Cinta Di Penghujung Ramadan

Cinta Di Penghujung Ramadan
Bab 7. Badai


__ADS_3

Santi mengayunkan tungkai kaki untuk dapat memangkas jarak yang tercipta diantara tempatnya berdiri dengan sang suami yang tengah duduk bersama seorang wanita. Debaran jantungnya masih begitu terasa. Diimbangi dengan rasa sesak yang tertahan dan seperti menjadi pemicu bulir bening mengalir deras dari pelupuk matanya. Bak sebuah tanggul yang jebol akibat banjir bandang, air mata itu meluap dan tidak dapat dikendalikan.


Brakk!!!!


"Apa yang sedang kamu lakukan Mas?!"


Santi menggebrak meja yang berada di hadapannya. Menimbulkan suara yang cukup memekak telinga yang sukses menjadikan wanita itu sebagai pusat perhatian. Beberapa pasang bola mata yang berada di sekeliling Santi tertuju ke arahnya.


Kedatangan Santi yang tiba-tiba berhasil membuat tubuh Arman dan Stella terperanjat seketika. Mereka yang sebelumnya saling berpegangan tangan dan larut dalam kemesraan yang ada kini sama-sama saling melepaskan genggaman. Dan sama-sama bangkit dari posisi duduk mereka.


"Santi?!"


"Ya, ini aku. Kenapa? Apakah kamu terkejut karena aku bisa berada di tempat ini?"


Firasat tidak baik yang hampir satu bulan belakangan dirasakan oleh Santi, pada akhirnya ia temui jawabannya. Tidak ingin terus menerus dibelenggu oleh firasat buruk, wanita paruh baya itupun berinisiatif untuk mengikuti kemana sang suami pergi. Hingga pada akhirnya, wanita inilah yang menjadi jawaban atas segala perubahan sikap yang ditampakkan oleh Arman.


Kehadiran Santi benar-benar membuat Arman tidak dapat berkutik sama sekali. Tiba-tiba saja kebingungan merajai hati akan sikap apa yang harus ia ambil. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang untuk dapat mengendalikan keadaan.


"San, duduklah terlebih dahulu. Akan aku jelaskan semuanya kepadamu!"


Santi tersenyum sinis dengan lelehan air mata yang masih tiada henti mengalir. Dadanya bergemuruh layaknya gulungan-gulungan ombak yang memecah pantai.


"Tidak perlu kamu jelaskan apapun Mas. Apa yang aku lihat sudah cukup membuatku mengerti tentang kecurangan yang kamu lakukan di belakangku!"


"San, ini semua bisa..."


 Ucapan Arman terpangkas di kala tungkai kaki sang istri mendekat ke arah Stella dan tanpa banyak kata...


Plak...!


"Ahhhhhhh..."


Sebuah tamparan keras, sukses mendarat di pipi Stella. Wanita itu seketika mengaduh seraya memalingkan wajah setelah sensasi rasa nyeri mulai menjalar memenuhi syaraf-syaraf di pipi.


"Tamparan ini pantas untuk kamu dapatkan wahai wanita murahan. Kamu pantas menerimanya!"

__ADS_1


Arman terhenyak dengan apa yang dilakukan oleh Santi. Gegas, lelaki paruh baya itu menarik tangan wanita yang telah menemani hidupnya selama dua puluh tujuh tahun ini.


"Hentikan San! Tidak sepatutnya kamu melakukan ini kepada Stella. Kamu sudah menyakitinya!"


Kata yang terucap dari bibir Arman, nyatanya semakin membuat jantung Santi kian berdenyut nyeri. Lelaki yang telah ia anggap sebagai sosok suami paling sempurna, ternyata jauh lebih membela wanita murahan seperti yang berdiri di depannya ini.


"Oh  .... jadi nama wanita ini Stella? Sungguh hebat dia Mas, bisa membuatmu membelanya."


Santi menepis cengkeraman tangan Arman. Sorot mata yang sebelumnya menatap nyalang wajah sang suami, kini ia bidikkan ke arah Stella yang masih setia memegangi pipinya.


"Apa kamu tahu bahwa lelaki yang ada di depanmu ini sudah memiliki istri dan anak? Apakah kamu tidak laku sampai berani menjalani sebuah hubungan dengan lelaki beristri? Sehina itukah kamu menjadi wanita perampas kebahagiaan wanita lain?"


Stella menatap sinis wajah Santi. Salah satu sudut bibirnya terangkat seakan mempertegas bahwa ia tidak terlalu takut dengan gertakan istri sah dari kekasihnya ini.


"Aku tidak perduli dengan apa yang kamu katakan. Asal kamu tahu, kamu ini hanyalah wanita tua yang sudah tidak lagi menarik di mata mas Arman. Maka dari itu mas Arman mengejar-ngejarku dan ingin menggantikan posisimu."


Bak sebuah bensin yang mengenai percikan api, amarah dalam dada Santi semakin berkobar tiada terkendali. Bahkan kumpulan orang-orang yang berdiri mengerumuninya pun tidak mampu untuk meredam gejolak amarah yang semakin membesar. Ia raih gelas yang berisi orange juice yang teronggok di atas meja dan.....


Pyuurrrr!!!


"Aaahhhhhhh...!"


"Mas  .... istrimu benar-benar kurang ajar. Dia sudah menyakitiku Mas!"


Arman semakin terhenyak menyaksikan wajah Stella sudah dipenuhi oleh orange juice yang disiram oleh Santi. Raut wajah lelaki itu semakin memerah seakan memendam rasa marah. Ia pun mengeratkan pelukannya untuk Stella.


"Apa-apaan kamu San? Mengapa kamu menyiram Stella dengan juice itu?"


"Mau apa kamu Mas? Kamu tidak terima jika kekasihmu aku perlakukan seperti ini? Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan batinku yang sudah kalian robek-robek seperti ini? Apa yang sudah membutakan hatimu Mas? Apa? Dan untuk kamu wanita murahan, apa kamu tidak sadar diri akan posisimu sebagai wanita perusak rumah tangga?"


Masih tenggelam di dalam dekapan Arman, Stella mencoba untuk menimpali ucapan Santi yang terdengar semakin bergetar ini. "Kamu yang seharusnya sadar diri. Kamu sudah tidak menarik di mata mas Arman. Jadi, lepaskan mas Arman. Jangan siksa dia dengan menjalani hubungan hambar denganmu!"


Sorot mata Santi beralih ke wajah Arman. Perkataan Stella sedikit membuka akal sehatnya tentang apa yang menjadi akar dari badai ini.


"Apa benar yang dikatakan oleh wanita ini Mas? Kamu merasa bosan denganku? Dan aku tidak lagi menarik di matamu?"

__ADS_1


Sekilas, Arman nampak berpikir akan jawaban apa yang harus ia berikan untuk Santi. Mimik wajah lelaki itu benar-benar tidak terbaca seakan berada di dalam sebuah dilema. Namun tak selang lama Arman nampak membuang napas sedikit kasar dan sedetik kemudian, menganggukkan kepala.


"Ya, aku sudah bosan kepadamu San. Aku jenuh menjalani kehidupan berumah tangga denganmu. Rasa-rasanya aku ingin mencari suasana baru. Dan itu aku temukan di dalam diri Stella."


"Jika kamu merasa bosan, mengapa kamu tetap memperlakukan aku dan Kirana dengan baik Mas? Mengapa seakan-akan kamu memakai topeng kepalsuan saat berada di depanku dan juga Kirana?"


"Itu semua hanya sebagai formalitas semata. Formalitas bahwa aku adalah suami dan ayah dari Kirana. Sedangkan perasaan dan hatiku sungguh sudah tidak lagi berpihak kepadamu!"


Bak mendengar petir di siang hari, ucapan Arman semakin memporak-porandakan hatinya. Seonggok daging bernyawa itu seakan hancur dan menjadi serpihan-serpihan luka yang semakin terasa menyayat raganya. Tubuhnya kembali bergetar hebat. Tiada percaya dengan apa yang keluar dari bibir lelaki ini.


"Katakan sekali lagi! Katakan sekali lagi bahwa kamu memang sudah tidak mencintaiku dan menginginkanku pergi dari kehidupanmu Mas. Katakan!"


Santi berupaya menguatkan diri untuk mendengar kembali apa yang sebelumnya dikatakan oleh Arman. Ia merasa kata yang terucap dari bibir Arman hanya merupakan perkataan yang tidak didasar oleh akal sehat. Santi yakin jika saat ini Arman hanya sedang tersesat.


Lagi-lagi Arman membuang napas kasar. Kali ini, ia menatap lekat manik mata Santi. Untuk meyakinkan bahwa ia memang sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadap wanita yang sudah menemani perjalanan hidupnya selama dua puluh tujuh tahun ini.


"Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Santi. Dan setelah ini pergilah dari kehidupanku!"


Bertambah deras, derai air mata yang mengalir dari pelupuk mata Santi. Air mata itu seolah tidak mau berhenti mengalir, dan memberi isyarat jika saat ini wanita itu tengah terluka. Santi memandang wajah Arman. Saat ini ia semakin tersadar jika dari sorot mata  lelaki itu sudah tidak ada lagi cinta yang tersisa untuknya. Kemudian pandangannya beralih ke arah wanita yang saat ini masih setia berada di dalam dekapan Arman.


Raut wajah Stella sama sekali tidak menampakkan ekspresi seseorang yang merasa bersalah. Gurat wajah wanita itu justru menampakkan sebuah ekspresi kemenangan. Menang, karena ia berhasil menjadi duri dalam pernikahannya dengan Arman. Dan kemenangan, karena ia telah menjadi badai yang berhasil memporak-porandakan rumah tangga yang sudah dua puluh lima tahun ia bangun bersama suami tercinta.


.


.


.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2