Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan
Bab 23. Memaafkan


__ADS_3

"Aku tidak mau melihat wajah orang itu Ram. Aku tidak mau!"


Kirana berteriak histeris saat untuk kali pertama ia kembali dipertemukan dengan Arman setelah prahara itu menerjang dan meluluhlantakkan keluarganya. Setelah Kirana meluapkan semua amarahnya di hadapan Arman, Rama dan Aisyah mencoba untuk membawa tubuh Kirana untuk menjauh dari ruang tengah. Mereka membawa Kirana ke taman belakang yang dipenuhi oleh tanaman palem dan cemara hias yang menjulang tinggi.


"Ran, aku bisa merasakan luka seperti apa yang menggerogoti hatimu, namun setidaknya kamu menghargai kedatangan papamu. Ia memiliki niat baik untuk bertemu denganmu Ran."


Rama yang berdiri di balik punggung Kirana, mencoba untuk memberikan sebuah nasihat untuk calon istrinya ini. Meskipun akan sulit untuk membuka hati dan pikiran seseorang yang sedang emosi, namun ia percaya jika Kirana pasti akan mendengar ucapannya.


Kirana tersenyum sinis, meskipun tidak dapat ia ingkari bahwa jantungnya berdenyut nyeri. Kejadian-kejadian menyakitkan yang berusaha untuk ia kubur dalam-dalam kini seakan kembali ke permukaan dengan kedatangan Arman yang tiba-tiba.


"Tidak ada lagi kebaikan yang tersisa dari orang itu Ram. Dia adalah orang jahat yang tega menukar kebahagiaan dan keutuhan keluarganya hanya untuk kenikmatan sesaat. Dia orang jahat Ram. Dia orang jahat."


Rama menghela napas panjang dan perlahan ia hembuskan. Membutuhkan kesabaran ekstra untuk memadamkan api amarah yang tengah berkobar di dalam hati Kirana. Membakar habis rasa sabar dan jiwa pemaafnya.


Rama sedikit menoleh ke belakang, dengan sebuah isyarat bertanya kepada sang ibu tentang apa yang harus ia lakukan. Pada akhirnya, Aisyah memberikan sebuah isyarat agar Rama mundur dan biarkan dirinya sendiri yang mencoba untuk membujuk Kirana. Seakan paham dengan apa yang di isyaratkan oleh Aisyah, pemuda itupun menjauh dari tubuh Kirana dan Aisyah mulai mendekati calon menantunya ini.


Perlahan, Aisyah memegang pundak Kirana. Hal itulah yang membuat tubuh Kirana sedikit terperanjat.


"Umi?" pekik Kirana karena begitu terkejut dengan kedatangan Aisyah yang tiba-tiba.


Aisyah menyunggingkan senyum dan mengusap-usap pundak Kirana dengan lembut. "Nak, kita duduk di sana yuk!"


Aisyah menunjuk ke arah gazebo yang berada di sudut taman. Wanita paruh baya ini percaya bahwa dengan mengajak Kirana duduk, lautan emosi yang menenggelamkan tubuh wanita ini perlahan bisa surut. Sehingga ketenangan dan kedamaian hati bisa dirasakannya.


Kirana nampak berpikir sejenak. Suasana hati wanita itu benar-benar hancur setelah kedatangan sang ayah. Sampai ia tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa kembali ke keadaan seperti semula. Namun, pada akhirnya Kirana menganggukkan kepala dan menyetujui ucapan Aisyah untuk duduk di gazebo. Sepasang calon mertua dan menantu itupun mengayunkan langkah kaki mereka dan duduk di gazebo.


"Semua yang kita alami, pasti menyisakan sebuah hikmah, Nak. Hikmah yang begitu berharga untuk membuat diri kita jauh lebih berkualitas. Baik itu kualitas hubungan kita dengan sesama manusia dan hubungan kita dengan Allah Subhana Wataa'alla."


"Pantaskah seorang laki-laki dengan gelar ayah yang berselingkuh mendapatkan maaf dari keluarga yang telah ia tinggalkan, Umi? Apakah ia pantas untuk mendapatkannya? Raina rasa sangat tidak pantas."

__ADS_1


Kirana menimpali ucapan Aisyah dengan pandangan nyalang ke depan. Kepingan-kepingan memori yang baru beberapa saat yang lalu terjadi, kini kembali menari-nari di dalam pikirannya. Yang menjadikannya berat untuk memaafkan dan menerima kembali kehadiran Arman.


"Nak, setiap manusia tidak akan pernah luput dari dosa dan alpa. Mereka diuji dengan cara masing-masing. Dan itu semua sedang dihadapi oleh papamu. Papamu diuji dengan kehadiran seorang wanita yang tiba-tiba hadir di dalam kehidupannya. Dan pada kenyataannya ia lengah, sehingga terjerumus di dalam dosa dan nista."


"Jika sudah seperti itu, bukankah sangat tidak pantas dia mendapatkan maaf dari saya ataupun mama saya, Umi? Kesalahan yang telah dia lakukan sangatlah besar dan tidak mungkin bisa untuk saya maafkan."


Aisyah tersenyum penuh arti. Ia kembali mengusap-usap bahu dan punggung calon menantunya ini dengan penuh kasih. Ia paham bahwa apa yang dialami oleh Kirana menyisakan sebuah trauma, namun Aisyah selalu percaya jika Kirana akan kembali memaafkan sang papa.


"Nak, sesungguhnya kebencian yang bercokol di dalam hatimu hanya akan membuat kakimu terasa begitu berat untuk melangkah ke depan. Kebencian yang mungkin akan berubah menjadi dendam yang mungkin bisa menjadi salah satu penghalang untuk kebahagiaanmu sendiri."


Kirana mulai tertarik dengan apa yang diucapkan oleh Aisyah. Ia sedikit sadar bahwa apa yang diucapkan Aisyah memang benar adanya. Meski saat ini ia sudah berada di jalan yang lurus, namun entah mengapa terkadang masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Ia baru sadar jika itu semua berasal dari kebencian yang masih bersarang di dasar hati kepada sang papa.


Kirana menatap wajah Aisyah dengan mata berkaca-kaca dan hidung yang mulai kembang kempis menahan tangis. "Umi..."


Lagi-lagi Aisyah hanya tersenyum penuh arti. Ia raih tangan Kiran dan ia genggam jemari wanita ini dengan erat.


"Bebaskan dirimu dari belenggu rasa benci dan dendam itu, Nak. Dengan memaafkan, inshaAllah suasana hatimu akan jauh lebih tenang dan ringan. Dan ingatlah, akan selalu ada kesempatan kedua bagi orang-orang yang memang tulus untuk berbenah diri. Umi rasa, saat ini papamu sedang berada di fase itu. Mencari makan hidup yang sebenarnya. Untuk mendapatkan apa itu kebahagiaan yang hakiki."


"Umi yakin bahwa kamu adalah salah satu wanita pemaaf, Nak. Umi juga yakin bahwa sesungguhnya, kamu begitu mencintai papamu dan merindukan suasana rumah seperti dulu, saat sebelum badai itu menerpa keluargamu."


****


Aisyah masih setia berjalan sembari menggandeng tangan Kirana. Di saat mereka tiba di sebuah pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah dengan halaman belakang, tiba-tiba Arman dengan setengah berlari menghampiri Kirana. Sampai di hadapan sang anak, ia meluruhkan tubuhnya dan bersimpuh di bawah telapak kaki Kirana.


"Ampuni Papa, Ran. Ampuni Papa. Kamu boleh melakukan apapun asal kamu mau memaafkan Papa. Dengan begitu, Papa sudah tidak lagi memiliki beban untuk menjalani kehidupan Papa."


Bulir bening dari sudut mata Kirana kembali menetes. Suara sang papa terdengar parau. Dadanya naik turun. Ia yakin, jika saat ini sang papa juga sedang merasakan sesak di dalam dadanya.


"Bangunlah Pa. Jangan seperti ini!"

__ADS_1


Arman menggeleng. "Tidak Ran, Papa sudah teramat bersalah kepadamu dan juga mamamu. Ini semua kesalahan Papa, Ran. Papa minta maaf!"


Tubuh Kirana sedikit membungkuk. Ia raih kedua bahu sang papa dan mencoba untuk membuatnya berdiri. Kini Arman telah berdiri tegak namun masih menundukkan wajahnya. Benar saja, lelaki itu menangis.


Getir, itulah yang Kirana rasakan saat ini. Ia memang teramat sakit dengan semua yang telah diperbuat oleh sang papa namun ia juga tidak tega melihat lelaki ini meneteskan air matanya. Terlepas kesalahan yang pernah dilakukan oleh sang papa, lelaki itu tetaplah merupakan sosok lelaki terbaik yang ada di dalam hidupnya. Tanpa dia, mungkin ia tidak akan pernah merasakan kehidupan yang sempurna seperti yang ia dapatkan.


Kirana mencoba berdamai dengan takdir. Ini semua memang harus segera diselesaikan. Entah jalan apa yang menjadi akhir penyelesaiannya ini. Namun apapun itu, Kirana sudah memilih untuk ikhlas memaafkan sang papa.


"Kirana sudah memaafkan Papa. Namun untuk keinginan Papa kembali ke keluarga ini, Kirana serahkan semua kepada mama. Karena bagaimanapun juga mamalah orang yang paling menderita karena perselingkuhan yang Papa lakukan."


Arman menggelengkan kepala. "Tidak Rani, Papa tidak akan pernah berharap kalian bisa menerima kehadiran Papa kembali. Papa sudah kehilangan semua. Dan Papa akan menerima semua konsekuensi yang harus Papa terima. Papa lah yang sudah menyalakan api itu dan Papalah yang siap untuk terbakar. Yang terpenting, kalian memaafkan Papa. Itu sudah cukup."


Air mata Arman semakin deras mengalir yang membuat Kirana juga menangis tergugu. Rasa cintanya terhadap sang papa melebihi rasa sakit yang ia rasa. Hal itulah yang membuatnya tidak tega jika harus melihat sang papa hidup sendirian.


Santi yang duduk di atas kursi roda di dekat anak tangga, juga tidak dapat menahan kesedihannya. Wanita itu juga menangis. Sama seperti yang dirasakan oleh sang putri. Rasa cintanya kepada sang suami terlampau besar dan tidak mungkin ia tega melihat kehancuran itu dialami oleh lelaki yang sudah dua puluh tujuh tahun menemani perjalanan hidupnya.


"Aku sudah memaafkanmu Pa. Jika kamu ingin kembali, pintu rumah dan pintu hatiku masih terbuka lebar untukmu!"


Ucapan Santi membuat Arman terkejut setengah mati. Ia berbalik badan dan melihat wanita yang masih sah menjadi istrinya ini tersenyum ke arahnya. Gegas, lelaki itu bersimpuh di bawah telapak kaki Santi.


"Ampuni aku Santi. Ampuni aku..."


Ruangan ini tiba-tiba dipenuhi oleh atmosfer keharuan yang luar biasa. Semua yang ada di ruangan ini ikut meneteskan air mata. Air mata bahagia karena pada akhirnya, keluarga kecil ini bisa kembali berkumpul bersama.


Hidup memang sebuah pilihan. Di saat seorang suami berselingkuh, seorang istri memiliki dua pilihan. Tetap melanjutkan biduk rumah tangganya atau mengakhirinya. Dan Santi memilih untuk memaafkan dan tetap melanjutkan perjalanan hidupnya bersama Arman.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2