
Elvano membawa Arsya kembali kerumah. Dengan kasar elvano menarik tangan Arsya masuk kedalam rumah.
Begitu masuk Arsya menyadari rumah itu begitu sepi tanpa ada penjaga maupun pelayan seperti biasanya.
elvano lalu melempar arsya kelantai di ruang tamu.
"apa. Kau masih berani begitu dekat dengan pria itu. Bahkan berani berciuman dengannya" ucap elvano seraya mencengkram wajah Arsya.
"apa. Tidak. "
"tidak..tidak..dan tidak. Kau slalu berdalih. jadi kau meminjam uang pada andra untuk bersenang senang dengan pria itu" ucap elvano semakin erat mencengkram wajah Arsya.
"elvano. Tidak bisakah kau mendengarkan penjelasanku".
"aku tidak perlu penjelasan darimu lagi. Aku lebih mempercayai apa yang aku lihat."
"bohong. Bagaimana bisa kau melihat segalanya"
"jadi kau mengakuinya kalau kau benar berciuman dan bersenang senang dengan pria lain."
"tidak elvano. Tidak"
"kau tahu. Aku bisa melihat semua aktivitas mu di rumah sakit itu dengan sekali hentakan jari"
"jika kau bisa melihatnya. Kau pasti tahu apa yang aku lakukan apa yang aku_"
"diam..." elvano kemudian mencekik leher Arsya.
"****** seperti mu jangan coba coba menaikkan suara denganku." elvano semakin erat mencekik leher Arsya sehingga Arsya kesulitan bernafas.
"Kau bahkan berani menyetujui perceraian dengan ku pada orang lain" sambung elvano.
"aku tidak pernah menyetujui apapun" ucap Arsya.
"dasar ******. Berapa banyak yang mereka berikan padamu sehingga kau menuruti kemauan mereka" ucap elvano dengan geram.
"me..mengapa kau ..ti..tidak pe..percaya padaku El..va..no" Arsya kemudian memejamkan matanya yang sudah tidak tahan dengan cekikan elvano yang semakin erat.
Elvano yang seperti kerasukan setan tersadar dan melepaskan tangannya dari leher Arsya begitu melihat Arsya tak sadarkan diri.
"Arsya.. Arsya bangun.. Jangan berpura pura" elvano berusaha membangunkan Arsya namun tidak ada reaksi.
Elvano kemudian memberikan nafas buatan pada Arsya namun tetap tidak ada reaksi. Iya kemudian menelpon dokter pribadinya untuk datang memeriksa Arsya.
Elvano lalu mengangkat tubuh Arsya ke dalam kamar. Saat di gendong iya merasakan tubuh Arsya lebih dingin dari biasanya.
"mengapa tubuhnya begitu dingin. Aku bahkan tidak merasakannya saat menyentuh tangannya tadi" ucap elvano saat menggendong Arsya.
setalah lebih kurang sepuluh menit akhirnya dokter datang dan segera memeriksa keadaan Arsya.
setelah beberapa saat dokter itu memberi Arsya beberapa obat yang harus di minum saat Arsya bangun.
"dia hanya kelelahan. Aku sudah meninggalkan nya beberapa obat. Setelah sadar pastikan iya meminum obat ini" ucap dokter itu
Elvano hanya diam memandang arsya yang masih terbaring di kasur.
"jangan berikan iya tekanan. Dan bersikaplah lebih baik padanya. sebaiknya kau bawa iya kerumah sakit. Karena_"ucapan dokter itu terputus
__ADS_1
"tidak perlu. Aku sudah percaya denganmu." ucap elvano.
dokter itu hanya menarik nafas saja lalu pergi meninggalkan mereka.
"jangan.. Jangan pergi.. Ma jangan tinggalin arsya" Arsya mengigau saat iya masih tak sadarkan diri.
elvano kemudian duduk di samping ranjang Arsya dan menyentuh tangannya.
"Arsya butuh mama" ucap Arsya yang asih mengigau.
perlahan sentuhan elvano membuat Arsya menjadi lebih tenang.
Perlahan lahan Arsya membuka matanya dan melihat elvano duduk di sampingnya.
Bibirnya ingin berbicara namun tubuhnya begitu lemah hingga iya bahkan tidak sanggup menggerakkan bibirnya.
"ada apa. Sepertinya kau terlalu asik bermain hingga kelelahan ya"
Bahakan saat sakit pun elvano masih tidak melepaskan Arsya.
Arsya sudah tidak perduli lagi dengan ucapan elvano..
Uhukk..uhukk..
melihat Arsya terbatuk batuk elvano mengambilkannya air dan memberikannya padanya.
Karena tubuh Arsya yang lemah elvano akhirnya membantu Arsya untuk memberinya minum dengan cara memberinya melalui mulutnya ke mulut Arsya.
Arsya tidak bisa menolak pemberian elvano karena iya sudah tidak sanggup melawan. Mau tidak mau iya harus menerimanya.
Elvano juga membantu Arsya meminum obatnya dengan cara yang sama.
tubuh Arsya masih terasa begitu dingin dan wajahnya sangat pucat. Ada perasaan khawatir di diri elvano melihat kondisi Arsya.
Iya sedikit menyesal karena menyakiti Arsya karena amarah
Bagaimana Arsya tidak pingsan. Sudah dua hari iya tidak tidur ataupun istirahat. Kemudian iya harus melakukan operasi yang melelahkan. apalagi di tambah tekanan yang di alaminya. Sekarang elvano menyiksanya dan semakin menambah tekanan dalam dirinya.
Elvano terus berjaga semalaman di samping Arsya.
"Andra. Aku mau kau menyelidiki kemana semua uang yang di pakai Arsya" ucap elvano pada ponselnya.
"baik tuan" ucap suara di ponsel.
"Arsya. Apa yang kau sembunyikan dariku." ucap elvano menatap Arsya.
"tuan ini adalah semua tentang nona yang tuan ingin saya selidiki" ucap Andra seraya menyerahkan sebuah dokumen pada elvano.
elvano kemudian mengambil dokumen itu dari tangan andra. elvano melihat isi dokumen itu. Setelah membaca isi dari dokumen itu wajah elvano berubah seketika.
__ADS_1
"apa.. Mengapa kau tidak mengatakan bahwa ibu Arsya sedang sakit" ucap elvano marah terhadap andra.
"tuan sebelum pernikahan saya sudah memberi semua data tentang nona. Dan di situ sudah tertera semua tentang nona. Namun Tuan menolaknya dan meminta saya membuangnya" ucap Andra.
"sial. Jadi selama ini iya menginginkan uang itu untuk biaya pengobatan ibunya." elvano mengepalkan tangannya. Iya telah salah paham dan mengira arsya begitu mencintai uang.
Elvano kemudian berjalan menuju kamar Arsya.
Brakkk..
Begitu akan sampai kamar arsya elvano mendengar suara dari kamar Arsya dan segera mempercepat langkahnya untuk memeriksa.
begitu sampai di depan kamar Arsya elvano langsung membuka pintu kamar Arsya. Terlihat Arsya terduduk di lantai dua samping ranjangnya dengan sebuah vas bunga yang pecah di sampingnya.
"Arsya" elvano bergegas menghampiri Arsya.
"apa yang kau lakukan" elvano terlihat cemas melihat Arsya.
Tubuh Arsya masih begitu lemah namun sudah memaksakan diri untuk bangkit.
Elvano mengangkat tubuh Arsya dan meletakkan nya Kembali ke kasur dengan hati hati.
"apa kau terluka. Mengapa kau bisa terjatuh. Bagaimana jika vas itu mengenalimu" ucap elvano yang sudah khawatir dengan Arsya.
"apa hubungannya denganmu. Bahkan jika aku matipun aku rasa kau juga tidak akan peduli bukan"
"apa yang kau katakan. diam lah dan jangan berbicara sembarangan lagi".
Arsya hanya bisa diam. Dirinya masih takut jika elvano akan mencekiknya lagi jika iya melawan dan beradu mulut dengannya.
__ADS_1
Padahal Arsya hanya ingin kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi ibunya. Iya takut jika ibunya kembali sadar iya tidak ada di sana. Namun siapa sangka tubuhnya begitu lemah Bahkan untuk berdiri saja pun begitu sulit. Sekarang selain berdiam diri di kasur tidak ada yang bisa Arsya lakukan.