
Seminggu kemudian, Moza berjalan menyusuri lorong kelas bersama Nindy dan juga Hanin. Hukumannya di taman sudah di selesaikan 2 hari yang lalu, sekarang dia akan fokus belajar bersama 2 teman barunya ini. Sebisa mungkin Moza membuka dirinya dengan Hanin dan Nindy, apalagi dia tidak bisa menolak Nindy yang dia anggap teman yang baik. Sifat Nindy yang periang, suka bicara dan manja menjadi hiburan tersendiri sekarang bagi Moza.
Berbeda dengan Hanin yang sebenarnya sebelas dua belas dengannya, hanya saja Hanin terlihat lebih anggun dan berkelas, sesuai dengan karakternya yang memang anak seorang pengusaha kaya. Entahlah Moza belum mengenal lebih dalam kedua temannya tersebut.
Sore ini, Moza sudah berjanji dengan Nindy akan ikut bersamanya langsung setelah pulang sekolah untuk ke rumahnya. Sedangkan Hanin harus pulang dulu untuk berganti baju baru setelahnya ke rumah Nindy diantar ayahnya.
Ternyata Hanin datang dengan membawa pizza sebagai buah tangan, tentu saja dia meminta ayahnya yang mentraktir. Pizza itu di sambut antusias oleh Nindy yang langsung berinisiatif untuk membukanya dan mengajak keduanya makan.
“ Jam berapa guru privat itu akan datang, Nin “ tanya Hanin sambil memasukkan potongan terakhir pizza ke dalam mulut mungilnya.
“ Sekitar jam 5 sore, beliau mengubah jam nya, katanya lebih sore saja mulainya jadi sebelum jam makan malam sudah selesai belajarnya “ jelas Nindy sambil mengambil segelas limun yang sudah di siapkan bi Inah tadi.
“ Yahh, tidak jadi dong kita menonton film korea nya “ Hanin mendengus kasar, lalu mengambil segelas limun juga.
“ Nanti setelah makan malam saja kita menontonnya, kamu nginep kan Han.. Moza nginep loh..hehehe “ Nindy nampak tersenyum bahagia, menatap Moza yang hanya diam saja memperhatikan kedua temannya tersebut.
“ Iya bawel, aku nginep juga “ Hanin berjalan menuju jendela kamar Nindy, dan sesaat melongo menatap ke arah luar jendela. “ Hey,, itu bukannya Pak Bram.. Iya kan, bener kan.. Mataku ga salah liat loh ini.. Coba deh kalian liat “ Hanin memekik tapi di tahannya dengan kedua tangannya menutup mulutnya.
“ Iya, bener itu Pak Bram.. Akhirnya datang juga.. Yukk kita keluar “ ajak Nindy setelah menoleh sebentar ke jendela dan memutar badannya sambil berjalan ke arah pintu, Nindy sukses membuat Hanin dan Moza kebingungan.
Hanin langsung menyenggol bahu Moza saat meletakkan kembali gelasnya di nampan, Moza yang masih kebingungan langsung berdiri dan mengikuti Hanin dari belakang.
“ Hufft, jangan bilang guru privat itu Pak Bram, gimana bisa guru olahraga ngajarin soal-soal ujian mata pelajaran lain.. Apakah Pak Bram sepintar itu? “ Moza bertanya dalam hatinya, masih nampak bingung yang terpatri jelas di wajah imutnya.
Melihat Nindy membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan tamunya masuk, jelaslah sudah yang berdiri di hadapan Hanin dan Moza memang benar adalah guru olahraga merangkap wali kelas mereka itu, Pak Bramasta.
Bram yang melirik ke arah Moza, tersenyum simpul, “ Kenapa kalian terlihat kaget, seperti melihat idola saja “ Bram akhirnya tidak tahan dan mulai tertawa, memperlihatkan deretan giginya dan matanya yg sipit saat tertawa.
__ADS_1
Bram di persilakan duduk oleh Nindy, dan mereka bertiga pun duduk di hadapan Pak Bram yang masih senyam senyum.
“ Bapak, guru privat kami… kamu kok ga bilang-bilang Nin.. Ini suatu kejutan besar “ Hanin merasa senang sekali, seperti kejatuhan durian montong, dia sangat bahagia mimpinya pedekate dengan guru gantengnya terwujud.. Hahaha
“ kan sengaja mau bikin kejutan buat kalian, kita butuh sesuatu yang gak bikin stress buat belajar dan kebetulan Pak Bram menawarkan dirinya buat ngebantu kita..aku pikir ini bagus karena Pak Bram juga ternyata menguasai hampir semua mata pelajaran SMA, aku baru tau juga kalo Pak Bram termasuk siswa terpintar semasa beliau sekolah dulu dan lulusan terbaik di kampusnya “ Nindy menjelaskan kepada kedua temannya itu seperti sedang promosi biro jodoh.
“ Lalu kapan kita mulai belajarnya “ Moza yang terlihat sudah mulai tenang, kembali menjadi gadis dengan mode wajah cueknya.
“ Kapan saja kalian mau memulainya, saya siap. Untuk memulai hari ini, saya ingin tahu dulu, di mata pelajaran apa yang kurang kalian kuasai dan mata pelajaran apa yang kalian sukai.. Dimulai dari kamu, Moza. “ Bram menunjuk Moza yang tampak terkejut.
“ Saya.. Saya.. Saya kurang menguasai bahasa inggris dan agak kurang memahami matematika..” jawab Moza malu-malu sambil menunduk.
“ Saya juga kurang menguasai kedua mata pelajaran itu, pak. Saya hanya menguasai bidang seni seperti menyanyi dan menari.. Hehehe “ Nindy langsung bersuara setelah Moza tanpa di tanya oleh Pak Bram.
“ Oke, kalau Hanin tidak usah di tanya ya.. Dia gadis yang paling populer di sekolah karena otaknya yang encer.. Hehehe “ Bram langsung mengarahkan pandangan ke Hanin yang nampak malu, wajahnya merona merah.
“ Nindy, apakah di rumahmu kehabisan air.. Saya haus nih.. “ ucap Bram sambil mengelus lehernya. Sontak membuat Nindy berdiri menahan senyuman.
Sepeninggal Nindy, mata Hanin tidak pernah lepas memandang wajah gurunya sambil tersenyum penuh arti. Sedangkan Moza hanya tertunduk diam, dari tadi dia menahan diri untuk tidak melihat ke arah Pak Bram karena dia tahu, gurunya tersebut terus memperhatikan dirinya.
“ Kemana kedua orang tuamu, Nindy. Apa beliau tidak ada di rumah “ Bram mulai bertanya setelah meminum teh yang di bawa Nindy tadi.
“ Oh, Papah dan Mamah sedang keluar kota, Pak tapi malam ini juga rencananya pulang “ jawab Nindy.
“ Dan kalian berdua pasti akan menginap di sini “ Bram menunjuk ke arah Hanin dan Moza.
Mereka hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Pak Bram.
__ADS_1
“ Baiklah, saya rasa sampai disini saja pertemuan kita hari ini, untuk besok saya akan mulai memberikan kalian soal-soal yang wajib kalian kerjakan “ Bram bersiap akan pulang dan berpamitan kepada ketiga anak didiknya tersebut.
Mereka mengantarkan kepergian gurunya sampai mobil Bram tak terlihat di kejauhan.
“ Nin, gimana ceritanya sampai Pak Bram sendiri yang jadi guru privat kita, dan kamu bilang Pak Bram yang menawarkan diri…kok bisa “ Hanin mulai menarik tangan Nindy dan merangkulnya, menuntunnya berjalan menuju kamar Nindy, dan Moza mengikuti dari belakang sambil menguping.
“ hhhmmmm.. Papahku awalnya mencari guru privat untukku lalu bertanya kepada kepala sekolah kita, aku memang kurang berprestasi di bidang akademik dan hidupku dari dulu selalu di penuhi bimbel dan bimbel padahal akunya gak pinter-pinter juga..nilaiku selalu standart aja…huft “ Nindy mulai duduk di kursi belajarnya sedangkan Hanin duduk di atas kasur Nindy bersama Moza.
“ Aku 3 bersaudara tapi aku sendiri berbeda dari kakak-kakakku yang punya otak secemerlang dirimu, Han. Kakak pertamaku seorang Dokter sedangkan kakak keduaku adalah pilot. Mungkin aku anak perempuan satu-satunya dalam keluarga hingga aku terlalu dimanja. Akhirnya otakku pun ikutan terbawa menjadi lemot dalam hal akademis. Papahku selalu membanding-bandingkanku dengan kedua kakakku walaupun Mamahku bilang Papah sangat menyayangiku. Papahku dulunya seorang guru tapi sekarang di percaya untuk memimpin sebuah yayasan. Dan di kota inilah akhirnya kami, mengikuti papah dengan tugas barunya “ Nindy menjelaskan panjang lebar tapi terlihat dia nampak kurang bahagia.
“ emm, papahmu memimpin sebuah yayasan apa, Nin.. Maaf kalo boleh tau “ Hanin bicara hati-hati takut Nindy tersinggung.
“ Papahku ketua Yayasan sekolah kita, Han.. Papahku di tunjuk langsung oleh pemilik yayasan yang baru aku tau ternyata juga seorang Dokter “ Kini Nindy berjalan menuju kasur dan duduk diantara Hanin dan Moza.
“ Ooohh begitu, lalu kenapa ekspresimu sedih begitu “ tanya Hanin lagi
“ hahhhhhh “ Nindy membuang kasar nafasnya dan menggeser badannya mengambil bantal lalu merebahkan dirinya di atas bantal tersebut. “ Aku dengar dari mamah, Dokter itu menginginkan aku untuk menjadi menantunya tapi di tolak oleh mamahku dengan alasan aku masih kecil “.
“ Lalu, apa kalian pernah bertemu.. Maksudku apa kamu pernah bertemu dengan dokter itu dan juga anaknya “ tanya Nindy lagi, melihat ke arah Moza yang terlihat mengantuk.
“ Belum pernah, mamah tidak pernah mengijinkan Papah membawaku bertemu mereka..hmm, udah ah Han.. Kita tidur aja yukk, itu liat Moza udah 5 watt matanya, kasian “ Nindy ikut menutup matanya tanpa memperdulikan Hanin yang masih diam.
“ Ishh aku belum mengantuukk, lagian kamu belum cerita kenapa Pak Bram yang jadi guru privat kita " Hanin memukul lengan Nindy yang sudah ingin tertidur.
" Entah kenapa kepala sekolah memanggil Pak Bram dan meminta bantuan guru kesayanganmu itu untuk membantu mencari guru privat buatku Eeh malah beliau menawarkan diri.. gitu sih cerita yang ku dengar dari Papahku kemarin " Nindy bercerita dengan mata tertutup menahan kantuknya.
" Bangun dong Nin, jangan tidur dulu.. kita kan belum makan malam Nin.. Kamu mau tidur dengan perut lapar.. “ Hanin mengguncang badan Nindy tapi bukannya terbangun Nindy malah tambah terlelap.
__ADS_1
Melihat kedua temannya tertidur, Hanin turun dari ranjang dan melihat pizza yang tadi sore dia bawa masih tersisa satu potong, langsung dia habiskan dan setelahnya dia ikut tidur di samping kedua temannya tersebut. Horor sekali pikirnya, dia saja sendirian yang masih melek. Buru-buru dia memeluk guling dan menutup wajahnya dengan selimut.
********