
“ Maafkan papa dan ibuku ya Za “, suara Jimy terdengar sedikit berteriak saat di jalan mengantarkan Moza pulang ke kos-annya.
“ Gak ada salah kok kamu minta maaf sih Jim, aneh kamu “, sahut Moza dari belakang bahu Jimy walaupun dia tau apa maksud dari permintaan maaf Jimy tapi tidak mau dia permasalahkan. Cinta tak mungkin di paksa kan.
Jimy tersenyum lalu kembali melajukan motornya.
Di depan kos -nya Moza turun perlahan dan menatap ke teras kos-nya. Sedang duduk seseorang yang dia kenal sambil menatapnya dan juga Jimy.
“ Siapa, Za “, tanya Jimy heran dan membuat Moza bingung menjawabnya.
Masa bilang kalau yang di depan mereka ini gurunya sih, apa pikiran Jimy kalau tahu gurunya datang ke kos-annya. Moza masih diam lalu mengambil bungkusan yang di berikan Jimy.
“ Ini makananmu, dan kamu gak apa aku tinggal Za “, Moza mengangguk pasti dan tersenyum.
Di jalan tadi Moza meminta Jimy ke warteg langganannya untuk membungkus nasi campur yang biasanya dia pesan di warteg tersebut. Hanya telur dadar, orek tempe, sambal dan sedikit kuah santan cukup untuk makan malamnya nanti.
Tapi dengan cepat Jimy meminta ibu penjualnya untuk menambahkan ayam goreng sekaligus uang untuk membayar makanan yang di pesan Moza. Moza terkejut tapi tidak ingin meributkan hal tersebut, dia tau Jimy tak mau di bantah kalau soal makanan.
“ Terima kasih, Jimy. Aku baik-baik saja, dia orang baik kok “, Moza masih menyimpan siapa lelaki yang kini sudah berada tepat di depan mereka.
“ Baru pulang, Za. Ini siapa “, Moza berubah kesal dengan ucapan Bram. Kenapa semua orang sama pertanyaannya, dan lagi Moza susah untuk menjawabnya, padahal itu mudah saja tapi entah kenapa Moza sulit untuk melakukannya.
Ada perasaan gak nyaman pada keduanya, seperti ketahuan selingkuh, padahal keduanya bukan siapa-siapanya.
Memecah kecanggungan dan juga tatapan tajam dari Bram, melihat Moza berbalik badan menuju pintu kos nya, membuat Jimy juga menyalakan mesin motornya lalu pergi menghilang dari hadapan Bram tanpa menghiraukan Bram yang terus menatapnya.
Beruntung belum sempat Moza menutup pintu kos, Bram masih sempat menahan pintu itu dengan sebelah tangannya. Membuat Moza kaget dan melotot melihat tindakan Bram.
“ Kita perlu bicara Moza, jangan menghindariku lagi “ tegas Bram sambil mendorong pintu agar terbuka.
“ Apaan sih Pak, gak enak di liat orang, bapak bertamu maksa gini sih “ Moza memelankan suaranya takut tetangga mendengar.
“ Oke, kalau begitu kamu keluar, kita bicara di teras saja “.
__ADS_1
“ Saya ganti baju dulu Pak, saya tutup pintunya “
“ Loh kok di tutup, nanti kamu gak akan keluar lagi “
Melihat wajah Moza yang seperti keluar tanduknya, membuat Bram mengalah. “ Oke, cepat keluar ya, kalau gak nanti saya gedor terus pintu kosmu.” Ancam Bram kemudian Moza mendesis membalas ancaman Bram.
Moza menutup pintunya dan bergegas mengganti bajunya. Moza keluar 10 menit kemudian sambil membawa segelas air untuk tamunya.
“ Silahkan di minum Pak, maaf cuma air putih “, ucap Moza lalu duduk di samping Bram yang menyambut gelas air putih dari tangan Moza.
“ Terima kasih…Kamu tinggal sendirian di sini Za “, Bram menatap Moza ingin tahu.
“ Iya Pak, memang kenapa? “, Bram tersenyum mendengarnya.
“ Kemana orang tuamu “, tanya Bram
“ Ada, mereka tinggal tidak jauh dari sini “, Moza beralih berdiri di dekat pintu.
“ Main! Buat apa. Bapak gak ada kerjaan ya “, Bram kembali tersenyum.
“ Saya hanya ingin berada di dekat kamu terus, kamuu.. Ngangenin “, Moza kaget mendengar pengakuan Bram.
Lama mereka diam tanpa ada yang bersuara, Moza yang tadinya berdiri di depan pintu kini menyelonjorkan kakinya ke bawah dan duduk bersender di dinding.
Moza terus berpikir, apa yang membuat gurunya ini datang ke kos-annya, “ Apa karena ciuman malam itu, aah bodoh kamu Za, kenapa tidak bisa menahan dirimu “. Sekarang Moza menatap Bram lagi.
“ Kapan bapak mau pulang, sudah mau maghrib “, Bram mengangkat kepalanya, menyadarkannya dari keheningan yang tercipta karena pengakuannya.
“ Besok pagi saya jemput kamu, boleh gak boleh saya tetap jemput kamu “, kini Bram sudah menghabiskan air di gelasnya.
“ Gak perlu pak, saya bisa berangkat sendiri.. Memang saya anak kecil, lagian saya sudah ada yang menjemput besok “, sahut Moza galak.
“ Siapa. .lelaki tadi.. Siapa dia, pacar kamu “, rasa penasaran Bram belum usai, dia terus memaksa Moza untuk mau do jemput olehnya besok ke sekolah.
__ADS_1
“ Bukan!. Lagian kami tidak satu sekolah, ngapain dia menjemput saya “, Moza mendengus kesal membuang mukanya.
“ lebih baik kamu jangan banyak alasan, pokoknya saya menjemput kamu besok.. Ok!! “, Kegalakan Bram redup dengan sikap cuek Moza.
“ Dihh, siapa bapak memaksa saya “, malas sekali rasanya meladeni orang ini, pikir Moza. Pacar bukan tapi berantem kaya orang pacaran yg lagi cemburuan.
“ Saya Fans kamu yang sekarang mau naik tingkat jadi kekasih kamu “, Bram mendekatkan dirinya ke samping Moza.
Moza menggeser duduknya menjauhi Bram. Bram tersenyum melihat tingkah Moza yang gugup.
“ Bapak jangan kebanyakan ngayal, dimana ada seorang guru yang menjadikan anak didiknya sebagai kekasihnya. “
“ Kalau saya bukan guru mu berarti kamu mau dong dengan saya “, Bram melirik sambil tersenyum menggoda Moza.
“ Nggak akan, bapak pulang gih dah yaa “
“ Jangan menolak saya dong Za, nanti kamu jatuh cinta loh Za “, goda Bram lagi.
“ Hahhhh, bapak becandanya kelewatan, ngayalnya juga ketinggian, hati-hati nabrak pak terus Jatoh “, Moza kebingungan
“ Saya ga lagi bercanda dan baiklah saya juga ingin hayalan ini menjadi nyata “, Bram sangat suka menggoda Moza, karena dengan begini wajah jutek yang biasanya diperlihatkan Moza tak terlihat, bahkan sekarang menjadi sangat cantik dengan semu merah di pipinya.
“ Gak Lucu Pak Bramasta, udah pulang sana Pak, saya mau masuk “, Moza melangkah menuju pintu dan segera menutupnya.
“ Kamu bisa membuatnya menjadi nyata Moza, saya tunggu jawaban kamu besok, sewaktu saya menjemput..oke “, Bram bicara dengan sedikit keras di depan pintu kos Moza.
“ Gak oke Pak, saya ga mau di paksa, enak aja “, Moza mengeluarkan kepalanya dari sela pintu, “ dan besok ga usah ada acara jemput saya pak, jangan buat hidup saya tambah susah ya pak “, Moza kembali menutup pintu tanpa menunggu Bram bicara.
“ Aneh sekali pedofil itu, kenapa hari ini menjadi sangat menyeramkan.. Kenapa dia menggangguku seperti ini.. Aahh Sial, ini gara-gara ciuman itu, dia jadi kegeeran kan “, Moza masih bertanya dalam batinnya.
“ Aaakkhh Moza bodoh… Apa sekarang yang harus aku lakukan “, Moza kembali berteriak di balik bantal.
*******
__ADS_1