Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan
Bab 20. Merasa Tidak Pantas


__ADS_3

Siluet senja mulai menghias jendela cakrawala. Membiaskan rona jingga yang nampak memanjakan mata. Hembusan angin sore pun mulai merasuk ke dalam raga. Menyisakan hawa sejuk yang kian erat memeluk tubuh manusia.


Kirana terdiam, terpaku, menatap sosok pemuda yang terlihat jelas gurat-gurat ketampanannya. Bibirnya terkatup, tak mampu untuk merangkai dan mengucap kata-kata. Terlalu terkejut dengan apa yang diutarakan oleh Rama.


"Ran, bagaimana? Apakah kamu memperbolehkan aku untuk bertemu dengan kedua orang tuamu?"


Kirana mengerjapkan mata. Ia tersadar bahwa sudah lumayan lama ia larut dalam pikirannya. Hal itulah yang membuat Kirana semakin gugup tiada terkira.


"Ram, kamu bercanda kan? Kamu tidak serius kan? Kamu hanya sedang berlatih untuk mengikuti stand-up comedy kan?"


Kirana memberondong beberapa pertanyaan kepada lelaki yang duduk di sampingnya ini. Mendengar Rama mengutarakan bahwa ia akan melamar, membuat Kirana merasa itu hanya sebagai candaan semata. Tidak mungkin jika Rama jatuh hati kepadanya. Seorang laki-laki sholeh jatuh hati dengan seorang pendosa? Sungguh sangat tidak dapat dipercaya.


Rama tersenyum penuh arti sembari menggeleng pelan. "Tidak Ran, aku tidak bercanda. Aku benar-benar serius untuk meminangmu dan menjadikanmu sebagai istriku. Apakah kamu meragukanku?"


"Mengapa Ram? Mengapa kamu bisa jatuh cinta kepadaku?"


Dahi Rama mengernyit. "Apakah semua butuh alasan? Aku rasa tidak, Ran. Aku hanya merasa bahwa kamu adalah wanita yang tepat untuk aku jadikan pendamping hidupku."


Rama nampak tidak main-main dengan apa yang ia katakan. Sejak pertama bertemu dengan Kirana, hati kecilnya seakan berbisik bahwa wanita itulah yang akan menjadi pendamping hidupnya. Maka dari itu, setelah berbicara dengan kedua orangtuanya, dan keduanya memberikan restu, pemuda itu semakin mantap untuk melangkah. Seolah tidak ingin berlama-lama, Rama mengutarakan secara langsung di hadapan Kirana.


Kirana bangkit dari posisi duduknya. Ia langkahkan kakinya untuk berdiri di bawah pohon ketapang sembari memunggungi Rama. Meresapi semua sensasi rasa yang ia rasakan. Apakah ia harus bahagia? Ataukah justru menyeretnya ke dalam pusaran dilema.


"Aku seorang pendosa, Ram. Tidak pantas untuk mendapatkan cinta suci dari seorang laki-laki yang taat beribadah sepertimu."


"Kita adalah para pendosa dengan jalan kita masing-masing, Ran. Dengan lalainya shalat. Dengan zina. Dengan riya'. Dengan kesombongan akan keberhasilan yang telah kita dapatkan. Dengan keangkuhan atas apa yang kita miliki. Dan dengan hal-hal nista yang tanpa sadar telah kita lakukan."


Sejenak, Rama menjeda ucapannya untuk menghirup  udara dalam-dalam. Sedangkan Kirana masih mencoba untuk memahami akan apa yang dikatakan oleh lelaki ini.


"Lantas masih pantaskah diri ini merasa suci? Dan merasa jauh lebih sempurna dari orang lain dengan menganggap mereka hina dari diri kita?" lanjut Rama yang semakin membuat Kirana larut dalam pikirannya.


Rama tersenyum simpul, melihat Kirana tidak memberikan respons sedikitpun. Pemuda itu bangkit dari posisi duduknya dan mendekati Kirana. Ia berdiri di sisi wanita yang masih berdiri terpaku itu.


"Namun, sekotor dan sehina apapun diri ini yakinlah bahwa ampunan Allah dan kasih sayangNya jauh lebih besar dari apapun. Dia senantiasa mengulurkan tanganNya untuk membawa kita kembali ke dalam dekapanNya. Memeluk erat tubuh kita dalam rahmat dan kasih sayangNya," jelas Rama yang nampaknya membuat Kirana mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


Kirana yang sebelumnya menatap lurus ke depan, kini ia arahkan ke samping. "Tapi kamu berhak mendapatkan yang terbaik Ram. Kamu lelaki sholeh, tidak seharusnya mendapatkan wanita seperti aku ini."


"Jika aku merasa bahwa kamu adalah yang terbaik untuku bagaimana Ran?"


"Mungkin saja perasaanmu itu salah Ram."


"Aku rasa tidak ada yang salah dengan apa yang aku rasakan, Ran. Aku lelaki dan kamu wanita. Dan perasaanku mengatakan aku telah jatuh hati kepadamu. Bukankah itu sesuatu yang manusiawi?"


Kirana semakin terhenyak. Perkataan Rama kali ini sungguh hanya bisa membuatnya tak bergeming sedikitpun.


"Tapi Ram  ..."


 "Tunggu sebentar Ran!" ucap Rama yang tiba-tiba memangkas perkataan Kirana.


Kirana terdiam, saat Rama kembali berancang-ancang untuk melanjutkan ucapannya.


"Kamu sedang tidak berada di dalam pinangan lelaki lain kan? Aku hanya takut kamu berusaha untuk menolakku karena kamu tengah terikat pada pinangan orang lain."


Kirana menggeleng pelan. "Tidak Ram, aku sama sekali tidak terikat dalam pinangan siapapun."


Bak dihujani oleh ribuan kelopak bunga mawar, hati Kirana terasa begitu bahagia. Wanita mana yang tidak bahagia dipinang oleh lelaki shaleh seperti Rama ini. Seorang laki-laki yang sangat sempurna baik secara fisik dan juga akhlaknya. Mungkin bagi sebagian orang tidak perlu lagi untuk berpikir ulang. Mereka pasti dengan sadar langsung menganggukkan kepala untuk menerimanya. Namun itu semua berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Kirana. Wanita itu merasa tidak pantas untuk menyambut perasaan Rama.


"Ram  ... aku tidak bisa. Aku tidak pantas untukmu Ram. Aku tidak pantas. Masih banyak wanita di luar sana yang lebih segala-galanya daripada aku. Kamu bisa mendapatkannya."


Rama nampak santai menanggapi perkataan Kirana. Semua tentang isi di dalam hati. Ia merasa berhak untuk mengungkapkan semua.


"Baiklah jika kamu merasa tidak pantas untukku. Kamu boleh memantaskan dirimu terlebih dahulu sampai kamu merasa pantas untuk menerima pinanganku. Dan aku akan tetap menunggu."


Kirana semakin mati kutu. Ia yang sebelumnya mengira bahwa Rama akan mundur, justru malah nampak lebih bersemangat tidak bisa untuk menyerah. Lelaki itu semakin berusaha keras.


 "Ram aku..."


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang juga Ran. Pikirkanlah baik-baik terlebih dahulu. Aku akan menunggu."

__ADS_1


***


Selepas menunaikan ibadah shalat Isya dan tarawih, Kirana duduk sendiri di taman yang berada di dekat musholla di kediaman Rama. Menikmati suasana malam yang terasa begitu menenangkan.


Namun, berbeda dengan keadaan hatinya saat ini. Pinangan yang tiba-tiba diucapkan oleh Rama sungguh mengusik ketentraman batinnya. Yang membuat wanita itu tidak tahu harus melakukan apa.


"Nak, apakah ada yang sedang mengganggu pikiranmu?"


Sedari tadi, Aisyah melihat apa yang sedang dilakukan oleh Kirana dari kejauhan. Ia melihat jika wanita ini tengah larut dalam pikirannya sendiri, maka dari itu Aisyah memutuskan untuk menghampiri Kirana.


 "Umi!" pekik Kirana yang sedikit terkejut.


Aisyah turut mendaratkan bokongnya di bangku taman yang berada di sisi Kirana "Ada apa Nak? Mengapa kamu nampak kebingungan seperti itu? Kamu boleh bercerita kepada Umi. Barangkali Umi bisa membantu."


Kirana hanya menggelengkan kepala. Rasanya teramat malu jika ia harus bercerita tentang lamaran Rama. "Tidak Umi, tidak ada yang sedang Kirana pikirkan. Kirana baik-baik saja."


Aisyah hanya mengulas sedikit senyum di bibirnya di kala melihat Kirana sedang menutupi apa yang ia rasakan itu. Sejatinya, ia tahu akan apa yang sedang mengusik hati dan pikiran Kirana.


"Nak, kamu pantas untuk mendapatkan cinta dari putra Umi. Percayalah, putra Umi benar-benar tulus mencintaimu dan ingin merengkuh tanganmu untuk bersama-sama meraih jannahNya."


.


.


.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2