
Ellen menunggu cemas di depan ruang UGD, dia benar-benar takut akan kehilangan Dante,
"Tuhan apa aku tak pantas bahagia,? selalu mereka yang ku sayangi harus terluka ." ucap Ellen dalam hatinya
setelah sekitar 1 jam Dante berada di UGD , kini donate sudah di pindahkan di ruang perawatan.
Dante mulai membuka matanya,dan menemui Ellen sedang duduk sambil berlinang air mata.
"mengapa kau menangis?" ucap Dante.
Ellen menyeka air matanya, ketika mendengar suara Dante.
"kau sudah sadar"ucap Ellen.
"mengapa kau bodoh sekali, sudah tau mereka memegang senjata, mengapa masih mengorbankan dirimu."ucap Ellen.
"karena aku mencintaimu" sahut Dante.
wajah Ellen memerah mendengar ucapan Dante,
__ADS_1
"ternyata kau jago beladiri." puji Dante lagi.
"hmmm, aku mempelajari ya sejak aku tinggal di panti."sahut Ellen.
dan mereka mulai berbincang layaknya seorang kekasih pada umumnya, hingga percakapan mereka terputus saat Shinta dan Feri datang menjenguk Dante dengan cemas.
Shinta yang baru Samapi segera memeluk tubuh putranya itu, Shinta juga menanyakan siapa Ellen, saat dia melihat Ellen berada di ruangan itu,
Dante menjelaskan bahwa Ellen adalah kekasihnya, Shinta merasa seneng melihat Ellen terlebih dia adalah kekasih dari putranya, berbeda dengan Shinta , Feri nampak kesal dengan Ellen karena gagal menyingkirkan Ellen.
namun Feri berpura-pura juga senang akan kehadiran Ellen
"namanya juga cinta mas, jadi jangan menyalahkan Ellen" sahut Shinta membela Ellen dan tersenyum ke arah Ellen.
dan mereka pun saling berbincang, Shinta juga menginginkan agar Dante segera melamar Ellen. Shinta juga mengatakan bahwa dirinya akan segera menemui keluarga Ellen.
mendengar ucapan Shinta raut wajah Ellen berubah masam, namun belum sempat dia mengatakan bahwa dirinya adalah yatim piatu, Dante sudah memotong pembicaraan, bahwa Ellen masih syok dengan penculikan yang terjadi.
dan karena waktu semakin larut Ellen pun berpamitan pulang kepada Shinta dan Feri.
__ADS_1
Shinta menawarkan agar Ellen pulang di antar oleh supir mereka, namun Ellen menolak,
sesampainya di rumah Ellen merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Ellen memikirkan ,apakah nanti mereka akan menolak dirinya, jika mengetahui Ellen hanya sebatang kara,
Ellen mulai melihat ponsel miliknya yang tertinggal agar pikirannya teralihkan.
Ellen melihat ada panggilan tak terjawab berulang kali dari om Arif.
Ellen mencoba menghubungi om Arif kembali, ternyata om Arif tadi dari tempat tinggalnya,karena melihat keadaan rumah yang gelap om Arif kembali,
Ellen mulai menceritakan, bahwa dia akan di lamar oleh keluarga kekasihnya, namun Ellen sedih karena tidak mempunyai keluarga,
namun om Arif mengatakan bahwa Ellen sudah di anggap seperti putri nya sendiri, om Arif mengatakan jika memang keluarga kekasih Ellen akan berkunjung, maka pintu rumah om Arif terbuka lebar.
setelah mendengar semua perkataan om Arif , Ellen menjadi lega dan bahagia, namun berbeda dengan Ellen, om Arif berfikir bahwa mungkin sudah saatnya Ellen meneruskan jabatan almarhum ayahnya, jika nanti dia menikah pasti da suaminya yang menjaganya.
setelah memutuskan panggilan telepon dari om Arif, Ellen segera mengirimkan pesan whatsapp kepada Dante, tentang apa yang sudah om Arif katakan kepada Ellen.
Dante tersenyum bahagia membaca pesan dari sahabat kecilnya yang kini akan menjadi calon istrinya, Dante tak pernah berfikir jika jodoh akan sesempit ini.
__ADS_1