Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 11 : SEMANGAT BARU


__ADS_3

Matahari kembali bersinar, pagi ini Moza bangun dengan perasaan senang. Tadi malam saat Jimy hendak mengantarkannya pulang ke kos, mereka mampir dulu ke sebuah mini market di depan gang kos-an Moza. Moza kembali membeli susu strawbery kesukaannya dan menenteng p*p mie pedas yang sudah diisi air panas. Dia membawa itu semua ke tenda mini dimana Jimy berada, Jimy terlihat hanya membeli kacang dan sebotol spr*te.


Jimy mulai menanyakan teman-teman Moza di sekolah barunya, Moza menjawab dia hanya punya 2 teman, yaa..hanya Nindy dan Hanin yang terlihat mau berdekatan dengannya. Padahal dirinya lah yang menutup diri dari teman-teman sekelasnya.


Jimy yang tahu keadaan Moza yang sebenarnya merasa kasihan juga. Moza sangat dekat dengan ibunya bahkan seusianya dia masih saja menempel pada ibunya yaa walaupun di sekolah dia tidak manja dan cenderung murid yang pintar juga. Tapi dia berubah saat ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi. Itu suatu ujian bertubi-tubi untuk gadis labil seperti Moza.


Sudah selesai mempersiapkan dirinya untuk ke sekolah, Moza kembali melihat dirinya di cermin. Wajahnya sedikit lebih ceria dari biasanya, motivasi yang di berikan Jimy tadi malam di pikirnya sangat masuk akal. Jika memang dia sangat menyayangi ibunya, dia tidak mungkin egois menelantarkan sekolahnya. Begitu Jimy katakan padanya, aah Moza merasa beruntung bertemu dengan Jimy disaat dia lagi down-down nya.


Keputusannya untuk pindah sekolah kemarin sedikit dia sesali tapi tidak apa Jimy berjanji akan sering-sering mengunjunginya, sebagai kakak.. Yaa.. Sebagai kakak laki-lakinya. Karena Jimy sudah memiliki Mia, adik kelas Moza dan Jimy di sekolah yang lama.


Di Sekolah Moza


Hari ini Moza memasuki kelas dengan sedikit bersiul, saat hendak duduk di bangkunya, bahunya di tepuk oleh seseorang.


“ Hayy, Moza..” sapa Nindy tersenyum dan diikuti Hanin di belakangnya, memasang wajah datar sambil meminum air yang dia bawa.


“ Hayy “ jawab Moza pendek dan melepas ransel nya lalu mengeluarkan buku catatannya. Nindy masih memperhatikan Moza yang duduk dengan canggung. Lucu menurut Nindy.


“ oh iya, sebentar Za.. Beberapa bulan lagi kan kita ujian akhir, kita bikin kelompok belajar yuk, biar bisa belajar bareng dan membahas soal-soal yang rumit..Hanin juga setuju loh, kamu juga mau yaa.. “ Nindy memasang tampang memohon sambil menggenggam pergelangan tangan Moza.


“ Liat nanti ya “ ucap Moza singkat


“ udah mau aja, gratis ini.. “ timpal Hanin dengan sedikit kesal


“ maksudnya??? “ tanya Moza yang langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Hanin.


“ eh, eh, eh.. Tunggu jangan marah dulu.. Maksud Hanin tuh, aku kan sudah menyewa seorang guru privat yang akan mengajarkan kita soal-soal ujian yang kemungkinan kita temui di ujian nanti.. Kalo berdua saja kan kayanya kurang rame gitu, jadi biar pas kita ajak kamu.. Mau yaa Moza, mauu yaa.. “ Nindy memasang wajah itu lagi, membuat Moza risih.


“ Terserah kalian saja, memang mau belajar kapan “ tanya Moza


“ rencana seminggu 3 kali pertemuan tapi belajarnya malam setelah maghrib. Kalo sepulang sekolah kan kita sudah lelah seharian belajar di sekolah. Biar ada jeda waktu gituu buat nafas dan beberas diri. Hihihi “ Nindy menjelaskan dengan ekspresi yang membingungkan Moza. Anak itu suka sekali cekikikan g jelas.


“ rencananya aku usul di hari kamis, Jum’at, sabtu saja.. Kalo minggu bebas dari kata belajar ya, Nin.. “ Hanin mengeluarkan suaranya yang agak serak.


“ okeee..sipp.. Aahhh senangnyaaa “ Nindy hampir meloncat-loncat andai guru matematika tidak segera masuk ke kelas.

__ADS_1


“ anak ini terlalu hyperaktif, ngidam apa emaknya kemarin “ batin Moza melihat kelakuan aneh teman barunya itu.


Sesuai bujukan Jimy, dia harus membuka diri lagi, dan belajar dengan giat. Moza ingin cita-cita nya tercapai, ingin membahagiakan ibunya di surga, yaa walaupun itu sulit tapi dia harus mencobanya. “ Semangaatt “ teriaknya dalam hati.


Bel pulang sekolah telah berbunyi, Moza masih duduk di bangkunya sambil mengeluarkan baju gantinya, saat Nindy melihat hal itu dia bertanya-tanya apa yang akan di lakukan Moza setelah pulang sekolah nanti.


“ Moza, ikut aku sama Hanin ke rumahku yuk…rencananya aku dan Hanin mau belajar membuat kue hari ini..kamu mau ikut ya, pliiisss “ rengek Nindy dengan manjanya.


“ maaf Nindy, aku tidak bisa ikut, mungkin lain kali “ Moza berdiri ingin ke toilet untuk mengganti baju sekolahnya dengan baju bebas yang dia bawa tadi namun tangannya di pegang oleh Nindy, Hanin yang melihat itu menyenggol tangan Nindy lalu menggelengkan kepalanya mencegah Nindy untuk memaksa Moza ikut dengan mereka. Moza berlalu pergi meninggalkan kedua temannya yang masih diam di tempat mereka berdiri.


Setau Hanin, Moza orangnya tidak suka di paksa. Dari awal Moza masuk ke sekolah sebagai anak baru Hanin sudah memperhatikan Moza, anak itu selalu berada di dunianya sendiri dan cenderung menutup diri, jarang bicara dan tidak peduli dengan sekitarnya, kecuali ada yang mengganggunya maka dia akan bereaksi berlebihan dengan memasang wajah galak dan tidak segan-segan berkelahi dengan siapa saja yang mengganggunya.


“ Tidak usah memaksanya, Nin.. Moza anaknya tidak suka di paksa “ bujuk Hanin kepada Nindy yang sudah cemberut saja. Lalu dia merangkul tangan Hanin dan mengajaknya pulang.


Keluar dari toilet, Moza terkejut karena Pak Bram terlihat berdiri menyender membelakangi pintu toilet wanita. Moza berjalan melewati gurunya tersebut yang terlihat melamun sambil mengoyang-goyangkan kaki kanannya. Pak Bram tidak sadar Moza berjalan melewatinya, saat jarak Moza 2 meter berada di depannya baru dia sadar kalau anak didik yang di tunggunya dari tadi sudah keluar dari toilet.


“ Moza…tunggu saya.. tunggu.. “ teriak Pak Bram setengah berlari menyusul Moza. Gadis itu diam saja mendengar gurunya memanggilnya, padahal beberapa orang siswa yang lain mendelik keheranan melihat mereka.


“ kenapa kamu berjalan cepat sekali, kamu tidak mendengar saya memanggilmu dari tadi “ Bram masih menyesuaikan kecepatan langkah kaki mereka. “ Ayo segera ke parkiran, kita berangkat bersama ke taman dengan mobil saya “ ucap Bram lagi.


Moza bicara agak ngos-ngosan karena dia bicara sambil setengah berlari. “ apa yang ada di pikiran manusia pedofil ini, bicara seperti itu di lingkungan sekolah…aaakkhh guru itu benar-benar putus urat malunya, menyebalkan.. Hufft “. Batin Moza dengan penuh emosi.


Bram yang melihat Moza berlari menjauh mendahului nya merasa sangat kecewa, “ padahal perginya dengan Ratna, Dona dan Karin juga.. Tapi kenapa dia ketakutan seperti itu dan mengira yang tidak-tidak denganku “.


Bram kembali ke parkiran dan melihat ketiga anak didiknya yang lain sudah berdiri di samping mobilnya, ada Ratna, Dona dan Karin yang nampak mengipas-ngipas wajah mereka.


“ Bapak lama sekali sih, panas tau pak “ Ratna cemberut karena dari tadi dia sudah tidak tahan dengan rasa panas yang membasahi wajahnya, hilang lah bedak yang dia poles-poles setebal mungkin di wajahnya.


“ maaf, maaf.. Saya kelamaan ya, Moza nya sudah tidak ada di kelasnya, mungkin dia sudah berangkat duluan ke taman, Ayoo masuk ke mobil “ Bram berbohong dengan mereka dan berjalan masuk ke dalam mobil, diikuti ketiga anak didiknya juga.


Sesampainya di taman, mereka keluar dari mobil lalu berjalan menuju taman dan Bram melihat Moza sudah di sana sambil memungut sampah-sampah yang berserakan dan mengumpulkannya di plastik besar.


“ wah, banyak sekali sampahnya, padahal baru kemarin kita bersihkan, dasar manusia bo**h seenaknya saja membuang sampah sembarangan “ umpat Dona penuh emosi.


“ sudah, sudah.. Tidak usah ngomel, lebih baik kerjakan saja semuanya anak-anak, lebih cepat lebih baik.. Ingat kerja sama yaa “ bujuk Pak Bram sambil memasang sarung tangannya untuk memungut sampah-sampah itu juga.

__ADS_1


Dengan malas geng Ratna membersihkan semua sampah yang ada di taman itu, sambil Pak Bram mengajak mereka menanam beberapa bunga di taman itu.


Moza yang bekerja selalu memakai earset di telinganya tidak menyadari kehadiran geng Ratna dan Pak Bram, dia terus saja berkeliling memungut sampah dengan menunduk tanpa peduli sekitarnya.


Pikirnya dia harus segera menyelesaikan hukuman ini, karena mulai minggu depan dia akan ikut belajar kelompok dengan Nindy dan juga Hanin. Tiba-tiba hp Moza bergetar dan dia lihat di layar Ayahnya menelpon, ada perasaan malas untuk mengangkat telpon ayahnya tapi akhirnya dia angkat juga.


Ayah Moza : “ Hallo Assalamualaikum, Nak.. Apa kabarmu, ayah rindu.. Bisa kah kau pulang menjenguk ayah “


Baru Moza menggeser ikon hijau di layar hpnya langsung terdengar suara ayahnya, dan dia tau kalau ayahnya masih di pasar karena masih terdengar suara orang yang bertransaksi di seberang sana.


Moza : “ Wa’alaykumsalam , alhamdulillah baik yah.. Semoga Ayah baik dan sehat selalu.. Maaf, Moza belum bisa pulang, Moza masih sibuk belajar “


Ayah Moza : “ Baiklah kalau begitu, Nak. Belajarlah yang rajin, jangan segan meminta apapun yang kamu perlukan kepada ayah ya “


Moza : “ Tidak perlu ayah, Moza tidak enak dengan istri ayah “


Ayah Moza : “ Kenapa merasa tidak enak dengan istri ayah, kamu anak ayah. Tidak ada yang bisa melarang ayah untuk menyayangimu, Nak “


Moza : “ Terserah ayah saja, sudah dulu ya yah, Moza sedang sibuk “


Ayah Moza : “ Baiklah nak, nanti ayah saja yang akan mampir ke kos-anmu, ayah sudah sangat merindukan putri ayah “


Moza hanya diam mendengar ayahnya berkata seperti itu, ingin rasanya dia menangis tapi dia sadar sedang berada di tempat umum, saat matanya berkeliling melihat sekitar baru lah Moza sadar kalau Pak Bram dan geng Ratna sudah berada di taman, sudah sibuk menyapu dan mengumpulkan sampah juga.


Moza : “ Sudah dulu ya, Yah. Moza tutup telponnya, Assalamualaikum “


Belum sempat mendengar ayahnya menyahut, Moza sudah menutup telponnya. Dia menghampiri Pak Bram dan geng Ratna sambil membawa seplastik penuh sampah. Dia melihat mereka juga sudah selesai memasukkan sampah ke dalam plastik. Hari ini ada total 3 plastik sampah, lebih banyak dari kemarin.


“ Saya sudah selesai, Pak.. Saya mau pamit pulang “ ucap Moza sambil menumpuk plastik miliknya menjadi satu dengan kantong plastik yang lainnya.


“ Tunggu sebentar Moza, Saya antar saja kalian pulang “ pinta Bram sambil memandang bergantian kepada 4 orang anak didiknya tersebut.


Moza berhenti dan menoleh ke belakang, hatinya merasa tidak enak kalo menolak Pak Bram lagi, lagipula dia merasa lelah sekali hari ini ia ingin cepat-cepat istirahat.


“ Asyiiiikkk dianter Pak Bram “ sorak Dona dan Karin berbarengan, di balas senyuman oleh Ratna. Mereka pun bergegas menuju mobil Pak Bram yang terparkir tidak jauh dari taman.

__ADS_1


********


__ADS_2