Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan
Bab 9. Depresi


__ADS_3

Brak!!!


Kirana membuka pintu yang berada di hadapannya secara paksa. Daun pintu ini terhempas mengenai sisi tembok kamar sehingga menimbulkan suara gebrakan yang membahana. Suara yang cukup memekak telinga itulah yang membuat dua orang yang tengah larut dalam pertengkaran itu menautkan pandangan mereka ke arah Raina.


"Kirana!" pekik Arman dengan dua bola mata yang membelalak sempurna.


Dengan lelehan air mata yang masih deras menyusuri bingkai wajah, Kirana menatap nyalang wajah sosok manusia yang ia anggap sebagai lelaki paling sempurna yang ada di dalam hidupnya ini.


"Mengapa Pa?"


Satu pertanyaan dari sang putri yang berhasil meremas jantung milik Arman hingga terasa berdenyut nyeri. Mengalirkan rasa bersalah hingga menembus ke ulu hati. Rasa sesal pun juga turut mengiringi. Namun, tidak ada lagi yang dapat ia lakukan karena semua ini sudah terlanjur terjadi.


 "Maafkan Papa, Ran. Maafkan Papa!"


Suara Arman terdengar sedikit bergetar dan tercekat di dalam tenggorokan. Melihat wajah sang putri yang nampak dipenuhi oleh kesedihan membuat batinnya juga turut merasakan sesuatu yang menyesakkan. Di langkahkan tungkai kaki milik Arman untuk lebih dekat dengan Kirana, namun...


"Stop Pa, jangan dekat-dekat denganku! Aku jijik dengan Papa!"


Diedarkannya manik mata Kirana untuk memandang tubuh sang mama yang terududuk lemah di atas lantai. Wanita paruh baya itu masih menangis tergugu dan mengacak rambutnya sesekali. Berkali-kali ia memukul-mukul dadanya seakan berupaya untuk mengusir rasa sakit yang tiada terperi. Kabut duka yang bercampur dengan kabut lara membuat wajah wanita paruh baya ini terlihat sangat menyedihkan sekali. 


Dipeluknya erat tubuh sang mama yang sedikit berguncang ini. Dengan isakan tangis layaknya nada-nada perih yang semakin terdengar menyayat hati. Semakin mempertegas jika wanita paruh baya ini tengah tenggelam di dalam lautan lara yang entah bagaimana caranya ia dapat menepi kembali.


"Sudah puaskah Anda melakukan semua ini kepada kami? Jika belum puas, lakukanlah lagi sampai kami mati dengan memeluk derita seperti ini!"


Arman tertegun mendengar Kirana memanggilnya bukan lagi dengan sebutan papa. Ternyata, hanya dengan mendengar sang putri memanggilnya dengan panggilan untuk orang asing, sudah cukup membuat jiwanya tercabik dan terkoyak. Lelaki itu seperti merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga di dalam hidupnya.


"Papa benar-benar minta maaf Ran, Papa minta maaf. Papa tidak tahu harus berbuat apa, ini semua sudah terlanjur terjadi."


Kirana tersenyum miring mendengar Arman masih menggunakan kata papa yang semakin terasa menggelitik di telinga. Gegas, ia tatap wajah Arman dengan tatapan yang tiada terbaca.


"Jangan lagi Anda menganggap diri Anda sebagai bagian dari keluarga ini. Tidak ada sosok seorang ayah yang tega menyeret anggota keluarganya ke dalam pusaran luka yang membuatnya menderita. Dan tidak ada sosok seorang ayah yang dengan mudah menggadaikan kepercayaan yang telah diberikan oleh anggota keluarganya hanya untuk mencari kenikmatan sesaat."


Arman terhenyak dengan apa yang diucapkan oleh sang putri. Perkataan Kirana benar-benar telah menampar hati. Membuatnya tersadar bahwa apa yang telah ia lakukan benar-benar keterlaluan di mana yang menjadi korban adalah anak dan istri yang sama-sama tidak berdosa sama sekali.


Arman yang sebelumnya berdiri di sudut kamar, kini ia dudukkan bokongnya di tepian ranjang. Menatap nanar dua manusia yang tengah berpelukan. Kedua manusia itu seakan sama-sama mentransfer energi untuk saling menguatkan.

__ADS_1


"Papa tidak tahu harus melakukan apa lagi. Papa terjebak dalam permainan yang telah papa mainkan sendiri. Papa merasa sulit untuk memilih, Ran. Di satu sisi kalian adalah anak dan istri Papa, namun di sisi lain, Papa juga harus bertanggung jawab atas kehamilan Stella."


Kirana tergelak lirih untuk menutupi kegetiran dan kepahitan yang bercokol di dalam sudut hati. Lagi, ia menatap manik mata Arman dengan sorot mata tajam layaknya seekor singa yang sedang membidik mangsa.


"Anda tidak perlu memilih karena kami bukanlah pilihan. Yang perlu Anda lakukan hanya pergi dari kehidupan kami. Silakan lanjutkan hidup Anda bersama wanita yang Anda anggap sebagai pengusir rasa bosan yang Anda rasakan. Ingat, sekali Anda memilih pergi dari kehidupan kami, jangan pernah Anda kembali lagi."


"Tapi Ran, Papa tetaplah Papamu. Papa masih akan tetap mengurusmu dan memenuhi semua kebutuhanmu. Papa masih akan tetap bertanggung jawab atas hal itu."


"Terima kasih, namun saya rasa Anda tidak perlu melakukannya. Papaku sudah mati karena yang berada di hadapan saya ini hanyalah orang asing yang tidak saya kenal sama sekali. Jadi, Anda tidak perlu repot-repot untuk bertanggung jawab atas kehidupan kami."


Arman semakin tersudut dengan kata demi kata yang terucap dari bibir Kirana. Ucapan ini semakin menegaskan bahwa ia benar-benar telah kehilangan sesuatu yang paling berharga. Sesuatu yang seharusnya ia jaga kemurniannya hingga sampai ajal tiba. Namun saat ini semua telah hancur berkeping-keping tiada tersisa.


"Ran, Papa..."


"Cukup, Anda tidak perlu mengatakan apapun lagi. Silakan Anda keluar dari sini dan lanjutkan hidup Anda bersama wanita yang sejatinya lebih pantas untuk Anda jadikan sebagai seorang anak daripada seorang simpanan. Saya sungguh tidak menyangka jika seorang Arman Adiguna ternyata tidak lebih dari seorang penghianat yang tega menghancurkan hidup keluarganya sendiri!"


Air mata Arman kian deras mengalir menyusuri tiap lekuk wajahnya. Kata-kata yang Kirana ucapkan sungguh membuat hatinya semakin tertampar dan membuatnya lebam. Sungguh sangat sakit, namun ia harus sadar diri bahwa apa yang ia rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh istri dan anaknya ini.


Arman bangkit dari posisi duduknya. Tungkai kaki milik lelaki paruh baya itu terayun untuk bisa lebih dekat dengan istri dan anaknya. Ia pun meluruhkan tubuhnya untuk duduk bersimpuh di atas lantai di hadapan Santi dan juga Kirana. Kepalanya menunduk seakan tidak mampu lagi untuk melihat luka yang telah ia torehkan di wajah dua orang yang paling berharga ini.


"Papa minta maaf Ran. Papa benar-benar minta maaf. Papa bersalah Ran."


Tubuh Arman terperanjat mendengar titah dari sang putri. "Ran...?"


"Silakan pergi dari tempat ini. Anda masih ingat pintu keluarnya bukan? Dan ingat, jangan pernah lagi Anda menampakkan wajah di hadapan kami!"


"Ran, Papa...."


"Keluar!"


Tubuh Arman semakin terperanjat kala sang putri yang selalu memperlihatkan sisi kelembutannya, kini berubah menjadi garang. Putri semata wayangnya ini terdengar berkata lantang meskipun suaranya bergetar. Seakan tidak mampu lagi untuk menahan gejolak amarah dan rasa kecewa yang semakin membelenggu jiwa.


Arman menunduk pasrah. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, lelaki itu mencoba untuk berdiri lagi. Sekilas, ia menatap lekat wajah sang putri yang bahkan tidak sudi untuk melihatnya lagi. Dengan langkah kaki gontai, lelaki paruh baya itupun pergi meninggalkan kamar ini.


Bertambah deras kristal bening yang mengalir dari bingkai netra wanita berusia dua puluh lima tahun itu.  Sekuat apapun Kirana berusaha untuk terlihat tegar di hadapan sang papa, ia tetaplah seorang wanita lemah yang telah kehilangan sandaran hidupnya. Tubuhnya pun juga turut bergetar hebat.

__ADS_1


Sepersekian menit, ia tersadar dari pusaran rasa yang tengah membelenggu kala teringat akan sosok wanita yang saat ini sedang terpaku dalam lamunannya. Kirana sedikit heran karena sedari tadi sang mama hanya terdiam dan sedikitpun tidak ikut bersuara. Wanita paruh baya ini terlihat tengah menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang.


"Ma...!" ucap Kirana sembari menepuk pundak Santi.


Hening... Tidak ada respons sama sekali.


"Ma... Mama!"


Tetap hening yang membuat Kirana semakin didera oleh rasa takut setengah mati.


"Ma... Mama kenapa? Mengapa Mama hanya diam seperti ini? Jawab Ma. Jawab Kirana. Jangan membuat Kirana takut seperti ini!" cerca Kirana sembari mengguncang tubuh sang mama.


Santi memberikan respons dengan menatap wajah Kirana sekilas. Namun setelah itu, ia kembali menatap langit-langit kamar dan...


"Hahahaha  ... Dia penghianat. Dia orang jahat. Tidak seharusnya aku menangisinya. Hahahaha!"


Kedua bola mata Kirana terbelalak dan membulat sempurna. Ia baru paham jika jiwa sang mama sedikit terguncang hingga membuatnya seperti seseorang yang kehilangan akal sehatnya.


Air mata Kirana semakin tumpah ruah kala mendapati kondisi sang mama yang seperti ini. Baru saja badai itu memporak-porandakan keluarga tercinta, kini sudah disusul dengan gelombang duka ketika sang mama kehilangan akal sehatnya.


Kirana kembali meraung dengan air mata luka yang begitu deras mengalir di pipinya. Berkali-kali ia memukul dadanya sebagai isyarat mengusir rasa sakit yang begitu menghujam jiwa. Otaknya juga serasa buntu, dengan siapa ia harus membagi perih yang saat ini ia rasa. Dan dinding kamar yang membisu ini seperti turut menjadi saksi betapa ujian hidup ini benar-benar menggerus batinnya.


.


.


.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2