Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan
Bab 21. Penyesalan Arman


__ADS_3

Assalamualaikum warahmatullah..


Assalamualaikum warahmatullah...


Kalimat salam yang diucapkan oleh seorang imam di masjid ini menjadi pertanda telah tertunaikannya dengan sempurna dua rakaat yang mereka dirikan. Dilanjutkan dengan dzikir dan doa, para jamaah ibadah shalat Subuh terlihat begitu khusyuk dalam lantunan nafas-nafas cinta untuk memuji Sang Maha penggenggam kehidupan. Memuji akan keagungan dan kasih sayang yang telah Dia berikan di kehidupan yang tiada abadi ini.


Allah menciptakan udara yang dapat dihirup hamba-hambaNya dengan percuma untuk bisa menjadi sumber kehidupan mereka. Dia menitipkan jantung, paru-paru, otak, hati, ginjal, dan semua yang ada di dalam tubuh manusia juga sebagai salah satu bentuk cinta kasih Allah kepada makhluk-makhluk Nya. Dan dengan bersegera menunaikan seruanNya melalui adzan yang berkumandang, merupakan salah satu cara manusia untuk mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan.


Kirana menunduk takdzim, larut dalam doa dan pintanya. Meminta agar hidup yang ia jalani, senantiasa berada di dalam keberkahan. Tidak hanya di dunia tetapi juga di kehidupan yang kekal nanti.


Hari ini, tepat empat belas hari Kirana tinggal di kediaman Rama. Selama empat belas hari ini, ia disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa ibadah. Puasa, tarawih, belajar mengaji dan terjun langsung ke berbagai macam kegiatan sosial keagamaan. Berbagi ta'jil dan berbagi sahur yang menjadi agenda rutin remaja masjid yang berada di sekitar kediaman Rama. Tak ayal, dalam waktu singkat nama Kirana dikenal dengan sosok yang ramah, mudah bergaul dan suka berbagi oleh orang-orang di sekitar tempat ini.


Kirana mengusap wajah setelah selesai menengadahkan tangannya untuk melangitkan semua yang menjadi pintanya kepada Sang Khalik. Mengunjukkan rasa syukur karena ia bisa mengecap apa itu nikmat iman meski di usia yang sudah cukup dewasa ini. Namun perkataan umi Aisyah dan juga Rama lah yang senantiasa ia ingat. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk bertaubat dan berhijrah. Selama nyawa masih bersemayam di dalam raga, Kirana selalu percaya bahwa Allah pasti akan menerima taubatnya.


Merasa cukup bermesraan dengan Sang Khalik melalui doa dan dzikir yang ia lantunkan, pada akhirnya Kirana memilih untuk bangkit dari posisi bersimpuhnya. Wanita itu kemudian mulai meninggalkan area dalam masjid ini untuk bersegera kembali ke kediaman Rama.


Wajah rembulan membulat penuh di dalam kanvas langit selepas shalat subuh. Suasana yang sebelumnya terdengar begitu riuh kini perlahan meluruh. Tergantikan oleh lantunan suara ayat-ayat cinta dari balik surau yang terdengar begitu menyentuh.


Kirana duduk sendiri di bangku taman yang menjadi sudut tempat favoritnya di kediaman Rama. Dihirupnya udara menjelang pagi yang terasa menyejukkan ini. Mengalirkan kesejukan, kesegaran dan kenyamanan hingga menembus ulu hati. Menjadikan suplai energi baru untuk mengawali hari yang ia yakini akan mempertemukannya dengan kebahagiaan yang selama ini ia cari.


"Ran!"


Suara bariton yang terdengar dari balik punggung, membuat Kirana menoleh ke arah sumber suara. Nampak Rama mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Ya Ram? Ada apa?"


Rama mengayunkan tungkai kaki. Ia ikut mendaratkan bokongnya di atas bangku taman di samping bangku yang diduduki oleh Kirana.


"Jadi kapan, aku bisa bertemu dengan kedua orang tuamu untuk meminangmu?"


Selang tujuh hari Rama mengutarakan isi hati dan selama itu pula Kirana mencoba untuk mencari jawaban atas apa yang harus ia lakukan, pada akhirnya Kirana memilih untuk menyambut perasaan Rama dan mulai membangun sebuah komitmen masa depan bersama Rama.


Namun, setiap kali Rama mempertanyakan kapan ia bisa bertemu dengan kedua orang tuanya, wanita itu seakan dilanda oleh kekalutan. Ia takut Rama akan berubah pikiran jika sampai mengetahui bagaimana kondisi keluarganya yang sebenarnya.


"Ram, sepertinya tidak dalam waktu dekat ini. Aku belum siap."


Rama terhenyak. "Belum siap? Bukankah sebelumnya aku pernah mengatakan bahwa aku tidak ingin jika kita terlalu lama berada di dalam sebuah hubungan yang semu, Ran? Aku ingin segera menghalalkanmu agar apa yang kita lakukan bisa bernilai ibadah dan pahala."


Suara Kirana tercekat tak mampu untuk melanjutkan ucapannya. Air wajah wanita itu tiba-tiba saja berubah sendu. Hingga membuat satu bulir kristal bening lolos dari sudut matanya.


Rama justru terkejut dengan kondisi Kirana yang tiba-tiba meneteskan air mata.


"Ran? Ada apa denganmu? Mengapa kamu tiba-tiba menangis? Apakah ada perkataan dariku yang menyinggung perasaanmu?"


Kirana menggelengkan kepala. "Tidak Ram, sama sekali tidak. Aku hanya takut jika kamu tahu tentang keluargaku, kamu berubah pikiran dan mundur. A-aku berasal dari keluarga broken home, Ram. Papaku selingkuh dan mamaku depresi."


Rama semakin terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Kirana. Ternyata selama ini Kirana terlihat begitu rapuh karena kondisi keluarganya yang tidak baik-baik saja. Setelah mendengar apa yang Kirana katakan entah mengapa perasaan yang ada untuk wanita ini semakin besar. Ingin rasanya ia cepat-cepat menikahi wanita ini.

__ADS_1


"Apapun keadaan keluargamu, sama sekali tidak akan bisa mengubah semua komitmen yang telah kita buat Ran. Aku akan tetap menikahimu."


Kirana hanya bisa menatap wajah Rama dalam diam. Ia sampai tidak tahu harus mengatakan apa sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. Di mata Kirana, Rama benar-benar sosok lelaki sempurna yang bisa menerima keadaannya, apa adanya.


"Jadi aku minta, besok antarkan aku ke rumahmu untuk bertemu dengan orang tuamu," pungkas Rama mengakhiri ucapannya.


****


Matahari mulai meninggi. Sinarnya yang terasa sangat terik seolah membakar kulit siapapun yang saat ini berada di bawahnya secara langsung. Seorang laki-laki pakaian lusuh, nampak sedang duduk di bawah jembatan layang, sambil sesekali mengusap peluh yang membasahi wajahnya.


Nasib buruk nampaknya tengah di alami oleh Arman Adiguna. Belum genap satu bulan ia meninggalkan keluarga kecilnya, hari ini ia menerima balasan apa yang telah ia lakukan terhadap keluarganya. Ternyata Stella, wanita yang selama ini menjadi simpanannya telah menyusun sebuah skenario untuk menghancurkan hidupnya.


Satu minggu yang lalu, Arman baru mengetahui bahwa benih yang ada di dalam rahim Stella bukanlah benih darinya. Stella sengaja menjebaknya untuk bisa mendapatkan dan menguras harta yang ia miliki. Entah mantra apa yang dimiliki oleh wanita itu, yang pasti saat ini perusahaan di bidang properti yang ia bangun sejak puluhan tahun yang lalu berhasil diakuisisi oleh Stella dengan lelaki lain. Lelaki itu pulalah yang ia ketahui sebagai ayah biologis anak yang dikandung oleh Stella.


Arman mengambil dompet yang masih ada di saku celananya. Satu lembar uang sepuluh ribuan nampak menghiasi isi dompetnya. Arman sampai kebingungan akan ia gunakan untuk apa uang ini. Mata lelaki paruh baya itu semakin memanas di saat melihat selembar foto yang masih tersimpan rapi di dalam dompetnya. Foto keluarga kecilnya yang sudah ia tinggalkan.


Dada Arman semakin terasa sesak, seolah dihantam sebuah batu besar yang seakan mendorong air mata itu untuk lebih deras mengalir dari pelupuk matanya. Saat ia melihat selembar foto dengan gambar seorang wanita yang tengah menggendong bayi mungil dengan senyum yang mengembang, seolah membuat memori otaknya kembali memutar semua kebahagiaan dan kehangatan yang ia dapatkan di dalam keluarga kecilnya.


"Maafkan Papa, maafkan Papa karena telah mencampakkan kalian berdua. Papa salah dan Papa benar-benar menyesal. Seandainya Papa ingin kembali pulang, apakah kalian masih bisa untuk memaafkan Papa?" lirih Arman dengan derai air mata yang tiada henti mengalir dari pelupuk matanya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2