Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan
Bab 14. Menyuapi


__ADS_3

Sepasang jendela hati milik Kirana masih tertutup rapat. Menjadi sebuah tanda bahwa raganya masih hanyut ke dalam pusaran alam bawah sadar yang mendekap erat. Seakan tidak ingin terbangun, untuk menghadapi beban hidupnya yang terasa begitu berat. Raut wajah wanita itu masih memancarkan binar kecantikan yang begitu memikat. Kendati tak dapat diingkari jika wajah itu nampak sedikit pucat.


"MashaAllah  ... kakak ini benar-benar cantik. Wajahnya bersih berseri. Hidungnya mancung. Kulitnya putih, rambutnya hitam legam. Bulu matanya lentik. Benar-benar seperti boneka hidup."


Duduk di kursi plastik yang berada di samping ranjang, Yasmin menatap intens wajah Kirana yang tengah terlelap ini. Gadis itu tiada henti berdecak kagum kala netranya menatap lekat salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang Maha sempurna.


"Kamu sedang apa Dik? Mengapa tidak lekas mengambil air wudhu dan malah justru duduk di situ?"


Rama yang melintas di depan kamar khusus tamu, sedikit keheranan kala melihat sang adik yang justru nampak duduk termenung di dalam kamar. Adzan subuh sudah berkumandang, namun adiknya ini masih belum juga bersiap untuk pergi ke surau.


"Aku sedang memperhatikan kakak ini, Kak. Cantik sekali ya kakak ini?" ucap Yasmin sembari bertopang dagu.


Rama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Jika sesama kaum perempuan saja, dia bisa memberikan penilaian bahwa wanita asing ini cantik, lalu bagaimana dengan kaum lelaki. Kata orang, cantik itu relatif, namun sepertinya tidak berlaku untuk wanita ini. Semua orang pasti akan setuju jika wanita ini memanglah cantik.


"Dik, iya. Dia memang cantik. Sudah, sekarang lekas ambil air wudhu, kita berangkat ke surau bersama-sama."


"Kak Rama tidak terpesona kah? Kakak ini benar-benar cantik lho Kak!"


Alih-alih melaksanakan perintah Rama untuk segera mengambil air wudhu, Yasmin justru membicarakan hal lain. Gadis itu seperti terkesan berupaya menjodohkan sang kakak dengan Kirana.


"Hmmmm  ... kamu ini. Sudah, ayo kita segera berangkat ke surau. Abi dan Umi sudah berangkat dari tadi, Dik!"


Yasmin bangkit dari posisi duduknya. Saat melintas di depan sang kakak, gadis belia itu berbisik lirih. "Semoga kakak cantik ini belum memiliki kekasih ataupun suami. Dengan begitu, kak Rama bisa lebih dekat dengannya."


Rama sedikit terkejut mendengar cicitan adik semata wayangnya ini. Namun setelah itu seutas senyum simpul terbit di bibirnya. Karena gemas, Rama menjepit hidung Yasmin dengan jarinya.


"Ayo segera ambil wudhu!"


"Aaawwww  ... Kakak! Kakak tidak meng-aamiinkan doa Yasmin?" protes Yasmin sembari memekik ketika hidungnya dicapit oleh Rama.


"Aamiin. Sudah, sekarang lekas ambil air wudhu Dik!"


Senyum mengembang di bibir Yasmin. Gegas, gadis belia itu mengayunkan tungkai kakinya untuk mengambil air wudhu.


"Semoga di aamiin-kan juga oleh malaikat ya Kak!" teriak Yasmin yang masih terdengar di telinga Rama.


Lagi-lagi Rama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sang adik yang nampak begitu bersemangat menjodohkannya dengan wanita asing yang baru saja ia temukan ini. Rama menautkan pandangannya ke arah Kirana yang masih terlelap.


Apakah mungkin kamu memang seorang wanita yang telah dikirimkan oleh Allah untuk menjadi pelengkap hidupku? Astaghfirullahalazim  .... sadar Ram. Kamu belum tahu asal usul wanita ini. Bisa saja ia sudah bersuami.


Rama kembali tersadar dari pikiran yang entah sudah melanglang buana hingga kesana kemari. Tidak ingin seperti api di dalam sekam, Rama segera memupus segala jeratan rasa yang dihadirkan oleh pesona wanita asing ini. Yang membuatnya lupa bahwa seharusnya, ia melibatkan Allah di setiap perkara yang dihadapinya. Termasuk perkara kepada siapa ia harus jatuh cinta.


Tak ingin berlama-lama berada di tempat ini yang mungkin justru akan membuatnya semakin kehilangan kendali, Rama juga bergegas untuk segera pergi ke surau. Mendirikan shalat untuk bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.


***

__ADS_1


Sreeeeekkkk.....


Aisyah menyibak tirai putih dalam kamar yang ditempati oleh Kirana yang seketika membuat sinar keemasan sang mentari mulai masuk melalui celah-celah jendela. Tidak lupa, jendela itupun juga turut ia buka yang seketika menghadirkan rasa hangat yang menerpa.


Bola mata milik Kirana bergerak-gerak kendati kelopaknya masih tertutup sempurna. Jemarinya pun juga mulai bergerak-gerak seakan menjadi sebuah sinyal bahwa sebentar lagi ia akan terbangun dari tidur panjangnya. Dan benar saja, sejenak kemudian kelopak matanya terbuka.


"Alhamdulillah  .... akhirnya, kamu bangun juga Nak.”


Aisyah yang tengah menatap lekat wanita cantik di atas pembaringan ini refleks mengucap syukur saat wanita itu mulai membuka kelopak matanya.


Kirana memegang kepalanya yang masih terasa berat. Tubuhnya juga terasa lemas, karena entah kapan terakhir kali ia mengisi perutnya. Ia berusaha untuk bangun, namun apa daya, untuk menggeser tubuhnya saja rasanya begitu berat.


Aisyah tersenyum simpul. Wanita paruh baya itu tahu apa yang menjadi maksud Kirana. Ia pun membungkukkan tubuhnya untuk membantu Kirana bersandar di head board ranjang.


"Apakah sudah nyaman, Nak?" tanya Aisyah setelah menyelipkan bantal sebagai sandaran bahu.


Kirana mengangguk pelan. "Terima kasih, Tante!"


"Sama-sama Nak."


Kirana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Sebuah ruangan yang nampak begitu asing di penglihatannya, yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya. Dahinya sedikit mengernyit mencoba mengingat apa yang terjadi, namun sama saja, ia tetap belum bisa mengingatnya.


"Tante, saya ada di mana?"


"Kamu berada di rumah Tante, Nak. Semalam, kamu ditemukan oleh anak Tante dalam keadaan pingsan. Dan kemudian dibawa kemari karena mereka tidak tahu di mana alamat rumahmu."


"Maaf, saya sudah merepotkan Tante dan keluarga."


Aisyah mengulas seutas senyum di bibir sembari menggeleng pelan. "Tidak Nak, kamu sama sekali tidak merepotkan keluarga Tante. Justru kami senang sekali bisa turut membantumu dari dua pria yang berniat jahat kepadamu."


Kirana juga turut tersenyum simpul. Ia tatap lekat wajah wanita paruh baya di depannya yang terlihat cantik dengan balutan jilbabnya.


Krucuk... Krucuk.. .. Krucuk.. . 


Bunyi para penghuni perut Kirana nyaring terdengar. Membuat Aisyah tersenyum lebar. Sedang Kirana hanya menunduk malu karena pasti saat ini akan ketahuan bahwa ia sedang menahan rasa lapar.


"Sebentar, Tante ambilkan sarapan ya Nak. Setelah ini kamu bisa langsung sarapan."


Kirana terhenyak. Ia merasa tidak enak hati karena lagi-lagi harus merepotkan wanita paruh baya ini. "Tapi Tante, saya..."


"Sudah, jangan menolak. Kalau kamu tidak sarapan pasti justru akan memperburuk kesehatan, Nak."


Baru saja Aisyah akan mengayunkan tungkai kakinya, namun niatnya tiba-tiba terhenti saat sang putra masuk ke dalam kamar dengan membawa sepiring sarapan.


"Loh Nak, baru saja Umi akan ke dapur untuk mengambil sarapan."

__ADS_1


"Tidak perlu, Umi. Sudah Rama bawakan."


"Kok kamu tahu kalau tamu kita ini sudah sadar?" tanya Aisyah dengan kernyitan di dahinya.


"Tadi sewaktu Rama melintas di depan kamar, Rama melihat Umi berbincang-bincang dengan tamu kita ini. Maka dari itu Rama berinisiatif untuk membawa sarapan ini."


Aisyah mengangguk pelan. "Oh Umi kira, kamu memiliki ikatan batin dengan tamu kita ini, Nak."


Rama hanya tergelak lirih. Ia letakkan piring berisi nasi, lauk dan sayur itu di atas nakas.


"Apa kamu mau makan sekarang?"


Sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya, Kirana menganggukkan kepala. "I-iya. Aku mau makan sekarang."


Rama kembali mengambil piring berisikan nasi lengkap dengan sayur dan lauknya itu. Ia ulurkan ke arah Kirana. "Makanlah! Mumpung masih hangat."


Kirana menerima piring pemberian Rama. Entah apa yang terjadi, tangannya gemetaran seperti diserang oleh getaran tremor yang begitu dahsyat. Hal itulah yang membuat Aisyah tersenyum simpul.


"Nak, lebih baik kamu suapi tamu kita ini. Sepertinya, ia tidak memiliki tenaga. Lihatlah, ia sampai gemetaran seperti itu," bisik Aisyah di telinga Rama.


"Mengapa tidak Umi saja? Rama benar-benar merasa tidak enak," ucap Rama sedikit tidak sependapat dengan ucapan uminya ini.


Aisyah menakutkan pandangannya ke arah Kirana. "Nak, biar disuapi putra Tante ya. Kalau saja pagi ini Tante tidak ada acara, pasti Tante yang akan menyuapimu. Berhubung Tante sedang ada acara, maka biar putra Tante yang melakukannya untukmu."


Kirana sedikit terkesiap. Kali ini ia benar-benar merasa tidak enak hati. "Tapi Tante..."


"Sudah, biarkan aku yang menyuapimu!" timpal Rama memangkas ucapan Kirana.


.


.


.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2