
Tubuh yang terasa lemah, kepala yang terasa pening dan juga langkah yang terasa berat, Kirana bawa untuk menembus pekat malam ini. Rembulan memilih bersembunyi di balik awan, sehingga hanya ada suasana temaram yang mendominasi. Hembusan angin kencang juga menyelinap masuk melalui pori-pori kulit sampai terasa menusuk tulang.
Setelah keluar dari bar, Kirana mengayunkan tungkai kaki. Menyusuri jalanan beraspal kota ini yang sudah terasa begitu sepi. Tidak mengherankan karena saat ini hampir memasuki waktu dini hari. Di saat para penghuni bumi memilih untuk memeluk mimpi, Kirana justru berkeliaran di pinggir jalan seperti seseorang yang sedang depresi. Kehilangan arah dan tidak tahu akan kemana ia kembali.
Entah apa yang sedang terjadi kepada wanita itu, namun sepertinya Kirana melupakan sesuatu. Yakni, mobil yang ia kemudikan nyatanya masih terparkir di area parkir diskotik yang baru saja ia singgahi. Dan ia memilih untuk berjalan kaki, tanpa tahu arah yang akan ia tuju. Dengan kepala menunduk, Kirana nampak menekuri jejak-jejak langkah yang telah tercetak.
"Hei, kita bertemu lagi. Itu sebagai pertanda bahwa kita memang berjodoh."
Jeff dan Samson yang sedari tadi mengikuti kemana Kirana pergi, kini keduanya berhasil menyamakan langkah kaki mereka dengan Kirana. Mereka pun berjalan dengan posisi mengapit wanita yang saat ini tengah berada di dalam posisi mabuk itu.
Kirana mengangkat kepala dan sekilas menoleh ke arah Jeff dan Samson. Kendati berada dalam posisi mabuk, namun wanita itu masih bisa menatap sinis dua lelaki yang datang secara tiba-tiba ini.
"Kalian mau apa?" tanya Kirana dengan tatapan sinis.
Jeff dan Samson sama-sama tergelak pelan kemudian menampilkan senyum seringai dari bibir masing-masing. Melihat ada seorang wanita yang sedang berada di dalam posisi mabuk seperti ini, membuat hati keduanya girang. Mereka berpikir akan banyak mendapatkan keuntungan.
"Eitsss .... tenang saja cantik, kami hanya ingin menemanimu dan ingin mengantarkanmu pulang. Jadi kamu tidak perlu takut." timpal Samson dengan tersenyum licik.
"Aku tidak perlu diantar oleh kalian. Jadi, kalian bisa pergi dari sini. Pergi!" titah Kirana dengan intonasi tinggi.
Kepala yang sedari tadi sudah terasa pening semakin bertambah berat dengan kehadiran dua lelaki asing yang mengganggu ketenangannya ini. Rasa-rasanya ia ingin meludahi dua orang ini lagi, sehingga mereka bisa pergi dari sini. Namun ternyata di luar ekspektasi. Jeff dan Samson terlihat semakin gencar untuk mengganggu Kirana, bahkan tangan mereka mulai mencengkeram pergelangan tangan wanita yang tengah mabuk ini.
"Hahaha tidak semudah itu kamu mengusir kami, Cantik. Lebih baik kamu menurut saja dengan kami. Percayalah, kami ini orang baik dan tidak akan menyakitimu!"
Jeff semakin bertindak berani terhadap Kirana. Jemari tangan lelaki itu bahkan mulai membelai pipi Kirana. Dengan senyum seringai, lelaki itu semakin percaya diri bahwa dia mampu untuk menaklukkan wanita cantik ini.
Kirana sedikit terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Jeff. Ia kedua netranya menatap tajam lelaki dengan perawakan tinggi ini. "Jauhkan tubuh kotormu itu dariku, bre*ngsek. Lepaskan!"
Kini giliran Samson yang terbahak. "Hahahaha tidak bisa, Cantik. Kecantikanmu sudah mengganggu pikiran kami, jadi sudah selayaknya kamu mengikuti apa yang menjadi kemauan kami. Hahaha."
"Lepaskan. Aku bilang lepaskan!"
__ADS_1
Tubuh Kirana semakin meronta. Berkali-kali ia mencoba untuk menepis tangannya agar bisa terlepas dari cengkeraman tangan dua lelaki asing yang mengganggunya ini.
"Hahahaha ... tidak bisa Cantik. Kami sudah terlanjur terpesona akan kecantikan wajahmu. Oleh karena itu, mari ikut dengan kami!"
"Ayolah Cantik, jangan jual mahal seperti itu. Aku tahu kamu ini siapa. Kamu tidak jauh berbeda dari wanita-wanita malam yang sering menjajakan tubuhnya, bukan? Maka dari itu, mari ikut dengan kami. Kita akan bersenang-senang dan kamu akan kami bayar!"
Dua lelaki itu semakin dibuat penasaran dengan penolakan yang dilakukan oleh Kirana. Semakin wanita ini meronta, justru semakin membuat Jeff dan Samson gencar untuk menggoda. Tidak tanggung-tanggung, tubuh keduanya seakan mengeluarkan sinyal ingin mendekap tubuh Kirana.
Kirana semakin bergidik ngeri di kala Jeff mulai merapatkan tubuhnya. Dan... "Cuih , cuih. Aku benar-benar jijik kepada kalian. Pergi kalian dari sini. Pergi!"
Kirana kembali meludahi dua lelaki di hadapannya ini bergantian seperti apa yang ia lakukan di dalam bar beberapa saat yang lalu. Meski dalam keadaan mabuk, namun wanita ini berupaya untuk bisa melindungi diri.
Perbuatan Kirana membuat Jeff dan Samson terkejut setengah mati. Tubuh keduanya sedikit merenggang dari tubuh Kirana. Dengan sedikit rasa jijik, mereka mencoba untuk membersihkan wajah dari semburan cairan saliva yang membasahi wajah mereka. Tubuh yang sudah terlepas dari kungkungan dua lelaki asing ini, membuat otak Kirana bekerja penuh akan apa yang harus ia lakukan. Tanpa basa-basi Kirana mulai mengambil start untuk berlari.
"Dasar kurang ajar. Berani-beraninya dia meludahiku. Itu artinya dia memang benar-benar telah menabuhkan genderang perang denganku. Sam, ayo kita kejar wanita itu!"
Sam dan Jeff ikut berlari untuk mengejar Kirana yang sudah berjarak beberapa meter di depannya. Baru kali ini dua lelaki itu seakan dipermainkan oleh wanita yang terlihat tidak terpikat oleh pesona yang mereka miliki. Padahal sebelumnya, mereka dikenal dengan sebutan penakluk hati wanita, yang mana siapapun akan bertekuk lutut jika sudah mereka goda.
Seolah melawan semua rasa takut, Kirana berlari menembus gelapnya malam yang hanya diterangi oleh sedikit cahaya dari sang rembulan. Ia berlari sekencang mungkin, tidak menghiraukan apapun yang ada di kanan kirinya. Yang menjadi tujuannya hanya satu yaitu rumah penduduk yang mungkin bisa ia gunakan sebagai tempat untuk berlindung.
Tubuh yang lemah, dipaksa oleh Kirana untuk menghindar dari kejaran dua lelaki asing itu. Kondisi fisik wanita itulah yang membuat langkah kakinya semakin melemah sehingga jarak antara dirinya dengan dua lelaki itu semakin terkikis habis. Jeff dan Sam semakin terbahak di saat jalan yang dipilih oleh Kirana menemukan kebuntuan.
"Hahahaha ... mau lari kemana lagi kamu? Lihatlah, saat ini keadaan seakan tidak berpihak kepadamu. Itu artinya, kamu memang harus melayani kami."
Tubuh Jeff semakin merapat ke tubuh Kirana yang sudah mentok di sebuah tembok yang menjulang tinggi. Keadaan seperti inilah yang membuat air mata Kirana semakin deras mengalir menyusuri bingkai wajahnya yang sudah terlihat pasi.
Kirana berbalik badan. Sorot mata lelaki di depannya ini benar-benar mengerikan seperti seekor singa yang sedang kelaparan. Senyum seringai yang muncul di bibirnya juga semakin menegaskan jika lelaki ini benar-benar memiliki niat jahat yang sudah tidak bisa lagi untuk ditahan. Sendi-sendi yang mulai melemah, membuat Kirana sudah tidak mampu lagi untuk melawan.
"Pergi kalian dari sini, pergi!" usir Kirana dengan suara lirih. Tenaganya seakan terkikis habis dan tidak dapat melakukan perlawanan apapun.
"Tidak akan. Aku tidak akan pernah membuang kesempatan ini!"
__ADS_1
Melihat ada celah untuk menguasai tubuh Kirana, Jeff mulai menarik lengan tangan Kirana dan mendekapnya. Lelaki itu bermaksud untuk memanggul tubuh ramping wanita cantik ini.
Tuhan .... apakah pertolonganmu tetap ada untuk pendosa sepertiku ini? Aku tidak sanggup untuk melawan lagi, Tuhan. Aku tidak sanggup.
Kirana sudah pasrah saat tubuhnya berada di atas pundak Jeff. Pandangannya semakin berkunang-kunang dan pada akhirnya terasa gelap seutuhnya.
"Sam, akhirnya malam ini kita akan berpesta dengan menikmati tubuh wanita ini!" teriak Jeff kegirangan setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tak jauh berbeda dengan Jeff, Sam pun juga turut tertawa lebar dan terbahak. "Let's go Jeff, kita nikmati tubuh wanita ini!"
Keduanya sama-sama terbahak sembari mengayunkan tungkai kaki mereka untuk bersegera meninggalkan tempat ini. Namun baru beberapa saat mereka melangkah, tiba-tiba....
"Hentikan! Lepaskan wanita itu!"
.
.
.
__ADS_1