
Jam pelajaran Fisika telah usai 30 menit setelah Moza masuk ke dalam kelasnya. Dia terbiasa duduk sendiri dan tidak ada temannya yang ingin bersebelahan dengannya, dimata mereka Moza seperti mempunyai dunianya sendiri yang tidak suka di ganggu oleh teman sekelasnya.
Waktu istirahat ini, Moza gunakan hanya tiduran di bangkunya. Banyak teman-temannya yang sudah berlarian ke kantin untuk sekadar sarapan atau mengobrol ria bersama teman yang lain.
Moza sekelas dengan Hanin, si cewe cerdas, cantik, manja, kaya dan menjadi primadona sekolah. Tidak hanya menjadi primadona kelas tapi Hanin juga menjadi kebanggaan guru – guru di sekolahnya. Karena kepiawaiyannya pada hampir semua bidang pelajaran.
Berbeda bagai bumi dan langit dengan Moza yang walaupun bisa di bilang memiliki wajah manis yang oriental keturunan khas dari ibunya yang melayu cina, tapi otaknya hanya biasa-biasa saja dan juga dari keluarga yang biasa-biasa juga.
Tiba-tiba, Ketua kelas mereka Bagas masuk ke dalam kelas dan memberikan pengumuman jika jam belajar terpaksa di hentikan karena akan ada tamu penting yang datang ke Sekolah siang ini, Jadi, semua anak didik diijinkan untuk pulang dan belajar di rumah masing-masing.
Sontak seisi kelas bahkan dipastikan seisi sekolah bersorak bahagia karena diijinkan untuk pulang tanpa adanya pekerjaan rumah yang biasanya diberikan guru-guru mereka sebelum menutup jam belajar hari ini.
Banyak rencana yang terdengar dari mereka, sepulang sekolah ini ada yang ingin ke mall, ada yang ingin pergi ke warnet bahkan ada yang ingin pergi berkaraoke menghabiskan sisa waktu hari ini sebelum pulang ke rumah.
Tidak begitu dengan Moza, sebelum keluar dari sekolah dia lebih dulu ke toilet mengganti baju putih abu-abunya dengan celana jins, kaos berlengan pendek dan jaket kulit berwarna hitam. Dia ingin mencari pekerjaan sampingan, untuk membayar uang kos dan kebutuhannya sehari – hari, dia tidak mau meminta pada ayahnya, sepeser pun. Entah apa yang di pikirannya.
__ADS_1
Di dalam toilet sudah ada geng Ratna yang juga sedang berganti baju dengan baju yang sangat ketat dan juga dandananya membuat Moza bergidik namun acuh dengan mereka.
“ Lo Amoza kan, si anak baru sombong itu, cantik juga.. Tapi masih kalah cantik dengan gue “ucap anak perempuan berbaju biru muda itu sambil melangkah di depan Moza
“ jelas kamu lebih cantik dong Ratna, sahabatnya siapa dulu.. “ timpal Karin dan Dona cekikikan
Dengan gaya sok cantiknya, Ratna memainkan rambut panjang Moza, “ bagi duit lo” dan Ratna menepuk bahu Moza, reflek Moza menarik tangan Ratna dan melipatnya ke belakang tubuhnya, sambil meringis menahan tangannya yang di pegang erat oleh Moza, dia mengumpat sambil berusaha melepaskan tangannya.
“ brengsek lo ya, berani sama gue hahh!? “ Ratna masih berusaha melepaskan dirinya dari Moza
Beruntung atau bukan, Hanin masuk ke toilet tersebut dengan wajah terkejut, dan melihat Moza teman sekelasnya itu sedang memelintir tangan Ratna dan dua teman Ratna, Karin dan Dona berdiri mematung di dekat wastafel. Dia terkejut dan bingung harus bagaimana, matanya tertuju pada Ratna yang meringis kesakitan dan berusaha melepaskan tangannya dari Moza.
Saat Hanin mundur selangkah ke belakang untuk kabur dari tempat itu, dia merasa ada seseorang yang menahannya di sana. Belum sempat dia berbalik, suara dari belakangnya terdengar.
“ Sedang apa kalian di sini! “ nampak Pak Bram dengan wajah berkeringat karena habis dari lapangan Olahraga, meminum air dari botolnya sampai habis dan membuang botolnya ke dalam bak sampah di dekatnya, lalu menyuruh mereka semua keluar dari toilet tersebut dengan memberi kode dengan tangan berayun menyuruh keluar.
__ADS_1
( karena itu toilet khusus perempuan, jadi tidak mungkin pak Bram masuk ke sana kan)
Hanin yang lebih dulu keluar, untuk pertama kali masuk daftar anak-anak yang dipertanyakan. Hikss, dia berharap tidak mendapat omelan dari Pak Bram, pria tampan yang sudah meluluh lantakkan hatinya. Hanin berdiri di pojokkan, di ikuti Dona, Karin dan Ratna yang di lepaskan tangannya dengan kasar oleh Moza.
Moza berjalan berlawanan arah dari keempat temannya itu, yang membuat Bram mendelik dan keheranan. Wajah Moza yang tanpa dosa membuat hati Bram terganggu dan menegurnya.
“ mau kemana kamu? “ Pak Bram berpaling mengikuti arah Moza berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana trainingnya.
Moza berhenti sebentar, tanpa menoleh, terlihat menunduk dan berpikir, lalu tanpa aba-aba, kembali berjalan meninggalkan Pak Bram dan teman-temannya di belakang.
“ heyy Moza, apa kamu tuli?! “ teriak Ratna bersedekap, bingung dengan tingkah perempuan satu itu, bisa seenak jidat mengabaikan Pak Bram. Tapi Moza terus saja berjalan tanpa menoleh sama sekali.
Bram amat sangat kesal melihat perilaku anak didiknya itu tapi sekuat tenaga juga dia menyembunyikan perasaan kesalnya, lalu berpaling menghadap Ratna, Dona, Karin dan juga Hanin yang masih saja melongo melihat Moza melenggang pergi dan hilang di kejauhan.
********
__ADS_1
Terima kasih atas waktunya membaca tulisan saya, semoga masih berkenan melanjutkan membacanya.