
Maya menginap dikamar hotel Arin. Rencana Maya selanjutnya adalah besok Maya akan berpura pura seakan akan Maya telah diculik oleh orang yang tak dikenal. Arin hanya menganggukkan kepala menuruti semua yang akan dilakukan oleh Maya.
Rasanya tak sabar banget menunggu esok hari. Maya menghempaskan tubuhnya yang capek diatas kasur. Sementara Arin keluar untuk membeli sesuatu.
Disaat Arin akan menuju kamarnya, Arin melihat sosok Arman.
Arin :"Itu seperti suami Maya deh. Gak salah lagi gue. bener-bener sampek segitunya yak...."
Arin menggelengken kepalanya karena melihat Arman yang tampak murung dengan pakaian acak-acak an rambut berantakan.
Arin segera kembali kekamar untuk memberitahukan kepada Maya apa yang baru saja ia lihat.
CEKKKLEEKK
Arin :"May... May.... Gue baru lihat suami lho yang serba acak acakan berada dilobi hotel kayak orang hilang. Apa lho gak kasihan ama tu orang?" (Berbicara dengan nada cepat dan ngos ngosan)
Maya :"Masuk tuh ucap salam dulu kalee !" (Dengan santai)
__ADS_1
Arin :"Maaf, wa'alaikumsalam. Tadi buru-buru May maklum lah."
Maya :"Hahahaha... Woy salah salam lo ! Lo lihat suami guwe kayak habis lihat setan aja gugup banget kelihatannya. Woles... Selow..."
Arin :"Udah gak perlu bahas salam gue. Assalamualaikum... Udah puas loo...?"
Maya :"Waalaikumsalam....Nah gitu dong."
Maya melanjutkan rebahannya dengan memejamkan matanya.
Arin :"Kok loo santai banget sih May? Apa kamu gak kasihan sama suami lo yang kek orang gak punya mak dan anak terlantar gitu?"
Maya :"Asal lo tau ya Rin... Gara - gara dia masa depan gue hancur tak terarah, gara-gara dia bokap gua jatuh sakit, gara gara dia cita-cita gue musnah dan gara-gara dia gue jauh banget dari keluarga gue sendiri. Gue hubungin tante gue sendiri aja harus ngumpet-ngumpet. (Tak tahan lagi membendung buliran kristal bening yang jatuh dari pelupuk mata Maya yang indah itu)
Arin mendekati Maya dan memeluk erat tubuh Maya. Maya makin tak kuasa membendung tangisnya itu. Ambyarlah sudah tangisannya sekarang.
Arin membiarkan Maya menangis, karena dengan begitu mungkin bisa meringankan kesedihan yang selama ini Maya simpan Maya pendam dalam hati yang terdalamnya.
__ADS_1
Arin sangat paham kondisi Maya yang sekarang. Setelah beberapa menit menghempaskan air matanya yang selama ini ia tahan ia simpan, Arin mencoba menenangkannya.
Arin :"Bersabarlah May... Hanya itu yang bisa kulakukan untuk mendukungmu. Istirahatlah ! Persiapkanlah dirimu untuk esok hari. Mungkin esok hari akan melelahkanmu. Lelah karena berpura-pura depan Arman."
Maya :"Hahaha....Bener juga kamu Rin."
Maya pun merebahkan tubuhnya dan memeluk erat guling. Arin pun juga merebahkan tubuhnya disamping Maya. Mereka saling berhadapan.
Maya:"Rin...Terimakasih atas semuanya ya...! Aku baru kenal kamu tapi aku sudah banyak merepotkanmu."
Arin :"Kamu ngomong apa sih May...Kita kan temen, jadi aku menjalankan kewajibanku sebagai teman yang baik."
Maya :"Terimakasih...Good night Rin..."
Arin :(Tersenyum)"Good night too May."
Mereka berdua tidur dengan nyenyak dan pasti mereka bermimpi yang indah.
__ADS_1
Sementara Arman....?
Arman kebingungan mencari keberadaan Maya. Semalaman Arman tak bisa tidur. Apalagi tidur nyenyak, makan pun ia sama sekali tak berselera. Dia terus membayangkan Maya. Dan memikirkan perusahaannya kedepannya.