvano. walau sudah berulang kali berhubungan namun rasa canggung terhadap elvano masih di rasakan Arsya.


"mengapa kau bangun begitu cepat. Apa kau ingin menggodaku kembali" ucap elvano seraya menyentuh dagu Arsya.


"tidak. Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman saja. Jadi aku_".


"benarkah. Jadi jika di sini kau merasa nyaman"


"apa??. Bukan. Apa yang kau katakan"


elvano sedikit tersenyum melihat ekspresi Arsya saat elvano menggodanya.


"tidak perlu berbohong. Jika kau mau bermain di sini tidak masalah. Aku akan senang hati menemanimu".


"ha.. Tidak perlu. Aku.. Aku sudah selesai. Aku akan pergi dulu."


Saat Arsya hendak pergi Arsya terpeleset karena jalan terburu buru dan tak berhati hati. Arsya jatuh menimpa tubuh elvano hingga posisi Arsya tertumpu di atas tubuh elvano dengan posisi benda milik elvano dan milik Arsya bersentuhan.


"sepertinya kau benar benar senang bermain kabur dan jatuh" ucap elvano merasakan benda miliknya mulai bangkit.


Arsya yang terkejut saat merasakan milik elvano dan segera bangkit. Dengan wajah yang malu Arsya berlari keluar dari kamar mandi.


"sial. Padahal hanya tersentuh sedikit. Mengapa jadi begini" ucap elvano yang hampir tidak bisa mengendalikan dirinya.


Elvano lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap itu bisa meredakan panas di tubuhnya.


"huh.. Astaga. Arsya sadar." ucap Arsya yang naik ke atas kasur dan melilit tubuhnya dengan selimut.



"apa yang kau pikirkan. Otakmu mesum Arsya" ucap Arsya pada dirinya sendiri. dirinya begitu salah Tingkah.




Arsya saat ini kembali di sibukkan dengan pekerjaan rumah sakit. Banyak tugas yang harus iya kerjakan. Bahkan ada beberapa jadwal operasi yang harus iya lakukan.



tok..tok..tok.



Pintu ruangan Arsya di ketuk oleh seseorang. terlihat arkha memasuki ruangan itu.



"arkha"

__ADS_1



"maaf apa aku mengganggu mu"



"tidak." ucap Arsya cuek.



"sya. Mengapa kau menghindari ku."



"tidak. Hanya saja ada beberapa hal yang belum selesai aku kerjakan. Jadi tidak bisa terlalu banyak bicara"



"bukan itu maksudku. Aku bertanya tentang beberapa hari ini. Mengapa kau begitu menghindari ku bahkan saat kita berpapasan saja"



bagaimana tidak. Arsya harus menjauh dari arkha. Arsya tidak ingin arkha terluka nanti seperti waktu itu jika dia terus dekat dengan Arsya.



Jika Arsya menjauh setidaknya arkha akan aman.



"apa karena pria itu." tanya arkha namun hanya di jawab diam oleh Arsya.



"jika memang karena pria itu aku tidak masalah. kau tidak perlu takut dengannya. Aku tahu kau tidak bahagiakan menikah dengannya" ucap arkha.




"sya. Kita sudah bersama bertahun tahun. Kau pikir aku bodoh."



Arsya hanya terdiam. Tentu saja dia tau. tidak mudah menipu arkha. Selama ini iya begitu dekat dengan arkha dan tak sedikit juga iya berbagi kesedihannya dengan arkha selama ini.



"arsya. Apa kau masih tidak menyadarinya. Apa kau masih tidak sadar dengan perasaanku selama ini"



"Arsya aku menyukaimu. Jika kau berkata ingin berpisah dengan pria itu aku akan membantumu sya. Aku akan berusaha untuk melepaskan mu darinya"



"tidak arkha aku harus mengecewakanmu. Aku tidak bisa menerima perasaanmu. Lebih baik kau menjauh saja dariku" ucap Arsya yang tidak berani menatap mata arkha.



iya tidak yakin iya bisa lepas dari tangan elvano. Dirinya saja bisa di siksa oleh elvano apalagi arkha. Jika dia berkata ingin lepas dari elvano takutnya elvano akan berbuat nekat pada arkha nanti.



Dengan status elvano saat ini tidak sulit baginya untuk menghancurkan Arsya dan orang di sekelilingnya.



Posisi arkha semakin dekat dengan Arsya. Arsya hanya terdiam di tempatnya.

__ADS_1



"Arsya. Aku tahu aku tidak seharusnya mengatakan ini. Namun aku masih tidak bisa menerima mendengar kau sudah menikah. Maafkan aku"



"aku akan menunggumu. tidak perduli kapanpun itu. Ku harap kau tidak menghindari ku lagi sya." ucap arkha.



"maaf arkha. Aku sudah banyak mengecewakanmu. Aku tidak pantas untuk di cintai oleh mu" Arsya merasa bersalah dengan arkha. Air matanya tanpa sadar mengalir dari kelopak matanya.



"tidak. Kau tidak salah. Tidak perlu merasa bersalah." ucap arkha seraya menyeka air mata Arsya di pipinya.



"jangan lagi menghindari ku ok. Aku masih arkha mu. Aku akan slalu bersamamu" ucap arkha kemudian mencium bibir Arsya



![](contribute/fiction/7640002/markdown/5641180/1696250189367.jpeg)



Arsya terdiam terpaku melihat arkha tiba tiba menciumnya.



"dasar bodoh." ucap arkha mengelus lembut rambut Arsya lalu pergi meninggalkan Arsya.



Arsya hanya melihat kepergian arkha begitu saja. walau wajah arkha terlihat biasa saja. Namun Arsya tahu arkha pasti kecewa dengannya. Hatinya pasti telah terluka karena Arsya.



Arsya lalu menutup wajahnya dengan satu tangannya karena tidak bisa berbuat apa apa.



Saat tengah sedih Arsya merasakan dadanya kembali nyeri. Mungkin itu karena iya terlalu banyak pikiran dengan beban yang bertumpuk di pundaknya.



"mengapa jadi seperti ini. Arkha. Kau sudah seperti kakak bagiku. Mengapa kau harus menyimpan rasa padaku" ucap arsya.



"mengapa semua jadi kacau. Satu sisi ada elvano yang terus mengawasi ku. Satu sisi ada mama yang membutuhkanku Dan satu sisi sekarang ada arkha yang harus ku kecewakan"



Arsya merasa lelah. Iya ingin semua nya berakhir dan kembali normal. Iya tidak mau menyakiti arkha dengan memberi harapan palsu padanya.



Jika arkha terus berharap padanya nanti itu akan berpengaruh buruk untuk masa depannya.



Saat Arsya tengah pusing dengan masalahnya. Tiba tiba saja sebuah panggilan memanggil Arsya untuk datang ke ruangan rawat ibunya dengan panggilan darurat.



Arsya dengan cepat berlari menuju ruangan itu. sepanjang jalan Arsya merasa takut. Takut jika terjadi sesuatu pada ibunya.


__ADS_1


JANGAN LUPA LIKENYA YA BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT UPDETNYA 😁🤝


__ADS_2