
"Mama!"
Dengan langkah kaki lebar, Kirana mendekat ke arah sang mama yang tengah duduk sendiri di balik jendela. Wanita paruh baya itu nampak seperti larut dalam dunianya sendiri. Sorot matanya menatap lurus ke depan dan menerawang.
Kirana berhamburan ke dalam dekapan sang mama. Ia peluk erat tubuh wanita ini seakan tidak ingin ia lepaskan lagi.
Tubuh Santi sedikit terhenyak di kala merasakan ada seseorang yang memeluknya erat. Ia hanya bisa memandang punggung Kirana tanpa dapat berucap apapun.
"Mama baik-baik saja kan?"
Kirana mengurai pelukannya dari tubuh Santi. Ia merangkum wajah sang mama dengan kedua telapak tangannya. Menatap lekat bingkai wajah mamanya ini. Jantungnya berdenyut nyeri di saat wajah sayu dengan lingkaran hitam di mata wanita ini menyambut kedatangannya. Kirana bisa merasakan betul bahwa sang mama belum bisa sembuh dari luka yang telah ditinggalkan oleh Arman.
Santi hanya terdiam, tidak memberikan respons apapun. Wanita itu hanya bisa memandang wajah sang putri dengan tatapan tiada terbaca.
"Mama yang kuat. Mama harus sembuh. Percayalah Ma, kita bisa saling menguatkan untuk menjalani ujian ini. Kita lewati sama-sama ya Ma."
Hening. Santi masih tidak memberikan respons apapun. Namun sorot mata wanita paruh baya itu tidak lepas dari kedua bola mata Kirana.
"Ma, Kirana sudah berubah. Kirana sudah menjadi anak yang baik yang mencoba untuk taat kepada perintah Allah. Mama sembuh ya. Kita gunakan ramadan tahun ini untuk beribadah bersama-sama. Kita cari pahala dan keberkahan Allah sama-sama."
Meskipun ia tahu bahwa sang mama sama sekali tidak memberikan respon, namun Kirana berupaya untuk mengajak berkomunikasi wanita paruh baya ini. Ia percaya bahwa sang mama pasti bisa sembuh seperti sedia kala.
Sorot mata Santi nampak jauh lebih tajam. Tangannya bergerak dan terangkat untuk dapat menjangkau bingkai wajah Kirana. Jemari wanita paruh baya itupun menyusuri setiap lekuk wajah sang putri.
Entah gejolak emosi apa yang terjadi, napas Santi terdengar begitu memburu. Ia masih membisu namun bibirnya bergetar. Titik-titik air pun mulai berkumpul di sudut matanya. Semakin lama semakin banyak. Dan sepersekian menit, bak sebuah tanggul yang jebol karena banjir bandang, air mata Santi tumpah ruah di wajahnya.
"Kirana ... putriku!" lirih Santi dengan jemari yang masih membelai lembut wajah putrinya ini.
Kirana terkejut setengah mati mendengar sang ibu menyebutkan namanya. Sebuah kata yang begitu ia rindukan keluar dari bibir Santi yang bisa menjadi tanda awal kesembuhannya dari depresi. Tanpa basa-basi, Kirana kembali memeluk erat tubuh wanita ini dan air matanya pun turut tumpah ruah di dalam dekapan sang mama.
__ADS_1
"Iya Ma, ini Kirana. Kirana, putri Mama!"
"Kirana, putriku. Kirana putriku!"
"Alhamdulillah ya Allah ... Alhamdulillah...!!"
Suara Kirana terdengar bergetar, hingga membuat Rama, Aisyah dan Sumi yang berdiri di ambang pintu kamar ikut meneteskan air mata. Pertemuan ibu dan anak ini benar-benar menyisakan rasa haru yang mendalam. Tak lama setelahnya, senyum lebar terbit di bibir ketiga orang itu. Sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmat Allah yang telah diberikan untuk Kirana
****
Arman berjalan gontai menyusuri salah satu ruas jalan beraspal kota Jakarta. Hiruk pikuk keramaian kota pada kenyataannya tidak dapat meredam duka yang ia rasa. Pemandangan elok nan rupawan barisan gedung-gedung pencakar langit yang berada di sisi kanan kirinya pun juga tidak mampu untuk mengalihkan rasa sesal yang bercokol di dalam hatinya.
Dipandanginya langit ibu kota Jakarta siang hari ini. Terlihat terik dan terasa panas sekali. Bahkan burung-burung pun enggan untuk menampakkan diri. Memilih untuk berlindung di bawah rindangnya pohon yang hampir tidak dapat ia temui keberadaannya di kota ini.
Peluh yang menetes, ia seka perlahan. Tidak terasa bahwa sudah hampir dua jam kepalanya tertunduk menekuri jalanan. Sembari memutar otak akan apa yang harus ia lakukan setelah apa yang ia punya terlepas dari genggaman tangan.
Rasa sesal kembali merajai di saat memori otaknya memutar kembali wajah Stella. Seorang wanita yang ternyata kehadirannya hanya mendorong tubuhnya ke dalam palung kehancuran yang entah bagaimana caranya ia bisa kembali menepi.
Inilah buah dari kekufuran Arman selama ini. Ia tidak pandai bersyukur memiliki seorang istri seperti Santi dan malah justru rela menukarnya dengan seorang wanita seperti Stella. Berkali-kali Arman mengusap wajahnya kasar dan memukul-mukul dadanya berusaha menghilangkan rasa sesak yang teramat menyiksa jiwa.
Jejak demi jejak telah terpahat di satu ruas jalanan ini. Pada akhirnya, ia berhenti di depan sebuah istana di mana Santi yang menjadi ratunya. Dua puluh tujuh tahun ia menjalani kehidupan bersama istri dan ia berpikir saat ini merupakan waktu yang tepat untuk berbenah dan memperbaiki.
Arman berdiri terpaku di depan pintu. Rasanya, jika sampai ia mengetuk pintu dan mengatakan bahwa ia ingin kembali, ia seperti orang yang tidak tahu malu. Sama artinya ia telah membuang sebuah berlian dan pada kenyataannya ia pungut kembali.
Batin Arman berperang antara mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu atau ia urungkan niat itu. Sejenak, lelaki paruh baya itu larut dalam dilemanya. Pada akhirnya, ia memilih untuk mengurungkan niatnya untuk menemui Santi.
Arman berbalik badan. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk pergi dari kediaman Santi. Ingatannya seketika tertuju pada kata-kata bijak yang dulu sempat ia dengar. Bahwa sesungguhnya seorang wanita terlebih seorang istri bisa memaafkan semua kesalahan suami, kecuali perselingkuhan. Arman sadar, bahwa ia tidak akan pernah bisa mendapatkan maaf dari sang istri.
Arman membawa tubuhnya untuk keluar dari area teras rumah Santi. Hingga pada saat tubuhnya hampir sampai di pagar depan...
__ADS_1
"Tuan Arman!"
Teriakan seseorang menghentikan langkah kaki Arman. Tak selang lama, Dirman terlihat sedikit berlari untuk mendekat ke arah Arman.
"Tuan ... mengapa Tuan tidak masuk? Mari masuk Tuan. Non Kirana juga baru saja pulang."
Arman hanya menggeleng pelan dan tersenyum getir. "Tidak Man, kesalahanku terlalu besar kepada anak dan istriku. Aku tidak pantas untuk kembali masuk ke rumah ini."
"Mari masuk Tuan! Setidaknya dengan Tuan masuk ke dalam, Tuan bisa meminta maaf secara langsung kepada Nyonya dan non Kirana. Perkara dimaafkan atau tidak, serahkan semua kepada Allah, Tuan. Serahkan semua kepadaNya."
Kepala Arman yang sebelumnya menunduk, kini ia tegakkan. Ia tatap lekat wajah penjaga rumah yang sudah bertahun-tahun menjadi kepercayaannya ini. Dirman mengangguk pelan seraya tersenyum sebagai isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Pada akhirnya, Arman dituntun oleh Dirman untuk masuk ke dalam rumah.
Kirana, Aisyah dan Rama nampak bercengkerama di ruang tengah. Sedangkan Sumi masih membantu Santi untuk membersihkan diri.
"Non Kirana!"
Kirana menoleh ke arah sumber suara. "Ya Mang? Ada apa?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan non Kirana," ucap Dirman memberikan sebuah berita.
Dahi Kirana mengernyit. "Seseorang? Siapa Mang?"
Tak selang lama muncul sosok Arman dari balik punggung Dirman. Kemunculan sosok Arman inilah yang membuat kedua bola mata Kirana terbelalak dan membulat sempurna.
"K-Kirana....?" lirih Arman.
"Anda? Ada keperluan apa Anda datang kemari? Pergi dari sini, pergi!"
.
__ADS_1
.
.