cinta dalam luka

cinta dalam luka
bab 25


__ADS_3

"mengapa kau pergi tanpa mengabari aku" tanya Arsya seraya berjalan di lorong rumah sakit bersama arkha.


"ibuku merindukanku. Wajar saja aku putra satu satu nya mereka" ucap arkha sembari tertawa kecil


"baiklah. kali ini aku memaafkan mu. Jika kau pergi lagi tanpa kabar aku benar benar sangat marah".


"iyiy. Aku janji".


Arsya dan elvano berjalan bersama di lorong rumah sakit. Keduanya terlihat bahagia sembari bercanda bersama.


"Arsya.." panggil arkha.


"ya"


"berikan tanganmu"


"ha.." Arsya bingung dengan maksud arkha.


Arkha kemudian memegang tangan Arsya dan memberikannya sebuah gelang. Arkha memakaikan gelang itu tanpa izin dari Arsya Membuat Arsya terdiam sejenak.


"apa yang kau lakukan" ucap Arsya seraya memandang gelang di tangannya


"esok adalah ulang tahunmu. Aku harap aku menjadi orang pertama yang mengucapkannya" ucap Arkha.


"ha. Ulang tahun?? Aku??" Arsya masih tidak sadar bahwa esok adalah hari ulang tahunnya


selama ibunya sakit Arsya tidak pernah merayakan ulangtahunnya. Apalagi dengan masalah Yang ada sekarang bagaimana bisa iya mengingat ulang tahunnya sendiri.


"jangan bilang kau melupakan ulang tahunmu sendiri" ucap Arsya seraya menyentuh rambutnya.


"iya. Aku lupa. aku bahkan tidak mengingatnya."


"kau suka dengan hadiahku" tanya arkha.


"iya. Ini cantik sekali" ucap Arsya memandang gelang di tangannya dengan takjub.



gelang dengan ukuran bulan di tengahnya membuat ciri khas tersendiri bagi gelang itu


arkha senang melihat Arsya menyukai hadiahnya.


"ingat untuk selalu memakainya. Jangan melepasnya ok" ucap arkha.


Arsya menganggukkan kepala tanda mengerti.


Saat keduanya sedang asik mengobrol sepasang mata menatap mereka dengan tatapan benci


"Arsya. Aku akan menyingkirkan mu".




setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di rumah sakit akhirnya Arsya sudah bisa pulang walau sedikit terlambat. Saat akan keluar dari rumah sakit iya melihat mobil elvano telah menunggunya di luar.



Dengan segera Arsya menghampiri mobil itu. Arsya langsung masuk kedalam mobil itu setelah mengetahui bahwa elvano sendiri yang menjemputnya.



"mengapa kau di sini." tanya Arsya.



"tentu saja. Aku suamimu tidak salah bukan jika suami menjemput istri sendiri" goda elvano.



Arsya terdiam mendengar perkataan elvano dan hanya mengangguk saja.



"kau sangat telat" ucap elvano melirik jam di tangannya.



"iya. Ada beberapa tugas di rumah sakit yang harus aku selesaikan." ucap Arsya dengan wajah lelah.



karena terlalu lelah Arsya tanpa sadar tertidur di mobil. Elvano melihat nya dan hanya membiarkannya. Iya cukup senang saat memandangi wajah Arsya yang tertidur



tak lama mereka akhirnya sampai di rumah. Arsya terbangun saat merasakan mobil berhenti bergerak.



"kita sudah sampai ya.. Hoaammm" ucap Arsya merenggangkan tubuhnya.



"ayo masuk. Di luar terlalu dingin" elvano melepas jas nya dan memakaikannya pada Arsya



Arsya berjalan dengan sempoyongan karena kantuk. Melihat arsya berjalan tidak stabil elvano menggendongnya memasuki rumah. Saat di gendong Arsya yang masih mengantuk akhirnya kembali tertidur di pelukan elvano.


__ADS_1


Hari ini otaknya terlalu di peras berlebihan. Satu masalah belum selesai sudah harus datang masalah lain.



Pagi harinya Arsya terbangun dengan tubuh yang lelah.



"huh.. kepala ku pusing"



Saat Arsya ingin bangkit dari tempat tidurnya iya menyadari bahwa iya tak mengenakan pakaian apapun di tubuhnya.



"ahhhh... Elvano brengsek" teriak Arsya dengan keras menyadari kondisinya.



Arsya kemudian membersihkan dirinya seperti hari hari biasa.



"awas saja jika aku bertemu dengannya." ucap Arsya kesal seraya berjalan keluar dari kamarnya.



Arsya berjalan dengan raut wajah kesal mengingat elvano mengambil kesempatan darinya.



Arsya lalu turun untuk mencari elvano. Namun begitu iya turun iya melihat pemandangan indah di depannya membuatnya teepukau tak bisa berkata apapun.



"A...A.. Apa.. Apa ini" ucap Arsya terkejut melihat pemandangan di depannya.



Rumahnya penuh dengan bunga dan balon yang menghiasi rumahnya. Terlihat begitu indah.



seribu mawar yang sangat di idamkan banyak wanita kini berada di rumahnya.



Arsya lalu berjalan mendekati bunga bunga itu. Iya sangat suka. Terutama wanginya. Itu sangat menenangkan. Iya sekan berada di taman bunga yang penuh balon.



![](contribute/fiction/7640002/markdown/5641180/1696693765582.jpeg)




"bagaimana kau bisa tahu elvano" tanya Arsya tidak menyangka elvano akan mengingat ulang tahunnya.



"bagaimana bisa aku melupakan ulang tahun istriku" ucap elvano seraya mencium kening Arsya.



"terimakasih untuk ini". Arsya sangat terharu melihat semua yang di lakukan elvano.



"bagaimana kau membuat ini semua." tanya Arsya kembali.



"tentu saja dengan uang" ucap elvano bangga.



"baiklah. Tuan yang kaya raya." Arsya membuka elvano dengan erat. Iya sangat bahagia sekali hari ini.



"ikut aku. Aku menyiapkan sesuatu untukmu." ucap elvano.



"kemana?" tanya Arsya



Elvano hanya membalas senyuman pada Arsya lalu menggendongnya membuat arkha membuka mulutnya .



"jangan buka mulutmu terlalu lebar" goda elvano.



"kau.." kesal Arsya.


__ADS_1


Elvano lalu membawa Arsya kesebuah tempat di rumah nya. saat sampai elvano berdiri di depan sebuah pintu ruangan dan menurunkan Arsya dari tangannya.



"bukalah" ucap elvano.



Dengan perlahan Arsya mendorong pintu ruangan itu. Betapa takjubnya Arsya melihat ruangan itu adalah kamar yang di hias dengan begitu indah oleh elvano.



![](contribute/fiction/7640002/markdown/5641180/1696693765584.jpeg)



"elvano." Arsya menangis begitu saja. Iya tidak tahu harus mengatakan apa pada elvano.



Elvano sudah menjadi bagian dari Arsya. Kebaikan elvano benar benar menjerat Arsya. Terkadang Arsya juga bingung apa yang dilakukan elvano sungguhan atau hanya permainan untuk membuatnya semakin terluka nanti.



"jangan menangis. Ini adalah hari bahagiamu" elvano mengusap air mata Arsya dan menghiburnya.



Arsya kembali memeluk erat tubuh elvano. Arsya berharap waktu dapat berhenti di saat ini. Iya ingin merasakan kebahagiaan ini selamanya.



"kau tidak perlu menangis. Mulai saat ini kau dan aku akan memulai kehidupan bahagia kita" ucap elvano.



Arsya juga berharap hal seperti itu. Namun iya takut kebahagiaan ini akan menjadi bumerang untuk mereka.



"elvano aku mencintaimu sangat mencintai mu"



Mendengar ucapan Arsya elvano senang bukan main.



"katakan itu lagi Arsya" pinta elvano.



"aku mencintaimu elvano. Aku mencintaimu sangat sangat mencintai mu" ucap Arsya seraya memeluk elvano dengan semakin erat.



Pelukan Arsya di balas dengan pelukan hangat dari elvano. Pelukan itu seakan membuat nya lupa akan semua masalah masalahnya.



"Arsya. bisakah kita melakukan itu" ucap elvano menatap wajah Arsya.



"i..itu..bukankah kau sudah melakukan kemarin" ucap Arsya.



"ah itu.. Aku tidak melakukan nya. Aku tidak tega jika harus mengganggu tidurmu sebelumnya."



"jadi kau\_".



"iya.. Aku hanya tidur biasa saja denganmu. jadi bisakah\_"



belum sempat elvano menyelesaikan kalimatnya Arsya langsung mencium bibir elvano.



"Arsya. " elvano lalu membalas ciuman itu dengan penuh gairah.



elvano memeluk tubuh kecil Arsya lalu perlahan membawanya berbaring di atas kasur.



Elvano terus melanjutkan ciumannya hingga turun ke seluruh tubuh Arsya. Arsya merasakan seperti ada aliran listrik menyelimuti tubuhnya merasakan setiap sentuhan elvano.



Perlahan tangan elvano mulai menyusup kedalam baju Arsya. Tangannya mulai masuk dan naik hingga menyentuh dada Arsya.



Arsya hanya diam menikmati permainan elvano. mulutnya sesekali mengeluarkan suara yang seperti nyanyian di telinga elvano.

__ADS_1



"Arsya kali ini aku sungguh tidak akan menahan diriku" ucap elvano melepaskan seluruh pakaian Arsya dan juga pakaiannya.


__ADS_2