
beberapa saat kemudian Arsya masih senantiasa berjaga dengan semangat karena iya merasa tidak mendapat hukuman yang berat. Namun jam terus berjalan hingga waktu sangat larut. Semakin lama Arsya semakin merasa mengantuk namun iya tahan karena takut membuat elvano semakin marah dengannya.
sesekali Arsya juga melirik elvano untuk sekedar mengecek nya. Tidak di sangka elvano adalah seorang penggila kerja. Sudah berjam jam iya masih standby di depan laptop nya.
"kemana kau" ucap elvano saat melihat Arsya berdiri dari Sofanya.
"aku tidak kemana mana. Aku hanya ingin mengambil beberapa cemilan saja" ucap Arsya dengan wajah tertunduk.
"kalau begitu bawakan aku juga" ucap elvano kemudian kembali menatap layar laptop nya.
tanpa berpikir lama lama Arsya langsung pergi kedapur untuk mencari beberapa cemilan yang bisa iya dan elvano makan. Juga berharap itu bisa membantunya menahan kantuk.
meeoonggg...
Saat sedang mencari cemilan Arsya mendengar sebuah suara. Iya melihat sekelilingnya namun tidak melihat apapun.
Meeoongggg...
Suara itu kembali terdengar. Namun kali ini iya merasakan sesuatu yang menggelikan seperti berjalan di kakinya. Iya merasa sangat hafal dengan suara ini.
Sebelum melihat kearah kakinya nafasnya sudah memburu tak karuan.
"ahhhh ... " teriak Arsya.
Mendengar teriakan Arsya elvano yang tadinya sibuk bekerja langsung berlari menuju kearah sumber suara.
"Arsya" ucap elvano yang terlihat panik.
Namun kepanikan elvano menghilang dan tergantikan dengan sebuah senyuman tipis melihat Arsya tengah berdiri di atas meja dapur dengan seekor kucing Oren di bawahnya.
Wajah Arsya terlihat ketakutan namun begitu menggemaskan.
"syuh.. Syuh. Ah. Kucing siapa sih" ucap Arsya kesal melihat kucing di bawahnya tidak juga pergi.
Arsya paling takut dengan kucing. karena waktu kecil iya pernah di cakar oleh kucing sehingga membuatnya takut hingga sekarang. Bahkan elvano juga tahu jika Arsya paling takut dengan kucing.
"elvano." ucap Arsya melihat elvano berdiri di pintu dapur.
"Van tolong bantu aku usir dia" ucap Arsya.
"kau seorang dokter. Bagaimana bisa kau takut hanya dengan hewan kecil seperti ini.
"Van jangan bercanda. Kau tahu aku tidak suka kucing. Atau kau memang sengaja membawa kucing ini untuk menghukum ku bukan" ucap Arsya curiga.
__ADS_1
"aku tidak se senggang itu" ucap elvano dengan tangan terlipat di dada menatap Arsya.
"elvano ku mohon jangan seperti ini. jika kau ingin menghukum ku silahkan. Tapi tolong jangan gunakan cara ini."
Mendengar ucapan Arsya ada sedikit rasa kesal di hati elvano.
Elvano kemudian berjalan mendekat ke arah Arsya. seiring kaki elvano berjalan kucing Oren itu juga pergi menjauh dari mereka.
"jadi kau lebih senang jika di hukum di atas ranjang" ucap elvano menggoda Arsya membuat Arsya salah tingkah.
"ti..tidak. Jangan mengungkit itu. Tapi plis jangan lakukan ini lagi"
"kita lihat dari sikapmu saja. Jika tidak aku akan mengurung mu bersama ratusan kucing lainnya."
"tidak. Tidak. Jangan aku akan bersikap baik aku janji." ucap Arsya seraya membuat isyarat dengan jarinya ✌️
Arsya hanya membalas dengan anggukan.
"sekarang turunlah. Itu bisa kotor jika kau menginjaknya terlalu lama" ucap elvano.
"iya aku tahu" kesal Arsya.
Arsya merasa kesulitan saat akan turun. rasanya saat iya naik tadi begitu mudah. Apa karena refleks saja?. saat berusaha hendak turun kaki Arsya tidak sengaja terpeleset dan membuatnya hampir terjatuh.
Melihat Arsya yang akan terjatuh elvano segera membantu Arsya.
Elvano dan Arsya terjatuh bersamaan dengan posisi elvano di bawah dan Arsya di atas saling bertumpu. Sementara bibir mereka saling menyatu hingga membuat keduanya terdiam sesaat.
"i..itu. Terimakasih" ucap Arsya dengan cepat bangkit dari tubuh elvano.
Wajahnya terlihat begitu malu. Namun iya menjauhkan wajahnya dari elvano agar tidak dilihat.
"tidak ku sangka kau akan berinisiatif mencium ku" ucap elvano.
"tidak. Aku tidak melakukannya. Kau sendiri yang mencuri kesempatan"
"kau yakin."
"jika aku tidak terjatuh aku dan.. Dan kau.. Ti.tidak akan itu kok" ucap Arsya malu malu.
elvano hanya tersenyum kecil melihat Arsya. Hatinya merasa lebih baik saat ini. Namun berbeda dengan Arsya. Jantungnya berdebar begitu kencang. Pipinya juga terasa begitu panas.
Iya dan elvano padahal sudah berhubungan intim. Namun iya tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
__ADS_1
"sudahlah. Sebaiknya kau cepat bawa cemilan mu. Aku masih memiliki pekerjaan yang harus aku selesai kan. Keributan mu membuat pekerjaanku banyak tertunda" ucap elvano meninggalkan Arsya.
"ha.. Aku. jika bukan karena iya membawa kucing itu ini juga tidak akan terjadi" ucap Arsya saat melihat elvano pergi menjauh.
Arsya kemudian membawa cemilan yang iya cari dan dua gelas jus yang ada di dapur.
"ini. Kau bisa memakan dan minum ini." ucap Arsya menyerahkan cemilan yang di siapkan oleh nya.
"suapi aku" ucap elvano dengan mata yang masih menatap layar laptop.
"tidak"
"apa kau tidak lihat aku sedang sibuk. Jika bukan karena mu pekerjaan ku juga tidak akan tertunda." ucap elvano menatap Arsya.
Arsya kesal dengan elvano. Namun iya juga harus terimakasih. Tadi elvano sudah membantunya tidak ada salahnya jika membantunya kembali kali ini. Maka semuanya akan impas.
dengan berat hati Arsya mengambil cemilan itu dan menyuapi elvano disaat elvano masih bekerja.
saat sedang menyuapi elvano tiba tiba saja elvano mencium Arsya membuat Arsya terkejut
"elvano" bentak Arsya dengan mendorong elvano menjauh.
"kali ini lebih manis" ucap elvano.
"kau jangan keterlaluan. Aku tidak mau membantumu lagi. Kau bisa makan sendiri jika kau mau." ucap Arsya seraya menjauh dari elvano.
Elvano tidak mengatakan apa apa selain tersenyum menatap Arsya.
Arsya merasa kesal. Namun iya juga merasa aneh dengan dirinya. mulutnya terlihat marah saat berbicara. Namun hatinya berkata lain.
Arsya mencoba menyadarkan dirinya. Dengan lahap iya memakan cemilannya hingga habis.
malam semakin larut. Arsya semakin tidak dapat menahan kantuknya. Kemudian iya berpikir hanya untuk sekedar memejamkan matanya. Namun iya malah ketiduran di meja kerja elvano itu.
Elvano menyadari Arsya tidak ada pergerakan apapun. Iya lalu melirik ke arah Arsya. Iya melihat Arsya sudah tertidur.
Elvano kemudian mematikan laptop nya dan menghampiri Arsya. Iya membelai lembut rambut Arsya.
Arsya yang sudah mengalami ngantuk berat sudah tidak menyadari apa apa lagi.
"sya. Seandainya kau masih sepolos ini. Aku mungkin akan benar benar mencintaimu seperti dulu" ucap elvano menatap Arsya.
__ADS_1
Elvano sudah tidak ingin berharap apapun dengan Arsya. Wanita di depannya bukan lah wanitanya yang dulu. Sama namun berbeda.
Wanita di depannya tidak mengerti apapun selain uang. tidak ada hal lain di matanya selain uang. Iya bahkan bisa melakukan apapun asal mendapat uang. Memikirkan itu benar benar membuat elvano marah dan kesal.