Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan
Bab 25. Cinta di Penghujung Ramadan -END-


__ADS_3

Malam ini, kediaman Kirana nampak lebih ramai dari biasanya. Di ruang tengah, sudah dihias sebuah dekorasi simpel nan elegan dengan warna putih yang mendominasi. Berpuluh-puluh tangkai bunga mawar putih pun juga turut menghiasi ruangan ini.


Sebuah meja kecil di atas permadani telah siap. Di atas meja itu terdapat sebuah kotak warna silver yang berisikan seperangkat alat sholat, dan Al-Qur'an. Tak lupa, kotak beludru warna merah juga menghiasi meja kecil itu. Yang isinya sepasang emas putih.


Malam ini, pernikahan Rama dan Kirana akan dilangsungkan. Sesuai dengan keinginan Kirana yang ingin menikah di malam kedua puluh tujuh ramadan. Dan malam ini, keinginan wanita berusia dua puluh lima tahun itu benar-benar telah terwujud.


Rama dengan setelan jas warna putih nampak duduk bersila di atas permadani. Di hadapannya telah duduk Arman yang akan menjadi wali nikah Kirana, penghulu dari KUA, Hakam, dan dua orang yang akan bertindak sebagai saksi.


Rama terlihat sedikit gugup. Berkali-kali ia *******-***** tangannya yang sudah terasa begitu dingin. Ternyata memang benar apa yang orang katakan. Sehebat-hebatnya lelaki, pasti akan merasakan kegugupan luar biasa pada saat prosesi ijab-qobul. Bagaimana tidak gugup? sebentar lagi ia akan mengambil sebuah perjanjian berat dalam hidupnya.


Akad nikah tidak hanya merupakan perjanjian antara dua manusia, melainkan juga merupakan perjanjian antara manusia dengan Sang pencipta. Begitu sakral nya akad nikah, sehingga Allah menyebutnya Mistaqon gholizho atau perjanjian Allah yang berat. Sebuah perjanjian di mana saat terucap, pintu-pintu langit terbuka, dan malaikat-malaikat turut serta menyaksikannya.


Berkali-kali Rama menghela nafas dalam, berusaha untuk menguasai rasa gugupnya. Hal itu tak lepas dari perhatian Arman dan Hakam yang sontak membuat mereka terkekeh pelan.


"Mas Rama, apa sudah siap untuk melaksanakan prosesi ijab-qobul?" tanya penghulu yang ada di sampingnya.


Rama menghela napas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Bismillah, saya sudah siap Pak."


Penghulu itu mengangguk. "Pak Arman dan mas Rama silakan berjabat tangan!"


Keduanya kemudian berjabat tangan. Saat menjabat tangan Rama, dada Arman terasa begitu sesak, matanya memanas. Ia merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya.


Sebentar lagi, putri semata wayangnya akan menjadi milik lelaki yang ada di hadapannya ini. Sebentar lagi, hidup putrinya akan diserahkan untuk berbakti kepada suaminya. Dan sebentar lagi, surga anaknya akan berpindah kepada laki-laki yang ada di depan matanya ini.


"Bisa kita mulai, Pak?" tanya penghulu yang seketika membuyarkan tatapan Arman yang menerawang.


Arman menganggukkan kepala.


"Bismillahirrahmanirrahim.. Saudara Ammar Hafidz Ramadhan bin Abdul Hakam!"


"Saya!"


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Kirana Anindya Shafa binti Arman Adiguna dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan Al-Quran dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Anindya Shafa binti Arman Adiguna dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

__ADS_1


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah!"


Dengan sekali tarikan napas, Rama terdengar begitu lancar mengucap kalimat qobul. Mulai detik ini ia resmi menjadi suami dari Kirana. Dan tanpa terasa setitik kristal bening lolos dari pelupuk matanya. Hal yang sama juga terjadi pada Arman, seluruh rasa sesak dalam dadanya kini berubah menjadi kelegaan yang luar biasa.


Kirana dengan gamis berwarna putih berjalan anggun diapit oleh Aisyah dan Santi. Kedua wanita paruh baya itu mengantarkan Kirana untuk menuju ke tempat Rama berada.


Kirana memasuki tempat dilangsungkan akad nikah, kemudian duduk di samping Rama. Rama menoleh ke arah wanita yang saat ini berada di sampingnya. Betapa terkejutnya ia, melihat wanita ini. Malam ini Kirana terlihat seribu kali lebih cantik dari biasanya. Dia terlihat begitu memesona dengan balutan gamis berwarna putih dan make-up flawless nya. Dan pastinya dengan hijab yang membalut kepalanya.


Mata Rama membulat sempurna, bibirnya terkatup. Ia seperti terhipnotis dengan kecantikan Kirana malam hari ini. Wanita yang telah sah menjadi istrinya ini nampak seperti sosok bidadari.


"Mas Rama, apakah acara bisa kita lanjutkan kembali?" tanya penghulu dengan menahan tawa melihat Rama yang tengah terhipnotis akan kecantikan istrinya itu.


"Eh?" Rama tersentak, yang seketika membuat kesadarannya pulih kembali.


Penghulu itu tersenyum simpul. "Mas Rama, mbak Kirana, mulai sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri. Silakan lakukan tugas dan kewajiban kalian dengan baik dan penuh tanggung jawab."


"Nah sekarang, silakan mas Rama menyematkan cincin di jari mbak Kirana begitu pula sebaliknya!"


Rama membuka kotak beludru warna merah itu. Ia ambil sebuah cincin kemudian ia sematkan di jari manis Kirana. Setelah itu berganti Kirana yang menyematkan cincin emas putih di jari Rama.


Setelahnya Kirana mencium punggung tangan Rama dengan sedikit membungkuk.


Lagi, setetes bulir bening lolos dari pelupuk mata Kirana. Tangan inilah yang nantinya akan menggandeng tangannya untuk bersama-sama menjalani kehidupan berumah tangga. Entah apa yang akan terjadi nanti, ia hanya menyisakan sebuah keyakinan, jika Rama adalah laki-laki terbaik yang telah Allah pilihkan untuknya.


"Bantu aku untuk bisa senantiasa berbakti kepadamu, Mas!"


Kirana kembali menegakkan badannya. Ia sedikit mengangkat dagunya untuk menatap wajah lelaki yang saat ini menjadi suaminya.


Rama turut menatap netra milik Kirana dengan teduh. Keduanya saling bertatap netra dengan senyum tipis yang tersungging di bibir masing-masing. Tanpa aba-aba Rama kemudian mencium kening Kirana.


"Bantu aku juga, Sayang. Bantu aku untuk bisa menjalankan kewajibanku dengan baik," ucap Rama lirih masih dengan mendaratkan sebuah kecupan di kening Kirana.

__ADS_1


Nyeeessssss.....


Rasa sejuk seolah mengaliri aliran darah dalam tubuh Kirana. Ini kali pertama Rama mencium keningnya dan rasanya begitu menyejukkan. Lama Rama mencium kening Kirana seolah tak ingin ia lepaskan.


****


Pilar awan menghias angkasa. Merenda temaram di sudut buana. Belaian angin turut menerpa. Membasuh kesegaran di dalam jiwa.


Dewi malam menyabit, menenggelamkan wajahnya di balik awan. Gemintang yang biasanya bernyanyi dan menari riang, malam ini sedikit meredup, memilih untuk tidak menampakkan keberadaannya.


"Assalamualaikum warahmatullah... Assalamualaikum warahmatullah..."


Rama membalikkan tubuhnya. Disambut oleh tangan Kirana yang bersiap untuk mencium punggung tangan sang suami. Dibarengi dengan sebuah kecupan lembut di pucuk kepala Kirana yang masih terbalut oleh mukena, seperti mentransfer rasa damai yang mengaliri aliran darahnya.


Rama mengecup kepala Kirana dengan intens, sembari melafazkan doa-doa terbaik untuk biduk rumah tangga yang baru saja ia bangun bersama Kirana.


"Terima kasih banyak sudah hadir di dalam kehidupanku, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah menjadi pelengkap hidupku."


Kirana tersenyum penuh arti. Ia belai lembut pipi suami yang ada di hadapannya ini. "Aku yang seharusnya berterima kasih, Mas. Terima kasih karena melalui kehadiranmu, aku bisa menjemput jalan hijrahku."


Rama memeluk erat tubuh Kirana . Mengusap punggung kekasih halalnya ini dengan penuh kelembutan. "Aku mencintaimu Kirana. Tetaplah berada di sisiku untuk menyempurnakanku dan jangan pernah meninggalkanku."


Kirana mengangguk di dalam pelukan Rama. "Aku juga mencintaimu mas Rama. Aku berjanji, tidak akan pernah meninggalkanmu. Seumur hidupku akan aku gunakan untuk berbakti kepadamu dan mendampingimu."


Rama mengurai pelukannya. Ia angkat dagu sang istri dan menatap netranya dengan lekat. "Aku sangat, sangat, sangat mencintaimu Kirana Anindya Shafa."


Kirana menganggukkan kepalanya sembari membelai lembut pipi dan bibir sang suami. "Begitupun aku. Aku juga sangat mencintaimu, mas Ammar Hafidz Ramadhan. Tetaplah di sisiku untuk bersama-sama meraih jannah-Nya."


Ramadan yang memberikan sejuta makna. Ramadan yang menjadi titik balik hidup Kirana untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Ramadan yang membuatnya semakin mengerti bahwa siapa saja yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan maka Allah akan memahamkannya tentang agama.


Pada akhirnya skenario Sang Maha penggenggam kehidupan begitu sempurna mencatat seluruh cerita cinta Kirana. Diawali dengan hidup yang tiada berarah, Allah mengirimkan untuknya sosok seorang laki-laki yang ternyata menjadi jalan hijrah, dan berbenah.


Allah juga menyisipkan sebuah kebahagiaan yang tidak pernah ia duga sama sekali yaitu dengan menjadikan lelaki bernama Ammar Hafidz Ramadhan sebagai takdir cintanya.


Perlahan air langit mulai turun. Hujan kembali menjadi saksi akan cinta yang mereka miliki. Rintik hujan di malam dua puluh tujuh ramadan ini laksana nada-nada rindu yang terdengar jelas melalui simfoni cinta yang dimiliki oleh dua insan yang terikat oleh ikatan suci pernikahan itu. Dalam hati, mereka sama-sama melangitkan sebuah doa, semoga sakinah mawadah warahmah akan senantiasa mengiringi biduk rumah tangga yang mereka bangun. Dan kelak bisa mengumpulkan mereka kembali di jannah Nya. Aamiin, aamiin, ya rabbal alamiin....

__ADS_1


T A M A T


__ADS_2