
Sesaat sebelum masuk ke dalam mobil, Moza di landa kebingungan. Dia tidak ingin duduk di samping Pak Bram tapi dia juga malas kalo harus duduk di belakang dengan geng Ratna, mana mobil Pak Bram hanya 2 space.
” Aah, tau begini aku tadi tidak usah mengiyakan untuk di antar “ gerutu Moza.
Bram melihat ekspresi Moza yang bingung, mendorong Moza yang tidak jauh dari hadapannya untuk masuk ke kursi depan tepat di samping kursi kemudi. “ rileks saja Moza, anggap saya tidak ada “ bisik Bram tanpa ingin terdengar Ratna dan teman-temannya.
Ratna mendengus kesal melihat Moza sudah duduk di kursi depan, dengan kasar dia menutup pintu mobil bagian belakang. Dona dan Karin yang melihat itu merasa ada aura peperangan di dalam mobil. Terasa hawa dingin menyelimuti kursi bagian belakang, karena sorot mata tajam Ratna yang tak pernah lepas dari wajah Moza. Ingin rasanya Ratna menarik rambut panjang Moza yang jarang terlihat di ikat itu, karena Moza selalu menggerai rambut hitam tebalnya itu.
“ Kita langsung pulang, Pak.. Bapak tidak ingin mentraktir kami makan lagi.. Hehehe “ tanya Karin cekikikan bersama Dona, mereka sebenarnya hanya ingin mencairkan suasana di dalam mobil yang sudah hening dari awal mobil itu di jalankan.
Bram tersenyum mendengar celotehan anak didiknya itu, sebenarnya dia mau saja mengajak mereka makan lagi tapi kebetulan dia ada keperluan dengan salah satu petinggi yayasan di sekolah tempat dia mengajar.
“ Lain kali ya Dona, oia.. Kemungkinan besok saya tidak bisa menemani kalian untuk bekerja di taman, saya minta tolong kalian selesaikan lah hukuman kalian ya, jika tidak hukuman kalian bisa di tambah lagi nantinya “ pinta Bram kepada anak-anak didiknya itu.
“ baik, Pak “ jawab mereka serempak dan di selingi dengan anggukan, begitu pula dengan Moza.
Bram tersenyum melihat mereka berempat. “ Anak-anak baik “ sahut Bram lagi.
Bram mengantarkan Karin terlebih dahulu karena rumahnya ternyata yang paling dekat dengan taman tersebut, lalu mengantarkan Ratna yang minta turun sekalian di rumah Dona karena beralasan orang tuanya belum pulang, kebetulan rumah keduanya hanya berbeda blok saja jadi tidak terlalu jauh untuk Ratna pulang sendiri.
Terakhir Bram mengantarkan Moza, Moza menunjuk sebuah gang kecil dan meminta untuk di turunkan di depan gang tersebut.
__ADS_1
“ Terima kasih, Pak “ Moza ingin membuka pintu mobil tapi tangan Bram mencegahnya. Bram memberikan sebuah hadiah kepada Moza. “ Apa ini, Pak.. Untuk apa? “ tanya Moza sambil melihat wajah gurunya.
“ Bisa kah jangan memanggilku Pak saat kita hanya berdua Moza, dan ini aku hanya ingin memberikanmu hadiah kecil, semoga kamu suka, hadiah dari seorang penggemar “ Bram tersenyum manis memandang wajah Moza.
Moza jengah di pandang seperti itu, “ Maaf, saya tidak bisa memanggil bapak dengan sebutan lain, tidak untuk sekarang saat bapak masih menjadi guru saya… dan apa ini, kenapa memberikan saya ini “ Moza mengembalikan hadiah yang terbungkus kertas kado berwarna pink itu ke gurunya yang masih memandangnya penuh arti.
Bram menghembuskan nafasnya lemah, “ ambil saja hadiah itu, nanti kamu juga tau.. Keluarlah, hari sudah malam, beristirahatlah.. Selamat malam “ Bram menaruh kembali hadiah itu di pangkuan Moza sembari melepaskan tatapannya dan kembali memandang ke arah depan.
Tanpa pikir panjang Moza langsung keluar dari mobil tanpa menjawab apapun. Dia berlari kecil memasuki gang tanpa menoleh ke belakang. Dia hanya mendengar mobil gurunya tersebut pergi dan tak terdengar lagi.
Moza benar-benar bingung harus bagaimana menanggapi gurunya tersebut, sudah berkali-kali Moza menjaga jarak tapi tetap saja ada celah untuk gurunya mendekatinya, seperti hari ini Pak Bram memberikan hadiah kepadanya.
Sambil berjalan Moza membuka kertas kado pink yang menutupi hadiah dari Pak Bram tersebut, sebuah buku novel dengan judul “ CINTA itu PELANGI “. Dia membuka sampulnya ternyata karangan orang lokal dan di bawahnya nampak tulisan dari pulpen yang masih terlihat baru :
Membaca tulisan itu membuat jantungnya sesaat berdegup kencang, agak sesak nafasnya. Moza langsung mengatur nafasnya hingga degup jantungnya kembali normal, dia periksa dadanya dengan kedua tangannya, sesaknya mulai berkurang, Moza merasakan hal yang aneh tapi di tepisnya perasaan tak nyaman itu. Dia kembali menyusuri gang untuk secepatnya sampai di kos.
Sesampainya di depan kos, Moza sangat terkejut melihat ayahnya sudah berdiri di depan kos nya, sambil menenteng plastik hitam 2 buah. Terlihat ayahnya tersenyum dalam raut wajah lelah menatapnya.
“ Ayaahh, sudah lama “ Moza masih terkejut tapi kemudian mengambil tangan ayahnya untuk bersalaman dan di sambut pelukan oleh ayahnya. Pelukan hangat yang sangat Moza rindukan.
Lama mereka berpelukan, hingga akhirnya Moza melepas pelukannya lalu bergegas membuka pintu kamar kosnya. “ Masuk, Yah “ Moza mempersilahkan ayahnya masuk.
__ADS_1
Ayahnya masuk dan melihat sekeliling ruangan kamar kos anaknya tersebut, nampak raut wajah kesedihan pada Ayah. Beliau sedih melihat kehidupan Moza, sendirian di kamar kos sekecil ini, walaupun terlihat rapi karena Moza memang anaknya cinta kebersihan dan kerapian tapi tetap saja hati orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya berjuang sendiri tanpa dirinya.
Ada perasaan menyesal didiri beliau karena membiarkan Moza hidup sendirian di luar jangkauannya, sebelum istrinya yaitu ibunya Moza meninggal, anaknya itu sangat bergantung pada ibunya bahkan menempel kemanapun ibunya pergi , Tapi semenjak kepergian istrinya untuk selamanya, membuat anaknya itu berubah menjadi mandiri dan tidak cengeng sama sekali.
Berbeda dengan dirinya yang baru di tinggal istri meninggal 3 bulan sudah memilih menikah lagi dengan janda anak 2, ibu tiri Moza sekarang. Alasannya pun sungguh egois tanpa memperdulikan perasaan Moza saat itu, dan wajar saja Moza marah lalu merajuk meninggalkannya keluar dari rumah.
“ Ayah sudah lama tadi, maaf Moza pulang terlambat karena ada tugas tambahan dari sekolah “ jelas Moza tanpa menyebutkan hukuman yang dia terima karena bekerja di bar sebagai pekerja di bawah umur. Ayah bisa marah pikirnya.
“ Tidak nak, paling baru 15 menit.. Ayah tau kos-an mu dari nak Jimy, kemarin Ayah bertemu dengannya di pasar saat dia menemani ibunya berbelanja “ cerita ayah menjelaskan hal yang memang ingin Moza tanyakan.
Moza bingung mau bicara apalagi, lalu dia melihat kantong plastik hitam yang tadi di bawa ayahnya.
“ Apa ini, yah? “ tanya Moza sambil membuka plastik itu.
“ ooh, tadi sebelum ke sini ayah mampir membeli nasi goreng kesukaanmu, kebetulan ayah juga belum makan, kamu ada piring dan sendok.. Ayah tadi juga sudah membelikan beberapa susu kesukaanmu dan air mineral “. Ayah sangat bersemangat membuka tiap plastiknya.
Moza mengambil piring dan sendok serta gelas untuk air minum. Moza sangat senang melihat nasi goreng kesukaannya ada dihadapannya, seperti mimpi bisa makan nasi goreng bersama ayahnya saat ini. Moza menyuap nasi goreng nya dengan penuh haru, tak terasa air matanya menetes, buru-buru dia seka agar ayahnya tidak melihat air mata yang tiba-tiba meluncur ke pipinya itu.
Mereka makan tanpa bersuara hanya terdengar suara sendok garpu serta bunyi renyahnya kerupuk yang mereka gigit. Moza menghabiskan suapan terakhir nasi gorengnya dengan penuh senyuman bahagia.
Selesai makan, ayahnya pamit kepada Moza. Sebelum pergi , ayahnya banyak memberikan nasehat kepadanya bahkan bujukan untuk pulang ke rumah. Yang pastinya ditolak halus oleh Moza. Terakhir ayahnya memberikan Moza uang dan berpesan agar di pakai sebaik-baiknya untuk keperluan dirinya.
__ADS_1
Ayahnya sempat menanyakan Moza, setelah lulus nanti dia akan melanjutkan kemana, apa mau kuliah. Moza belum memberikan jawaban kepada ayahnya, dia masih bingung antara dua pilihan, dia berjanji bila sudah pasti akan memberitahu ayahnya.
Sepeninggal ayahnya, Moza menyikat giginya dan bersiap untuk tidur. Dia memejamkan matanya, dan teringat momen bersama ayahnya barusan sangat membahagiakan, lalu dia teringat ibunya, dia tersenyum “ ibu, Moza akan buktikan kalau Moza tidak akan mengecewakan ibu dan ayah “ lalu Moza pergi ke alam mimpi.