
Adrian masih berkutat dengan laptopnya, wajahnya kadang serius kadang seperti menghela nafas. Dokter Brata memperhatikan Adrian sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Adrian memiliki wajah tampan dengan alis tebal dan hampir menyatu, rambut yang selalu di belah tengah ala manusia jaman 90an. Dia tidak lebih tinggi dibandingkan Bram. Tapi dibalik itu semua dia manusia yang berwajah kaku dan kurang peka. Hanya satu orang yang mampu melenturkan urat-urat tegang yg mengencang di wajahnya. Dia seorang wanita manis adik kelasnya semasa kuliah dan sangat dekat dengan keluarganya, namanya Reina.
Namun kejadian 2 tahun lalu masih terngiang di kepala Adrian, saat tidak sengaja dia membaca buku harian Reina dan di situ tertulis, bahwa cinta pertamanya itu menyukai orang lain.
Hancur sekali hati Adrian membacanya, di bolak baliknya lembar demi lembar buku harian milik Reina tersebut tapi tak satupun ada namanya tertulis di sana, yang ada hanya nama lelaki itu. Lelaki yang juga sangat Adrian kenal, dia adalah adik angkatnya sendiri, Bram.
Tapi di balik itu semua sepertinya Bram tidak membalas perasaan Reina, itu tertulis di buku harian Reina. Jika sang pujaan hati seperti memiliki tembok sendiri antara keduanya. Yang susah untuk gadis itu hancurkan bahkan panjat sekalipun. Masih ada kesempatan pikir Adrian.
Tapi usahanya selama 2 tahun sepertinya tidak membuahkan hasil, Adrian sudah menyatakan perasaannya tapi Reina tidak pernah mau menjawabnya. Ada saja alasannya untuk mengalihkan pembicaraan mereka jika Adrian sudah menjurus ke perasaannya.
Adrian menutup laptopnya dan ingin beranjak pergi, dia bermaksud ingin pergi ke kamarnya tapi Dokter Brata buru-buru mencegahnya keluar.
“ Kamu mau kemana, Adrian? Ayah ingin bicara sebentar dengan kalian, makanya ayah panggil kalian ke sini.. “ Dokter Brata menyuruh Adrian duduk kembali, lalu kemudian beliau membuka sebuah map.
Terlihat Bram mengatur kembali posisi duduknya agar lebih tegak, Adrian dengan malas-malasan duduk kembali di sofa yang tadi dia duduki.
“ Ayah, mau bicara apa, Adrian sudah lelah ingin istirahat.. “ ucap Adrian dengan kesal.
“ Sebentar saja, coba kalian perhatikan apa yang ada di dalam map ini “ Dokter Brata menyerahkan map itu ke arah Adrian dan meminta Bram mendekat untuk sama-sama melihat nya.
“ Apa ini ayah, apa maksud ayah membuat perjanjian seperti ini..” Adrian tentu saja kaget melihat sebuah surat perjanjian yang di berikan oleh Ayahnya.
__ADS_1
“ Benar Ayah, apa maksud ayah, kenapa ayah melakukan ini, ku harap alasannya masuk akal.. “ Bram pun ikut menimpali surat perjanjian yang di lihatnya.
“ Ayah sudah tidak kuat lagi bekerja, usia seperti ayah sekarang harusnya lebih banyak refreshing. Sudah lebih 40 tahun Ayah mengabdi sebagai Dokter tanpa adanya refreshing, kalau pun ada paling itu hanya sekedar memancing..” jelas Dokter Brata tapi dia melihat kedua putranya masih belum mengerti maksud ayah mereka itu.
“ Ayah ingin kalian berdua bersaing untuk posisi direktur utama di rumah sakit milik ayah tapi dengan satu syarat, selesaikan sekolah kedokteran kalian hingga benar-benar mampu ayah akan melepas kalian memimpin di rumah sakit ayah kelak “ Ayah memandang Adrian dan Bram bergantian.
“ Aku tidak ingin menjadi direktur utama di rumah sakit ayah, kalau pun aku akan menjadi dokter aku tidak ingin jabatan seorang direktur, biar kak Adrian saja, dia lebih cocok dengan jabatan itu..” Bram membuka suara untuk pertama kalinya di ruangan itu. Adrian hanya mendengus sambil membuang muka.
“ Tidak ada tawar menawar Bram, jika kalian tidak menuruti keinginan Ayah, kalian harus rela menikah dengan pilihan ayah..” Dokter Brata menjawab tegas anak angkatnya tersebut sambil menyodorkan kembali surat perjanjian yang ada di dalam map di atas meja kerjanya.
“ Ayah, sebenarnya ayah ingin kami menjadi direktur atau menikah sih, kenapa pilihannya bercabang tidak beraturan begitu, menikah menikah saja, direktur direktur saja. Kan lowongan jadi direkturnya cuma satu posisi saja, masa kami duduk di kursi yang sama “ protes Bram lagi sambil melorotkan badannya di kursi diikuti Adrian yang menganggukkan kepalanya.
Dokter Brata lalu mengeluarkan sesuatu lagi dari laci meja kerjanya, beliau kembali menyuruh kedua anaknya membuka dan membaca isi amplop besar itu.
Adrian yang melihat raut wajah Bram yang berubah menjadi tegang dan kaku seperti lehernya tersangkut duri ikan dulu. Yaa, Adrian ingat sekali ekspresi wajah itu. Bram sampai tidak bernafas menahan sakitnya duri ikan menusuk tenggorokannya. Dan ini ekspresinya sama persis. Adrian lalu beranjak dari sofa dan menghampiri Bram, menarik lembaran kertas yang sedang di pegang Bram.
“ Apa ini Ayah?!” sambil bertanya dia sambil membaca tulisan yang ada di dalamnya dengan cepat. “ Ayah serius di diagnosa Kanker Otak “ Adrian sangat terkejut tapi dia melihat Dokter yang mendiagnosa ayahnya merupakan Dokter ahli di bidangnya yang juga bekerja di rumah sakit sama dengan dirinya, di kertas tersebut tertulis nama Dokter Alan sebagai penanggung jawab atau dokter yang mendiagnosa ayahnya. Ia lalu menoleh ke arah ayahnya yang duduk dengan tersenyum penuh arti. Terlihat matanya berkaca-kaca.
“ Sejak kapan ayah merahasiakan ini dari kami “ Bram sudah mulai tidak kaku lagi, dan membungkukkan badannya, menutup kedua wajahnya lalu menangis “ Bram berpikir keras apa yang akan dia lakukan, tidak mungkin menuruti keinginan ayahnya dan mengkhianati Adrian dengan merebut kursinya, kalau sekolah kedokteran lagi memang sedang dia siapkan beberapa bulan ini, jika tidak menuruti ayahnya maka dia harus rela menikah dengan wanita pilihan ayahnya. Dia mengacak-acak rambutnya dan mendengus dengan kasar, mulai stress. Hmmm
Dokter Brata yang melihat sikap kedua anaknya yang terlihat sangat stress mulai mengetuk permukaan meja dengan buku jarinya.
Dokk, dokk, dokk
__ADS_1
“ Anggap saja ini permintaan terakhir Ayah kepada kalian, dan kau Bram walaupun kau bukan anak kandungku tapi tak pernah ku bedakan rasa sayangku kepada kalian berdua, kau selalu ku anggap seperti anak kandungku sendiri. Dan kau Adrian berhenti lah bersikap dingin dengan Bram, kalian adalah anak-anak ayah yang cerdas dan baik, ayah sama sekali tidak ingin kalian saling menjauh, saling bekerja sama lah..” Dokter Brata berdiri dan mengambil surat perjanjian yang tadi di perlihatkan kepada mereka.
“ Tanda tangani di sini, kalian harus menyelesaikan sekolah kedokteran secepatnya lalu mengikuti tes alias ujian dari ayah langsung nantinya di rumah sakit, jika kalian menolak, bersiaplah dengan pilihan kedua yaitu menikah “ Dokter Brata mengeluarkan pulpen dari laci mejanya kembali, terlihat surat perjanjian tersebut bermaterai pula.
“ memang jika kami memilih menikah, siapa wanita yang mau di nikahkan dengan kami, kami perlu tau, siapa tau memang sesuai dengan keinginan kami.. Hee” Bram nampak nyengir di balik wajah stresnya.
“ Kau dengan Reina mungkin, dan Adrian akan ayah nikahkan dengan anak teman ayah, tapi anaknya masih SMA, kita lihat saja mana yang kalian pilih, menjadi dokter dan memimpin atau menikah dan hanya menjadi dokter saja “ Dokter Brata menggantung pilihannya.
Adrian yang mendengar nama Reina yang akan dinikahkan dengan Bram, kembali memasang wajah dengan mode dingin. Karena Reina yang memiliki sifat manja dan perhatian selalu mendekati ayahnya, mungkin wanita itu membujuk ayah pikirnya. Ckk dasar kecentilan. ( tapi sukaa kann bosque hadeehh 🙄)
Lain halnya dengan Bram, mendengar nama Reina dia langsung merasa tercekik, dia tak suka dengan gadis manja seperti Reina, membuat pusing dengan banyaknya kemauannya.
Melihat ekspresi wajah kedua anaknya, puaslah hati Dokter Brata, anak-anak kesayangannya itu tak mungkin memilih menikah. Alasan Dokter Brata yang kedua, mengeluarkan amplop berisi hasil medical check up nya pun dia anggap berhasil, terbayar sudah usahanya kemarin memohon-mohon dengan Alan sahabatnya untuk membuatkan hasil diagnosa palsu itu. Bukannya apa, ini menyangkut reputasinya sebagai dokter yang membohongi keluarga pasien. Tapi setelah Dokter Brata berjanji akan menanggung akibatnya bila sampai ketahuan nanti, mau tidak mau Dokter Alan mengeluarkan surat diagnosa palsu tersebut.
“ Cepat tanda tangan, ayah ingin istirahat “ Dokter Brata mulai memaksa anaknya dan kembali duduk di kursi kerjanya.
Dengan malas-malasan Bram mengambil pulpen dan menandatangani kertas itu, begitupun Adrian yang setelahnya langsung keluar dari ruang kerja ayahnya dengan wajah kesal. Sangat kesal karena ayahnya malah mencalonkan Reina pada Bram, andai pada dirinya dengan senang hati dia menerimanya. Tapi bagaimana dengan kursi direktur yang dia idam-idamkan dari kecil. Benar-benar pilihan yang dianggapnya tidak adil.
***********
Akhirnyaaaa,, setelah beberapa hari membangun mood buat nulis.. selesai juga ini 1 bab.. hiksss mohon dukungannya ya, semoga besok lebih rajin.. hee
Telima kaciihh 😘😘🙏
__ADS_1