Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 15 : TAK TERDUGA


__ADS_3

Hari kedua Les Privat tambahan, Hanin tidak canggung mendekati Pak Bram, Karena pikirnya ini di luar sekolah jadi tidak masalah untuk menempel pada gurunya itu.


Nindy nampak senyum-senyum saja melihat tingkah manja Hanin. Yang pura-pura tidak mengerti pada satu soal lalu bersandiwara bodoh menanyakan soal yang mudah baginya itu kepada Pak Bram, dan Nindy tau pasti itu akal-akalan Hanin saja agar bisa menempel pada kesayangannya itu.


Lain lagi dengan Moza yang nampak cuek padahal hatinya terasa panas melihat Hanin yang kecentilan di depan Pak Bram, sedangkan Bram biasa-biasa saja karena sudah terbiasa dengan tingkah anak didiknya yang tidak sungkan mencoba menarik perhatiannya.


“ Cihh, dasar ga ada urat malu “


“ Apa sih Za, sirik aja lo.. “


“ Dihh siapa yang sirik “


“ Iri… bilang boss “


“ Terserah kamu aja Han, tapi kita lagi belajar ga usah ganjen napa.. Risih tau liatnya, kan di rumah ini ada ibu sama bapaknya Nindy, apa kamu ga malu “


“ Ihh, dasar kamu nya aja yang iri.. “ Hanin agak menjauh dari Bram tapi tetap memasang wajah manja dengan senyum polosnya kepada kesayangannya itu.


Nindy cekikikan melihat pertengkaran mereka, “ kayanya ada yang cemburu ya.. Xixixi “ batin Nindy sambil menahan senyum.


Mereka melanjutkan les sampai pukul 7 malam, Ibu Ratih masuk ke ruang tamu yang di jadikan tempat oleh Nindy untuk les nya bersama kedua temannya.


“ Sudah selesai belajarnya, Nak “ tanya Bu Ratih pada Nindy


“ Sudah bu. .ada apa “ sahut Nindy


“ kalo sudah selesai ajak guru dan teman-temanmu untuk makan malam bersama kita “


Nindy menoleh melihat gurunya yang tersenyum tanda setuju. Hanin pun langsung duduk mendekati Bram.


“ Aseek, aku mau kasih kabar Ayah biar ga usah jemput aku, aku minta tolong di antar bapak aja ya Pak.. Boleh kan “ Hanin tidak menunggu jawaban Bram, dia sudah sibuk mengetik pesan untuk ayahnya.


“ Maaf ibu, Moza sepertinya tidak ikut makan malam, Moza harus pulang sekarang, takut kemaleman pulangnya “ Moza berusaha untuk tidak menoleh ke arah Bram yang terus menatapnya tajam.


Sikap Moza yang sepertinya menghindar di tangkap jelas oleh Bram, tapi dia menepisnya untuk saat ini.


“ Loh, kamu gak nginep lagi Za.. Nginep aja Za, Please “ pinta Nindy penuh harap.


“ Maaf ya, Nin.. Aku harus pulang, nanti kapan-kapan nginep lagi ya “


“ Ya sudah, gak apa gak nginep tapi kamu tetap harus ikut makan malam sama kita “ pinta Bu Ratih ke Moza.


“ Nanti pulangnya saya yang antar “ Bram kembali tersenyum tipis ke Moza.


Mau tidak mau Moza menuruti Bu Ratih dan berjalan mengikuti Bu Ratih, Nindy dan Hanin di depannya, dan tidak sedikitpun menoleh pada Bram.


Masakan Bu Ratih sangat enak, Moza kembali merindukan ibunya. Dia makan dengan lahap, tidak memperdulikan banyak mata yang memperhatikannya.


Nindy dan ibunya melihat Moza yang lahap memakan makan malamnya, tersenyum Senang.


Begitu juga dengan Bram, sorot matanya menemukan sisi Moza yang lain di meja makan ini, Polos dan lucu, pikirnya.


Makanan yang di buat Bu Ratih membuat Moza kekenyangan, setelah bersusah payah menahan akhirnya sendawa Moza teratasi, terdengar pelan sambil Moza menutup mulutnya.


Eeeggmmm,,


Nindy dan Hanin tertawa melihat tingkah Moza yang mereka anggap lucu, begitupun Bram yang melihat Moza, dia melihat sesuatu yang berbeda dari Moza, kepolosan di balik sikap cueknya. Membuat Bram mengulum senyumnya dan mengalihkan pandangannya ke arah Bu Ratih yang juga terlihat menahan tawa nya.


Setelah selesai makan malam bersama yang tidak di hadiri oleh Papanya Nindy karena masih belum pulang. Pak Bram, Hanin dan Moza berpamitan kepada pemilik rumah Bu Ratih dan Nindy untuk pulang.


“ Titip anak-anak ya Pak, dan terima kasih untuk waktunya hari ini “


“ Baik bu, terima kasih juga untuk makan malamnya “


Moza dan Hanin bergantian mencium punggung tangan Bu Ratih untuk berpamitan, mereka pun melambaikan tangan kepada Nindy.” Bye Nin” ucap keduanya.


Byee,, ketemu senin yaa guys..

__ADS_1


Nindy melambaikan tangannya lalu berlalu masuk ke dalam rumah bersama ibunya.


Mereka bertiga pun memasuki mobil dan berlalu pergi meninggalkan rumah Nindy.


Hanin yang duduk di sebelah Pak Bram selalu mengajak ngobrol Bram dengan cerita ini dan itu. Walaupun hanya di sambut Bram dengan sedikit keengganan, tidak membuat Hanin berhenti bicara.


Bram melihat Moza dari spion depan mobilnya, terlihat muka kurang bersahabat di belakang sana. Tak lama, Bram berhenti di depan sebuah rumah berpagar tinggi berwarna hitam, terlihat dari luar rumah putih megah milik keluarga Hanin saat pintu gerbang terbuka.


“ Loh, udah nyampe aja.. Kenapa anter Hanin dulu sih pak, kenapa ga anter Moza duluan aja tadi “ rengek Hanin sambil menyandarkan tubuhnya di kursi mobil Bram, enggan untuk keluar.


“ Sudah malam Hanin, ayo turun.. Kasihan Moza, saya juga harus mengantarkan dia sekarang. “


“ Bapak, gak mampir, tadi Hanin bilang ke ayah kalo Pak Bram yang ngantar. “


“ Gak usah ya, saya langsung pulang saja, ga enak sama Moza kalau terlalu lama.. Sepertinya dia kelelahan “ sambil menoleh ke kursi belakang, Bram menatap Moza sekilas.


Dengan sedikit kesal Hanin melepas seatbelt nya, “ Huft, Moza..bisa-bisanya dia tertidur di mobil orang “ Hanin melipat kedua tangannya di dada.


“ Sudah..Kamu masuk sana, salahkan saja aku pada Ayah dan Bunda mu ya.. Selamat malam Hanin “


“ Selamat malam Pak Bram.. terimakasih ya Pak sudah mengantar saya “ Hanin tersenyum manis sekali lalu bergegas masuk dan menghilang di balik pagar yang menjulang tinggi itu.


“ Kamu ga pindah ke depan Za “ Bram menunggu jawaban, lalu “ Saya tau kamu tidak tidur Moza “.


“ Tidak “ Cuma itu jawaban Moza yang masih memejamkan matanya dan Bram yang memahami maksud dari jawaban itu, kemudian menginjak pedal gas kembali, dan mobil itu kembali membelah jalanan malam.


Bram melajukan mobilnya menuju kos-an Moza. Tak berapa lama mobil sudah parkir di dekat gang masuk kos-an Moza.


Bram menoleh ke belakang ternyata Moza tertidur, nampak mulutnya terbuka sedikit dan nafasnya teratur.


Ditatapnya Moza dari balik kemudi, lalu kemudian dia membuka pintu mobilnya dan menuju pintu penumpang di belakang sebelah kiri.


“ Kamu seperti malaikat, polos dan cantik bila tertidur..hehehe “ Bram ingin mengusap pipi Moza tapi yang mau di usap mengerjapkan matanya dan terbangun.


Melihat wajah Bram berada dekat di depannya, Moza langsung mundur, menggeser badannya ke belakang.


“ Kita sudah berada di depan gang kos-an mu “


Moza ingin keluar dari mobil Bram tapi di tahan oleh Bram dan


Cup


Bram mengecup kening Moza tanpa permisi, Moza yang kaget hanya menatap tajam ke arah Bram.


“ Maaf, saya ga bisa menahannya “ Bram mengulum senyumnya, dia tau Moza pasti marah tapi dia tak menghiraukannya.


Cup


Ternyata Moza membalas mencium pipi Bram. Bram yang mendapat serangan kecil merasa senang dan selagi Bram ingin bersuara.


“ Anggap saja itu rasa terima kasih saya kepada fans.. Untuk novel yang bagus, untuk jasa mengantarkan idola nya ke rumah dengan selamat “ ucap Moza sebelum Bram bersuara.


“ Saya permisi pulang pak, sekali lagi terima kasih sudah mengantar saya. Hati-hati di jalan dan tetap fokus ya Pak “ Moza menahan senyumnya sembari mendorong sedikit badan Bram yang menghalanginya.


Secepat kilat Moza berlari memasuki gang kos nya, dia menahan rasa malunya dari tadi dan mengutuk perbuatannya kepada Pak Bram.


“ aaggghh, kenapa kamu tidak bisa menahannya sih Moza “gerutunya pada diri sendiri.


Moza masuk kedalam kos-an tanpa menoleh lagi ke belakang.


Ternyata, Bram menyusul Moza tapi belum sempat memanggil Moza, anak itu sudah masuk ke dalam kos nya.


Tidak mau mengganggu Moza apalagi tetangga di sana, Bram kembali ke mobilnya, mengurungkan niatnya untuk mengembalikan Hape Moza yang tertinggal di bangku mobil tempat Moza duduk tadi.


Dalam perjalanan pulang, Bram benar-benar tidak bisa berkonsentrasi, hampir saja dia menabrak kucing yang seenaknya menyebrang.


“ Benar apa kata Moza, aku harus fokus kalau tidak aku tidak akan sampai ke rumah dengan selamat “ batin Bram.

__ADS_1


Hati Bram terlalu senang, kalau boleh dia ingin bersorak-sorak saja di luar sambil berlari pulang ke rumahnya saking senangnya.


( umur aja yang tua ternyata ababil juga guru satu ni..😅 Author)


________


Keesokkan harinya di sekolah, Moza menghindari Bram. Dia sangat malu dengan apa yang dia lakukan semalam kepada gurunya tersebut.


“ Eh, itu Pak Bram.. Aku ke sana dulu ya Nin, Za “ Hanin langsung menghampiri Pak Bram yang asik mengobrol dengan wakil kepala sekolah.


Tak mau melihat apa yang akan di lakukan Hanin dengan guru kesayangan nya itu, Moza menarik tangan Nindy menuju ke kantin.


“ Selamat siang, Pak Bram..Bu Hanum.. “ Hanin menundukkan kepalanya di depan kedua gurunya tersebut.


“ Hanin.. Ada apa?” tanya Bu Hanum dengan nada agak tinggi.


“ Maaf Bu Hanum, saya yang memanggil Hanin ke sini..Boleh saya bicara sebentar dengan Hanin ya bu“


“ Oohh, baiklah.. Saya juga mau kembali ke ruang guru dulu, nanti kita bertemu di sana saja Bram“ Bu Hanum menatap Bram yang menjawab dengan anggukan, lalu menoleh sekilas pada Hanin dan kemudian berjalan menuju belakang gedung kelas 12.


“ Bapak, pacaran dengan Bu Hanum? “ tiba-tiba pertanyaan itu muncul di benak Hanin, karena melihat sikap Bu Hanum yang tidak suka padanya.


“ Hanin, saya mau minta tolong “ Bram mengabaikan pertanyaan Hanin.


“ Minta tolong apa nih Pak Bram, saya selalu siap membantu bapak…hee “.


Hanin senang jika gurunya itu membutuhkan bantuannya, karena dengan begitu dia bisa berdeketan tanpa harus terlihat cabe-cabean.


Bram tersenyum melihat Hanin, dan mengeluarkan sesuatu dari ranselnya, “ Tolong, kembalikan ini ke Moza..tadi malam tertinggal di bangku belakang Mobil saya “ Bram sedikit menjelaskan kepada Hanin.


Hanin mendengus pelan tapi belum mengambil Hape Moza yang di sodorkan Bram.


“ Balikin sendiri lah, Pak.. Malas jadi kurir Moza “, Hanin malah bersedekap, melemparkan pandangannya ke arah lapangan.


“ Saya tidak sempat, Han.. Makanya saya chat kamu buat nolongin saya, dari tadi malam Hape nya bunyi terus, Mungkin pesan penting “, Bram mencoba meminta tolong kembali ke Hanin.


Dengan kesal Hanin menatap Bram, entah kenapa dia tidak suka saat guru kesayangannya itu menyebutkan nama Moza. Tapi juga tak mampu menolak permintaan Bram.


Belum sempat Hanin mengambil Hape Moza dari tangan Pak Bram, tiba-tiba Hape itu di rebut oleh seseorang.


“ Sini “, ternyata Moza sudah berdiri di samping Hanin, memandang sekilas ke arah Bram


“ Eh, Moza.. Seenaknya euy “, Hanin kaget melihat Moza datang begitu saja.


“ Buruan, kamu di tungguin Nindy tuh “ menarik tangan Hanin dan menyimpan Hape nya di saku bajunya, lalu bergegas pergi dari hadapan Bram. Moza masih malu bertemu dengan Bram.


Bram hanya melongo melihat tingkah Moza, “ Kenapa wajahnya memerah, apa dia malu “, batin Bram.


Baru saja Bram melangkah, meninggalkan tempatnya berdiri, terdengar ada yang memanggilnya.


“ Pak, maaf.. Pak Bram “


Bram menoleh dan terkejut dengan sesosok idolanya berlari kecil di kejauhan.


Saat sudah dekat, dia agak jongkok sambil terengah, “ Makasiih.. Makasiih ya Pak “, ucap Moza tak mau terlalu lama menatap Bram lalu kembali berlari menjauhinya tanpa Bram sempat berucap apa-apa.


“ Dasar gadis aneh “, ucap Bram pelan.


“ Siapa yang aneh, Bram “, tanya seseorang di belakang Bram. “ Kenapa kamu masih di sini sih “.


“ Oh, Bu Hanum.. Tidak apa-apa, Bu.. Mari kita ke ruang kepala sekolah bu, pasti sudah di tunggu beliau “, ajak Pak Bram.


" Kamu sudah tau masih saja bertanya, Pak Gatot sudah gelisah menunggu kamu, makanya saya mencarimu ", ucap Bu Hanum sambil mengikuti Bram.


" Ooh, maafkan saya bu Hanum ".


Mereka berdua pun bergegas ke ruang kepala sekolah untuk mendiskusikan beberapa hal soal ujian nanti.

__ADS_1


************


__ADS_2