Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan
Bab 24. Meminang


__ADS_3

Bumi masih berputar pada porosnya. Waktu terus bergulir meninggalkan kisah lalu yang menjadi kenangan dan membuka lembaran baru untuk kehidupan berikutnya. Terserah, tinta seperti apa yang akan torehkan di lembar berikutnya. Mungkinkah tinta penuh kebaikan? Ataukah tinta yang penuh dengan keburukan. Apapun itu, lembar demi lembar yang telah terlewati semoga bisa menjadi bahan renungan diri untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi.


"Nak, sebenarnya akan ada acara apa nanti malam? Mengapa kamu dan bik Sumi terlihat sibuk sekali. Apakah kita akan buka puasa bersama?"


Santi tiada henti bertanya kepada Kirana tentang perilakunya yang sedikit berbeda ini. Sedari tadi ia nampak sibuk di dapur bersama Sumi. Mereka terlihat mengolah beberapa masakan untuk malam nanti.


Sejak kepulangan Kirana dan Arman beberapa hari yang lalu, hari itu menjadi titik balik untuk Santi dan juga Arman dalam menjalani kehidupan mereka. Sejak hari itu, Santi dan juga Arman turut berbenah. Menjadi hamba yang jauh lebih dekat dengan Rabb-nya. Dengan bimbingan Aisyah dan Hakam, kedua orang tua Kirana itu juga bisa menjemput hijrah mereka.


Allahu Akbar. Sungguh, Dia lah Allah Yang Maha membolak-balikan hati manusia. Ia memberikan petunjuk bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin kembali ke dalam dekapanNya.


Kirana hanya tersenyum simpul sambil melanjutkan aktivitasnya memotong sayuran. "Nanti Mama pasti akan tahu. Yang penting, Mama dan papa bersiap-siap untuk menyambut kedatangan keluarga Rama."


Kedua bola mata Santi terbelalak sempurna. Ucapan Kirana ini membuat ia berpikir bahwa sang putri akan dipinang oleh keluarga Rama.


"Apakah keluarga Rama akan meminangmu, Sayang? Untuk menjadikanmu sebagai pendamping hidup?" tanya Santi yang begitu penasaran.


Kirana tergelak lirih dan mengangguk pelan. Rasa-rasanya, ia sudah tidak bisa lagi untuk menyembunyikannya di hadapan sang mama.


"Iya Ma, keluarga Rama akan datang kemari untuk meminang Kirana. Kirana harap, papa dan Mama memberikan restu untuk kami."


Air mata Santi jatuh perlahan membasahi pipi. Hati wanita paruh baya itu dibalut oleh rasa haru dan syukur yang berpadu menjadi satu. Tidak pernah ia duga, setelah badai menerjang keluarganya, Allah menghadirkan pelangi yang nampak begitu indah.


"MashaAllah ... Mama sampai tidak tahu harus berkata apa lagi, Sayang. Mama rasa nikmat yang diberikan oleh Allah begitu besar untuk keluarga kita. Mama yang sembuh dari depresi. Papa kembali. Kamu yang berubah menjadi wanita yang jauh lebih baik dan sebentar lagi akan dipersunting oleh pemuda shaleh seperti Rama."


"Iya Ma. Ini semua berkah dari Allah. Mungkin lebih tepatnya sebagai berkah ramadan."


"Mama juga tidak menyangka jika Mama akan menemukan jalan hijrah di usia Mama yang sudah masuk ke usia paruh baya ini. Meski rasa-rasanya sudah sangat terlambat, namun Mama bersyukur bisa berbenah sebelum tiba waktunya untuk pulang ke pangkuan Allah."


Kirana tersenyum penuh arti. Ia teringat akan apa yang diucapkan oleh Aisyah beberapa hari yang lalu.


"Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, Ma. Selama napas masih mengalun di dalam raga, pintu ampun dan pintu rahmat Allah pasti akan senantiasa terbuka untuk kita. Dan itulah yang Kirana percaya."


Santi menganggukkan kepala. "Iya Sayang, Mama sependapat. Kini, di sisa usia Mama ini, Mama ingin mengumpulkan banyak pahala sebagai bekal kehidupan di akhirat nanti."


"Aamiin Ma. Semoga kita bisa istiqomah."

__ADS_1


"Aamiin..."


Sumi yang sedari tadi mendengarkan percakapan ibu dan anak yang ada di dekatnya ini hanya bisa tersenyum haru. Ia tidak menyangka bahwa akhir cerita kehidupan sebuah keluarga yang sebelumnya jauh dari nilai-nilai religi, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Kini kondisi keluarga sang majikan jauh lebih tertata dan terarah.


"Alhamdulillah ... terima kasih atas semua kebaikan yang Engkau berikan, ya Allah. Hamba turut berbahagia melihat keluarga non Kirana yang kembali utuh dan dalam keadaan yang jauh lebih baik," lirih Sumi sambil menatap lekat kedua majikannya dari posisinya.


***


Ruang keluarga kediaman Kirana terasa berbeda malam ini. Biasanya ruangan ini hanya menjadi tempat untuk sekedar berkumpul dengan kedua orang tuanya. Namun malam ini terlihat bertambah ramai dengan kedatangan keluarga Rama.


Kedua keluarga saling duduk berhadapan. Ucapan Rama bahwa ia tidak gugup sama sekali ketika menghadap calon mertuanya ternyata salah besar. Ia terlihat sangat kikuk berhadapan langsung dengan ayah Kirana dan tangannya juga terasa begitu dingin.


"Nak, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Hakam ketika melihat raut wajah putranya yang sedikit pucat itu.


"I-iya Bi, Rama baik-baik saja," jawabnya singkat. Pemuda itu *******-***** telapak tangannya untuk berusaha menghilangkan rasa gugupnya.


"Istighfar lah Nak. Insyaallah hatimu akan kembali. tenang," tutur Hakam dengan lembut.


Rama menghela napas dalam dan perlahan ia hembuskan. "Astaghfirullahalazim...."


Arman terkekeh. "Apakah nak Rama ini takut berhadapan dengan saya? Tidak perlu khawatir, saya tidak menggigit. Jadi nak Rama tidak perlu takut."


Rama menggaruk kepalanya yang tak gatal. "T-tidak Om. InshaAllah saya tidak akan gugup lagi."


Arman tersenyum simpul. Rasa-rasanya ini merupakan waktu yang tepat untuk memulai acara ini. "Ma, bawa Kirana kemari. Papa rasa, Kirana juga sudah tidak sabar untuk bisa segera duduk di sini bersama kita."


Santi beranjak dari posisi duduknya. "Baik, Pa."


Santi melenggang menuju kamar Kirana. Di dalam kamar, Kirana ditemani oleh Sumi. Wanita itu masih setia duduk di depan meja rias.


"Sayang, sudah siap? Mari turun, keluarga Rama sudah menunggu di bawah," ucap Santi dengan sorot mata yang tiada lepas dari wajah sang putri yang nampak cantik sekali.


Kirana tersenyum lebar. Meski juga didera oleh rasa gugup, namun binar kebahagiaan itu terpancar jelas di raut wajahnya. "Ayo Ma."


Kirana berjalan diapit oleh Santi dan juga Sumi. Perlahan mereka menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. Dan setelah itu Kirana duduk diapit oleh kedua orangtuanya.

__ADS_1


Deg!!


Rama begitu terpana dengan penampilan Kirana malam ini. Ia terlihat begitu anggun dengan dress berbahan kain tile motif akar berwarna biru. Juga dengan pasmina warna senada yang membalut kepalanya. Namun sesaat setelahnya, ia kembali menundukkan pandangannya.


Ehemmm...


Suara deheman dari Hakam seakan memecah keheningan yang ada. Lelaki paruh baya itu kemudian mengambil napas untuk bisa memulai acara malam hari ini.


"Pak Arman yang terhormat, maksud kedatangan saya bersama keluarga besar saya kemari yang pertama adalah untuk bersilaturahmi. Yang kedua, saya mewakili putra saya Ammar Hafidz Ramadhan bermaksud meminang putri bapak yang bernama Kirana Anindya Shafa. Apakah Bapak menerima pinangan dari putra saya?"


Arman tersenyum simpul. "Saya ucapkan banyak terima kasih untuk kehadiran pak Hakam beserta keluarga ke kediaman kami ini."


Arman memberikan jeda sejenak ucapannya untuk menghela nafas dalam. "Saya rasa nak Rama adalah seorang pemuda yang baik, dan saya pun setuju jika ia meminang putri saya. Namun sekali lagi keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada putri saya sendiri. Karena bagaimanapun juga nantinya ia sendirilah yang akan menjalani kehidupan berumah tangga."


Arman menatap kedua manik mata Kirana sembari menggenggam tangannya. Entah mengapa ia merasakan keharuan yang begitu dalam. Sebentar lagi ia akan melepaskan anak perempuannya itu untuk hidup bersama suaminya.


"Nak, apakah kamu bersedia menerima pinangan nak Rama dan menikah dengannya?"


Kirana mengedarkan pandangannya ke arah kedua orang tuanya, kedua orang tuan Rama dan terakhir ke arah Rama sendiri. Ketika menatap wajah Rama, hatinya seakan semakin yakin bahwa lelaki itulah yang akan menjadi pendamping hidup yang tepat untuknya.


"Bismillahirrahmanirrahim... Kirana menerima pinangan dari Rama dan bersedia menjadi istrinya, Pa."


"Alhamdulillah," ucap semua orang yang berada di ruangan itu secara bersamaan. Raut wajah mereka sama-sama terlihat begitu bahagia.


Rama menatap lekat wajah Kirana yang saat ini ada di hadapannya. Kirana pun membalas dengan teduh tatapan Rama sembari tersenyum simpul.


Lama lelaki itu memandang wajah Kirana kemudian senyum tipis tersungging di bibirnya. "Terima kasih."


Rama berucap tanpa mengeluarkan suara namun tetap saja bisa dimengerti oleh Kirana.


Kirana mengangguk pelan. "Sama-sama, Ram!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2