Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 16 : SUBJEK MENAWAN


__ADS_3

Triingg, triinngg, triinnggg


Bel akhir dari jam sekolah berbunyi nyaring. Guru Matematika, Bu Hanum segera menutup bukunya dan berjalan ke arah pintu.


Seketika siswa yang lain ikut keluar kelas menyusul Bu Hanum dari belakang. Berlarian berebut ingin cepat sampai di tempat tujuan. Kadang mereka sengaja menyenggol bahu bahkan kepala mereka yang menghalangi jalan.


“ Bu Hanum itu kenapa ya, selalu jutek padahal beliau itu cantik kalau tersenyum “ Nindy menggandeng kedua tangan Hanin dan Moza yang melangkahkan kaki keluar kelas.


“ Syndrom perawan tua emang gitu kali, Nin. Galak macam singa betina, mana ada yang tertarik biar cantik juga “ jawab Hanin asal.


“ Hmmm, kasian.. “ Nindy hanya menganggukkan kepala menatap Hanin.


“ Kemarin aku juga di galakin sama dia, iihh serem deh Nin “, Hanin mendekap tubuhnya sendiri dan memperlihatkan mimik takut di wajah cantiknya.


“ Kenapa. .kok bisa “, tanya Nindy penasaran.


“ Iya, pas Pak Bram memanggilku, Bu Hanum kayanya gak suka, mukanya kaya mau nelen aku.. Hiiiii,, serem “, Hanin menutup matanya.


“ Bu Hanum suka sama Pak Bram kali ya Han.. Hahaha, kamu dianggap saingan dong. Hahaha “, Nindy tertawa sampai membuat lengan Moza tertarik-tarik.


Di samping Nindy, Moza melepaskan tangan Nindy dan membuka ranselnya untuk mengambil hape nya lalu memutar lagu di playlist musicnya. Terdengar suara almarhum om Crisye terdengar mengalun merdu. Lagu-lagu romantis yang beliau bawakan selalu enak buat di dengar.


“ Kamu suka lagu jadul, Za “ lirik Nindy yang juga diikuti tatapan Hanin yang tidak percaya dengan yang di dengarnya.


Moza hanya membalas tatapan mereka dengan senyuman dan mengangguk pelan. Mereka melanjutkan langkah kaki yang terhenti saat Moza mengatur ulang letak hape nya ke dalam saku jaketnya. Sengaja dia tidak memakai earphone nya, agar teman-temannya juga mendengar dan berhenti berghibah tentang guru matematika mereka.


Dan sebenarnya dia juga malas mendengar nama Pak Bram yang di kait-kaitkan dengan si guru galak itu. Ada sedikit perasaan tidak nyaman di hati Moza saat mendengarnya.


Langkah kaki mereka bertiga tiba di ujung lorong menuju parkiran. Saat menuju mobil Nindy, mereka terhenti dan melihat ke arah depan sekolah.


“ Ada apa tuh, kok di depan gerbang rame banget “ tunjuk Hanin yang diikuti pandangan mata oleh Moza dan Nindy.


“ Ayo, kita lihat “ Hanin kembali menarik tangan Nindy lalu Nindy menggandeng tangan Moza untuk mengikutinya.

__ADS_1


Hampir terseret Moza mengikuti langkah kaki Nindy yang memaksa melewati gerombolan siswa yang menumpuk di depan gerbang.


Saat berada tepat di depan subjek yang membuat sekumpulan orang yang berdecak kagum dan tersihir, termasuk Hanin dan Nindy, Moza menatap tajam ke arah pengendara motor yang tersenyum menggoda di atas jok motornya.


“ JIMY “, mata Moza melotot.


Terkejut Moza mendapati bahwa Jimy lah penyebab dari hiruk pikuk gerombolan siswi bahkan siswa di depan sekolahnya. Dan wajah sahabatnya itu terlihat santai tanpa dosa bahkan tersenyum menggoda sambil mengerlingkan sebelah matanya.


“ Hayy, girl.. Sudah pulang “, ucap Jimy dari atas motor gede nya.


Dia juga memberikan senyuman kepada gadis di sebelah Moza, Nindy yang sukses terbang melayang terbawa kehaluan saat melihat senyum manis Jimy.


“ Jimy, apa yang kamu lakukan di sini. Lihatlah ulahmu “ Moza menunjuk para barisan orang didepannya, termasuk kedua temannya Hanin dan Nindy yang terlihat sama melongonya dengan yang lain.


Jimy hanya cekikikan memandang Moza, kemudian memberikan helm cadangan yang di bawanya, “ ayo ikut, ibuku sudah menunggumu. Cerewet sekali beliau dan memintaku untuk membawamu ke rumah…cepatlah “, sekali lagi Jimy menyodorkan helmnya pada Moza yang berada di depannya.


Moza menerima helm itu dan menghampiri Nindy yang masih kebingungan. “ Nin, aku pulang sama Jimy ya.. Nanti aku telpon kamu, ok “. Nindy hanya mengangguk tanpa menjawab ocehan temannya.


Mereka tersadar saat Jimy dan Moza menghilang dari pandangan mereka dan tiba-tiba mendengar satu suara yang membuat semuanya berpaling ke arah suara tersebut.


Seketika mereka semua bubar berhamburan menjauhi Pak Gatot yang terkenal super galak. Mereka tidak ingin mendengar omelan pedas dari gurunya tersebut.


Belum sempat Pak Gatot menghamburkan kalimat pedasnya, Hanin dan Nindy berlari masuk kembali ke dalam sekolah menuju parkiran.


Sepasang mata mengamati dari dalam mobil Pak Gatot, saat yang empunya mobil kembali ke kursi pengemudi di sebelahnya. “ Kenapa Pak “ tanya Paka Bram sambil melirik pada 2 siswi yang terburu-buru menuju mobilnya.


“ Gak tau tuh, di tanya malah kabur semua “, Pak Gatot melepaskan persneling mobilnya dan melajukan mobilnya menuju jalan raya.” Ini langsung ke kontrakkanmu, Bram “, tanya Pak Gatot kemudian saat mereka di jalan.


“ Iya Pak Gatot, maaf karena merepotkan bapak “, ucap Bram segan.


“ Tidak apa-apa, Bram. Kebetulan searah, saya harus menjemput istri saya di rumah saudaranya yang baru melahirkan juga “, Gatot tersenyum lalu fokus kembali menyetir.


Jalanan tidak terlalu ramai sehingga tidak menyebabkan macet berlebihan, membuat Bram yang sedari tadi menahan kantuknya, mengubah posisi duduknya agak tegak dan membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


“ Apa menikah itu menyenangkan Pak Gatot? “, tanya Bram berusaha menghilangkan kantuknya dengan mengajak Gatot mengobrol.


“ Kamu ini Bram, kita kan sudah di luar area sekolah, panggil namaku saja biar enak didengar “, Gatot mulai protes.


Usia Bram dan Gatot hanya lebih tua Gatot setahun dari Bram, sehingga membuat Gatot merasa risih bila di luar sekolah Bram memanggilnya, Bapak.


“ Ahaha,, maafkan saya.. Kebiasaan susah di lepaskan “ ucap Bram segan.


“ Hmm, kamu ini..", beberapa detik kemudian Gatot melanjutkan kalimatnya setelah berpikir beberapa saat, " Menikah lumayan menyenangkan.. Yang menyenangkan mungkin saat berada di atas ranjang, Bram. Selebihnya B saja..hahaha “, Gatot tertawa penuh arti lalu menatap Bram sekilas.


Bram memasang muka heran, “ Kenapa begitu.. Saya kurang paham, Pak “


“ Nanti kalau kamu sudah menikah akan paham. Apa kamu sudah siap menikah, Bram “, Gatot kembali bertanya pada Bram.


“ Hehehe, belum Pak.. Masih banyak yang harus saya lakukan ke depannya, lagian saya belum menemukan gadis yang tepat “, ucap Bram sambil menahan senyum, hanya Bram yang tau kalo dia sedang menahan perasaannya.


“ Gadis.. Maksudmu.. Jangan bilang kamu menginginkan salah satu anak didikmu, Bram “, tanya Gatot nampak curiga.


“ Hahaha. .ada-ada saja Pak Gatot “, Bram mengubah duduknya lagi, karena dia agak salah tingkah.


“ Pak lagii. .huufft kamu itu Bram “, Gatot lalu diam.


Beruntung Pak Gatot tidak menyelidik terlalu jauh atas kalimat Pak Bram barusan, Bram sangat menyesal akibat dirinya yang salah bicara.


Pak Gatot kembali melajukan mobilnya menuju rumah kontrakan Pak Bram, tanpa ada lagi obrolan di antara keduanya.


***********


Maafkan alurnya yang suantey, karena bikinnya pun santai di antara aktivitas saya yang sangat sibuk.. hahaha,, sibuk mengurus anak 4...


Menulis menjadi salah satu alternatif saya untuk menjadi diri saya sendiri.. Maafkan atas banyaknya typo..


Jika berkenan berikan saya saran, like, dan juga tanda bintang bila kita satu frekuensi ya.. hehehe

__ADS_1


terima kasih 🙏


__ADS_2