Cinta Kembalilah

Cinta Kembalilah
CH 4 : TERKENA MASALAH


__ADS_3

Bram memilih kembali ke kontrakannya dan menyibukkan diri dengan buku-bukunya. Banyak buku-buku kedokteran tersusun rapi di rak buku maha luas di dalam kamarnya. Sambil membaca bukunya, dia mendengarkan musik klasik kesukaannya. Alunan musik klasik membuat pikirannya tenang dan lebih bisa berkonsentrasi dengan buku-buku yang dibacanya.


Bram sebenarnya adalah seorang dokter muda di sebuah rumah sakit swasta terkenal di kota B. Tapi dia lebih memilih menjadi guru karena dia merasa belum siap untuk mewujudkan kehendak Ayah angkatnya, Dokter Brata, untuk melanjutkan kepemimpinan di rumah sakit milik Ayah angkatnya tersebut. Di samping merasa belum mampu, dia juga sangat menghormati Kakak angkatnya yang sudah lebih dulu menjadi dokter di sana. Entah kenapa ayah angkatnya malah menginginkan dirinya untuk menjadi pemimpin di rumah sakit itu ketimbang anaknya sendiri. Hal ini tentu saja membuat kecanggungan antara dirinya dengan kakak angkatnya, Adrian.


Bram sangat berhutang budi dengan Dokter Brata, karena saat 15 tahun yang lalu bertemu dengannya, Bram hampir mati kelaparan di pinggir jalan. Dokter Brata menolongnya dan membawanya ke rumah besarnya. Mengadopsi Bram saat usianya 10 tahun dan memintanya untuk menjadi teman anak semata wayangnya, Adrian yang saat itu hanya berbeda usia 3 tahun dengannya.


Saat Bram memutuskan rehat menjadi dokter dan memilih menjadi guru, awalnya Dokter Brata tidak menyetujuinya. Tapi karena Bram beralasan ingin memantapkan hatinya dulu, dia tidak mau setengah-setengah menjalani kepemimpinannya nanti, akhirnya Dokter Brata harus menerima keputusan anak angkatnya tersebut.


Di kontrakan kecil ini lah, tempat Bram mengasingkan diri. Tidak ada yang tahu jati dirinya. Bahkan rekan kerja nya di sekolah pun tidak tahu siapa sebenarnya seorang Bramasta. Bram hanya membawa jati dirinya yang seorang anak yatim piatu tanpa embel-embel ayah angkatnya yang seorang pemilik rumah sakit ternama.


Saat pihak sekolah menanyakan perihal lamaran dirinya untuk menjadi guru di SMA sedangkan statusnya merupakan sarjana kedokteran, Bram meyakinkan pihak sekolah bahwa dirinya sedang melakukan riset untuk Penelitiannya.


Karena pihak sekolah juga sedang membutuhkan seorang guru olahraga karena guru sebelumnya berhenti secara tiba-tiba padahal anak-anak kelas 12 sedang menuju masa ujian ketulusan, terbukalah kesempatan Bram untuk mengajar di sana dan istirahat sejenak dari aktivitas kedokteran di rumah sakit.


Musik klasik masih menemani suasana sore hari di kamar kontrakan Bram, ia masih berkutat dengan buku-bukunya sampai akhirnya suara HP nya berdering, ada panggilan dari nomor yang tidak di kenal.


“ Hallo, selamat sore, dengan siapa ya? “ tanya Bram mencari tahu.


“ Maaf apa benar ini dengan Bapak Bramasta? “ orang yang ditelepon malah balik bertanya.


“ Benar, Pak. Ada yang bisa saya bantu? “ Bram masih bertanya-tanya

__ADS_1


“ Maaf Pak Bram, kami mengganggu waktu bapak. Kami dari kepolisian, baru saja merazia tempat hiburan malam di jalan Xx dan mendapati beberapa anak didik bapak ada di sini, Apa bisa bapak sekarang menemui kami di sini, kami perlu bicara langsung dengan bapak..” jelas suara si penelpon


“ oh, baiklah pak. Saya segera menuju ke sana” dalam hati Bram masih bingung, anak didiknya yang mana yang berani-beraninya memasuki daerah terlarang seperti itu. Tempat seperti itu tidak baik untuk seorang pelajar.


Bram langsung mengambil jaketnya yang tergantung di rak dan mengambil kunci mobil serta dompetnya. Secepat kilat dia mengendarai mobilnya menuju jalan Xx tempat Bar yang di sebutkan polisi yang menelponnya tadi.


Sesampainya di sana, Bram melihat beberapa orang anak didik yang di kenalinya dan… Moza!!..kenapa ada dia disini, apa yang dia lakukan di sini?” tanya Bram dalam hati


“ Kalian.. Sedang apa di sini? Di sini bukan tempat pelajar seperti kalian” Bram bukan memarahi mereka, dia hanya berusaha menasehati anak didiknya itu. Anak-anak yang dipandang oleh Bram satu-satu tertunduk memasang muka malu sekaligus takut dengan Bram, kecuali Moza.. Ya Moza, si gadis cuek berwajah tanpa dosa.


“ Maaf Pak Bram, malam ini kami sedang bertugas patroli di daerah sini, tapi saat kami memeriksa identitas orang-orang yang ada di dalam bar ini, kami menemukan mereka berempat ternyata berstatus masih pelajar. Apa benar saudari Karin, Dona, Ratna dan Moza ini merupakan anak didik bapak? “ tanya seorang polisi kepada Bram.


“ begini pak, sesuai peraturan mereka akan di tuntut bekerja sebagai pekerja sukarela di pelayanan sosial publik dalam hal ini membersihkan taman-taman di area lingkungan ini dari sampah selama satu minggu, apakah bapak mau bertanggung jawab sebagai gurunya agar mereka menjalankan hukuman ini sebaik mungkin selama batas waktu tersebut.. “ jelas pak polisi itu panjang lebar.


“ baik pak polisi, saya akan bertanggung jawab atas mereka. Terima kasih karena tidak menghukum anak-anak ini dengan berat. Saya yakin dengan hukuman ini akan membuat mereka jera. Saya pastikan itu “ sahut Bram mantap sambil menjabat tangan polisi tersebut.


“ Terima kasih Pak Bram atas kerja samanya. Saya kembalikan mereka ke bapak “ ucap pak polisi itu lagi. “ anak-anak, jangan ulangi lagi ya, usia kalian belum di perbolehkan untuk memasuki tempat seperti ini, saya harap kalian mengerti” ucap pak polisi itu dengan tegas lalu beranjak pergi.


Setelah polisi pergi, datang seorang laki-laki berjas hitam berdasi kupu-kupu mendekati Bram dan keempat anak didiknya.


“ Moza, kamu ternyata masih sekolah.. Kenapa kamu membohongi saya? “ ternyata laki-laki itu adalah manajer di bar tersebut.

__ADS_1


“ Saya minta maaf, pak. Saya hanya butuh pekerjaan ini untuk keperluan hidup saya” Moza mencoba menjelaskan kepada manajer nya itu.


“ Saya tidak mau tahu, saya tidak bisa mengijinkan kamu lagi untuk bekerja di sini. Saya tidak mau mendapatkan masalah dengan polisi karena mempekerjakan anak di bawah umur. Saya harap kamu mengerti “ manajer itu lalu pergi meninggalkan Moza dan sekilas melihat ke arah Bram tanpa ekspresi.


“ Syukurin…makanya jadi cewe jangan belagu lo Moza..dipecat kan lo.. Emang enak.. Hehhh” Ratna mulai bersuara memojokkan Moza. Tapi Moza tak menggubris ucapan Ratna, tidak penting menurutnya.


Moza berlalu pergi meninggalkan Ratna, Karin, Dona dan juga Pak Bram yang kebingungan melihatnya.


“ Dasar cewe aneh, huhh “ Ratna merangkul kedua temannya ingin segera pergi keluar dan baru ingat ada Pak Bram di situ. “ oh maaf, pak. Saya lupa ada bapak di sini gara-gara tu cewe aneh “


“ Terima kasih Pak Bram sudah mau datang kemari, tadi saya bingung mau menelpon siapa, menelpon wali kelas saya tidak mungkin, bisa habis kami di marahi oleh Pak Gatot..” Ratna mendekati Pak Bram dan menjelaskan dengan gaya centilnya.


“ iya, kalau tadi Pak Gatot yang kemari, bisa-bisa double kita di hukumnya. Pak Gatot itu kan galak, ga kaya Pak Bram yang baik.. Hehehe “ ucap Dona yang di balas anggukan oleh Karin.


“ iya, baiklah.. Kalian pulang lah sekarang ke rumah, jangan keluyuran lagi. Ingat besok kalian sudah mulai menjalankan hukuman kalian seperti yang di katakan pak polisi tadi, mengerti. “ dan dibalas Ratna dan teman2nya dengan tangan yang seperti orang sedang memberikan hormat sambil cengengesan.


“ Ya sudah, saya juga mau pulang “ Bram berbalik mendahului anak didiknya itu ke parkiran menuju mobilnya.


*******


Terima kasih yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya amatiran ini. Jika berkenan berikan semangat kepada saya untuk melanjutkan kisah Moza yaa. Trims

__ADS_1


__ADS_2