
Tak.. Tak.. Tak..
Suara talenan yang beradu dengan pisau, memecah keheningan ruang dapur sebuah rumah sederhana yang berada di pinggiran kota. Sepasang suami-istri nampak sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sang suami sibuk dengan irisan sayur, sedangkan sang istri sibuk mengulek bumbu di atas cobek yang terbuat dari batu.
"Anak-anak ke mana ya Bi, sudah menjelang sahur seperti ini namun belum pulang juga. Umi benar-benar khawatir."
Gurat kecemasan nampak membingkai wajah seorang wanita yang masih terlihat cantik meski sudah memasuki usia paruh baya ini. Berkali-kali tatapan matanya tiada henti tertuju pada ponsel yang teronggok di sebelah tangannya, menunggu balasan dari seseorang yang ia tunggu. Siapa lagi jika bukan sang anak yang belum kembali. Padahal, keduanya hanya meminta izin untuk mengisi acara kajian setelah shalat tarawih di salah satu panti.
"Umi sudah mencoba untuk menghubungi Rama atau Yasmin?" tanya sang suami yang masih sibuk dengan sayur pakcoy di depannya.
Meski sebagai seorang laki-laki, lelaki paruh baya itu nampak begitu cekatan dalam mengeksekusi salah satu jenis sayuran hijau ini. Seakan semakin menegaskan bahwa ia merupakan sosok suami yang sering membantu pekerjaan istri.
"Sudah Bi, tapi ceklis. Sedangkan ponsel Yasmin tertinggal di rumah," jawabnya sembari membubuhkan garam di atas cobek, "katanya hanya mengisi kajian setelah shalat tarawih, ini malah sudah menjelang sahur belum juga pulang. Umi benar-benar khawatir Bi."
Rasa khawatir itu semakin mendera di kala ingatannya tertuju pada beberapa kasus pembegalan yang merajalela. Wanita itu sampai bergidik ngeri jika teringat akan berita yang sering ia lihat memenuhi layar kaca.
"Astaghfirullahalazim... Ya Allah...," lirih wanita paruh baya itu.
Dahi sang suami semakin berkerut dalam. Tidak paham dengan yang terjadi dengan istrinya yang tiba-tiba beristighfar ini. "Ada apa Umi?"
"Bi jangan, jangan...."
"Ssssttt Umi... Abi minta jangan berpikir macam-macam. Percayalah bahwa anak-anak kita dalam keadaan baik. Dan sebentar lagi mereka akan tiba di rumah."
Sang suami memangkas ucapan istrinya ini. Ia yakin bahwa sang istri tengah dikuasai oleh perasaan cemas yang merajai hati. Sehingga membuat pikirannya berkelana sampai ke mana-mana.
"Assalamu'alaikum Umi, Abi... Assalamu'alaikum!"
Ucapan salam dan bunyi ketukan pintu dari luar rumah mulai merembet masuk ke dalam indera pendengaran. Membuat sepasang suami-istri itu saling melempar pandangan dan sejenak kemudian sama-sama tersenyum lebar. Sebagai sebuah isyarat bahwa kekhawatiran yang sebelumnya bertahta kini sirna, berganti dengan rasa penuh kelegaan. Tanpa basa-basi wanita paruh baya itu meletakkan ulekan di atas cobek untuk kemudian mengayunkan tungkai kakinya ke arah pintu depan.
"Waalaikumsal... Rama, ini siapa?"
Kedua netra wanita paruh baya itu terbelalak dan membulat sempurna kala mendapati sang putra membopong seorang wanita cantik yang tengah terlelap.
Rama hanya tersenyum simpul melihat sang ibu yang begitu terkejut seperti ini. "Umi ... salam dari Rama belum dijawab dengan sempurna. Masa hanya waalaikumsal saja?"
Wanita paruh baya itu terhenyak, benar yang dikatakan oleh sang putra bahwa ia belum menjawab salam dengan sempurna.
__ADS_1
"Waalaikumsalam warahmatullah. Jadi, wanita ini siapa Ram? Mengapa kamu bisa menemukannya?"
Kali ini giliran Yasmin yang terkikik geli melihat wajah sang umi yang sudah seperti tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan apa yang akan disampaikan oleh sang kakak.
"Umi, biarkan kak Rama masuk terlebih dahulu. Kasihan Kakak, sepertinya sudah sangat lelah membopong kakak cantik ini. Nanti di dalam biarkan Kakak menceri..."
"Lho, lho, lho ini mengapa masih berada di depan pintu? Mengapa tidak segera masuk?"
Ucapan Yasmin terpangkas di saat suara bariton terdengar dari balik punggung sang umi mulai terdengar. Tak selang lama, lelaki yang ternyata adalah abi, ikut bergabung bersama mereka di depan pintu masuk.
"Astaghfirullah... Itu yang kamu bawa siapa Nak?" tanya sang abi yang juga ikut terkejut dengan wanita yang dibawa oleh Rama.
Rama hanya menggeleng-gelengkan kepala. Niat hati bisa segera masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuh wanita ini justru malah bertambah lama karena kedatangan sang ayah.
"Bi, biarkan Rama membawa wanita ini masuk terlebih dahulu ya. Nanti akan Rama ceritakan di dalam."
"Ah iya benar sekali itu. Ya sudah, ayo bawa wanita ini ke kamar tamu, Ram!" titah sang ayah sembari menggeser tubuhnya dari ambang pintu.
Pada akhirnya, Rama membawa Kirana ke dalam kamar khusus untuk tamu. Dengan hati-hati, ia merebahkan wanita asing ini di atas ranjang. Tak lupa, ia tutupi tubuh Kirana dengan selimut yang sudah disediakan.
Rama berdiri sejenak di sisi ranjang dan menatap intens wajah wanita yang masih setia menutup kelopak matanya ini.
Pada akhirnya, pemuda tampan nan gagah itu melangkahkan kakinya untuk kemudian keluar dari kamar ini.
***
Sahur.. . Sahur.. . Sahur.. . Sahur.. .
Suara kumpulan beberapa kawula muda mulai terdengar ke seluruh penjuru kampung. Seperti biasa, memasuki bulan Ramadhan seperti ini, mereka bergantian berkeliling untuk membangunkan para warga untuk melaksanakan salah satu sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah. Meski sunnah namun banyak keberkahan yang akan di dapat oleh para hamba apabila melaksanakan sahur ini.
Suara kentongan juga turut mengiringi. Sebagai salah satu alat musik tradisional yang sudah jarang sekali ditemukan di zaman milenial seperti ini. Namun, di kampung Rama, mereka masih menggunakan cara-cara seperti ini, untuk tetap menjaga salah satu tradisi agar bisa lestari.
Di ruang makan, Rama, Yasmin, Aisyah dan juga Hakam terlihat duduk mengelilingi meja makan. Di hadapan mereka telah tersaji ikan nila goreng, sambal terasi dan juga lalapan. Dan keempat orang itu nampak begitu menikmati hidangan yang berada di hadapannya ini.
Tidak ada yang bersuara kala salah satu rezeki dari Allah berupa makanan ini mulai memanjakan lidah masing-masing. Sebagai salah satu adab di mana ketika sedang makan lebih baik tidak disisipi oleh obrolan.
"Jadi, siapa wanita itu Nak? Mengapa kamu bisa pulang dengan membawa wanita itu?"
__ADS_1
Setelah menghabiskan hidangannya hingga tandas tanpa sisa dan meneguk air putih yang berada di hadapannya, Hakam meminta penjelasan dari sang putra akan siapa sebenarnya wanita yang dibawanya tadi. Raut wajah lelaki paruh baya itu juga nampak dipenuhi oleh rasa penasaran yang besar sekali.
Rama, membasuh kedua telapak tangannya dengan baskom kecil yang biasa digunakan sebagai tempat kobokan setelah hidangannya juga telah tandas. Pemuda itu hanya tersenyum tipis menanggapi rasa penasaran ayahnya ini.
"Rama juga tidak paham siapa wanita itu, Bi. Rama menemukannya saat ada dua orang penjahat yang ingin mencelakainya."
"Lalu, mengapa wanita itu bisa pingsan Nak?" timpal Aisyah yang juga ikut menimpali ucapan Rama sembari menumpuk piring-piring kotor yang sudah tidak terpakai.
Rama mengedikkan bahu. "Rama juga tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi terhadap wanita itu, Umi. Karena Rama menemukan wanita itu sudah dalam keadaan pingsan."
"Ya Allah ... kasihan sekali wanita itu," ucap Aisyah dengan bibir yang menganga sebagai bentuk rasa keprihatinannya.
"Maka dari itu, izinkan dia untuk sementara waktu tinggal di sini dulu ya Bi, Mi. Kasihan wanita itu." Rama menyorot mata kedua orang tuanya dengan tatapan memohon.
Hakam tehenyak kala mendengar permintaan putranya ini. "Sementara waktu tinggal di sini? Apakah itu artinya setelah dia bangun, kamu tidak bersegera mengantarkannya pulang, Nak?"
Rama terkesiap. Mendadak hatinya dipenuhi oleh perasaan kikuk. Ia pun hanya bisa menggaruk ujung hidungnya yang tiada gatal.
"Ehemmmmm .... sepertinya, ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama nih," sahut Yasmin dengan nada menggoda yang seketika membuat semua yang berada di ruangan ini tergelak bersamaan.
Rama, pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu hanya tersenyum simpul. Entah apa yang tengah melanda hati, namun rasa-rasanya ia ingin menahan wanita itu untuk tetap di sini.
Ada apa denganku? Apakah mungkin aku jatuh hati?
.
.
.
__ADS_1