
"Mengapa kau menyembunyikannya dari ku" tanya elvano membuat Arsya bingung.
"apa maksudmu" tanya arsya.
"mengapa kau tidak mengatakan tentang penyakit ibumu" tanya elvano.
"untuk apa".
"aku suamimu dan aku berhak tahu"
"suami. Sejak kapan kau bersikap layaknya suami padaku. bahkan kau menikahi ku juga karena balas dendam karena aku mencampakkan mu bukan"
"tapi aku tetap berhak tahu segala tentangmu."
"hak??.. Iya kau berhak padaku. lalu bagaimana denganku. Apa hak ku. Aku tidak memilikinya bukankah begitu."
"Arsya" elvano kesal Arsya semakin berkata kata tidak jelas.
"sudah elvano. Aku capek. Aku lelah." Arsya tanpa sadar sudah menangis di atas kasurnya.
"kau selalu mengatakan kau suamiku. Namun kau tidak pernah menjalankan tugasmu sebagai suami. Kau terus menyakitiku"
"Arsya"
"enggak. Kali ini biarkan aku mengatakan semuanya."
"kau bilang. Mengapa aku tidak mengatakan apapun padamu.. Lalu apa kau pernah bertanya padaku. Apa kau pernah bertanya apa kesulitan ku. Gak elvano argantara. Kau hanya menghinaku tanpa melihat buktinya."
"apa kau pernah melihat aku membeli barang mewah. Apa di rumah ini ada tersimpan barang brended yang mencapai ratusan juta. Enggak elvano. Sama sekali gak ada" Arsya menangis dan mengeluarkan semua yang iya pendam selama ini.
"aku tahu. Aku bersalah padamu" elvano menyesali perbuatannya.
"hahaha.. Kau sangat lucu elvano. Sudahlah. Kau tidak bersalah. Ini salah ku. Aku menjadi pembawa sial bagi mama. jika bukan karena aku mama tidak mungkin jadi seperti ini" air mata Arsya semakin deras mengalir di wajahnya membayangkan ibunya yang terbaring di rumah sakit.
"Arsya. Kau bukan pembawa sial siapapun. Kau Arsya kebanggaan semua orang" ucap elvano seraya menyentuh tangan Arsya.
Arsya menangkis tangan elvano tidak bersedia di sentuh oleh elvano.
"tidak elvano. Jangan menyentuhku. Aku hanya lah seorang ******. Wanita murahan. Tak tahu malu_".
"hentikan Arsya. Kau tidak seperti itu. Aku tahu ini salah ku. Berhenti menyalahkan dirimu" elvano memeluk Arsya dengan erat.
Arsya berusaha memberontak dan melepaskan pelukan Arsya. Namun karena tubuhnya yang lemah iya hanya bisa menangis di pelukan elvano.
"maaf Arsya" ucap elvano seraya mencium kening Arsya.
"mengapa semua orang ingin meninggalkan ku. Aku hanya ingin bahagia. Bahagia yang sederhana" ucap elvano seraya memeluk tubuh elvano tanpa sadar.
Arsya terus menangis di pelukan elvano cukup lama hingga akhirnya iya tertidur kerena lelah menangis di pelukan elvano.
"bodoh. Mengapa aku tidak menyadarinya selama ini" ucap elvano menatap Arsya yang sedang tertidur.
Setelah beberapa hari istirahat tubuh Arsya sudah semakin baik. haha saja tubuhnya masih tetap lemah. Kepala Arsya masih sering terasa sakit.
Arsya ingin sekali kembali kerumah sakit namun elvano melarangnya karena mengatakan tubuhnya masih belum pulih.

Arsya merasa sangat bosan. Iya merasa dirinya seperti tahanan. Bahkan hanya sekedar berjalan jalan ketaman samping saja tidak di izinkan.
"Arsya"
__ADS_1
Sebuah panggilan menyadarkan Arsya dari lamunannya.
"elvano"
"ada apa. " tanya elvano dengan lembut.
"tidak. Aku hanya sedikit bosan saja." ucap Arsya memandang keluar jendela.
"apa kau ingin ikut ke pesta denganku" tanya elvano
"pesta?.tidak. Aku tidak pantas ketempat seperti itu"
"kau istriku. Pesta seperti ini jika kau tidak pantas maka tidak ada orang lain yang lebih pantas."
Arsya hanya terdiam. Tidak ada gunanya jika iya menolak. Lagipula iya benar benar bosan terus berada di kamarnya.
"baiklah. Aku ikut"
elvano tersenyum mendengar jawaban Arsya. Ini pertama kalinya elvano akan membawa Arsya ke pesta.
Arsya sedikit tidak terbiasa dengan perlakuan elvano yang berubah secara tiba tiba.
"aku tidak yakin. Iya akan selamanya seperti ini. Aku yakin hatinya masih terluka karena waktu itu aku menghinanya demi putus dengannya" ucap Arsya seraya menatap pintu yang telah di tutup rapat oleh elvano.
Sore hari terlihat beberapa penata rias dan penata busana telah tiba di kamarnya. Arsya merasa elvano terlalu berlebihan hingga membawa begitu banyak orang hanya untuk membantunya berdandan saja.
Setelah beberapa jam di ruas akhirnya Arsya telah selesai di make over.
Elvano sejak tadi sudah menunggunya di lantai satu.
perlahan Arsya mulai turun dengan gaun dan hiasan indahnya. Elvano melihat Arsya tanpa mengedipkan matanya. Iya cukup terkesan dengan kecantikan Arsya.

"maaf membuat mu menunggu lama" ucap Arsya
__ADS_1
"tidak apa. Tapi sebaiknya kau mengganti pakaian mu. Itu terlalu terbuka. Kau bisa masuk angin nanti " ucap elvano seraya bertingkah aneh.
Itu hanya alasan semata elvano. Iya hanya tidak ingin ada orang lain yang menatap Arsya dengan mata kotor mereka.
Akhirnya mau tidak mau Arsya harus berganti pakaian dengan pakaian yang lebih tertutup.
Elvano kemudian menggandeng tangan Arsya dan membawanya masuk kedalam mobilnya. Tak lama mereka akhirnya sampai di tempat pesta berlangsung.
Pesta itu terlihat mewah dan bergengsi yang di hadiri oleh orang orang kaya saja.
Ini adalah pertama kalinya Arsya datang kepesta seperti ini. Bahkan saat dulu masih berpacaran dengan elvano. Elvano masihlah pria biasa. Itu karena Arsya tidak pernah tahu identitas asli elvano dahulu.
Begitu Arsya dan elvano turun mereka sudah di kerumuni oleh beberapa wartawan. Bagaimana tidak. Elvano adalah seorang pebisnis besar nomor satu. Bahkan selama ini tidak pernah pergi kepesta manapun dengan wanita. Bahkan pernikahannya saja harus di sembunyikan.
untungnya ada beberapa penjaga yang menghalang wartawan itu. elvano juga dengan sigap melindungi Arsya agar tidak terluka.
Akhirnya elvano dan Arsya masuk kedalam ruangan. Arsya merasa kagum dengan ruangan yang indah di dalam. Tempat itu berwarna seperti emas. Seakan gedung dan furniture nya terbuat dari emas.
"wah. Apakah semua orang kaya berpesta seperti ini" tanya Arsya dengan polosnya pada elvano.
"apakah pacar kaya mu yang dulu tidak pernah membawamu kepesta seperti ini." tanya elvano seraya menindih Arsya dengan masa lalu.
"tidak ingin jawab" ucap Arsya cemberut.
Begitu mereka masuk mereka di sambut oleh beberapa orang. Banyak dari mereka terlihat ramah dengan elvano. Walau ramah hanya karena ingin keuntungan.
Cukup lama mereka berdiri untuk menyapa orang orang itu sekaligus berbicara dengan mereka.
Uhukk..uhuk..
Tubuh Arsya yang masih lemah tidak sanggup untuk terlalu lama berdiri. Elvano yang menyadarinya segera membawa Arsya untuk istirahat.
"duduklah di sini. Jika ada sesuatu kau bisa mengatakannya padaku" ucap elvano.
"iya"
__ADS_1
Elvano kemudian meninggalkan Arsya karena masih ada sesuatu yang harus iya urus. karena terlalu lama berdiri Arsya kembali merasakan dadanya sakit dan nyeri. Iya ingin berdiri mengambil air namun tubuhnya sangat lemah untuk bangkit dari kursinya.