Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 14 : INSIDEN


__ADS_3

Fajar mengintip dibalik pepohonan, suara burung khas menyambut pagi mulai berkicau penuh kegembiraan. Pagi ini, Moza bangun lebih dulu dari teman-temannya.


Terlihat Nindy masih di dalam selimut, dan Hanin yg memeluk guling tapi kakinya menindih sebagian badan Nindy. Dia lihat tak sedikitpun Nindy terganggu dengan gaya tidur Hanin.


Moza turun dari ranjang empuk Nindy, dia bingung bagaimana caranya membangunkan kedua temannya itu. Sebelum dia bergerak ingin menarik selimut yang menutupi badan Nindy, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan nampak seorang wanita paruh baya menengok ke dalam dan tersenyum ke arah Moza.


“ Sudah bangun ya.. Siapa nama kamu, nak? “ tanya ibu Ratih seraya masuk ke dalam kamar dan berdiri di samping ranjang, memperhatikan Moza yang kebingungan.


“ eh, i-iya bu.. Saya Moza bu teman sekelas Nindy “ lalu melayangkan pandangan ke arah dua gadis yang masih terlelap.


Ibu Ratih tersenyum lalu ikut memperhatikan anaknya yang masih terlelap di bawah selimut.


“ Kamu mandi duluan sana dan siap-siap, hari ini ke sekolah kan.. Biar ibu yang bangunkan mereka “ seakan tahu kebingungan Moza, Bu Ratih langsung membangunkan Nindy penuh sayang.


“ Sayaangg.. Nindy, bangun nak.. Ayoo, cepat bangun, sudah jam 5 loh, kamu pasti ketinggalan shalat subuh lagi... Aduuhh, anak ibu yang cantiiikk.. Bangun nak.. Ayoo.. “ Bu Ratih menepuk lembut bahu Nindy, membuat gadis di dalam selimut itu bergerak dan sedikit membuka matanya.


Melihat pemandangan itu, membuat Moza teringat pada ibunya. Dulu ibunya juga sama seperti Bu Ratih yang tidak pernah absen membangunkan Moza setiap paginya. Tak terasa, air bening turun dan terasa hangat di pipinya. Tidak ingin terlihat menangis, Moza lalu masuk ke dalam kamar mandi di kamar Nindy.


Selesai mandi dan berganti baju seragam sekolahnya, secara bergantian Nindy masuk ke kamar mandi lalu setelahnya baru Hanin yang masuk. Sesaat Hanin masuk ke kamar mandi, bi Inah mengetuk pintu kamar Nindy dan membawa nampan berisi banyak roti berselai coklat serta 3 gelas susu tapi hanya satu yang berwarna pink.


“ Tolong di taruh di bawah saja bi, mau sarapan sama-sama saja lesehan.. Hehehe “ pinta Nindy sambil memasang kaus kaki putih setinggi 10cm di kedua kakinya.


“ baik Non, ini bibi taruh bawah.. Hati-hati ke tendang ya Non “


“ oke bi, makasih ya bi Inah “ Nindy yang sudah selesai memasang kaus kakinya langsung duduk menghadap sarapannya.


“ Kita ga makan bareng sama orang tuamu, Nin “ tanya Moza sambil membereskan buku-buku ke dalam tasnya dan menyusul Nindy ke depan sarapan mereka.


“ Gak Perlu, hari ini biar aja sarapan di sini..tadi ibu juga yang nyuruh Za “


“ Oohh “


“ Nih, susu strawbery kesukaan kamu, kemarin aku khusus minta bi Inah nyetok susu strawbery buat kamu..hehe “ Nindy tersenyum mengambil roti coklat itu sebanyak 2 tangkup, perutnya serasa hampa karena tadi malam tidak makan malam.


“ hmmm, ga usah repot-repot Nin.. Aku air putih aja cukup kok sebenernya “ mengambil gelas susunya dan menyesapnya, tak ditampik kalo sudah kesukaan takkan bertahan lama, langsung habis saja susu itu tak bersisa.


“ Hehehe.. Ga mungkin lah aku setega itu Za, masa aku minum susu kamu minumnya air putih.. Abis ya Za, Hehehe ku pikir gak kan di minum “ cengir Nindy sambil meledek Moza.


Moza hanya mengulum senyum malu karena ucapan dan hasilnya tidak sesuai dengan yang dia ucapkan. Dia pun merasa kelaparan sama seperti Nindy.


Hanin baru saja keluar dari kamar mandi, langsung mengeringkan rambutnya dan bersiap-siap. Nindy dan Moza yang telah selesai sarapan menyuruh Hanin agar cepat menghabiskan sarapannya karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Bu Ratih, ibunda Nindy dan juga Papahnya, Pak Iqbal, mereka masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Nindy.


“ Nin, kamu harus bantu aku buat deket sama Pak Bram..oke “ sesaat mobil berjalan, dan Hanin masih berusaha menghabiskan roti 2 tangkup yang dia bawa dari rumah Nindy tadi.


“ Please deh Han, usaha sendiri dong, kesayangan udah di depan mata juga, kita bakal lebih sering ketemu Pak Bram, kamu tunjukkan aja pesona mu.. “


“ Iya sih, tapi aku tuh gugup kalo udah di deket Pak Bram.. Ganteng banget tau kann kamu juga “


Nindy hanya senyum-senyum mendengar celotehan Hanin, sambil menyetir dia memandang Moza dari spion depan, senyumannya seketika hilang karena melihat Moza yang kembali menikmati dunianya sendiri .


Sepanjang jalan, hanya Hanin dan Nindy yang bersuara, Moza hanya memandang keluar mobil sambil memperhatikan deretan pohon yang tersusun rapi di pinggir jalan.


Moza kembali mengingat saat detik-detik terakhir bersama sang ibu. Sebelum ibunya menarik nafas panjang untuk terakhir kalinya dan terdiam tanpa bersuara lagi, Moza berteriak histeris di samping sang ibu yang pergi dengan sejuta kenangan manis.


Moza menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, meyakinkan dirinya untuk tidak mengingat kembali hari paling sedih dalam hidupnya tersebut. Dia sudah berjanji pada Jimy dan juga mendiang ibunya, untuk menjadi lebih kuat, mandiri dan bertekad dalam hidupnya.


Nindy, sudah memarkir mobilnya dengan rapi. Ketiganya keluar dari mobil dan berjalan melewati halaman sekolah menuju kelas mereka, Nindy berjalan menghampiri Moza dan menggandeng tangannya.


Moza kaget dan ingin melepaskan gandengan tangan Nindy, tapi dengan cepat Nindy menarik dan mempererat tangannya merangkul sebelah tangan Moza. Hanin yang melihat itu berdecak kesal. Bukan merasa iri tapi dia risih melihat sikap Nindy seperti kukang yang menempel pada induknya.


“ Biasa aja sih, Nin.. Tuh liat Moza nya risih kamu pegang-pegang dia gitu “ Hanin menunjuk melihat Moza memasang muka anehnya, setengah kesal setengah malas dari raut wajahnya.


Nindy lalu cemberut dan melepas gandengan tangannya pada Moza, “ iya, iya. Galak men sih Han.. Sini aku gandeng juga “ Nindy malah berpindah ke samping Hanin, sejurus kemudian Hanin langsung berlari tak ingin di dekati olehnya. Nindy malah semakin berlari mengejarnya sambil tertawa.


“ kamu manis juga kalo tersenyum seperti itu “ tiba-tiba Pak Bram muncul entah dari mana datangnya. Sambil menyandang ransel tas di sebelah bahunya, dia mensejajarkan badannya dengan Moza. Berada di sebelah Moza sambil sekali lagi memandang wajah anak didiknya itu.


Moza yang risih berdecak kesal melihat tingkah gurunya tersebut. Tanpa menjawab apalagi berbasa basi, Moza mempercepat jalannya dan meninggalkan Pak Bram di belakang.


“ Saya tunggu di lapangan ya “ Bram masih saja sempat-sempatnya meneriaki Moza. Dan menengok ke kanan ke kiri lupa kalo ini di sekolah, dan beberapa siswa lain melirik sambil berbisik melihat sikap gurunya tersebut. Menyadari aksinya memalukan, Bram segera pergi dari tempat tersebut.


“ Dasar guru aneh “ batin Moza sambil berbelok masuk ke kelasnya.


Masuk ke kelasnya, Moza melihat teman-temannya sudah berganti pakaian olahraga. “ Loh, bukannya jam pertama mata pelajaran Seni ya.. Kenapa sudah pakai baju olahraga “ Moza tampak bingung dan bertanya ke arah Nindy tapi yang di tanya malah diam dan menekuk mukanya, tak terlihat seperti Nindy di wajah cantik itu. Hmmm


“ Nindy kesal karena pelajaran Seni di tiadakan hari ini dan di majukan menjadi jam olahraga “ jawab Hanin dengan penuh senyuman bahagia.


Moza jadi paham, Nindy yang kesal karena mata pelajaran kesukaannya harus diganti dengan Jam Olahraga karena guru yang mengajar tiba-tiba tidak bisa datang untuk mengajar, dan Hanin yang bahagia karena di jam olahraga lah dia bisa bertatap muka langsung dengan guru kesayangannya, Pak Bramasta.


Moza hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua temannya itu. Dan dia pun ikut berganti baju olahraga seperti yang lain.


Di lapangan sudah berkumpul anak didik dari kelas 12C, jadwalnya memang hari ini akan ada pengambilan nilai praktek untuk teknik dasar permainan bola voli. Pak Bram menyuruh mereka pemanasan dengan berlari ringan mengelilingi lapangan sebanyak 3 putaran. Mereka pun semua menurut dan menyelesaikan putaran tersebut lalu kembali berbaris untuk mendapatkan giliran mengambil nilai praktek secara absen.

__ADS_1


Hanin, Moza, Nindy dan beberapa yang lain mencoba terlebih dahulu melempar-lempar bola voli itu ke udara dan memantulkannya ke tangan mereka dan dengan bergantian memberikan bola itu tanpa terjatuh ke tanah. Karena terlalu bersemangat, bola yang melambung tanggung di smash oleh Hanin dengan sangat keras dan mengenai tepat di wajah Moza.


Seketika Moza limbung dan tersungkur di tanah. Nindy berteriak panik melihat Moza yang ambruk tak jauh darinya. Teman-teman mereka yang lain berkumpul dan mengelilingi Moza yang tergeletak di tanah tak sadarkan diri.


Nindy langsung menghampiri Moza begitu pula dengan Hanin, yang berulang-ulang mengatakan maaf kepada Nindy dan juga Moza yang pastinya tidak akan mendengar permintaan maafnya karena pingsan.


“ Hey, tolong dong angkatin Moza ke UKS..pingsan gini malah kalian tontonin “ Nindy berdecak kesal sambil menyeka air matanya yang dari tadi membasahi pipinya.


Pak Bram yang baru sampai dan mendekat ke arah Moza langsung bertanya, “ ada apa ini, kenapa sampai Moza pingsan “ dia lalu menyuruh anak didiknya untuk mundur dan memberi ruang untuk Moza agar tidak kepanasan.


“ Maafkan saya, Pak. Gara-gara saya Moza pingsan, tapi saya gak sengaja pak, bolanya mengarah ke wajah Moza dan dia langsung pingsan..hiksss.. Hikss “ Akhirnya Hanin menangis juga, takut di marahi oleh Pak Bram.


Tanpa menanggapi Hanin, Pak Bram mengeluarkan sapu tangannya untuk menyeka sedikit darah yang keluar dari hidung Moza, “ Saya bawa dia ke UKS, ayo Hanin dan Nindy ikuti saya, yang lain tetap di lapangan, sebentar saya kembali untuk melanjutkan pengambilan nilainya “, Pak Bram kemudian mengangkat Moza dan berjalan cepat menuju ruangan UKS, Hanin dan Nindy mengikuti dari belakang.


Sesampainya mereka di UKS, membuka pintunya dan tidak nampak siapa pun di sana, “ kemana perawatnya “ pikir Pak Bram.


Pak Bram menaruh badan Moza di atas ranjang yang bersprei putih itu. “ cari minyak kayu putih Nin, coba bangunkan dia dengan itu “, pinta Pak Bram. “ Kalian jaga Moza di sini sampai perawatnya datang, saya harus kembali ke lapangan dan menyelesaikan pengambilan nilai nya, gak apa kan kalian berdua di sini “ tanya Bram.


“ Gak apa-apa, Pak. Tapi bagaimana dengan nilai kami nanti pak, kami bertiga belum sempat mengambil nilai tadi “ tanya Hanin sambil memandang gurunya tersebut.


“ Bisa minggu depan, masih ada waktu “ lalu bergegas pergi meninggalkan Hanin dan Nindy di UKS. Di jalan menuju ke lapangan, dia berpapasan dengan perawat yang menjaga UKS dan menjelaskan tentang kondisi Moza, dan meminta tolong untuk memeriksanya.


“ Baik Pak Bram, nanti akan saya periksa “, ucap Siti menjawab Pak Bram yang terlihat khawatir. Lalu dia bergegas menuju UKS. Saat membuka pintu ruangan, dia melihat ke arah ranjang, ternyata yang pingsan sudah bangun dan di temani temannya.


“ Kamu tidak apa-apa, Apa yang kamu rasakan “ tanya perawat Siti dengan Moza dan mendekati ranjang yang di tidurinya.


“ hmm, muka saya terasa panas, Bu.. Dan kepala saya terasa pusing juga sedikit “ jawab Moza yang baru saja terbangun akibat Nindy yang menempelkan minyak kayu putih tepat di hidungnya.


“ Hmmm, nanti saya berikan obat penghilang nyeri nya dan ini bersihkan hidungmu “ perawat Siti memberikan kapas yang sudah dia teteskan alkohol untuk membersihkan darah di hidung Moza.


Moza masih menyeka hidungnya yang terasa lengket karena bekas darah yang lumayan banyak keluar dari hidungnya tadi akibat benturan bola voli yang keras.


“ Moza, maafkan aku ya.. Aku benar-benar tidak sengaja “ Hanin tertunduk menahan air matanya.


Moza menghentikan aktifitas bersih-bersih hidungnya dan membuang kapas bekas menyeka darah ke tempat sampah di dekat ranjang tempat dia bersandar. “ Tidak apa-apa Han, aku tau kamu tidak sengaja, aku saja yang tidak siap menerima smash-an mu “ Moza memandang Hanin dengan senyuman, senyuman tulus kepada salah satu temannya tersebut.


Moza turun dari ranjang dan meminta ijin kepada perawat Siti untuk kembali ke kelasnya, dia ingin istirahat di kelas saja. Dan setelah perawat Siti mengijinkan dengan memastikan Moza baik-baik saja, Moza mengajak Hanin dan Nindy kembali ke kelas mereka lebih dulu dari teman-temannya yang lain.


“ Nindy, kenapa kamu diam saja. Kamu baik-baik saja “ Moza menoleh ke Nindy lalu melirik ke arah Hanin. “ Kenapa kalian berdua diam saja, sakit gigi?! “. Moza kini berbalik dan berada di antara Hanin dan Nindy.


Nindy menggelengkan kepalanya, “ Bener kamu ga apa-apa kan Za, apa masih sakit “

__ADS_1


“ Masih terasa sakit, tapi ga terlalu berasa jadi masih bisa di tahan, Cuma mukaku masih terasa kebas aja “ Moza meringis setengah tersenyum. “ Udah ah, kita duduk di kelas aja sambil nunggu teman yang lain “ Moza menarik sebelah tangan Nindy, lalu sebelah tangannya yang lain merangkul tangan Hanin yang terlihat diam saja dari tadi, Moza tau Hanin masih merasa bersalah.


************


__ADS_2