Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 8 : IDOLA dan FANS


__ADS_3

Setelah mereka menghabiskan semua makanannya, geng Ratna pun minta Ijin pulang duluan, alasan mereka saja ingin pulang padahal mereka mau ke mall, nongki-nongki cantik di sana sambil cuci mata.


“ Terima kasih pak Bram atas traktirannya, saya permisi pulang juga.. “ ucap Moza ingin membalikkan tubuhnya tapi di halangi Bram.


“ Saya antar kamu pulang, tidak keberatan kan “ ucap Bram dengan memperhatikan raut wajah Moza yang sedikit bingung. “ Sekalian ada yang ingin saya bicarakan denganmu Moza “ Bram pun menarik tas ransel Moza dan berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari mereka. Mau tidak mau Moza mengikuti gurunya itu setengah terseret.


“ Masuklah, kita akan mencari angin sebentar “ ucap Bram lagi sambil membuka pintu kemudinya.


Moza yang ragu dengan maksud dari gurunya itu masih menimbang-nimbang akan masuk mengikuti gurunya atau kabur secepat kilat dari sana. Bram yang melihat gelagat aneh dari Moza tidak jadi masuk ke kursi kemudi, dia memutar badannya melalui belakang mobilnya lalu menggapai gagang pintu tempat Moza masih mematung, “ jangan takut, saya hanya ingin bicara empat mata denganmu “ ucap Bram sambil membukakan pintu mobil untuk Moza, “ masuklah, cepat “. Kemudian walau masih ragu, Moza tidak ada pilihan dan segera masuk ke dalam mobil.


“ Antar saya pulang saja, Pak.. Saya tidak bisa menemani bapak..” pinta Moza dengan tegas saat Bram baru saja menutup pintu kemudi.


“ Sebentar saja Moza, ada yang ingin saya bicarakan denganmu, oke “


“ terserah bapak saja, tapi jangan lama.. Karena saya harus pulang.. “ Moza mengarahkan pandangannya keluar jendela, mengalah dengan kehendak gurunya yang dia nilai sudah semena-mena.


Segera Bram melajukan mobilnya ke sebuah café bergaya vintage, Bram mengajak Moza masuk ke dalam tapi Moza hanya diam mematung sambil melirik memperhatikan tempat yang mereka datangi itu.


“ Kenapa ke sini, Pak.. “ Moza bertanya sambil memiringkan kepalanya ke arah Bram.

__ADS_1


“ Temani saya minum kopi “ Bram keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah Moza yang masih tidak mau keluar dari mobil.


“ Saya pulang saja, Pak.. Bapak mau bicara apa, bicara saja disini, saya mendengarkan.. “ Moza merasa curiga sekaligus bingung dengan sikap gurunya ini, “ kenapa membawaku ke tempat seperti ini” batinnya.


“ Saya tidak bisa bicara di sini Moza..Ayolah temani saya minum kopi, akan saya ceritakan di dalam “ bujuk Bram lagi


Akhirnya Moza mau keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam café. Diikuti Bram yang penuh senyum mendahului Moza. Di tariknya kursi kayu agar Moza bisa duduk di depannya sesuai keinginannya. Melihat itu Moza kembali bingung dengan sikap gurunya tersebut.


“ Mau minum apa? “ tanya Bram lalu memanggil pelayan.


“ Bapak saja yang minum, saya tidak haus “ jawab Moza galak


“ Jangan galak-galak dong, kan cuma nawarin.. Baiklah saya pesan seperti kesukaan saya saja ya.. “ lalu Bram berpaling, “Mas, kami pesan Es Capucino nya 2 ya sama tiramisu nya satu porsi saja “ ucap Bram


Moza yang sudah tidak tahan lagi dengan keheningan yang tidak jelas, berinisiatif untuk mulai bicara, dia mencondongkan badannya ke depan, menaruh kedua tangannya di atas meja dan melilitkan jari-jarinya, tatapannya fokus kepada pria di depannya yang dari tadi terlihat duduk tidak tenang, seperti memiliki wasir di bok*ngnya..upss


Kelakuan gurunya itu membuat Moza tidak tahan melihatnya, karena dari tadi dia sudah menahan tawanya, “ pria aneh.. Katanya ada yang mau di bicarakan, tapi dia membisu saja dari tadi, apa maksudnya coba, buang-buang waktuku saja “ pikir Moza.


“ Pak.. .” saat Moza baru mengatakan satu kata lalu tiba-tiba datang pelayan membawakan pesanan Pak Bram, membuat Moza tidak jadi melanjutkan kalimatnya. “ Iissshhh “ desisnya lalu kembali menyenderkan badannya ke kursi.

__ADS_1


Bram yang melihat kekesalan Moza hanya tersenyum, setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan itu, lalu Bram menyesap sedikit minumannya.


“ Silahkan, cicipi kuenya dulu “ Bram menawari Moza tiramisu yang dia pesan tadi tapi di tolak moza dengan gelengan kepalanya. Bram hanya bisa mendesah, “ sulit sekali mendekati anak ini “ pikirnya.


Bram menatap Moza “ Moza, bisakah kamu melihat saya.. Saya punya permintaan denganmu, apakah kamu mau mendengarnya? “ ucap Bram hati-hati.


Moza hanya diam, dia hanya ingin menunggu saja gurunya itu bicara tanpa berekspresi ingin tahu.


Lalu Bram bicara dengan lembut, “ saya menyukaimu, apakah boleh? “ Moza sontak membenarkan duduknya. Bram yang melihat Moza salah tingkah melanjutkan kalimatnya, “ Moza saya menyukaimu sebagai lelaki bukan antara guru dan murid “, Bram memperjelas ucapannya, dan itu berhasil membuat Moza melihatnya.


“ Saya tidak berminat menjalin hubungan, Pak.. Apalagi dengan guru saya sendiri, itu mustahil “ jawab Moza


“ Dia menolakku, berarti yang kemarin malam itu benar pacarnya “ pikir Bram kemudian kembali menyesap minumannya. “ Kalau begitu, ijinkan saya menjadi penggemar rahasiamu, dan ini tidak bisa di tolak karena kamu idola saya..hehehe “, agak sedikit memaksa entahlah Bram hanya ingin mengutarakan perasaan di hatinya yang dari kemarin mengganggunya.


Moza yang mendengar itu sebenarnya ingin menolaknya dengan lebih galak lagi, tapi gurunya itu mengeluarkan jari telunjuknya lalu menaruhnya di antara bibirnya, “ Idola tidak bisa melarang fans untuk tidak menyukainya, terima lah dengan lapang dada Moza.. Hehehe “ sahut Bram sebelum Moza hendak bersuara.


“ Terserah bapak saja, kalau hanya itu yang ingin bapak katakan, saya permisi “, Moza lalu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan fans eh gurunya itu dengan cepat. Bram sama sekali tidak mencegahnya, dia malah tersenyum penuh arti lalu menyesap kembali minumannya sampai habis.


" membuat penasaran saja.. hufft " Bram kembali memanggil pelayan meminta bill darinya.

__ADS_1


*****


Maafkan ketidaksempurnaan tulisan ini, mood saya pun turun naik, ternyata menulis tidak lah mudah.. semoga saya bisa menyelesaikannya 🙏🙏


__ADS_2