Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan
Bab 16. Terketuk


__ADS_3

Angin sepoi-sepoi berhembus mengayun dedaunan. Membuatnya menari-nari seiring seirama dengan hembusannya. Ranting-ranting pohon pun seakan ikut mengalunkan nada alam. Turut membalut suasana yang dipenuhi oleh kesyahduan.


Kirana duduk di gazebo yang terbuat dari bambu dan beratapkan jerami. Di depan matanya nampak hamparan padang rumput yang nampak menghijau. Di sisi kanan kirinya juga terdapat kolam-kolam teratai yang dihiasi oleh ikan-ikan koi berwarna-warni.


Kirana memejamkan mata, merasakan kesejukan sang bayu yang mulai masuk ke dalam raga. Nuansa pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk dan hingar bingar keramaian kota. Tidak ada yang dapat ia rasakan selain rasa tenang dan damai yang begitu erat memeluknya. Ia hembuskan napasnya pelan dan  sedikit demi sedikit membuka kelopak mata. Namun tiba-tiba tubuhnya terperanjat seketika.


"Astaga, Rama!"


Kirana terkejut setengah mati di saat tubuh pemuda ini tiba-tiba ada di depannya. Menatap dengan tatapan tidak biasa dan dengan mengembangkan senyum lebar di bibirnya. Alih-alih merasa bersalah karena telah membuat Kirana terkejut, Rama justru terdengar tergelak lirih.


"Aku kira kamu ketiduran, ternyata hanya sedang menikmati suasana di tempat ini?"


Rama ikut mendaratkan bokongnya di samping Kirana, pastinya dengan memberikan jarak dengan posisi duduk wanita ini. Pandangannya juga lurus ke depan. Menikmati hamparan padang rumput dan kolam ikan.


"Aku merasa tempat ini begitu tenang dan damai. Di samping itu anginnya juga sejuk sekali. Membuatku tidak ingin beranjak dari tempat ini."


Baru beberapa saat tinggal di kediaman Rama, namun Kirana sudah menemukan tempat favorit. Sebuah tempat yang tidak sengaja ia temukan saat ia kebingungan melakukan apa di rumah orang lain. Pada akhirnya ia menemukan tempat ini.


"Ya, di sini memang menjadi tempat favorit. Di sini kita bisa melihat ciptaan Allah berupa langit luas dan hamparan padang rumput hijau. Kemudian berpadu dengan ciptaan manusia berupa kolam-kolam ikan yang berada di sisi kanan kirinya. Menjadi salah satu bingkai keindahan yang semakin memperbesar rasa syukur kita sebagai seorang hamba."


Kirana tersenyum simpul mendengar ucapan Rama. Dari ucapan lelaki ini ada sesuatu yang sedikit menyita perhatiannya.


"Rasa syukur sebagai seorang hamba?"


"Ya, rasa syukur kita kepada Allah Subhana Wata'alla. Karena sudah selayaknya kita sebagai manusia senantiasa bersyukur akan semua karunia Allah," tutur Rama yang masih enggan mengalihkan pandangannya.


"Jika hanya ada luka, air mata, kesedihan dan kehancuran apakah kita juga tetap harus bersyukur?"  tanya Kirana dengan suara sedikit bergetar.


Manik mata Rama yang sebelumnya fokus ke arah depan, kini ia giring ke arah wanita cantik yang duduk di sampingnya ini. Entah mengapa, ia menangkap sinyal kerapuhan dari sorot mata wanita ini.


"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu. Bolehkah aku bertanya kepadamu?"


Kini giliran Kirana yang menggiring manik matanya untuk menatap wajah Rama hingga pandangan keduanya bersiborok. "Apa itu? Apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku?"

__ADS_1


"Sebelum luka, air mata, kesedihan, dan kehancuran menyapa kehidupanmu, apakah kamu pernah merasakan apa itu kebahagiaan yang sempurna?"


Tanpa ragu, Kirana menganggukkan kepala. Terlintas kepingan kenangan kehidupan sempurna yang ia miliki sebelum prahara itu memporak-porandakan keluarganya.


"Ya, kehidupanku begitu sempurna. Berada di dalam dekapan keluarga yang utuh. Memiliki karier yang bagus dan juga semua kebutuhanku terpenuhi. Namun itu semua sirna dalam sekejap mata di saat..."


Kirana memangkas ucapannya, di kala rasa sesak kembali menghimpit dada. Layaknya dihimpit oleh dua bongkah batu besar, Kirana sampai merasa sulit untuk bernapas. Tak ayal, rasa sesak itulah yang membuat titik-titik embun mulai berkumpul di sudut mata dan menetes perlahan.


Rama hanya bisa tersenyum getir melihat wajah Kirana yang nampak sendu. Ia bisa merasakan bahwa wanita ini sedang merasakan satu beban hidup yang membuat hatinya pilu. Namun, Rama merasa ini merupakan waktu yang tepat untuk menarik Kirana dari kubangan beban hidup itu.


"Apakah selama kesempurnaan hidup itu menyapa hidupmu, kamu tidak lupa untuk bersyukur? Bersyukur atas semua kebaikan yang telah Allah berikan untukmu?"


Kirana terhenyak. Ia mulai tertarik dengan topik pembicaraan Rama ini. "Maksudmu bersyukur dengan cara bagaimana?"


"Dengan mendirikan shalat!" jawab Rama dengan penuh penekanan.


Kedua bola mata Kirana menyipit. Tidak terlalu paham dengan apa yang diucapkan oleh lelaki ini. "Shalat? Bukankah itu merupakan salah satu ritual ibadah? Lalu apa hubungannya dengan salah satu cara untuk bersyukur?"


Rama tersenyum penuh arti. Kembali ia tautkan pandangannya ke arah depan, menatap ilalang yang bergoyang tertiup angin kencang.


Kirana terkesiap. "Apakah Allah membutuhkan ungkapan terima kasih kita? Bukankah Dia sudah Maha segala-galanya?"


Rama tersenyum simpul. "Tidak, Allah bahkan tidak membutuhkan itu semua. Justru kita yang membutuhkannya. Dengan mendekat kepada Allah melalui shalat dan ibadah-ibadah yang lain, kita berharap semoga apa yang kita dapatkan menjadi berkah."


"Lalu, bagaimana dengan ujian hidup itu sendiri? Bukankah dengan ujian hidup semakin menegaskan bahwa Allah memang tidak menyayangi kita?"


"Bukan, bukan seperti itu konsepnya. Justru Allah memberikan ujian kepada hambaNya karena Dia menyayangi kita. Dengan ujian itu bisa meningkatkan iman kita dan bisa menghapus dosa-dosa kita jika kita menjalaninya dengan penuh keikhlasan," jelas Rama.


"Mungkin untuk manusia yang bertaqwa, ujian itu bisa menghapus dosa dan sebagai bentuk kasih sayang. Namun bagaimana denganku yang berlumur dosa seperti ini? Apakah dengan ujian itu, Allah akan menghapus semua dosa-dosaku?" lirih Kirana yang hampir saja suaranya tidak terdengar. Kepalanya turut menunduk, seakan larut dalam dunianya sendiri.


Senyum Rama semakin mengembang di bibirnya. Hatinya turut menghangat melihat Kirana yang sepertinya ingin tahu tentang apa itu hakikat hidup yang sesungguhnya.


"Bukan dengan ujian itu Allah akan menghapus semua dosa-dosamu, Ran. Namun dengan satu cara."

__ADS_1


Kirana mendongakkan wajah. Menatap netra milik Rama dengan tatapan penuh tanya. "Satu cara? Dosa-dosaku yang bertumpuk dan menggunung bisa terhapus dengan hanya satu cara? Cara apa itu Ram?"


"Taubatan  nasuha. Taubat  yang sebenar-benarnya. Seberapa banyak dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan, semua akan terhapus jika kita benar-benar bertaubat," imbuh Rama dengan jelas.


"Semudah itukah Ram? Semudah itukah Allah membersihkan aku dari lumpur dosa itu?" ucap Kirana seakan masih teramat ragu.


Rama beranjak dari posisi duduknya. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk berdiri di bawah pohon ketapang yang berada di sisi gazebo yang di tempati oleh Kirana. Sembari merasakan hembusan sang bayu yang terasa semakin menyejukkan.


"Untuk taubat, mungkin akan  begitu mudah dilakukan. Namun yang sukar untuk dilakukan adalah istiqomah. Di mana kita harus tetap bertahan di dalam keimanan dan ketakwaan itu."


Kirana menatap punggung Rama yang nampak begitu tegap. Entah mengapa mendengar semua penuturan lelaki ini, membuat pintu hatinya yang selama ini tertutup sedikit terketuk. Ingin rasanya ia merasakan bagaimana nikmatnya orang yang bertaubat.


"Ram, seandainya aku ingin bertaubat, apakah Allah akan membukakan pintu ampunNya untukku?"


.


.


.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2