
Hawa dingin AC membelai lembut tubuh wanita muda dengan midi dress berwarna merah maroon yang tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan. Sudah tiga jam lebih ia mengelilingi mall. Memasuki outlet demi outlet pakaian, sepatu, tas tanpa merasa lelah sedikitpun. Tak ayal, di tangannya telah tertenteng beberapa paper bag dari brand ternama yang mungkin akan menaikkan status sosialnya.
"Mas Arman... aku ingin itu!" tunjuk si wanita ke arah manekin yang dipajang di salah satu outlet pakaian.
Lelaki yang tak lain adalah Arman menautkan pandangannya ke arah manekin yang ditunjuk oleh si wanita muda. Lelaki itu hanya tersenyum simpul sembari menganggukkan kepala seakan menjadi sebuah isyarat bahwa ia akan memenuhi semua yang diminta.
"Apapun yang kamu inginkan, boleh kamu ambil Sayang."
Bibir wanita itu menganga lebar dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. Ia pun turut menautkan pandangannya ke arah Arman. "Mas Arman serius? Aku masih boleh mengambil pakaian itu?"
Arman mengangguk mantap seraya membelai lembut pipi si wanita. Menatapnya dengan penuh cinta. "Apakah aku pernah berbohong?"
Bibir wanita yang ternyata bernama Stella itu sedikit mencebik. Nampaknya, jawaban dari Arman ini ada yang membuat hatinya sedikit kesal.
"Pernah. Bahkan saat ini mas Arman masih membohongiku."
Kernyitan dahi muncul di dahi Arman. Seakan tidak begitu paham dengan maksud yang tersimpan di balik raut wajah dan ucapan Stella ini.
"Berbohong perihal apa? Aku rasa, aku sudah jujur kepadamu."
"Mas Arman pernah mengatakan bahwa akan segera menikahiku bukan? Tapi mengapa sampai saat ini aku belum juga kamu nikahi Mas?"
Suasana hati yang sebelumnya begitu happy, mendadak berubah. Stella merasa sangat kesal sekali. Sudah berkali-kali Arman mengatakan akan segera menikahinya, namun sampai detik ini masih menjadi wacana dan isapan jempol semata.
Melihat mood Stella berubah, membuat Arman bersegera mencari cara untuk dapat mengembalikannya. Ia tarik lengan tangan sang kekasih sehingga tubuh ramping wanita itupun melekat ke tubuh Arman.
"Kamu belum membeli perhiasan bukan? Bagaimana jika setelah ini kamu membeli perhiasan yang kamu mau? Aku rasa kamu akan menyukainya. Bagaimana? Mau?"
Kekesalan yang sebelumnya merajai kini terhempas oleh kehadiran angin surga yang ditawarkan oleh Arman. Stella kembali mendongakkan kepala, hingga kini netranya bersiborok dengan netra milik Arman.
"Perhiasan? Serius kamu Mas? Emas, atau berlian?"
"Apapun yang kamu inginkan, boleh kamu ambil, Sayang."
Pipi Stella bersemu merah. Mendapatkan perlakuan manis seperti ini membuat senyumnya merekah. Wanita itu semakin bergelayut mesra di dalam dekapan Arman. Bagi wanita muda berusia dua puluh lima tahun itu, setelah perkenalannya dengan Arman dunianya terasa jauh lebih indah.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku ingin dua-duanya Mas. Berlian dan juga emas!"
"Baiklah, mari kita cari apa yang menjadi keinginanmu!"
Sepasang manusia itu berjalan bersisihan. Tubuh keduanya saling berhimpitan. Lengan tangan saling menggamit yang memamerkan sebuah kemesraan.
Jejak demi jejak telah tercetak di atas lantai pusat perbelanjaan ini. Memasuki outlet demi outlet serta menyusuri setiap sudut tempat yang ada. Seakan tidak ingin satupun bagian yang terlewat. Semua ingin mereka kunjungi sebagai salah satu bentuk kepuasan diri. Hingga pada akhirnya, jejak kaki keduanya terhenti di salah satu foodcourt untuk mengisi perut yang mereka biarkan kosong sedari tadi.
Sajian beef steak dan orange juice telah tersaji. Aroma khas daging Ausie terasa begitu menyeruak dari sajian ini. Hingga membuat Arman dan Stella ingin cepat-cepat menikmati.
"Jadi, apa yang bisa kamu putuskan Mas? Aku tidak mau menunggu terlalu lama lagi. Usiaku sudah dua puluh lima tahun. Aku rasa, aku sudah pantas untuk menikah."
Sembari memasukkan potongan steak ke dalam mulut, Stella mencoba untuk membuka obrolan dengan Arman. Kali ini, ia mempertanyakan kembali apa yang menjadi keputusan sang kekasih yang selama enam bulan ini diam-diam menjalin hubungan dengannya.
Arman sedikit terhenyak dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Stella. Ia mengira kekasihnya ini berhenti membahas perihal pernikahan setelah ia membelikan berlian, namun pada kenyataannya wanita ini masih saja mengingatnya. Hal inilah yang membuat lelaki paruh baya ini sedikit kelimpungan untuk menjawabnya.
"Sabar ya Sayang, aku pasti akan menikahimu. Tapi nanti setelah aku selesaikan urusanku dengan istriku."
"Sabar? Kamu minta aku sabar? Harus berapa lama lagi aku harus bersabar untuk menunggumu Mas? Kita sudah berjalan enam bulan dan kamu masih saja memintaku untuk sabar? Benar-benar egois kamu Mas!"
Arman membuang napas sedikit kasar. Ia letakkan garpu dan pisau di atas piring untuk kemudian ia raih jemari tangan sang kekasih. Tak lupa, seutas senyum tersungging di bibir Arman untuk bisa kembali mencairkan suasana. Dengan intens, ia kecup buku-buku jemari milik Stella.
"Iya Sayang, aku pasti akan segera menyelesaikan urusanku dengan istriku. Ini semua membutuhkan proses yang sangat panjang Sayang, karena aku juga telah memiliki anak. Kamu tenang Sayang, aku pasti akan segera menikahimu."
Kendati hati masih dipenuhi oleh rasa kesal namun Stella mencoba untuk kembali mempercayai perkataan lelaki ini. Wanita itupun hanya tersenyum jengah.
"Ingat ya Mas, aku mau kamu segera menceraikan istrimu. Dan setelah kita hidup bersama nanti, anakmu tidak boleh tinggal bersama kita. Aku tidak ingin apapun yang berhubungan dengan istri dan anakmu semakin membebaniku dalam melangkah."
Ya, Stella tetaplah Stella. Seorang wanita yang sejatinya tidak ingin berbagi cinta. Padahal sesungguhnya dialah yang menjadi perusak rumah tangga kaumnya. Menjadi duri dalam rumah tangga dan menjadi kerikil tajam yang akan menyisakan luka. Entah apa yang membutakan mata hatinya hingga ia tega untuk menjadi penghancur kebahagiaan orang lain.
Seperti seekor kerbau yang dicocok hidungnya, Arman menganggukkan kepala. Bahkan lelaki itu kembali mengecup jemari tangan milik Stella.
"Baik Sayang. Beri aku waktu paling lambat dua minggu untuk menyelesaikan semua ini. Aku pastikan bahwa aku sudah bercerai dari istriku."
Bagai tetesan hujan di batas kemarau, janji yang terucap dari mulut Arman berhasil membuat kesejukan mengaliri setiap sudut hati milik Stella. Wanita itu merekahkan senyum manis di bibirnya sebagai pertanda jika suasana hatinya telah kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
"Janji ya Mas, dua minggu lagi perceraian kamu dengan istrimu selesai semuanya?" ucap Stella kembali meminta ketegasan.
Lagi-lagi Arman menganggukkan kepala. Ia tersenyum dan mengusap pipi Stella dengan penuh kelembutan. "Iya Sayang, aku janji. Kali ini aku tidak akan lagi mengingkari apa yang telah aku ucapkan kepadamu."
Keduanya nampak semakin larut dalam suasana yang intim yang tercipta. Saling tertawa, saling bertatap netra dan saling mencurahkan segala rasa yang ada. Tanpa mereka sadari jika tak jauh dari tempat mereka menghabiskan waktu bersama, berdiri sosok wanita yang telah berurai air mata. Dengan menahan segenap rasa sesak dalam dada.
"Ternyata ini jawaban dari perubahan sikapmu Mas. Dan ternyata firasatku benar, bahwa kamu memiliki wanita simpanan."
.
.
.
__ADS_1