Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 3 : AKSI PENYELAMATAN


__ADS_3

“ Kalian…segera lah pulang ke rumah” Bram menunjuk ke arah Ratna, Dona, Karin dan Hanin. Dan serempak keempat perempuan tersebut mengangguk lalu memutar badannya dan langsung menghilang menuruni tangga tepat di samping toilet.


Bram pun kembali menuju ruangannya untuk mengambil kunci mobil di laci meja nya, dia bermaksud mengejar Moza. Dia yakin anak itu masih belum jauh dari sekolah. Banyak pertanyaan di kepala Bram tentang sikap Moza yang terkesan memberontak dan tak peduli.


Keluar dari gedung sekolah, menuju parkiran, Hanin melihat Pak Bram buru-buru mengendarai mobilnya, padahal Hanin sudah mengayunkan sebelah tangannya ke atas agar Pak Bram melihatnya, maksud hati dia ingin menumpang pulang dengan Pak Bram tapi sepertinya lelaki yang sangat dia hormati itu sedang terburu-buru. “ Padahal aku ingin menumpang, tau gitu aku tadi ga perlu menolak ajakan ayah untuk di jemput..hufftt” gumam Hanin pelan terlihat kesal. Sejurus kemudian dia mengambil HP dan memesan ojek online untuk mengantarkannya pulang ke rumah.


Sekitar seratus meter dari sekolah, Bram melihat Moza berjalan kaki sambil memakai earphone untuk mendengarkan musik di hp nya. Dia nampak mengoyang-goyangkan kepala dan sebelah tangannya, sambil masih berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya. Moza tidak tau kalau ada yang mengikutinya, pandangannya hanya lurus ke depan .Bram terus mengikuti Moza dari belakang, dia penasaran dengan gadis yang sedang dia buntuti ini, kenapa dia selalu terlihat tak bersemangat, acuh dan seperti berada di dunia yang berbeda. Tak menghiraukan bahkan peduli apa yang terjadi di sekelilingnya.


“ Apa yang sedang dia lakukan? “ Bram bertanya dalam hati. Lalu tiba-tiba dari arah kanan, Bram melihat sebuah mobil box dengan kecepatan tinggi melaju ke arah Moza. Bram pun bergegas membuka pintu mobilnya kemudian berlari hendak menyelamatkan Moza, dan… ……


“ Amozaaa, Awaaaasssss… “ teriak Bram sambil menarik bahu Moza dengan cepat, memeluknya lalu menghempaskan tubuh mereka menjauhi jalan. Moza jatuh tepat di atas Bram, dengan wajah kaget dia melepaskan earphone dari telinganya dan menatap wajah gurunya yang sedang berada di bawahnya dan terlihat sedang menahan sakit akibat menjadi matras sebagai penahan tubuh Moza agar tidak terhempas mengenai tanah.


“ Bapak sedang apa, apa yang bapak lakukan? “ Moza langsung berdiri dan mendapati pergelangan kakinya terasa nyeri dan tidak bisa untuk berpijak, “ Aww,, Aww.. Sakit sekali kakiku..aaghhh sialan” umpat Moza meringis kesakitan.


Bram yang menahan sakit di sekujur tubuhnya langsung berdiri melihat anak didiknya itu berteriak kesakitan.


“ Apa yang sakit, Amoza” Bram panik melihat Moza meringis menahan sakit pada kakinya.

__ADS_1


“Moza pak, panggil saya Moza…bapak menyebutkan Amoza seperti menyebutkan Amoeba, saya tidak suka mendengarnya.. “ sambil menahan sakit Moza sempat saja memarahi Pak Bram yang memanggil nama panjangnya, dia tidak suka Pak Bram memanggil nama Amoza, karena akan membuatnya mengingat kembali sang Ibu yang selalu memanggilnya dengan nama lengkapnya itu.


Bram yang masih belum paham, hanya bingung keheranan melihat tingkah Moza yang masih bisa marah padahal kakinya sedang sakit.


“ oke Moza, sekarang katakan apa kamu bisa berjalan..” tanya Bram pelan agar amarah Moza reda.


“ menurut bapak..!! “ sambil memasang wajah kesal, “ lagian bapak ngapain sih narik-narik saya sampai kita jatuh ke tanah begitu “ masih memasang wajah tanpa dosa Moza mencoba duduk saja di tanah karena kakinya sangat sakit sekali di buat untuk berdiri.


“ anak ini, dia ga sadar apa dengan sikapnya yang acuh dapat membahayakan dirinya sendiri dan orang lain”, Bram bicara dalam hatinya sendiri.


“ Kamu hampir tertabrak mobil Moza, andai bapak tidak menarikmu mungkin tidak hanya kakimu yang terkilir tapi… “ Bram memilih tidak melanjutkan kata-katanya, dia malah ikut duduk di samping Moza dan memperhatikan anak didiknya yang jutek itu.


Bram yang dari tadi hanya memperhatikannya mulai memegang pergelangan kaki Moza, “ boleh saya membantumu.. Saya akan memijitnya, kamu duduklah Moza..” pinta Bram sopan


Moza sudah sangat kesakitan, dengan terpaksa dia membiarkan Pak Bram membantunya. Dia hanya mengangguk lemah tanpa benar-benar melihat ke arah Pak Bram, masih dalam mode acuh kayanya.


Bram tersenyum melihat tingkah Moza, dan dengan pelan membuka sepatu dan juga kaus kaki Moza. Sebagai guru olahraga, dia menguasai teknik pertolongan pertama pada kaki yang terkilir.

__ADS_1


“ ini akan sedikit sakit, kamu rileks saja.. Saya akan mencoba membantumu sebisa saya” tanpa ba..bi..bu..Bram memijit perlahan bagian pergelangan kaki Moza dengan pelan sambil menatap ke arah lain. Tidak hanya Moza yang merasa jengah, dia pun demikian.


Berulang kali Moza meringis, mengeluarkan suara mengaduh dan mencoba menahan rasa sakit di kakinya, dia terus saja menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara yang memalukan. Karena dia tahu sikapnya sebelumnya sangat bertolak belakang dengan keadaan yang dia alami sekarang.


“ cobalah berdiri, apa masih sakit” Pak Bram membantu Moza berdiri dengan sebelah tangannya memegang bahu Moza.


“ Sudah lumayan pak, tidak terlalu sakit seperti tadi” ucap Moza tersenyum malu dan melepaskan pegangan tangan Pak Bram di bahunya.


“ bisa senyum juga anak ini “ gumam Bram dalam hati.


“ syukurlah, kamu mau pulang biar saya antar “ Bram entah kenapa semakin penasaran dengan anak didiknya ini, baru kali ini dia di acuhkan oleh anak didiknya, biasanya semua cabe-cabean itu akan berusaha menempel padanya. //percaya diri yang kelewat batas ya Anda, Bram ( authorr dalam hati :D)


“ Tidak Pak, terima kasih.. Permisi “ Moza kembali ke mode acuhnya, dan berlalu pergi meninggalkan Bram tanpa melihat ekspresi Bram yang bingung melihat dirinya.


“ benar-benar anak yang aneh, membuat penasaran saja “


*******

__ADS_1


Lanjut ga ya nulisnya, hiksss


__ADS_2