
"elvano. Apa kau lihat burung itu. Suatu saat nanti aku ingin seperti burung itu. Bebas terbang kemanapun aku mau."
"suatu saat nanti aku akan merentangkan sayapku dan menjadi dokter terhebat" ucap Arsya senang.
"iya. Dan aku akan berada di sampingmu sampai hari itu tiba" ucap elvano seraya menyentuh tangan Arsya.
"aku akan membangun rumah sakit ku sendiri dan memberikannya nama hospital elsya"
"Elsya" bingung elvano
"elvano dan Arsya" ucap Arsya memandang wajah elvano.
"iya. Lalu saat itu aku akan melamar dan menikahi mu. Lalu memiliki banyak anak denganmu" ucap elvano.
"siapa yang mau menikah denganmu" ucap Arsya tersipu malu mendengar ucapan elvano.
"jika kau menolak. Maka aku akan memaksa" canda elvano.
"coba saja jika kau bisa"
Elvano tersenyum seraya mencubit hidung Arsya.
"ah sakit elvano.." keluh Arsya merasakan sakit saat hidungnya di tarik elvano.
keduanya bersenang senang hingga tak terasa waktu telah berjalan dengan cepat. Keduanya menikmati waktu senja yang indah.
"elvano. Jika suatu saat nanti aku pergi apa kau akan mencari wanita lain" tanya Arsya di pelukan elvano.
"iya"
"elvano" ucap Arsya kesal dengan jawaban elvano.
"aku bercanda. Tidak perduli kemanapun kau pergi aku pasti menemukanmu." ucap elvano mencium kening Arsya
"lalu bagaimana jika kau yang pergi" tanya Arsya lagi.
"tidak akan. jika aku pergi aku akan mati_" seketika mulut elvano di tutup oleh Arsya.
"jangan berkata seperti itu" ucap Arsya yang tidak ingin elvano mengatakan kata kata mati tentang dirinya.
"iya. separuh nyawaku sudah aku berikan padamu. Aku tidak mungkin bisa pergi darimu" ucap elvano mencium tangan Arsya kemudian memeluk erat Arsya di dekapannya
Kembali ke masa sekarang
"dia benar benar berubah.. Apakah Arsya yang waktu itu sungguh sudah menghilang" ucap elvano pelan seraya menatap foto Arsya yang berada di pantai dengan senyum indah tertata di atas mejanya.
"ini sudah larut. Gadis itu bahkan begitu berani belum kembali hingga saat ini." ucap elvano.
__ADS_1
Arsya saat ini tidak bisa kembali pulang. iya terus menjaga ibunya semalaman hingga lupa untuk mengabari elvano..
Kondisi ibunya masih belum begitu stabil. Jadi iya harus berjaga jaga jika terjadi sesuatu dengan ibunya.
demi menjaga ibunya Arsya sudah satu malam tidak tidur. sementara hari ini iya harus melakukan operasi ibunya yang memakan waktu lama.
"Arsya. Istirahatlah dulu. Kau sudah semalaman menjaga ibumu. Biar aku yang menjaganya" ucap arkha yang tak tega melihat kondisi Arsya yang lemah.
"tidak apa. Aku baik baik saja. Sebaiknya kau saja yang istirahat. Kau juga sudah membantuku semalaman. Kau pasti lelah." ucap Arsya yang tak ingin meninggalkan ibunya.
"Arsya kau akan melakukan operasi. Kau harus memiliki tubuh yang fit untuk melakukan operasi ini" ucap Arkha berusaha membujuk Arsya agar istirahat.
"arkha. Biarkan aku disini bersama mama. Aku ingin terus di sampingnya" ucap Arsya dengan mata yang sembab karena menangis.
"baiklah. Aku akan menyiapkan ruang operasi." ucap arkha lalu pergi meninggalkan Arsya.
beberapa saat kemudian. waktu operasi akhirnya tiba. Arsya bersiap untuk melakukan operasi ibunya.
Iya akan melakukan operasi terbaik untuk ibunya. Iya tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun. Iya harus menjadikan 30% keberhasilan menjadi 100% berhasil.
waktu terus berjalan. perlahan lahan Arsya melakukan operasi ibunya. Iya harus bersikap profesional.
setelah beberapa jam waktu operasi akhirnya operasi selesai dan berjalan dengan lancar. Namun sayang operasi ini hanya untuk mempertahankan ibunya beberapa hari saja.
karena jantung ibunya sudah sangat parah. Sehingga hampir mustahil untuk ibunya bisa bertahan lama lagi.
Begitu keluar dari ruangan operasi Arsya terbatuk batuk dan merasakan jantungnya kembali nyeri dan sakit.
uhukk..uhukk.uhuk..
Arsya kemudian berlari menuju kamar mandi dan membiarkan suster yang memindahkan ibunya ke ruang perawatan.
Saat di kamar mandi Arsya masih terus batuk dan terlihat iya mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya sehingga membuat Arsya terkejut tak percaya.
"apa. Mengapa bisa ada darah. Tidak. Ini pasti karena aku kelelahan" ucap Arsya
Tak lama Arsya keluar dari kamar mandi. Iya kemudian melakukan pemeriksaan terhadap dirinya sendiri. Iya takut jika iya kenapa Napa maka siapa yang akan menjaga ibunya.
Selagi menunggu hasil keluar Arsya menjenguk ibunya yang masih terbaring.
"ma. Arsya di sini. Mama tenang aja ya. Arsya pasti sembuhin mama" ucap Arsya menggenggam erat tangan ibunya.
Arsya mencium tangan ibunya dan memeluk tangan ibunya.
"a..Arsya"
Sebuah suara mengagetkan Arsya. Suara itu begitu lemah namun sangat di kenali oleh Arsya.
__ADS_1
"mama." ucap Arsya senang melihat ibunya telah sadar setelah sekian lama.
"ja..jangan..nangis.. Sayang" ucap ibu Arsya dengan suara yang masih lemah.
"ma.. Jangan banyak bicara dulu. Mama masih belum stabil" ucap Arsya.
Ibunya hanya menggelengkan kepalanya
"tidak.. Arsya. Mama sayang sama kamu sayang" ucap ibu Arsya berusaha menggerakkan tangannya untuk menyentuh Arsya.
Arsya yang tau ibunya ingin bergerak segera menyentuh tangan ibunya.
"mama. Sudah ma. Jangan di paksakan"
"Arsya.. Mama masih ngantuk sayang" setelah mengatakan itu ibu Arsya kembali tak sadarkan diri.
Arsya panik dan segera memeriksa keadaan ibunya.
Ternyata ibunya hanya sadar sesaat dan kembali koma. Arsya merasa sedih. Iya ingin sekali melihat ibunya sehat seperti dulu.
Setelah memastikan ibunya baik baik saja Arsya lalu keluar dari ruangan itu.
Drrttt..drtt...
Ponsel Arsya terus bergetar di sakunya. Iya mengambil ponselnya dan melihat 67 panggilan tak terjawab dari elvano.
"gawat." Arsya panik melihat ponselnya dan buru buru mengangkat ponselnya.
"ha..halo"
"sepertinya kau semakin berani hanya karena aku bersikap lembut padamu sekali" suara elvano terdengar sangat mengerikan.
"tidak. Aku hanya_"
"aku tidak ingin mendengar alasanmu. Segera keluar dari rumah sakit. Aku menunggumu di depan. Jika kau tidak muncul dalam lima menit aku pastikan akan menyeret mu keluar sendiri dan mengurung mu di gudang" ancam elvano.
Mendengar itu Arsya sangat takut akan ancaman elvano. Arsya cepat cepat berlari keluar. Karena rumah sakit yang cukup besar dan posisi Arsya berada di lantai empat. Membuat Arsya harus berlari dengan cepat.
baru sampai di lantai dua. Jantungnya terasa lelah dan berdetak kencang tak beraturan. Nafasnya juga sesak.
Namun mengingat ancaman elvano Arsya harus segera sampai kebawah dengan cepat.
Begitu keluar Arsya melihat mobil elvano telah menunggunya di depan rumah sakit. Dengan cepat Arsya menghampiri elvano.
"el....elvano" ucap Arsya dengan suara yang lelah karena berlari.
"cepat naik" ucap elvano dengan suara dingin namun terlihat kemarahan di suaranya.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu Arsya langsung naik ke mobil elvano dan duduk dibangku tepat di samping elvano.