Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 1 : KEHILANGAN


__ADS_3

Pagi itu, Moza sengaja datang terlambat ke sekolah, lagi. Sejak Ibunya meninggal setahun yang lalu, Moza seperti tidak memiliki semangat hidup. Dia sangat kehilangan sosok ibu yang sangat dia sayangi.


Ibunya meninggal akibat penyakit Kanker Payudara yang ternyata beliau sembunyikan selama hidupnya pada suami dan anaknya. Moza yang amat sangat terpukul dengan kepergian sang ibu, menjadi kehilangan arah dan semangat hidup.


Setiap harinya dari kecil hingga berusia 18 tahun, ibunya selalu menemaninya, menjadi tempatnya berkeluh kesah, baik cerita bahagianya maupun kecewanya. Hampir setiap hari sepulang sekolah, dia selalu menceritakan hal apa saja yang terjadi di sekolahnya, dengan teman-temannya bahkan dia bercerita bahwa teman-temannya yang sangat menyukai bekal yang dibawakan ibunya untuknya setiap hari.


Ibunya sangat bahagia mendengar itu dan besoknya selalu melebihkan porsi makanan Moza yang dia bawa. Tujuannya agar teman-teman Moza bisa ikut makan bersama anaknya itu.


Masakan ibu yang terbilang sederhana tapi dengan bumbu cinta serta kasih sayang membuat perutnya kenyang setiap hari dan juga menjadi penyemangatnya untuk menjalani hari-harinya.


Saat tahu, ibunya tiba-tiba masuk rumah sakit dan dinyatakan mengidap kanker payudara stadium akhir, dunia seakan berputar bagi Moza, berpijak pun tak sanggup dia lakukan, bolak balik dia pingsan tak sanggup melihat ibunya yang sedang kesakitan.


Sampai akhirnya sang ibu menutup mata untuk selama-lamanya membuat Moza terguncang selama beberapa bulan, dia berusaha menerima kepergian sang ibu yang sebelumnya berpesan padanya untuk tetap semangat, Moza yakini ibunya selalu ada di hatinya walaupun itu berat dan pastinya berat karena tidak ada lagi penyemangatnya menjalani hari-harinya.


Sedangkan Moza tidak begitu dekat dengan ayahnya, karena ayah yang sibuk bekerja. Bertemu ayahnya pun hampir tidak pernah, saat dia bangun pagi ayahnya sudah pergi bekerja dan pulang saat dia sudah tertidur malam.

__ADS_1


Ayahnya Moza adalah seorang pedagang beras di pasar dan sudah menikah lagi beberapa bulan yang lalu. Dan sejak ayahnya menikah, Moza memilih menjauh dari ayahnya karena dia tidak nyaman tinggal bersama ibu tirinya.


Ayah menikah lagi dengan alasan ayah membutuhkannya, entah Moza tidak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya. Padahal baru beberapa bulan yang lalu ibu meninggal dan ayah sudah menemukan penggantinya, sebagai istri namun untuk menjadi ibu untuk Moza, Moza menolak siapapun menggantikan posisi ibunya dalam hidupnya.


Moza pun memilih keluar dari rumah dan juga berpindah sekolah dari SMA nya yang lama, menjauh dari keluarga baru sang Ayah. Sebenarnya ayahnya tak mengijinkan Moza untuk tinggal sendiri, dia sangat mengkhawatirkan Moza yang harus terpisah darinya, tapi rayuan dari istrinya membuatnya harus melepaskan anak perempuannya itu.


Di kamar kosnya yang hanya berukuran 2x3 meter, Moza beruntung memiliki kamar mandi yang menjadi satu dengan kamarnya, Moza dengan malas beranjak ke kamar mandi, sekadar mencuci muka dan menggosok giginya pun dia lakukan tanpa semangat.


Berganti baju seragam barunya, memasang sepatunya, lalu memanggul tas ransel hitamnya, Moza dengan gontai berjalan menuju sekolah yang tak jauh dari kos-annya.


“ sedang apa kamu di sini, kamu terlambat? “ tanya pria tersebut


“ apa urusan Anda “ Moza langsung membalikkan badan kembali ingin membuka pintu kelas.


“ tunggu..kamu ikut saya ke ruang guru, sekarang “ ucap pria itu dengan tegas

__ADS_1


Dengan pasrah, Moza melangkahkan kakinya mengikuti pria itu dengan memasang ekspresi tanpa dosa sambil memainkan handphone yang ada di tangannya.


Pria itu duduk di balik meja sambil memperhatikan wajah Moza dengan seksama, “ anak ini cantik di balik sikap juteknya “ gumam pria itu dalam hati.


“ perkenalkan, saya Bramasta, panggil saja saya Pak Bram “ sambil memberikan tangannya untuk berjabat dengan Moza tapi anak itu malah cuek saja seperti menganggap Ia tidak ada, padahal jelas mereka berhadapan.


“ kamuuu... Amoza Safitri “ sebut Pak Bramasta lagi setelah melihat papan nama di baju anak didiknya itu. “ Saya Guru Olahraga baru di kelas 12 sekaligus wali kelas 12C, kamu siswa kelas 12C kan, kenapa terlambat? “ Pak Bram masih bertanya dengan suara yang tidak berlebihan agar Moza mau melihat ke arahnya.


Moza hanya ber “ Oh “ saja tanpa menggubris pertanyaan Pak Bram barusan.


Agak kesal tapi harus Bram tahan, dia tidak mau image nya berubah menjadi guru galak pada anak didiknya. Sambil menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya pelan, “ baiklah Amoza, kali ini saya memakluminya, masuklah ke kelasmu sekarang “ Pak Bramasta berdiri dan ingin melangkahkan kakinya keluar dari ruang guru namun sayup dia mendengar anak didiknya itu bersuara pelan, hampir seperti cicitan, “ Moza, panggil aku Moza “ . Bram tersenyum tanpa menghentikan langkahnya keluar dari ruangan itu menuju ke lapangan.


**********


Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan dan jalan ceritanya, tiap penulis memiliki karakternya masing-masing. Semoga berkenan dan kalian suka yaa. Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2