
Suara bariton terdengar menggema dari balik punggung Jeff dan Sam. Keduanya sama-sama berbalik badan dan terlihat seorang pemuda dengan paras tampan berdiri gagah di hadapan mereka.
"Siapa kamu?" ucap Sam dengan lantang.
Pemuda itu hanya tersenyum tipis sembari mengambil langkah untuk bisa lebih dekat ke arah Jeff dan Sam.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Aku hanya minta lepaskan wanita itu," titah sang pemuda dengan lantang pula.
"Hahahaha ... sepertinya kamu ingin mencari mati ya?" ucap Jeff dengan sombongnya.
"Tidak, aku tidak sedang mencari mati karena kematian tanpa aku cari pun akan datang dengan sendirinya. Aku hanya minta, segeralah pergi dari sini. Dan tinggalkan wanita itu. Jika tidak, jangan salahkan aku jika akan melakukan sesuatu yang tidak pernah kalian duga sebelumnya."
Mendengar sang pemuda berbicara penuh rasa percaya diri, membuat tawa Jeff semakin membahana. Pemuda ini nampak memiliki besar nyali untuk melawan seseorang yang memiliki Ilmu bela diri seperti dirinya ini.
Jeff mengayunkan kaki, merapatkan tubuhnya ke tubuh sang pemuda yang memasang raut wajah tanpa diliputi rasa takut sama sekali ini. Jeff menepuk-nepuk bahu sang pemuda sembari melayangkan tatapan remeh.
"Ternyata nyali kamu besar juga ya? Apa kamu yakin tidak mau mundur terlebih dahulu sebelum kamu merasakan tulang-tulang di dalam tubuhmu remuk redam?"
Sebelah sudut bibir sang pemuda terangkat. Bahkan keberaniannya untuk melawan dua lelaki ini semakin berkobar. Melihat dua orang ini, yang memiliki niat jahat terhadap seorang wanita, sungguh melukai nuraninya sebagai seorang laki-laki.
"Aku tidak akan mundur. Aku pastikan tulang kalianlah yang akan remuk redam!"
"Hahahaha .... ternyata kamu benar-benar ingin mencari perkara denganku ya? Silakan pilih, setelah ini, kamu ingin masuk ke rumah sakit atau masuk ke liang kubur?" tanya Jeff semakin menyombongkan diri.
Sang pemuda kembali tersenyum simpul hingga lesung pipit di kedua tulang pipinya itu tercetak dengan jelas. "Aku tidak memilih keduanya. Karena bisa aku pastikan, setelah ini aku bisa membawa pulang wanita itu ke kediamannya."
"Hahaha hahaha ... ternyata kamu percaya diri sekali," ucap Jeff dan kemudian menatap wajah Sam yang berada di balik punggungnya. "Sam, sepertinya kita harus segera memberi pelajaran untuk pahlawan kesiangan ini. Ayo, kita habisi dia!"
"Ayo Jeff!!"
Jeff meletakkan tubuh Kirana di atas jalanan ber-paving block ini. Ia bersiap-siap untuk melawan sang pemuda yang tidak terlihat takut sama sekali. Hal inilah yang semakin membuat Jeff lebih tertantang untuk menghabisi.
"Kamu mencari mati rupanya. Ayo maju!!"
Bugh .. . Bugh.. . Bugh.. .
__ADS_1
Jeff, Sam dan pemuda itu terlibat dalam sebuah aksi baku hantam. Tidak tanggung-tanggung dua lelaki asing yang memiliki niat buruk terhadap Kirana itu menyerang sang pemuda secara bersamaan. Bertubi-tubi kedua lelaki itu memberikan bogem mentah ke arah sang pemuda namun selalu saja berhasil ditepis olehnya.
Bugh!!!
"Aaaaahhhhh!!!"
"Sam!!!!" pekik Jeff, saat melihat tubuh kawannya ini ditendang oleh sang pemuda.
Jeff menatap sengit wajah sang pemuda yang berdiri di hadapannya ini. Sesekali mengusap sudut bibirnya yang sudah mulai mengeluarkan darah segar akibat pukulan sang pemuda yang bertubi-tubi mengenai wajahnya.
"Kurang ajar. Rasakan ini!"
Jeff mengayunkan kaki berupaya untuk menendang perut sang pemuda. Namun sia-sia saja, keahlian sang pemuda jauh lebih mumpuni daripada keahlian Jeff. Pemuda itu selalu sigap memasang kuda-kuda untuk dapat melindungi diri dari serangan musuh.
Tanpa basa-basi sang pemuda mulai mengangkat tubuh Jeff, diputar-putarnya di udara kemudian ia lempar ke sembarang arah. Tubuh Jeff berhasil terpelanting dan kemudian jatuh di atas tanah.
Gedebugg!!!!
Kreeekkkkkkk...
"Aaaaahhhhh .... sakit!!!"
Sang pemuda hanya tersenyum tipis. "Sebelumnya, aku sudah meminta secara baik-baik agar kalian melepaskan wanita itu. Namun, kalian sendirilah yang memaksaku untuk melakukan semua ini."
Jeff dan Sam sama-sama masih terkapar di atas tanah. Rintihan kecil yang keluar dari bibir keduanya masih lirih terdengar yang semakin menjadi tanda mereka benar-benar telah kalah telak.
"Kurang ajar. Awas saja kamu. Suatu saat, akan aku balas perbuatan kamu ini!" ancam Sam dengan nada mengintimidasi.
Sam melabuhkan pandangannya ke arah Jeff yang nampak sudah tidak berdaya ini. Melihat wajah sang sahabat yang sudah dipenuhi oleh lebam-lebam, bahkan darah segar juga mengalir segar di sudut bibirnya, membuat Sam bergidik ngeri. Ternyata kemampuan pemuda yang berdiri di depannya ini sungguh tidak dapat diremehkan.
"Ayo Jeff, kita segera pergi dari tempat ini!" ajak Sam sembari mengibas-ibaskan pakaian yang ia kenakan.
"Kamu bercanda Sam? Aku tidak bisa berdiri sendiri. Tolong aku!" pekik Jeff dengan sedikit kesal karena temannya ini tidak peka akan keadaannya.
Tubuh Sam sedikit membungkuk. Dengan hati-hati, ia membantu Jeff untuk berdiri. "Pelan-pelan saja Jeff, aku khawatir jika sampai tulang di tubuhmu semakin remuk lagi."
__ADS_1
Jeff sama sekali tidak menghiraukan ucapan Sam. Perlahan, tubuhnya kembali berdiri tegak, meski di tulang punggungnya masih terasa begitu sakit.
"Ingat, satu saat nanti aku akan kembali ber duel denganmu. Camkan itu baik-baik!" ucap Jeff dengan jumawa.
"Aku tunggu, Tuan!" jawab sang pemuda tanpa ragu dan takut sedikitpun.
Sam memapah tubuh Jeff yang lemah. Tidak ada yang ingin mereka lakukan selain bisa segera tiba di rumah. Lambat laun, tubuh dua lelaki itu menghilang dari penglihatan sang pemuda.
Pemuda itu mendekat ke arah Kirana yang masih tergeletak di atas tanah. Ia lepas jaket yang ia kenakan untuk membungkus tubuh Kirana yang hanya dibalut oleh dress berbahan sifon yang tipis. Ia mengulurkan tangannya untuk bisa membopong tubuh wanita ini.
"Kak Ram, siapa yang Kakak bawa itu?"
Tiba di pinggir jalan besar, kedatangan lelaki bernama Rama itu disambut oleh seorang gadis belia berusia sekitar sembilan belas tahun. Ternyata, sebelum menolong Kirana, Rama tengah bersama dengan sang gadis untuk membuntuti ke mana Kirana dibawa oleh Jeff dan Sam. Pada akhirnya, gadis itu memilih untuk menunggu Rama di dalam mobil.
"Kakak juga tidak tahu, Yas. Wanita ini yang dibawa oleh dua orang laki-laki tadi."
"Lalu, sekarang kak Rama akan melakukan apa? Apa kita langsung antar pulang ke rumahnya saja?" tanya sang gadis yang bernama Yasmin itu.
Rama terdiam sejenak, mencoba untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan. "Sepertinya kita tidak bisa mengantarnya pulang, Yas. Kita tidak tahu di mana tempat tinggalnya. Terlebih, wanita ini sepertinya juga tidak membawa kartu Identitas."
"Kalau begitu, kita bawa pulang ke rumah saja Kak. Kasihan, kakak ini. Sepertinya ia juga sedang tidak sehat," usul Yasmin.
Lelaki bernama Rama itu nampak menimbang-nimbang apa yang diusulkan oleh sang adik. Pada akhirnya, ia menganggukkan kepala. "Baik Yas, kita bawa pulang ke rumah dulu wanita ini. Besok baru kita tanya, di mana kediamannya."
Pada akhirnya, Rama merebahkan tubuh Kirana di bangku belakang. Setelah posisinya dirasa nyaman, ia mengitari mobil dan mulai memposisikan tubuhnya untuk duduk ke bangku kemudi.
"Bismillah..."
Rama menyalakan mesin mobil, menggeser persneling dan mulai menginjak pedal gas secara pelan. Perlahan, mobil yang dikemudikan oleh Rama itu, melaju. Membelah jalanan malam yang terasa sepi ini.
.
.
.
__ADS_1