
assalamualaikum....,
happy reading guys 🤗
...****************...
Ada kegiatan camping di sekolah yang ingin Nanda ikuti bersama Fani, setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya Nanda mendapat izin dari dokter karena kegiatan di lakukan di area sekolah. Nanda juga masih bisa menjangkau RS jika terjadi hal2 yang tidak di inginkan.
pada hari pertama nanda mengikuti kegiatan dengan perasaan bahagia,
namun di hari ke-2 Nanda mulai merasakan sakit di kepalanya. Fani langsung menelfon sang ayah & hari itu juga Nanda di bawa ke RS dengan menggunakan ambulance.
bian mulai curiga dengan kondisi kesehatan Nanda, ia pun memutuskan untuk diam2 mengikuti ambulance dengan mengendarai motornya. sa'at tiba di RS, bian bingung karena Nanda tak di bawa ke IGD tapi justru ke dalam kamar perawatan. dri balik tembok tak jauh dari kamar tersebut bian memperhatikan, ia melihat 3 dokter & 2 perawat masuk ke dalam. bian mulai mendekat & melihat ke dalam kamar perawatan tersebut melalui kaca kecil yg berada di pintu.
di dalam kamar tersebut nampak seorang ibu yang tengah terisak dalam pelukan Fani & nampak pula Nanda yang tengah berbaring dengan banyaknya alat2 medis terpasang di tubuh.
bian tertegun & merasa bingung dengan kondisi sa'at itu.
semua orang nampak akan keluar & bian bergegas bersembunyi di balik tembok tak jauh dri sana. dokter & perawat pergi hanya tinggallah 1 dokter yg tak lain adalah ayah Fani. tangis ibu Nanda & Fani pun pecah sa'at sudah berada di luar kamar perawatan.
"nanda akan bangun kan pah..????
nanda gk akan pergi kaya gini kan pah...???", tanya Fani dengan isakan yang belum juga bisa berhenti
"hrs di pantau lbh intensif, mungkin pemulihan x ini
akn butuh waktu lbh lama", jawab sang ayah dengan mendekap putri tercintanya
"fani cuma brharap nanda hidup pah...,
itu dh lbh dri cukup. fani sayang sama Nanda....,
fani gk mau Nanda pergi pah....", ucap Fani dalam dekapan sang ayah
Bian yang mendengar fakta tersebut pun merasa shock sekaligus bingung, ia terduduk d lantai dengan perasaan yang masih tak karuan. banyak pertanyaan di kepalanya namun bingung harus mencari jawaban pada siapa .
sa'at tengah malam akhirnya Nanda sadar, Fani menggenggam telapak tangan Nanda dg isakan tertahan.
dengan selang oksigen yang masih terpasang d hidungnya...,
Nanda tersenyum menatap sahabatnya.
"gw msh idup.., jgn nangis selebay itu seolah gw dh mati", Nanda tersenyum dengan wajah mengejek
" nyebelin bgt sih loh....! lo gk tau gimna takut'a gw.!
gw takut lo tiba2 pergi, gw takut lo gk bangun lg", Fani kembali terisak dengan mempererat genggaman tangannya
"sorry..., bsok gw udh baikan skrng..., " ucab Nanda bermaksud memenangkan sang sahabat
"msh sgt sakit...??", tanya sang ibu yang ikut mendekat ke arah mereka dengan sedikit terisak
"jgn nangis bu.., udh gk sakit..., bnanda baik2 aja...,
ibu tau apa yg lbh menakutkan dri kematian...?? menyakiti ibu..., air mata ibu..,", Nanda meraih tangan sang ibu setelah genggaman tangan fani terlepas
"km tau ap yg paling bikin ibu marah...??? d bohongi..,
__ADS_1
km trs bilang gk sakit..., km bilang gpp ...,
km mau ibu bersikap Kya gitu jga....????", jawab sang ibu dengan mengeratkan genggaman tangannya
"lagi2 nanda nyakitin ibu, ma'af...., tpi skrng emang
dh baikan, gk sesakit pas waktu di tempat camping", Nanda tersenyum menenangkan sang ibu yang masih terus terisak
" hrs istirahat, blm boleh sekolah dlu,
fokus sma pengobatan biar bsa sembuh", ucap ibu Nanda dengan tegas sembari mengusap pipi basahnya
"iya, ibu jgn khawatir Nanda pasti bsa jdi lbh kuat
dri sblm'a, aq akn hidup lbh lama dri perkirakan dokter atau siapapun", Nanda mengusap pipi basah sang ibu dengan seulas senyum di wajah pucatnya
"krn km nanda..., putri ayah", timpal sang ayah yang berada di belakang sang ibu
"Putri baiknya ibu", sambung sang ibu dengan seulas senyum
"sahabat & sodara'a Fani", Fani pun tersenyum ke arah Nanda
"pacar bian", timpal bian dari arah pintu kamar rawat
semua orng d kamar tersebut menoleh ke arah pintu masuk.
bian berdiri di sana menatap lurus ke arah Nanda yang kembali tersenyum melihat sang pujaan hati datang.
"mlm tante.. , om..., nama saya bian" ucap bian memperkenalkan diri menyalami tangan orang tua Nanda
Awalnya bian nampak bingung dengan ucapan ibu Nanda , namun kemudian mengingat pertemuan pertamanya dengan Nanda di RS & membuatnya tersenyum canggung dengan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal .
"ma'af Tante...", ucap bian nampak tersenyum canggung
"gpp..., saya ibunya Nanda & ini ayahnya.
kami tinggal dulu biar kalian bisa ngobrol", ucap ibu Nanda dengan tersenyum ramah
" ibu...,", timpal Nanda dengan senyum malu2
"kita mah peka nan..., yang penting traktirannya lh...,
jangan lupa apa lagi pura2 lupa" Fani menatap Nanda dengan senyum meledek
"titip Nanda sebentar yh..., " ayah Nanda bicara dengan senyum ramah ke arah bian
kini hanya ada Nanda & bian di dalam kamar perawatan. bian memperhatikan Nanda & melihat alat2 yang sebelumnya terpasang kini telak d lepas, hanya menyisakan selang oksigen serta infus. ia duduk di kursi samping kasur Nanda.
"udh tengah mlm, knp gk tdur malah datang ke sini..???", tanya Nanda menatap bian yang masih memperhatikan dirinya
"dah biasa begadang, knp..?? lo mo tdur...???", tanya bian menatap Nanda yang masih nampak sangat pucat
"lo kecewa klo gw jawab iya...???", tanya Nanda dengan masih menatap mata bian yang mampu menenangkannya
"gw temenin lo di sini", jawab bian dengan senyum tipis
"pegang tangan boleh gk.??? kita kan pacaran", , tatap Nanda penuh harap
__ADS_1
"kapan jadiannya...???", tanya bian dengan usil
"gk perlu jadian, gw dah nganggep kita pacaran. klo gk suka ya terserah, gw gk peduli. padahal lo sndiri yang tadi ngaku pacar, aneh- nyebelin", Omelan Nanda sontak membuat buat tersenyum
bian menggenggam telapak tangan Nanda dengan lembut, senyuman pun terukir di bibir bian & mampu membuat Nanda tenang. bianpun mengusap kepala Nanda dengan lemput & penuh kasih sayang. perlahan mata Nanda mulai terpejam & tak lama ia pun tertidur. bian membenarkan selimut Nanda dengan perlahan agar tak mengusik gadis yang kini berstatus pacarnya, lalu ia keluar dari kamar & menghampiri orang tua Nanda yang tengah bersama Fani pula.
bian duduk di kursi tunggu yang berada d depan kamar rawat, ia duduk bersebrangan dengan orang tua Nanda.
"lo ngikutin mobil ambulance...??", tanya Fani yang duduk di sebelah bian
"ya", jawab bian singkat
"lo kecewa..??", kembali pertanyaan meluncur dari bibir Fani
"Tante sma om masuk dluan yah..., " orang tua Nanda masuk lebih dulu karena malam sudah sangat larut
"iya, tante sma om harus istirahat ", jawab Fani dengan penuh perhatian
setelah orang tua Nanda masuk, Fani kembali menatap bian yang tengah duduk di sampingnya. Fani menunduk & mengatur nafasnya agar bisa tenang dalam menjelaskan kondisi Nanda pada sosok yang merupakan pacar sahabatnya
"nyesel.....??? mo njauhin dia...??" tanya Fani dengan masih menunduk
"dia sakit ap...???", tanya bian dengan wajah serius
"kanker otak stadium akhir", jawab Fani dengan sendu
"apa kata dokter...??? apa masih bisa di sembuhin????" kembali pertanyaan bian dengan wajah yang mulai sendu
"hanya berharap keajaiban, kita gk da yg tau takdir", jawab Fani dengan deru nafas yang mulai tersendat karena menahan tangis
"sejak kpn...??? di depan gw dia keliatan sehat, knp tiba2 Kya gini...???!". bian tak mampu lagi untuk bersikap tenang, suaranya mulai bergetar menahan sesak di hati
" ± 1thn, inget prtma x kalian ketemu...??? pas di taman...???
sa'at itu dia udh jdi pasen di sini, cuma gk mau pke seragam pasien & infusan, dia gk suka di perlakukan kaya orng sakit", air mata Fani mulai menetes membasahib pipinya
"jgn perlakukan dia kya orng sakit, usahain jgn nangis di depan dia & banyakin senyum klo lg bareng dia, jgn deket2 sma cw lain", Fani menatap penuh harap pd bian dengan air mata yang belum bisa berhenti mengalir
"gw sayang sma dia, gk da niat selingkuh", jawab bian tegas
...----------------...
hari2 Nanda mulai di habiskan di RS, tidak di perbolehkan keluar dari kamar untuk alasan apapun. hampir setiap pulang sekolah bian & Fani menemani Nanda di kamar rawatnya. prioritas bian hanya belajar & Nanda . setelah bian berubah & menjadi rajin di sekolah..., ayahnya tak lagi mengekang dengan tuntutan2 yang tak ada habisnya. secara mendadak ayah bian minta bertemu setelah ia pulang sekolah nanti.
sa'at jam istirahat ke-2..., bian menghampiri Fani di perpustakaan
"gw hrs ketemu daddy..., bilangin ke Nanda gw baru bisa dateng sore atau malem", ucap bian d hadapan Fani
"siap.., btw gk mbeli'in apa2 buat nanda..??", tanya Fani
" 🌹 & bunga anggrek ..., ntar gw titip ke lo", bian pergi meninggalkan Fani tanpa menoleh
...****************...
#tbc
#thanks 🥰
__ADS_1