Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 19 : MENGHINDAR


__ADS_3

Bram pulang dengan hati senang. Senang karena bisa menggoda Moza, senang juga karena bisa membuat sedikit pengakuan pada gadisnya, " aahhh, tunggu saja keromantisanku, kamu akan jatuh cinta padaku Moza ", batin Bram saat dia melajukan mobilnya menuju pulang ke rumahnya.


Keesokan hari,


Bram sudah menunggu Moza di depan gang pagi-pagi sekali. Dia tidak mau terlambat menjemput gadis pujaannya.


" aah, begini rasanya jatuh cinta, membayangkannya saja membuat hati berbunga-bunga.. ", pikir Bram dalam lamunannya, dia tersenyum sendiri menyadari tingkahnya.


Bram bersiul-siul menunggu Moza, sudah setengah jam dia menunggu tapi Moza tidak menampakkan batang hidungnya. Karena takut terlambat sampai di sekolah, Bram berinisiatif masuk ke dalam gang menuju kos Moza.


Bram mengetuk pintu kos Moza berkali-kali tapi tidak ada tanda-tanda orang di dalam. Berulang-ulang Bram memanggil Moza dan mengucapkan salam, tapi yang di carinya tidak juga keluar.


Kemudian, suara pintu berderit terbuka, bukan pintu kos Moza melainkan pintu kos di sebelahnya, yang hanya di batasi sedikit pemisah.


" Abang cari Moza ya, tadi malam ada yang jemput dia bang, katanya dia mau nginep di rumah temannya ", seorang laki-laki sepertinya seumuran dengan Moza memberitahukan Bram kalau si pemilik kamar kos sedang tidak berada di dalam.


Bram berpikir sebentar, " Maaf dek, yang jemput temennya cowok atau cewek ya? ".


" itu temennya cewek, bang.. cantik.. pakai mobil, soalnya aku ikut ke depan juga jadi tau sekalian ke warnet semalam", dia menahan senyumnya, seperti ada yang dia sembunyikan tapi aku tidak peduli.


Kulihat jam di tanganku, 10 menit lagi gerbang akan di tutup, aku harus cepat-cepat sampai di sekolah karena ada kelas mengajar pagi hari ini.


" Makasih ya dek Hafis untuk informasi nya, kapan-kapan mas traktir ngopi ya ", Bram berpamitan dengan Hafis yang di sambut anggukan oleh anak itu. Bram mengetahui namanya saat suara seorang wanita memanggilnya dari dalam kos-annya, entah itu siapa.


Bram pun cepat-cepat menyalakan mobilnya lalu menuju sekolah. " Sialan, dia benar-benar menghindariku.. Awas saja kamu! ", Bram nampak kesal.


Sesampainya di sekolah, pintu gerbang belum di tutup, masih banyak siswa siswi yang memasuki pintu gerbang dengan tergesa-gesa. Tepat saat Bram memarkir mobilnya, dia melihat mobil berwarna merah memasuki gerbang dan sesaat kemudian gerbang tertutup rapat. Bram mengenali mobil siapa itu, lalu dia menunggu mobil itu berhenti untuk parkir.


Tepat saat pintu mobil merah itu terbuka, Bram merasakan bahunya di tepuk oleh seseorang.


" Lagi ngapain kamu celingukan di sini, bukannya kamu ada kelas, Pak Bram ", ternyata Bu Hanum yang baru datang masih berada di parkiran khusus guru itu.


" Eh, iya Bu Hanum.. ini saya mau ke kelas, Bu Hanum tahu saja saya hari ini ada kelas pagi.. hee ", sahut Bram salah tingkah, sambil matanya melirik ke mobil merah yang tadi dia perhatikan. Tapi sudah tidak ada siapa-siapa di sana, " Cepat sekali mereka menghilang! ", pikir Bram, lalu nyelonong pergi setelah berpamitan pada Bu Hanum.


Bu Hanum setengah berteriak memanggil Pak Bram untuk berjalan bersama tapi Pak Bram tanpa mengurangi kecepatan langkahnya meninggalkan Bu Hanum di belakang. Terlihat gurat kemarahan pada wajah Bu Hanum.

__ADS_1


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


β€œ Kemarin itu siapa Za, ganteng ih.. Mauuu, kenalin dong β€œ


β€œ Siapa? β€œ tanya Moza bingung


β€œ Itu cowo ganteng di depan gerbang kemarin, yang sama kamu pulangnya β€œ, Nindy menatap Moza penuh tanya.


β€œ Ooh, dia Jimy, sahabatku dulu di sekolahku yang lama β€œ, sahutku


β€œ Ganteng bangeeet Za, kenalin dong β€œ, Nindy memohon kepada Moza dengan manja.


β€œ Iya, nanti aku kenalin β€œ, janji Moza kepada sahabat barunya itu. β€œ Jelas lah ganteng, aku aja naksir β€œ, batinnya .


β€œ Siip deh kamu Za, malam ini nginep lagi ya, habis belajar di rumahku gak usah pulang, Ok β€œ, Moza menggangguk tanda setuju.


Dari jauh Moza melihat Pak Bram menatap ke arahnya dengan tatapan tajam, terlihat kesal. Buru-buru Moza menarik tangan Nindy dan memilih jalan yang lain. Pak Bram sepertinya tidak mengikuti, membuat Moza merasa lega dan memasuki kelasnya dengan sedikit santai.


Moza lupa kalau bertemu dengan Pak Bram tidak akan bisa di hindari, karena mereka akan bertemu juga saat les nanti.


Awalnya dia malu bertemu Pak Bram karena kelakuan bar bar nya malam itu, mencuri ciuman gurunya tersebut, padahal itu ciuman pertama bagi Moza.


β€œ Sepemahamanku, satu tingkat diatas fans kan harusnya teman, lalu sahabat baru lah pacar. Apa Pak Bram menaikkan level dengan 3 kali lompatan. Lalu kalau berhasil menjadi pacar….?! β€œ, Moza langsung bergidik memikirkannya.


β€œ Moza, apa kamu sudah siap belajar sore ini β€œ, teguran Bram sukses membuat Moza terkejut, membuatnya refleks mundur ke belakang dan kepalanya terantuk lemari pajangan di ruang tamu rumah Nindy.


β€œ Aduuhh β€œ, Bram ingin meraih Moza yang menggosok belakang kepalanya dengan satu tangannya, namun dia sadar di sana sudah ada Hanin dan Nindy, membuatnya mengurungkan niatnya dan hanya memandang Moza dengan mimik kasihan.


β€œ ini orang, datang-datang ngagetin aja, ishh sakit banget lagi β€œ, Moza membatin sambil terus menggosok kepalanya.


β€œ Kamu kenapa, Za? β€œ, Hanin kaget melihat Moza mengosok-gosok belakang kepalanya saat dia turun dari kamar di lantai 2, diikuti Nindy dari belakang.


β€œ Moza melamun dan dia kaget waktu saya menegurnya β€œ, Bram memberikan alasan dan melihat Moza yang memasang muka juteknya.


β€œ Ngelamunin apa sih kamu, sampai kepentok lemari..ngelamun jorok yaa, syukur deh sama Tuhan di kasih azab langsung.. Hehehe β€œ, Hanin meledek Moza yang sekarang sudah duduk di kursi ruang tamu.

__ADS_1


Bram menahan senyum, seakan tahu jawaban dari pertanyaan Hanin itu.


β€œ Emang iya Za, ngelamunin siapa Za kok bisa jadi jorok.. Hahaha β€œ, Nindy tak mau kalah menggoda Moza, yang di ledek tetap memasang muka juteknya tapi sekarang menjadi muka cuek.


β€œ Bisa-bisanya dia tersenyum, apa dia juga menertawakan ku.. Isshhh β€œ, Moza semakin kesal.


Lalu mereka mulai fokus memperhatikan Bram memberikan arahan dalam mengerjakan soal saat ujian nanti. Memberikan perhitungan pembagian waktu saat mengerjakan soal-soal yang lebih mudah dulu untuk dijawab lalu menyisihkan yang susah lalu yang paling susah. Karena soal yang paling susah dijawab biasanya membutuhkan penjabaran dan penalaran yang dalam jadi butuh banyak waktu untuk menyelesaikannya.


Cukup 2 jam setengah mereka membuka buku referensi soal, mencorat coret kertas untuk menghitung rumus dan menemukan jawaban yang tepat, menyampaikan kesulitan-kesulitan mereka dalam menyelesaikannya. Tak terasa hari sudah malam.


Hanin lebih banyak membantu Bram untuk ikut menyelesaikan soal-soal yang lebih mudah menurut Hanin tapi sangat sulit bagi Nindy dan Moza.


Bedanya, Hanin orangnya tidak sabaran untuk menjelaskan, kebanyakan dia mengemukakan pemikirannya sendiri tanpa mau tahu Nindy dan Moza mengerti atau tidak.


Melihat itu, Bram tersenyum. Dia berpikir Hanin itu Memanglah pintar tapi Hanin belum terlatih untuk menjaga sikapnya, karena dia masih lah seorang pelajar.


Untuk menyudahi acara belajarnya hari itu, Bram membuat Hanin, Nindy dan Moza membuat beberapa halaman kumpulan soal-soal yang mereka anggap sulit dan mengumpulkannya esok hari lalu di bahas bersama.


Selesai memberikan les kepada ketiga anak didiknya itu, Bram berpamitan kepada ibu Nindy dan kedua anak didiknya, karena Hanin memilih pulang bersama Bram.


Bram tidak menolak keinginan Hanin, karena kebetulan dia ingin pulang ke rumah ayah angkatnya yang searah dengan jalur rumah Hanin.


Tapi keputusan Bram untuk mengantarkan Hanin pulang, ternyata membuat perasaan Moza tidak nyaman. Dia yang mengikuti ajakan Nindy untuk menginap menjadi salah tingkah saat Nindy memergokinya melamun.


β€œ Ngelamunin jorok lagi ya Za, serem aahh anak gadis ngelamunin begituan β€œ, Nindy terkekeh melihat Moza salah tingkah saat ketahuan melamun olehnya.


β€œ Apaan sih Nin, aku gak secabul itu ya suka ngelamun jorok β€œ, Moza dengan kesal melempar bantal ke Nindy.


β€œ Hahaha.. Iyaa maaf deh Za.. Apa sih yang kamu pikirkan, Hutang?? β€œ, Moza menggeleng.


β€œ Cerita aja Za, kalau punya masalah tuh ga baik di pendam sendiri, cerita deh β€œ, bujuk Nindy.


β€œ Engg, janji gak ngetawain aku kan. Janji ga tumpis kan kamu, termasuk sama Hanin gak usah cerita β€œ, Moza masih menimbang-nimbang dalam hatinya untuk bercerita terus terang pada Nindy, dia memang butuh teman bicara soal ini.


Entah kenapa dia tidak ingin Hanin tahu, Moza merasa kurang begitu akrab dengan Hanin. Hanin baik tapi anak itu seperti menjaga jarak dengannya. Walaupun di sekolah mereka kemana-mana bertiga tapi Hanin jarang mengajaknya bicara, berbeda dengan Ke Nindy. Hanin akan bicara dan tertawa lepas bersama Nindy.

__ADS_1


Nindy menganggukkan kepalanya, mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V setelahnya memberikan kode seperti menutup mulutnya dengan lakban.


β€œ Cerita lah, aku akan mendengarkan. Tapi aku tutup pintu kamar dulu ya, takut ada yang ganggu β€œ.


__ADS_2