
Suap demi suap nasi dengan sayur sup dan tempe goreng itu terlihat masuk ke dalam rongga mulut Kirana. Entah sudah berapa kali sendok itu keluar masuk di mulut Kirana namun dari lahapnya Kirana menikmati makanan ini semakin menegaskan jika ia tengah dilanda oleh rasa lapar tiada terkira.
"Apakah kamu benar-benar lapar?" tanya Rama dengan senyum tipis yang terbit di bibirnya.
Kirana hanya menundukkan kepala. Ia teramat malu karena lelaki di depannya ini bisa menebak isi perutnya yang benar-benar keroncongan.
"Maaf...," lirih Kirana merasa tidak enak hati.
Rama terkekeh geli. "Mengapa minta maaf? Aku hanya bertanya, apakah kamu benar-benar lapar? Kamu seperti seseorang yang tidak makan selama tiga hari."
"A-Aku...."
"Apakah kamu ingin makan lagi? Jika iya, biar aku ambilkan lagi," ucap Rama memangkas ucapan Kirana.
Kirana menggeleng pelan. "Tidak, tidak perlu. Aku sudah kenyang."
Meski rasanya masih ingin menikmati lagi sajian menu makanan ini, namun Kirana menolak tawaran Rama. Ia merasa tidak tahu diri jika harus meminta Rama untuk menambah isi piringnya.
"Benar, kamu sudah kenyang?" tanya Rama memastikan dengan menahan tawa. Sejatinya ia tahu bahwa wanita ini tengah berusaha untuk membohongi diri.
"I-iya ... sudah cukup."
"Baiklah kalau begitu. Aku rasa tugasku untuk menyuapimu sudah selesai. Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa memanggilku. Kamarku ada di seberang kamar ini."
Rama beranjak dari posisi duduknya. Ia merasa akan sangat berbahaya jika terlalu lama ia berada di dalam kamar ini. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk bergegas keluar dari kamar sembari membawa piring kotor di tangannya.
"Tunggu!" seru Kirana yang seketika menghentikan langkah kaki Rama.
Rama berbalik badan. "Ya? Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?"
"Terima kasih untuk semua kebaikanmu dan keluargamu. Aku Kirana," ucap Kirana mengucapkan rasa terima kasihnya sembari memperkenalkan diri.
Senyum manis terbit di bibir Rama, hingga mencetak dua lesung pipit di kedua tulang pipinya. Lelaki itu juga nampak mengangguk pelan.
"Kembali kasih. Aku Rama. Ammar Hafidz Ramadhan!"
***
"Tuan Arman!"
Tubuh Sumi sedikit terperanjat kala melihat siapa yang bertandang di kediaman sang majikan di siang hari. Sosok seorang laki-laki yang masih nampak begitu gagah dan tampan yang sudah sangat jarang berkunjung di rumah ini.
"Kirana di mana Bik?" tanya Arman langsung pada poin maksud dan tujuannya datang ke tempat sang istri.
__ADS_1
Raut wajah Sumi mendadak berubah pias, kala Arman mempertanyakan perihal nona muda. Pasalnya sejak semalam nona mudanya itu tidak pulang ke rumah. Dihubingi pun juga tidak ada jawaban.
"Sejak semalam non Kirana belum pulang Tuan. Saya juga tidak tahu kemana non Kirana pergi karena ponselnya pun juga tidak aktif."
"Benarkah seperti itu? Lalu di mana dia setelah dari bar?"
Arman semakin dibuat bertanya-tanya ke mana perginya sang anak. Baru saja ia dihubungi oleh manajer bar untuk mengambil mobil Kirana yang masih anteng di parkiran bar, dan saat ini sang anak tidak berada di rumah. Sungguh sangat membingungkan.
"Saya juga tidak paham, Tuan. Karena non Kirana memang belum pulang sejak semalam," terang Sumi sembari menundukkan kepala. Takut jika sang majikan akan murka karena kejadian ini.
Arman memijit pelipisnya kala rasa pening itu mulai memenuhi syaraf-syaraf kepala. Permasalahan yang ada di kantor, permasalahan sepele yang sering terjadi dengan Stella hingga membuat cek-cok, dan sekarang ditambah dengan hilangnya Kirana benar-benar menguras pikirannya. Lelaki paruh baya itu sampai tidak paham harus melakukan apa. Semua terasa membebani pikiran yang harus ia tanggung sendiri.
"Kalau Santi di mana Bik? Apakah dia sudah pergi ke butik?"
Tidak ingin menanggung beban pikiran sendiri perihal Kirana, Arman menanyakan keberadaan wanita yang sampai saat ini belum ia ceraikan. Ia berharap bisa bekerja sama dengan Santi untuk bisa segera menemukan Kirana.
Netra Sumi memanas, hingga membentuk titik-titik embun di sana. Jika teringat akan keadaan sang nyonya, membuat jiwanya juga terkungkung dalam lara. Lara hati seorang wanita akibat perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya hingga membuat hilang akal sehatnya.
"Nyonya sedang istirahat di kamar, Tuan."
"Istirahat di kamar? Santi sedang sakit Bik?" tanya Arman penasaran.
Sumi mengangguk pelan bahwasanya memang benar jika sang nyonya sedang sakit. Lebih tepatnya sakit jiwa.
Belum selesai Sumi mengucapkan kalimatnya, Arman mengambil langkah kaki lebar untuk segera memasuki rumah yang sudah lama ia tinggalkan ini. Telapak kakinya meniti anak-anak tangga hingga mengantarkannya ke sebuah kamar yang tidak asing di indera penglihatannya.
Arman menatap kosong daun pintu yang menjadi sekat keberadaannya dengan keberadaan Santi yang berada di dalam sana. Siluet pertengkaran terakhir yang pernah tercipta di antara dirinya dengan sang istri kembali menari di dalam otaknya.
Dengan tangan gemetar, Arman memutar kenop pintu. Pintu terbuka, tungkai kakinya pun terayun untuk memasuki kamar ini. Kamar yang dulu selalu terlihat terang, saat ini nampak gelap. Sinar matahari di luar sana nyatanya tidak dapat menembus kain gordyn tebal yang dibiarkannya tetap menutupi kaca jendela.
Nampak seorang wanita yang tengah duduk di pojok kamar dengan memeluk kedua lututnya, ia menenggelamkan wajahnya di sela-sela lutut itu, dengan nafas yang terlihat tidak beraturan yang menjadi tanda ia sedang menahan isak tangisnya.
Arman memangkas jarak yang tercipta dengan berjongkok di hadapan Santi. Ingin rasanya tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala Santi. Namun, ia urungkan kala wajah wanita ini mulai mendongak dan tatapannya bersiborok dengan tatapannya.
"Santi..." panggil Arman dengan suara lirih.
Sejenak, Santi menatap lekat wajah Arman. Tidak ada respon sama sekali yang ia tunjukkan. Namun sesaat kemudian....
"Hahaha .... untuk apa lagi kamu kembali ke sini penghianat? Belum puas kamu melakukan ini semua kepadaku? Belum puas kamu menghancurkan hidupku?"
Tubuh Arman semakin terperanjat kala melihat respon Santi yang tidak biasa. Wanita itu terlihat tertawa, menangis dan marah dalam waktu bersamaan. Hal itulah yang membuat Arman semakin bergidik ngeri.
"San, kamu???"
__ADS_1
Air wajah Santi berubah sendu. Tiba-tiba saja ia mengisakkan tangis yang tertahan.
"Apa salahku? Mengapa kamu tega melakukan ini semua kepadaku? Apa kurangku padamu? Sampai kamu berselingkuh di belakangku?"
Kata demi kata yang keluar dari bibir Santi, membuat jantung Arman berdenyut nyeri. Berada jauh dari keluarganya semakin membuatnya tersadar bahwa ada banyak yang telah hilang dalam hidupnya.
Arman bangkit dari posisi jongkoknya. Melihat sang istri depresi, seakan membuatnya tidak sanggup untuk berlama-lama berada di kamar ini. Semakin lama ia berada di sini, maka semakin dalam pula rasa bersalah yang melilit hati. Lelaki itupun bermaksud untuk segera meninggalkan rumah ini.
"Sejak Tuan pergi dari rumah ini, Nyonya depresi. Dan saat ini sedang berada di dalam proses penyembuhan," papar Sumi tatkala Arman melintas di teras.
Arman mengangguk pelan. "Iya Bik, aku tahu itu."
"Saya hanya bisa berdoa, semoga keadaan nyonya dan non Kirana bisa kembali seperti semula. Mereka benar-benar nampak hancur karena ini semua."
Bibir Arman bergetar. Dadanya juga turut bergemuruh hebat. Tidak ia kira, jika perselingkuhan yang ia lakukan akan berefek dahsyat seperti ini. Arman kembali mengayunkan tungkai kaki untuk bersegera pergi dari rumah ini.
Maafkan aku Santi, maafkan aku.
.
.
.
__ADS_1