Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan
Bab 10. Tersesat


__ADS_3

Kumandang suara adzan Isya' mulai terdengar menggema hingga ke seluruh penjuru kota. Menjadi pertanda jika sudah tiba waktunya untuk menunaikan segala kewajiban sebagai seorang hamba. Menghentikan berbagai macam aktivitas mereka. Untuk kemudian bergegas mendirikan shalat yang merupakan tiang agama.


"Ran, ada apa denganmu? Mengapa kamu belum pulang juga?"


Mira yang tengah mendapatkan jatah overtime sedikit keheranan saat melihat pintu ruangan Kirana yang masih terbuka. Sahabatnya ini terlihat sedang berdiri di depan jendela lebar dan hanyut dalam pikirannya. Pandangan matanya kosong dan tidak terbaca.


Mira semakin keheranan akan perubahan sikap Kirana. Sahabat yang sebelumnya selalu nampak ceria dan banyak tertawa, sudah beberapa hari ini berubah menjadi sosok yang berbeda. Ia nampak sering menyendiri dan tidak banyak bicara.


Wajah yang setiap hari dipenuhi oleh binar-binar bahagia yang begitu kentara, kini seakan sirna. Terganti oleh raut wajah sendu, sayu dan seperti tidak memiliki semangat untuk menjalani hari-harinya. Hal itulah yang membuat Mira semakin percaya bahwa ada sesuatu yang sedang dihadapi oleh Kirana.


Tungkai kaki Mira terayun untuk bisa lebih dekat dengan Kirana ketika sahabatnya ini tidak memberikan respons sama sekali dan justru semakin larut dalam lamunannya sendiri.


"Ran, kamu baik-baik saja?" ucap Mira seraya menepuk pundak Kirana.


Kesadaran Kirana seakan ditarik paksa oleh kehadiran Mira dan ia pun melabuhkan pandangannya ke arah Mira yang sudah berdiri di balik punggungnya.


"Mira? Ada apa?"


Mira membuang napas sedikit kasar. Ternyata benar apa yang ia pikirkan, ternyata sahabatnya ini sedang tidak baik-baik saja. Ia bahkan tidak mendengar pertanyaan apa yang terlisan dari bibirnya.


"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, Ran. Ada apa denganmu? Mengapa kamu menjadi sosok yang berbeda seperti ini?"


Kirana menggelengkan kepala pelan sembari sekilas menatap wajah Mira namun kemudian ia menatap ke arah luar jendela lagi.


"Aku tidak apa-apa Mira. Aku baik-baik saja."


Ingin rasanya Mira percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Kirana, namun binar mata sahabatnya ini sungguh memupus semua rasa percaya yang ia punya. Wajah Kirana semakin jelas menampakkan gurat kesedihan yang semakin terbaca.


"Ran, sejak duduk di bangku kuliah kita sudah bersahabat. Dan saat ini hampir setiap hari kita selalu bersama dalam menjalani hari. Apa menurutmu aku tidak tahu bahwa kamu sedang memikul sebuah beban hidup?"


Mira menjeda ucapannya untuk melihat respons apa yang diberikan oleh Kirana. Namun sia-sia saja karena Kirana tetap membungkam mulutnya.

__ADS_1


"Apakah kamu ingin ikut aku? Kita pergi ke masjid yang berada di ujung jalan sana. Kita shalat Isya' dan tarawih berjamaah? Hari ini kebetulan tarawih pertama kita." tawar Mira yang masih belum menyerah.


"Tidak Mir, aku tetap di sini saja. Setelah ini aku akan pulang."


Kirana kembali menggelengkan kepala pelan. Lagi-lagi ia menolak ajakan Mira. Wanita itu seakan kian tenggelam dalam dunianya sendiri. Tidak menginginkan seorangpun menjamahnya.


"Baiklah jika kamu masih belum ingin bercerita. Namun aku harap, kamu bisa kembali menjadi Kirana yang pernah aku kenal. Kirana yang selalu ceria dan begitu bersemangat dalam menjalani hari-hari."


Mira menepuk bahu Kirana dengan lembut. Tidak ada paksaan dari dirinya sehingga Kirana menceritakan semua yang sedang ia alami. Mira pun berbalik badan untuk kemudian keluar dari ruangan milik sahabatnya ini.


Selepas Mira pergi, sekilas netra Kirana terpaku pada bayang tubuh Mira yang perlahan mulai menghilang di balik dinding. Senyum getir pun terbit di bibir wanita itu.


Kirana yang dulu kamu kenal sudah mati, Mir. Hidup Kirana yang dulu dipenuhi oleh kebahagiaan, kini hanya ada derita yang ia rasakan. Selamanya akan tetap seperti ini. Tidak akan pernah berubah sama sekali. Hancur berkeping-keping dan tidak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala.


 


***


Kirana nampak sedang menikmati segelas red wine di sebuah klub malam yang berada di pusat kota. Setelah hatinya dikoyak oleh luka yang menganga. Dada yang terasa sesak, dihujam oleh beban hidup yang begitu berat hingga melumpuhkan kekuatan jiwa, ia pun memilih untuk menepikan diri ke tempat ini. Sebuah tempat yang ia yakini bisa menjadi tempat untuk melepaskan segala rasa pelik dan getir kehidupan yang ia jalani.


Semakin malam, suasana klub ini semakin ramai saja. Orang-orang mulai berdatangan, memenuhi seluruh penjuru ruangan yang temaram. Hilir mudik orang dengan pakaian yang bermacam-macam gaya, mulai dari yang biasa hingga punggung terbuka, dari yang mengenakan jeans panjang hingga rok mini, semua melintas di depan mata. Aroma parfum dan rokok menyengat memenuhi ruang nafas. Sementara hentakan musik dari dalam diskotik mulai terdengar memekak telinga.


"Jeff, lihatlah wanita itu!" tunjuk salah seorang pengunjung klub kepada salah seorang temannya ke arah Kirana yang nampak lemah tiada berdaya.


Lelaki bernama Jeff yang tengah menikmati sajian wine di tangan, ia tautkan pandangannya ke arah telunjuk tangan salah seorang temannya ini. Lelaki itu tersenyum penuh arti.


"Sepertinya dia akan menjadi mainan baru kita, Sam!"


Teman Jeff yang bernama Samson itu juga turut tersenyum miring. Sorot matanya ke arah Kirana sungguh tidak dapat terbaca.


"Aku sependapat denganmu. Bagaimana kalau kita dekati dia?"

__ADS_1


"Tentu. Jangan sampai kita lewatkan kesempatan ini!"


Jeff dan Samson bangkit dari tempat duduk mereka. Dengan langkah penuh percaya diri mereka mendekat ke arah Kirana dan duduk di samping wanita yang mulai dikuasai oleh alkohol itu.


"Hai, kita boleh duduk di sini?"


Gelombang suara yang merembet ke dalam indera pendengaran Kirana, membuat separuh kesadaran wanita itu kembali. Dengan malas, ia mendongakkan kepala dan menatap intens dua orang lelaki di depannya ini.


"Bukankah kalian sudah duduk? Mengapa harus meminta izin?"


Jeff dan Samson saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama tergelak pelan kala mendengar jawaban Kirana. Mungkin di dalam otak mereka sama-sama terbesit sebuah asumsi bahwa Kirana merupakan salah satu wanita unik. Dia masih bisa memberikan respon yang masuk akal meski tubuhnya sudah dikuasai oleh alkohol.


"Baiklah, jika seperti itu aku menganggap saat ini kita sudah berteman."


Kirana menatap jengah wajah dua lelaki di depannya ini. Mendadak, suasana hatinya semakin bertambah buruk lagi. Dengan sisa kesadaran yang tersisa, Kirana mencoba untuk bangkit dari posisi duduknya dan bermaksud untuk bersegera meninggalkan tempat ini.


"Loh, loh, loh... Mau kemana, Cantik?" tanya Jeff sembari memegang pergelangan tangan Kirana.


Kirana menepis lengan tangannya dari cengkeraman tangan Jeff. "Lepaskan! Aku peringatkan jangan macam-macam kamu!"


Senyum seringai terbit di bibir Jeff. Melihat Kirana yang mencoba untuk memberontak seakan semakin membuatnya tertantang.


"Ayolah Cantik, jangan sok jual mahal seperti itu. Mari kita bersenang-senang malam ini!" ucap Samson sembari membelai lembut pipi Kirana.


"Cih, jauhkan tubuh kalian dari tubuhku!"


Jeff dan Samson terhenyak kala Kirana meludah tepat di depan mereka. Tubuh mereka pun reflek menjauh dari tubuh Kirana. Dan kesempatan ini dimanfaatkan oleh Kirana untuk keluar dari tempat ini. Wanita itu dengan sempoyongan mencoba untuk segera keluar dari tempat ini.


"Ayo Sam, kejar dia. Jangan sampai ia lolos dari kejaran kita!" ajak Jeff untuk menyusul Kirana.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2