
Kirana melangkahkan kakinya dengan riang setelah memasuki area teras kediamannya. Wajah wanita itu nampak berbinar setelah mengetahui mobil kedua orang tuanya sudah terparkir di carport. Sebagai pertanda jika di sore ini keduanya telah kembali dari kesibukannya masing-masing.
"Ahhhhh ... Kebetulan sekali papa dan mama sudah pulang. Aku berencana ingin mengajak mereka untuk makan malam di luar."
Wanita itu terdengar bernyanyi lirih sembari mengayunkan tungkai kakinya. Tidak ada yang dapat membuatnya bahagia seperti ini selain bisa kembali ke dalam dekapan keluarganya. Namun, nyanyian lirih itu terhenti. Binar bahagia yang terpancar dari wajahnya seketika sirna di kala netranya melihat ada kejanggalan yang terjadi di kediamannya.
"Bik Sum, pak Dirman mengapa berdiri di sini? Dan wajah kalian mengapa terlihat panik seperti itu?"
Kirana memandang penuh tanya bahasa tubuh yang nampak dari dua orang yang bekerja di kediamannya ini. Pertanyaan itulah yang membuat Sumi dan Dirman sedikit terhenyak. Keduanya saling melempar pandangan seperti dua orang yang tengah kebingungan untuk memberikan jawaban.
"Anu Non .... itu anu..."
"Anu apa Bik? Coba Bibik katakan yang jelas!"
Kirana dibuat bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tidak biasanya asisten rumah tangga di kediamannya ini menampakkan wajah yang dibingkai oleh ketakutan, kecemasan seperti ini. Hal itulah yang membuat semakin penasaran setengah mati.
"Anu Non ... ibu dan bapak..."
Ucapan Sumi terpangkas saat mendengar pecahan sesuatu yang berasal dari kamar sang mama. Suara itulah yang membuat tubuh Kirana terperanjat seketika. Bukan hanya itu saja, teriakan sang mama juga sedikit menggema hingga terdengar sampai di tempat Kirana berdiri saat ini.
Kepala Kirana sedikit mendongak ke arah kamar sang mama. "Mama kenapa Bik? Apa yang terjadi dengan mama?"
"Itu Non, Nyonya.."
Belum sempat Sumi memberikan jawaban, Kirana sudah berlari menaiki anak tangga. Wanita itu mengambil langkah kaki lebar untuk bisa segera sampai ke kamar sang mama.
Langkah kaki Kirana terhenti di depan pintu kamar sang mama. Suara barang-barang pecah dan teriakan sang mama benar-benar membuat tungkai kakinya melemas seketika. Hingga pada akhirnya wanita itu meluruhkan tubuhnya di depan pintu kamar dengan derai air mata yang mengalir deras dari bingkai netranya.
****
Prang... Prang... Prang...!!!
Salah satu kamar di rumah bergaya klasik Eropa yang sebelumnya nampak begitu rapi, kini terlihat berantakan layaknya kapal yang baru saja dihantam oleh gelombang tsunami. Semua barang-barang berserakan di lantai. Bahkan tak sedikit barang pecah belah yang berada di kamar ini hancur berkeping-keping. Dan hanya menyisakan serpihan-serpihan kaca yang jika sedang tidak beruntung, serpihan itu dapat melukai kaki orang yang tengah melintas.
Seorang wanita terlihat sedang duduk di lantai sembari menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang. Rambutnya berantakan. Wajahnya sembab dengan jejak air mata yang mengering. Kedua bola matanya terlihat memerah sebagai pertanda jika sedari tadi tiada henti ia meneteskan air mata. Penampilannya benar-benar kacau. Seperti seseorang yang tengah di hantam oleh gelombang pasang yang menghempaskannya ke dalam palung laut yang paling dalam.
__ADS_1
"Hentikan San. Semua barang-barang ini bisa habis di tanganmu!"
Arman yang baru beberapa saat tiba di rumah benar-benar terkejut dengan kondisi kamar pribadinya yang sudah berubah berantakan seperti ini. Selepas Santi memilih untuk pergi dari foodcourt yang beberapa waktu yang lalu, Arman juga turut meninggalkan area itu. Ia bersegera pulang dengan maksud untuk bisa segera menyelesaikan semua permasalahan ini.
"Aku tidak peduli Mas. Biarkan semua barang-barang ini habis tanpa sisa. Sama seperti yang telah kamu lakukan terhadapku Mas. Hancur tak bersisa."
Dengan penuh kehati-hatian, Arman melintasi kamar ini. Lelaki itu bahkan harus berjinjit agar telapak kakinya tidak terkena serpihan kaca yang berserakan di mana-mana. Ia pun memilih untuk berdiri di salah satu sudut ruangan.
"Cukup San, cukup! Aku membeli barang-barang ini dengan uang yang tidak sedikit. Mengapa kamu hancurkan seperti ini?!"
Santi tersenyum getir di hadapan lelaki yang saat ini masih sah menjadi suaminya ini. "Kamu lihat Mas? Serpihan-serpihan kaca yang berserakan ini seperti keadaan hatiku saat ini. Dia hancur berkeping-keping dan tidak akan pernah bisa kembali seperti semula lagi. Dan kamu tahu apa penyebabnya? Penyebabnya adalah kamu. Kamu yang sudah berselingkuh di belakangku."
Arman mengacak rambutnya frustrasi. Tidak ia sangka jika keadaan akan serumit ini. Ia mengira, bisa berpisah secara baik-baik dengan sang istri. Namun pada kenyataannya kepelikan seperti ini yang ia hadapi.
"Sudah aku katakan bahwa aku bosan menjalani rumah tangga bersamamu, San. Aku sudah bosan. Aku ingin mencari suasana baru dengan menjalin tali kasih dengan wanita lain. Dan itu semua aku temukan dari dalam diri Stella."
Lelehan air mata kembali mengalir deras dari pelupuk mata Santi. Ucapan sang suami benar-benar seperti belati tajam yang menikam jantungnya. Mengalirkan darah luka tak kasat mata yang semakin menggerogoti kekuatan batinnya.
"Mengapa kamu tidak pernah mengatakan bahwa kamu bosan denganku Mas? Mengapa kamu menyembunyikan ini semua dariku, dari Kirana?"
"Apa kamu bilang? Belum menemukan waktu yang tepat? Itu artinya jika tadi siang aku tidak menangkap basah kamu bermesraan dengan wanita itu, kamu hidup bersamaku dan Kirana dengan topeng kepalsuan itu?"
Arman terhenyak. "Itu..."
Lidah Arman terasa begitu kelu seakan tidak mampu untuk berucap sepatah katapun. Mendengar kata Kirana membuat hatinya sedikit tercubit.
Netra Santi yang sebelumnya menatap nyalang wajah Arman, kini menatap intens sebuah pigura kecil yang berada di dalam genggaman tangannya. Sebuah pigura dengan selembar foto yang menampilkan saat Kirana berulang tahun ke tujuh belas tahun. Lagi-lagi lelehan air mata Santi mengalir deras menyusuri tiap lekuk wajahnya.
"Adilkah ini semua untukku dan untuk Kirana, Mas? Kami yang sudah menganggapmu sebagai sosok lelaki paling sempurna yang kami miliki ternyata justru menjadi lelaki paling jahat karena telah menancapkan luka paling dalam ke tubuh kami.
"Aku..."
"Bertahun-tahun kita hidup bersama. Asam garam kehidupan kita lewati bersama. Jatuh, tertatih dan kembali berdiri lagi kita jalani bersama-sama. Hingga kamu berada di titik sukses seperti ini. Dan itu semua dikalahkan hanya dengan rasa bosan? Di mana nuranimu Mas?"
"Aku..."
__ADS_1
"Jika kamu bosan terhadapku seharusnya kamu mengatakan itu semua kepadaku Mas. Sehingga aku bisa memperbaiki semuanya. Namun mengapa kamu justru memilih jalan untuk mencari pelampiasan lain dengan cara berselingkuh?"
Bertubi-tubi Santi meluapkan seluruh api amarah yang membara di dalam dada. Amarah yang sebelumnya tertahan kini ia luapkan di hadapan Arman. Berharap lelaki yang masih sah menjadi suaminya ini paham dan mengerti bahwa tidak seharusnya pernikahan yang sudah berjalan selama dua puluh tujuh tahun berakhir mengenaskan seperti ini.
Santi kembali menatap nyalang tubuh Arman yang masih berada di dalam mode terdiam, membisu dan terpaku. Mata lelaki paruh baya itu nampak memerah dan titik-titik embun mulai berkumpul di sudut matanya. Tak membutuhkan waktu lama, setetes embun dari bingkai netra Arman mulai jatuh satu persatu.
"Demi Kirana, aku akan memaafkanmu dan menerima kamu kembali untuk hidup bersama kami. Namun, bisakah kamu meninggalkan wanita itu Mas? Tinggalkan wanita itu dan putuskan hubunganmu dengan wanita murahan itu!"
Arman menggelengkan kepala. Meskipun ucapan Santi berhasil membuka pintu hati yang tertutup, namun sampai kapanpun ia tidak bisa meninggalkan Stella.
"Tidak San. Aku tidak bisa melakukan itu semua!"
"Mengapa Mas? Mengapa kamu tidak bisa meninggalkan wanita itu?"
Arman mengusap wajahnya kasar. Saat ini, ia benar-benar berada di dalam situasi terjepit. "Stella hamil, San. Dia mengandung darah dagingku!"
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Arman membuat tubuh Santi semakin bergetar hebat. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia berteriak sekencang-kencangnya. Yang menjadi tanda ia telah kalah telak dengan wanita tidak berperasaan itu. Sungguh luka yang ia rasakan kini, terasa semakin mengoyak jiwa rapuhnya.
Sedangkan wanita yang berdiri di depan pintu kamar semakin kehilangan kekuatan jiwanya. Tulang dalam tubuhnya serasa diremukkan secara bersamaan hingga ia pun memilih menjatuhkan bobot tubuhnya untuk bersimpuh di lantai.
Dinding putih kamar ini seolah menjadi penopang tubuh Kirana yang terduduk lunglai dengan derai air matanya yang mengalir deras. Tubuhnya seperti dihujam ribuan anak panah yang menancap tepat di dadanya. Meski tak kasat mata, namun sungguh kata-kata yang keluar dari mulut sang papa benar-benar telah berhasil meluluhlantakkan jiwanya.
.
.
.
__ADS_1