Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 9 : BERTEMU KAKAK


__ADS_3

Di luar café, Moza mengentak-hentakkan kakinya penuh kekesalan. “ Benar-benar membuang waktuku hanya untuk bercanda, sungguh keterlaluan.. Apa itu, ingin menjadi fans ku..dasar pedofil licik, tidak malu sama umur.. Huhhh “ Moza mengumpat habis-habisan lalu meninggalkan tempat itu dengan hati yang sangat kesal.


“ Kriinngg…Kriinggg.. “ hp Moza berbunyi, di lihatnya di layar tertulis “ JIMY “, dia menarik nafasnya lalu menghembuskannya, mengubah mood nya ke mode tenang.


“ Hallo, iya Jim “


“ kamu dimana, kenapa tidak membalas pesanku sejak sore tadi, apa kamu sedang bekerja, lama sekali membalas pesanku “, tanya Jimy berentetan seperti kereta api.


“ Kamu memang memiliki nafas yang lumayan panjang, Jim.. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu semua hanya dengan satu tarikan nafas.. Jangan lupa bernafas Jimy.. Hahaha “ ledek Moza penuh semangat.


“ hufft, kamu ini.. Dimana sekarang kamu, apa kah sedang sibuk, aku sangat kesepian saat ini, Mia sedang sibuk, jadi aku tidak bisa ngapelin dia deh..mau ngapelin kamu saja, teman lamaku..hehehe “ jelas Jimy masih dengan mode kereta apinya, ckckck


“ ishhh, kamu jadikan aku pelarian ya.. Dasar ga jelas.. Aku lagi di jalan menuju kos-anku, Jim “ sahut Moza


Ya, Jimy memiliki kekasih. Mia, seorang model yang baru saja merintis karirnya di bidang itu. Moza bukan tidak mengenalnya, mereka bahkan satu sekolah dulu. Mia lah alasan terkuat kenapa hubungan Jimy dan dirinya selalu menjadi kakak dan adik. Tidak lebih.


“ Aku jemput ya, tunggu di situ dan sekarang sharelock posisimu, ok “


“ hmmm “ Moza menutup telponnya kemudian menuruti permintaan Jimy untuk menyerloc posisinya lalu dia mulai berjalan menuju kos-annya yang masih jauh.


Dia tidak sadar jika Bram mengikutinya, “ Tinn Tiinnn “ bunyi klakson mobil bram.


Dia membuka kaca mobilnya dan memberikan kode menyuruh Moza masuk ke dalam mobil itu tapi Moza pura-pura tidak mengenalnya.


Setengah berteriak, “ Naiklah Moza, saya antarkan kamu pulang, ini sudah malam “ ucap Bram sambil mengikuti Moza dengan mobilnya.

__ADS_1


“ Tidak, Pak.. Terima kasih “ jawab Moza dingin dan mempercepat langkah kakinya.


“ Kalau kamu tidak mau masuk, saya akan terus mengikutimu sampai ke rumah “, Bram terus tersenyum menggoda Moza.


“ Apa bapak tidak tahu malu, menggoda anak didik bapak sendiri, Kalau ada yang melihat bagaimana.. Sudahlah, bapak pulang saja.. Saya bisa pulang sendiri “, ucap Moza masih memasang wajah kesal, dia benar-benar tidak ingin di ganggu oleh gurunya itu.


Lalu dari belakang mobil terdengar suara motor yang amat sangat memekakan telinga, Jimy datang dengan moge ( motor gede) nya, lengkap dengan helm dan jaket kulitnya.


“ Dia selalu berlebihan.. Hufft “, batin Moza yang mengetahui siapa pengendara moge tersebut.


Bram yang melihat seseorang sedang mengendarai moge lewat kaca di depannya merasa bingung, “ kenapa Moza tersenyum, siapa lagi orang yang mengendarai moge itu? “,


Belum lepas dari rasa herannya, orang yang ada di belakang mobilnya pun melepas helmnya dan terjawablah sudah.


“ Laki-laki itu yang bersamanya di pasar malam, sedang apa dia di sini “ batin Bram kesal.


Setelah Moza naik, Jimy langsung mengendarai motornya sehingga terdengar suara motor yang sangat memekakan telinga yang mendengarnya.


Melewati mobil gurunya, Moza dengan sengaja membuang mukanya dan memeluk Jimy. " Semoga pedofil itu melihatnya dan tidak lagi menggangguku " batin Moza.


Bram yang di dalam mobil hanya bisa menghentak-hentakkan tangannya ke kemudi sangat kesal melihat Moza berlalu pergi tak peduli dengannya.


“ ishh anak itu, kenapa juga aku jadi bisa menyukainya padahal anak didik yang lain banyak yang menyukai bahkan mengejar-ngejarku..selalu membuatku penasaran..hufft " Bram kembali memukul kemudi dengan keras.


Dengan kesal Bram melajukan mobilnya membelah jalanan untuk menuju rumah ayah angkatnya, Dokter Brata.

__ADS_1


Tak lama, Bram sampai di depan rumah megah dengan halaman yang sangat luas dan bersih, terlihat ada mobil kakak angkatnya juga sudah terparkir di sana.


Memasuki rumah, Bram di sambut ayahnya yang baru saja keluar dari ruang makan menuju ruang kerjanya.


“ Tepat waktu sekali kamu Bram. Apa kamu sudah makan malam “, Dokter Brata berhenti sebentar memandang Bram lalu kemudian membuka handle pintu.


“ Bram sudah makan tadi yah sebelum ke sini.. Dimana Kak Adrian? “ ucap Bram


“ Dia sudah ada di ruang kerja ayah, kamu kemarilah “ pinta Dokter Brata diikuti Bram di belakangnya untuk masuk ke ruang kerjanya.


Bram melihat Adrian sudah duduk di kursi tidak jauh dari meja kerja ayahnya sambil memegang laptopnya. Dia melihat Bram dari balik kacamatanya yang setengah melorot di hidung mancungnya lalu tersenyum sekilas, membuat Bram membalas senyuman itu dengan canggung.


Sudah 2 tahun ini, Adrian memasang wajah dinginnya kepada Bram, entah apa masalahnya, Bram yang berulang kali menanyakan sikap kakak angkatnya yang berubah itu kepadanya tapi tidak pernah mendapat jawaban.


Padahal sebelumnya mereka baik-baik saja, bahkan sering kali mereka minum bersama untuk sekedar menghilangkan kejenuhan.


Dan malam ini, untuk pertama kalinya setelah 2 tahun, Adrian tersenyum. Walaupun bisa di bilang bukan senyum yang bersahabat tapi itu cukup membuat Bram sedikit senang.


Dokter Brata duduk di kursi ruang kerjanya, sedangkan Bram duduk di kursi bersebelahan dengan lemari buku-buku milik ayahnya, menjauhi kakaknya yang masih asik dengan laptopnya.


Dokter Brata yang merasakan suasana dingin di ruangan kerjanya akibat sikap kedua anaknya tersebut menghembuskan nafas dengan kasar.


Dokter Brata tahu sekali apa alasan Adrian itu mengacuhkan Bram. Tapi ayahnya malas mencampuri urusan kedua anak bujangnya itu, apalagi mereka laki-laki yang dia harap bisa menyelesaikannya sendiri. Berpura – pura tidak tahu itu lebih baik. Setidaknya itu pandangan dari seorang ayah.


*****

__ADS_1


Semoga bacaan ini berkenan ya, menulis baru buatku, aku yang orangnya moody an susah sekali menahan kesabaran. hahaha


Maaf, bila ada typo.. semoga kalian sukaaa 🙏🙏


__ADS_2