
"Apa Kak? Kak Kirana ingin memakai hijab?"
Di kamar, Yasmin yang sedang mempersiapkan semua keperluan sekolahnya sedikit terkejut dengan kehadiran Kirana yang tiba-tiba. Wanita itu memintanya untuk diajari memakai hijab. Jelas, hal itu begitu membuat Yasmin sedikit tidak percaya.
Kirana yang sebelumnya berada di ambang pintu kamar, ia ayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah ranjang milik Yasmin. Ia pun mendaratkan bokongnya di tepi ranjang.
"Iya Yas, Kakak ingin belajar mengenakan hijab. Bisakah kamu membantu Kakak?" tanya Kirana.
Lengan tangan Kirana terulur meraih sebuah pigura kecil yang berada di atas nakas. Sebuah pigura yang memperlihatkan foto keluarga Yasmin yang nampaknya diambil pada saat Yasmin berusia tiga tahun. Mata Kirana memanas. Jika dalam keadaan seperti ini, selalu saja ia teringat akan keluarganya.
Sejenak, Yasmin meninggalkan aktivitas yang sedang ia lakukan. Gadis itu ikut duduk di samping Kirana yang masih intens menatap bingkai foto di tangannya itu.
"Kak Kirana benar-benar ingin memakai hijab? Apakah Yasmin boleh tahu apa alasannya?"
Kirana menautkan pandangannya ke arah gadis cantik di sampingnya ini. Melihat Yasmin yang sudah istiqomah mengenakan hijab, membuatnya juga ingin mengikutinya.
"Aku hanya ingin menyempurnakan hijrahku, Yas. Aku ingin mengaplikasikan apa itu taubatan nasuha. Jika seorang wanita muslim diwajibkan untuk memakai hijab, maka aku akan mencoba untuk menunaikannya. Dan rasanya aku merasa damai ketika melihat orang-orang yang memakai hijab. Seperti kamu dan umi."
"MashaAllah kak Kirana ... Yasmin benar-benar terharu mendengarnya. Semoga kak Kirana bisa istiqomah ya," tutur Yasmin dengan untaian harap yang diunjukkan.
"Aamiin ... terima kasih banyak Yas."
Yasmin kembali beranjak dari posisinya. Ia mendekat ke arah almari pakaian, kemudian membukanya. Nampak gamis-gamis panjang dengan beraneka warna dan model berjajar rapi di dalam sana.
"Kemarilah Kak! Kak Kirana bisa memilih salah satu dari gamis ini."
Kirana turut berdiri di depan almari milik Yasmin. Betapa takjubnya ia melihat Yasmin memiliki koleksi gamis yang cukup banyak. Padahal biasanya Yasmin hanya mengenakan setelan rok panjang dan baju panjang saja. Sama seperti yang ia kenakan saat ini. Akibat tidak membawa baju ganti, ia terpaksa harus meminjam pakaian milik Yasmin.
"Ini Yas!" ucap Kirana sambil memegang satu buah gamis yang ia pilih.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang, kak Kirana coba pakai gamis ini. Setelah itu, akan Yasmin ajari memakai hijab," ucap Yasmin menjelaskan sembari mengambil gamis itu dari gantungan.
Kirana menurut. Ia meraih gamis yang diberikan oleh Yasmin kemudian menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Wanita itu nampak begitu bersemangat hingga membuat Yasmin tiada henti menyunggingkan senyum di bibirnya.
Itulah salah satu nikmatnya iman. Ketika kita merasakan manis dalam beriman, maka akan membuat diri ini ingin senantiasa untuk mereguk lagi, lagi dan lagi kenikmatan itu. Pastinya dengan berupaya menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Beberapa saat kemudian...
"Bagaimana Yas? Apakah aku terlihat aneh?" tanya Kirana sedikit ragu.
"MashaAllah .... kak Kirana cantik sekali. Sebelumnya Kakak memang cantik, dengan memakai gamis ini kecantikan kak Kirana nampak bertambah berkali-kali lipat."
Yasmin tiada henti memuji paras cantik Kirana. Di matanya Kirana merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang sempurna. Wajahnya cantik, tubuhnya juga proporsional. Sehingga memakai pakaian apapun pasti akan cocok.
__ADS_1
"Benarkah itu Yas? Tapi aku merasa sedikit aneh," cicit Kirana masih sedikit ragu.
Yasmin menggeleng pelan. "Sama sekali tidak Kak. Gamis itu pas di badan kak Kirana. Sekarang kemarilah, Yasmin bantu untuk memakai hijab."
Kirana menurut. Ia mendudukkan tubuhnya di atas kursi kecil yang berada di depan meja rias. Dengan kepiawaiannya, Yasmin mulai membalut sehelai pashmina warna hitam untuk membalut kepala Kirana.
"Apakah dengan pakaian seperti ini, kamu tidak merasa gerah, Yas?" tanya Kirana membuka obrolan dengan gadis belia ini.
Yasmin terkekeh geli. Ternyata memang benar persepsi orang-orang perihal gamis. Mereka mengira gamis merupakan pakaian yang menimbulkan kesan panas dan gerah jika dikenakan.
"Lebih baik menahan rasa gerah di kehidupan yang sementara ini daripada menahan panasnya api neraka di kehidupan yang abadi nanti, Kak."
Kirana masih hening, mencoba untuk meresapi apa yang diucapkan oleh Yasmin.
Perlahan, Yasmin menyematkan sebuah jarum di bawah dagu Kirana. "Untuk pertama kali mungkin kak Kirana akan merasa gerah, namun jika sudah terbiasa, kak Kirana justru merasa ada sesuatu yang hilang jika kak Kirana tidak memakai pakaian seperti ini dan melepas hijab ini."
"Benarkah seperti itu?"
Yasmin mengangguk. "Benar Kak. Oleh karena itu, sepanas dan se-gerah apapun yang kak Kirana rasakan, tetaplah istiqomah dalam hijrah ini ya. Ini hanya soal waktu, jika sudah terbiasa, Kakak pasti akan bangga bisa mengenakan pakaian seperti ini. Karena pakaian seperti inilah yang menjadi bukti ketakwaan kita terhadap perintah Allah."
Ucapan Yasmin benar-benar bisa menembus dinding hati Kirana. Kirana bahkan jatuh cinta dengan cara Yasmin dan umi Aisyah dalam memberikan nasihat-nasihat untuknya. Terdengar begitu lembut, santun dan tidak menjatuhkan sama sekali.
Kirana mengangguk. "Doakan aku agar bisa istiqomah ya Yas."
"Itu sudah pasti Kak. Yasmin akan senantiasa turut mendoakan Kakak."
Yasmin menepuk bahu Kirana. "Sudah selesai, lihatlah wajah Kakak yang ada di pantulan cermin itu. Kak Kirana terlihat sangat cantik."
Kirana berbalik badan. Dilihatnya wajah yang terpantul melalui cermin di depannya ini. Kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna. Bibirnya pun juga sedikit menganga. Melihat penampilan perdananya memakai gamis dan pashmina membuatnya sedikit tidak percaya.
"Yas .... i-ini aku?"
"Iya Kak, ini kak Kirana. Cantik bukan?"
"MashaAllah ...,"
Suara Kirana tercekat di dalam tenggorokan. Hanya ada lelehan air mata yang seolah berbicara bahwa ia teramat bersyukur atas segala karunia yang telah Allah berikan.
***
Dari kejauhan, Rama melihat Kirana tengah duduk di gazebo yang merupakan tempat favorit wanita itu semenjak berada di kediamannya. Selepas pulang mengunjungi salah satu panti asuhan yang berada di kota ini, lelaki itu mencari-cari keberadaan Kirana. Akhirnya, di tempat inilah ia bisa menemukan wanita itu.
"Ran aku ingin mengatakan sesuatu. Boleh?"
__ADS_1
Kehadiran Rama yang tiba-tiba sedikit membuat Kirana terkejut. Pasalnya, sedari tadi wanita itu disibukkan dengan sebuah tablet yang ia pinjam dari Yasmin. Dengan tablet itu, ia mencoba untuk belajar menghafal bacaan shalat.
"Rama? Memang apa yang ingin kamu sampaikan Ram?"
Rama tersenyum simpul. Setelah mencoba untuk menyelami isi hatinya, ia sadar bahwa ia telah jatuh hati kepada wanita yang baru dua hari ia temui ini. Kesannya memang seperti terburu-buru, namun Rama bisa merasakan bahwa apa yang ia rasakan dalam hati memang benar adanya. Tidak dapat ia ingkari jika ia telah jatuh hati.
"Bolehkah aku bertemu dengan orang tuamu, Ran?"
Kirana terhenyak. Hampir saja tablet yang ia pegang itu terlepas dari genggaman tangannya. Saking terkejutnya.
"Bertemu dengan orang tuaku? Memang, ada keperluan apa kamu ingin bertemu dengan mereka Ram?"
"Aku jatuh hati kepadamu Ran. Dan aku bermaksud untuk menjadikanmu sebagai istriku. Apakah aku boleh bertemu dengan orang tuamu untuk langsung meminangmu?"
.
.
.
__ADS_1