Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 17 : MALU


__ADS_3

Moza berdiri di depan pintu rumah Jimy, sambil menunggu anak dari yang punya ramah selesai memarkirkan motor gedenya di garasi samping rumah mereka.


“ Kenapa ga masuk aja sih, Za.. Ngapain kamu masih di luar? “ tanya Jimy saat melihat Moza masih bersender di salah satu pilar megah berwarna kuning emas yang dari tadi menjadi tumpuannya.


“ Nunggu kamu, Jim. Aku malu ketemu ibu mu “ Moza menunduk dan berdiri dari sandarannya, mengikuti Jimy yang akan membuka pintu rumahnya.


“ Kaya pacar mau di ketemuin sama calon mertua aja pake acara malu segala.. Ibu kan udah kenal kamu, Za “, Jimy mempersilahkan Moza masuk dengan sedikit gerakan kepalanya.


“ Tetep ga enak lah aku, udah lama ga ke sini juga “, sungut Moza yang celingukan mencari sosok ibunya Jimy namun belum terlihat. Hanya tercium aroma kue yang menandakan ada kegiatan di dapur.


“ Ayo, kita ke dapur aja langsung, sepertinya ibu lagi di dapur bikin kue “, Jimy mencium aroma kue yang khas dari dapur.


“ Lagian salah sendiri ngilang nda kasih kabar, siap-siap deh kena semprot “, canda Jimy kemudian kepada Moza.


Moza semakin gugup dan merasa bersalah, ingin rasanya balik badan dan lari secepatnya dari sana tapi pasti kalah cepat dari si kaki panjang Jimy itu, daripada tambah malu, terima aja lah di omelan juga, batin Moza.


“ Siapa yang kena semprot, Jim. “ tiba-tiba ibunya Jimy keluar dari dapur sambil membawa senampan cupcake dan juga buah melon kesukaan Jimy.


“ Ini bu, ada anak hilang yang sudah tau jalan pulang “, sindir Jimy melirik ke arah Moza.


Melihat Moza melotot kepadanya, Jimy tersenyum dan mengambil 2 potong buah yang dibawa ibunya tadi.


“ Loh, ada Moza di sini.. Ya ampuuunnn, lama sekali ibu ga ketemu Moza, kamu kemana aja sayang, ga pernah main ke sini lagi. “ rentetan suara Ibunya Jimy, persis seperti Jimy.


“ Hee, iya tante.. Sekarang Moza pindah sekolah, jadi maaf ya tan, Moza jadi jarang ke sini lagi. “ Moza menatap wajah ibunya Jimy dengan segan sekaligus malu.


“ Hmm, ga apa-apa, yang penting sekarang Moza sudah ke sini, sering-sering ya Za, ibu lagi suka bikin kue nih, liat di you**** “, Moza hanya mengangguk menjawabnya.


Ibu nya Jimy mengetahui alasan Moza pindah sekolah setelah kemarin di ceritakan oleh Jimy. Beliau merasa kasihan dengan Moza, anak perempuan yang cantik dan polos itu berusaha tegar dengan ujian hidup yang sudah lebih dulu menyapanya. Melalui kematian sang mama dan pernikahan ayahnya kembali, yang sayang dia memiliki ibu tiri yang sangat tidak menyukainya.


Sebab itulah, beliau memaksa anaknya Jimy untuk membawa Moza bertemu dengannya.


Moza dan ibunya Jimy sedang adik mengobrol di ruang keluarga sambil menikmati cupcake buatan ibunya Jimy. Jimy duduk tidak jauh dari sana, memainkan hapenya dengan antusias.

__ADS_1


Ibunya Jimy selalu baik kepada Moza, menganggap Moza seperti anak sendiri. Bahkan kalo boleh jujur, beliau sangat ingin Moza menjadi menantunya. Tapi sayang, anak semata wayangnya tidak menginginkan Moza menjadi pacarnya, anaknya menyayangi Moza seperti adiknya sendiri, begitu ucap Jimy saat ibunya memancing percakapan soal Moza dulu.


“ Ibu serius loh pas minta kamu untuk sering-sering ke sini Za, kamu boleh kapan pun ke rumah ibu. Ga usah nunggu di jemput Jimy ya, nanti ibu siapain kamar tamu buat kamu, khusus buat anak cantik ibu “, Moza berkaca-kaca mendengar permintaan ibunya Jimy, lalu menganggukkan kepala sembari menahan air matanya agar tidak keluar. Dia merasa nyaman berada di dekat ibunya Jimy. Lalu mereka kembali mengobrol biasa.


Sudah hampir 2 jam Moza menemani ibunya Jimy di ruang keluarga, dia bermaksud ingin berpamitan pulang ke rumahnya tapi di tahan oleh Jimy.


“ Ntar aja ya Za, nanggung nih mainnya…hee”, Jimy nyengir, membuat Moza sedikit kesal.


“ Tante, ke dalam dulu ya Za.. Kamu santai aja dulu di sini, tante mau beberes bentar sebelum papanya Jimy pulang “, lalu ibunya Moza masuk ke dalam menuju kamarnya.


Moza kembali mengarahkan pandangannya ke sekitar ruang keluarga, melihat Jimy yang masih asik dengan Hape nya membuat Moza melangkahkan kakinya menuju taman di samping rumah Jimy.


Sebenarnya bisa saja Moza pulang ke kos sendiri tapi demi menghemat pengeluaran, ga ada salahnya menunggu kesediaan Jimy saja untuk mengantarnya pulang. Begitu pikir Moza.


Keadaan yang sudah mendekati ujian tidak memungkinkan Moza untuk kembali mencari pekerjaan paruh waktu, uang dari ayahnya yang selama ini di kirim juga harus dia hemat. Dia tidak mungkin leluasa meminta uang saku dengan ayahnya yang sudah memiliki keluarga lain, walaupun itu ayah kandungnya sendiri. Lagi pula, Moza malas bersinggungan dengan ibu tirinya yang jelas tidak suka dengannya.


Sampai lah Moza di tepi kolam ikan buatan milik papanya Jimy. Moza duduk di atas dudukan yang sekilas mirip onggokan batu berwarna hitam. Menatap ikan-ikan yang berenang ke sana kemari mengikuti arus buatan yang mengalir tidak begitu deras, menimbulkan bunyi gemerecik air yang bersahutan.


“ hmmm..gak Jim “, sahut Moza menggeleng pelan.


“ Zaaa,, “, wajah Jimy mendekat sambil memperhatikan Moza yang wajahnya terlihat datar dan masih menatap kosong.


“ eh, iya.. Kenapa Jim.. Maaf “, Moza nyengir


“ Kamu loh, kaya sama siapa aja, cerita dong.. Mikirin apa sih atauuu mikirin siapa, hmm “ rajuk Jimy sambil merajuk, mencebik kan mukanya dan memajukan sedikit bibir bawahnya.


“ Maaf Jim, aku Cuma mikirin soal ujian.. Emang kamu ga kepikiran gitu “, Moza mencari alasan lain agar alasan sebenarnya tidak terlihat oleh Jimy.


“ Ngapain dipikirin, kan udah belajar extra, asal fokus aman-aman aja pasti “, sahut Jimy sok yakin.


“ Kamu tuh enak Jim, kamu pinter, ketua osis juga, gak mungkin lah gak lulus “, sekarang giliran Moza yang memanyunkan bibirnya.


“ Gak gitu juga Za, kalo stres juga kan ga bagus.. Mending santai tapi tetep fokus “, hibur Jimy.

__ADS_1


Moza terdiam, jelas itu alasan kesekian dari alasan kenapa akhir-akhir ini dia lebih sering diam dan terlena pada lamunannya sendiri.


“ Kamu kalau ada masalah, ceritain ke aku, jangan di pendam sendiri. Iya sih aku cowo tapi kita kan sahabat, setidaknya aku siap loh jadi pendengar yang baik, Za. Jangan ragukan aku..hee “, Jimy nyengir memastikan ke Moza bahwa dia bisa diajak curhatan kaya kaum wanita.


Moza masih menimbang ucapan Jimy, dan menghela nafasnya dengan kasar.


“ Soal Ayah! “ , ucap Jimy mulai meraba keraguan Moza. Moza menggeleng.


“ Soal laki-laki! “, Jimy kembali menebak membuat Moza tersentak lalu membuang pandangannya ke arah pintu gerbang yang memang masih terlihat dari samping rumah Jimy.


“ Itu papa mu sudah pulang, Jim “, ucap Moza menunjuk mobil Papa dari sahabatnya itu yang baru saja masuk ke halaman dan parkir didepan pintu depan.


Bersyukur papa Jimy datang tepat waktu, Moza masih belum berselera menceritakan masalah yang dia pendam. Kalau perlu Jimy tidak usah tahu, bikin ribet.


Jimy kemudian mengikuti Moza yang sudah beranjak ke depan rumah Jimy melalui jalan setapak di taman tersebut, tidak melalui dalam rumah nya.


“ Eh, ada Moza calon mantu om.. Kemana aja Moza lama ga keliatan, Jimy ga nakal kan Za “, Moza kaget di sapa seperti itu, Moza masih heran kenapa papa dan ibunya Jimy masih selalu menjodohkan Jimy dengannya, padahal mereka juga tau Jimy sudah memiliki kekasih, Mia.


“ Papa jangan gitulah becandanya, kasian tuh Moza sampai bingung mau jawab apa “, sahut Jimy.” Kami ga ada pacaran pa, papa kan tahu siapa pacar Jimy! “, Jimy akhirnya protes pada papanya.


“ Kali aja berubah pikiran, kasian papa liat kamu punya pacar tapi kaya orang kesepian, mending sama Moza.. Mau ya Za sama Jimy, hahaha “, Papanya Jimy berhasil menggoda kedua remaja yang bersahabat itu. Wajah Moza kemerahan menahan malu.


“ dih, papa asal “, Jimy lalu mengajak Moza masuk kembali ke dalam rumah mengikuti papanya.


“ Jim, ayo antar aku pulang. Ini sudah sore banget “, pinta Moza lalu diambilnya tas ranselnya yang dia taruh di sofa di ruang keluarga tadi. Dia merasa malu sekali, kalau masih di sini bisa-bisa berubah jadi udang rebus dia menahan malu.


“ iya, kita Ijin ibu sama papa dulu ya..bentar! “, sahut


Jimy kemudian menghilang ke arah dalam rumahnya.


*****


Terima kasih sudah membaca karya saya

__ADS_1


__ADS_2