
Perbuatan dosa yang membuatmu sedih dan menyesal lebih disukai oleh Allah daripada amalan baik yang membuatmu menyombongkan diri...
**** ***** *****
Sentuhan sang bayu membelai lembut dedaunan dan kelopak-kelopak bunga Bougenville. Membuat keduanya saling mengeratkan pelukan kepada sang ranting agar tidak jatuh berguguran. Sembari berbisik lirih. Membisikkan kalimat-kalimat tasbih yang seolah mengajak kelopak-kelopak bunga dan dedaunan itu untuk turut bertasbih, memuji keagungan Sang Ilahi.
Suara kepakan sayap binatang-binatang malam terdengar jelas. Mereka keluar di malam hari, berlalu lalang ke sana kemari, untuk mencari makan setelah seharian berada di dalam persembunyian. Atau mungkin hanya sekedar bertengger di atas dahan sembari menajamkan indera pendengaran dan penglihatan untuk menikmati suasana malam hari ini. Tentunya sambil menyapa penduduk bumi dengan suara khas mereka yang terdengar begitu syahdu.
Tetes-tetes embun juga mulai menghias permukaan daun. Kehadirannya, membuat suasana sejuk begitu terasa. Membalut raga manusia yang sebelumnya di dera oleh rasa gerah tiada terkira.
Aisyah menatap intens tubuh Kirana yang kini berada di hadapannya dengan mukena berwarna putih. Wanita paruh baya itu tiada henti menyunggingkan senyum saat melihat betapa cantiknya wajah Kirana ini.
"Ada apa Umi? Mengapa Umi menatap Kirana seperti itu? Apakah Kirana terlihat aneh dengan mukena ini?"
Kirana hanya bisa bertanya-tanya kala melihat ekspresi wajah Aisyah yang benar-benar tidak terbaca ini. Sedari tadi, wanita paruh baya itu hanya menatap lekat wajahnya dengan senyum yang sukar diartikan. Kirana sampai merasa bahwa dirinya terlihat aneh dengan mukena yang ia kenakan ini.
"MashaAllah .... Umi benar-benar tidak menyangka bahwa kamu terlihat cantik sekali jika memakai mukena seperti ini Nak," ucap Aisyah memuji sembari merapikan mukena yang dipakai oleh Kirana.
"Benarkah itu Umi? Apa tidak sebaliknya? Kirana bahkan tidak pernah memakai mukena seperti ini. Jadi, Kirana merasa ini pasti aneh sekali," tanya Kirana yang masih belum percaya atas pujian yang diberikan oleh Aisyah.
Aisyah menggeleng pelan. "Tidak Nak, apa yang Umi katakan memang benar adanya. Kamu terlihat cantik sekali dengan mukena ini."
"Terima kasih banyak, Umi. Lalu, sekarang apa yang harus Kirana kerjakan?"
"Shalat taubat Nak!"
Dahi Kirana berkerut. "Shalat taubat? Seperti apa itu Umi? Kirana baru sekali ini mendengarnya."
Aisyah tersenyum simpul sembari mengusap pundak Kirana. "Shalat sunnah dua rakaat untuk memohon ampun kepada Allah atas semua kesalahan dan kekhilafan yang pernah kita lakukan."
"Lalu, apa yang harus saya saya baca Umi? Kirana benar-benar tidak tahu," tanya Kirana dengan nada sedikit sendu.
"Kamu hafal surah Al-Fatihah?"
Kirana menganggukkan kepala. Meski selama ini ia mengerjakan shalat hanya pada saat mendapatkan pelajaran agama di sekolah, namun ia masih hafal bagaimana surah Al-Fatihah itu.
"Iya Umi, Kirana hafal. Dan hanya surah itu dan Qulhu saja yang Kirana bisa."
__ADS_1
Aisyah terkekeh geli saat mendengar Kirana menyebut surah Al-Ikhlas dengan Qulhu. "Namanya surah Al-Ikhlas, Nak. Jadi di dua rakaat itu, kamu bisa membaca surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas. Untuk gerakan shalat, apakah kamu masih ingat?"
Sedangkan Kirana hanya tersenyum kikuk sembari menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal. "Sedikit lupa, Umi."
"Ya sudah, tidak apa-apa. Sebelum kamu menunaikan shalat itu, kamu bisa melihat video terlebih dahulu, Nak," jelas Aisyah dengan suara lembut.
"Lalu, setelah selesai shalat, apa lagi yang harus Kirana baca, Umi?"
"Perbanyak istighfar Nak. Astaghfirullahalazim ... Dengan begitu hatimu akan merasakan ketenangan itu. Bagaimana? Paham ya Nak?"
Meski masih sedikit ragu, kepala Kirana tetap mengangguk jua. "Paham Umi."
"Alhamdulillah ... Semoga ini semua menjadi awal yang baik dan menjadi jalan hijrahmu ya Nak!"
"Aamiin Umi ... terima kasih banyak."
Aisyah mengulurkan sebuah ponsel ke arah Kirana. Ia carikan sebuah video tentang tata cara shalat. Dan Kirana pun nampak begitu antusias belajar untuk memulai berbenah.
****
Selembar sajadah telah terbentang. Di atas sajadah itu tengah bersimpuh seorang wanita muda lengkap dengan mukena putih yang ia kenakan. Ia menunduk takdzim, melafadzkan kalimat istighfar yang terdengar lirih namun teramat menggetarkan hati dan juga jiwanya. Seuntai kalimat yang begitu di rindukan oleh sang khalik dari hamba-hambaNya. Pada saat sang hamba mendatangiNya dengan setumpuk dosa kemudian duduk bersimpuh, mengetuk pintu ampun Nya.
Kejadian demi kejadian yang ia alami akhir-akhir ini seakan semakin membuat Kirana tersadar bahwa Allah sedang menyapanya. Wanita itu baru mengerti seandainya saja Allah tidak memberikan ujian hidup yang menimpa keluarganya, bisa dipastikan saat ini ia masih berada di dalam kesesatan. Saat ini ia mengerti bahwa akan selalu ada hikmah di setiap musibah.
Kirana menangis, menumpahkan semua beban yang terasa begitu berat membebani batinnya. Beban kesalahan dan dosa di masa lalu yang semakin menjauhkannya dari Sang pencipta. Setelah pertemuannya dengan seorang pemuda bernama Rama dan seluruh anggota keluarganya, semakin membuka mata hatinya jika ia sudah terlampau jauh meninggalkan Rabb nya. Dan kini, di sepertiga malam terakhir ini, ia memantapkan hati dan juga diri untuk kembali ke dekapanNya.
"Allahu Rabbi ... disaksikan oleh rinai air hujan di luar sana. Hembusan sang bayu yang terasa begitu dingin menusuk tulang dan dan ranting-ranting pohon yang bergoyang sembari bertasbih memuji keagunganMu, aku Kirana Anindya Shafa mengetuk pintu ampunanMu. Kembali pulang ke dalam dekapanMu dan memohon keberkahan dalam hidupku. Sudilah kiranya Engkau mengampuniku ya Rabb .... Karena ampunanMu lah yang akan membuat langkah kaki ini akan semakin terarah. Ridhoi jalanku menuju cahaya Mu ya Rabbi .... Cahaya yang dapat menerangi jejak langkah kaki ini yang tidak akan pernah membuatku tersesat lagi." lirih Kirana dengan air mata yang tiada henti mengalir.
Rama yang tengah berdiri di depan ruangan ini hanya bisa memandang punggung wanita cantik yang tengah bersimpuh itu dengan tatapan haru. Kedua bola matanya ikut memanas tatkala melihat punggung wanita itu naik turun tiada beraturan yang menjadi pertanda bahwa ia tengah larut dalam rasa sesalnya karena sudah teramat jauh meninggalkan Rabb nya. Namun, Rama bersyukur karena setidaknya saat ini Kirana bisa kembali ke fitrahnya sebagai manusia di mana ia hanyalah makhluk lemah yang selalu bergantung kepada kasih sayang Allah sama seperti dirinya dan semua makhluk yang ada di alam dunia ini.
"Apakah wanita itu terlalu menarik perhatianmu sampai-sampai kamu menatapnya dengan lekat seperti ini?"
Suara bariton yang tiba-tiba terdengar di samping tubuh Rama, membuatnya terkejut seketika. Ia menoleh ke arah samping, dan ternyata sang ayah sudah berdiri di sana.
Rama tersenyum simpul. "Abi? Sejak kapan Abi berada di sini?"
Hakam menendikkan bahu. "Entahlah, namun sepertinya sejak putra Abi ini larut dalam pikirannya sendiri sambil memperhatikan dengan lekat wanita yang tengah bersimpuh itu." Hakam menghela napas dalam kemudian ia hembuskan. "Apakah mau Abi lamarkan wanita itu untukmu? Abi rasa kamu sudah sangat siap untuk menjalani kehidupan berumah tangga, Nak."
__ADS_1
Rama terkekeh pelan. "Jika waktunya sudah tepat, Rama pasti akan meminta Abi melamar wanita itu untuk Rama. Saat ini Rama rasa waktunya belum tepat, mengingat hati wanita itu sepertinya sulit untuk disentuh."
"Hemmmm baiklah jika seperti itu. Kapanpun waktunya, Abi dan juga umi sudah sangat siap menyambutmu untuk bersegera melepas masa lajangmu, Nak."
"Terimakasih banyak Abi.”
Rama kembali menatap punggung Kirana dari tempatnya berdiri. Pemuda itu hanya nampak tersenyum simpul.
Sejak pertama aku melihatmu, aku merasa ada perasaan asing yang aku rasakan. Setelah kucoba untuk menyelami, ternyata aku memang jatuh hati kepadamu, Kirana. Semoga Allah merestui.
.
.
.
__ADS_1