
Sinar sang surya menerangi kamar hotel Arin. Dua gadis, salah ya... yang satu gadis yang satu sudah menikah. Ya... Meskipun terpaksa harus menikah. mungkin ini udah takdir. Aaahh...Sudah....Sudah.... Kita lanjut cerita.
Maya langsung bertindak untuk melanjutkan permainan yang telah dirancangnya itu. Meskipun terlihat sederhana, yang penting Arman terlihat kek orang terbego karena cinta Maya.
Bermake up ala ala orang teraniaya. Berjalan sempoyongan.Masih pagi, belum ada orang yang beraktivitas ditaman hotel itu. Dikursi taman dekat hotel,sudah ada pria kekar tapi rapuh itu terlihat lesu dan acak acakan.Kemungkinan besar dia semalaman duduk lesu ditempat itu. Maya pun lewat dekat Arman berteriak teriak kecil meminta tolong.
"Tolong....Tolong...Tolong...."(Bersuara lirih, seakan terlihat kesakitan dan tak bertenaga)
Beberapa kali terdengar oleh Arman. Dia langsung terlonjak dari tempat duduknya. Dia tau persisi siapa yang bersuara lirih itu.
Arman pun langsung mencari sumber suara. Dengan cepat dan sigap Arman menghampiri Maya yang terduduk lemes direrumputan taman.
"Maya.....! Sayang kenapa dan apa yang sebenarnya sudah terjadi padamu?" (Tanya Arman gugup)
Belum merespon pertanyaan Arman, Maya lagi-lagi pura-pura pingsan untuk memantapkan permainannya.
Tanpa pikir panjang, Arman mengangkat tubuh kecil mungil yang berpura-pura lemes itu masuk kekamar VIP nya.
__ADS_1
Sampai kamarnya, Arman mengganti pakaian Maya yang sudah bau kumuh itu dengan sabar. Maya pun tak merespon dan hanya bisa berfokus berpura-pura untuk melemaskan tubuhnya. Sesekali Arman mencium lembut tubuh Maya dengan dangat berhati-hati.
"Kenapa pria bangka ini malah jadi seperti peri man sih....! Hatiku merasa kek berdosa membohonginya kek gini. Aaahh...Apa peduliku pada dirinya, aku harus tetap melanjutkan permainan ini sampai goal. Apapun hasilnya nanti aku terima konsekoensinya..." (Gumam dalam benak hati Maya)
"Kenapa hatiku tak karuan seperti ini siihhh....Seakan akan kek mau luluh karena prilakunya yang berubah sebaik seperhatian ini. Ini hanya pura-pura, belum beneran. Kalau beneran...? Malah kek mana dia, apa dia semakin gila..." (Lagi-lagi bergumam falam hatinya, berusaha menyimpan kebaperan atas sikap Arman.)
Selesai membersihkan tubuh Maya dengan penuh perhatian, Arman menghubungi pihak retaurant seperti biasa. Setelah itu Arman mengurus tubuhnya sendiri.
"Jangan kemana-mana dulu ya sayang, badanmu masih sakit-sakit semua kan...! Aku tinggal mandi dulu...Emmmuuaach..." (Kecupan manis dipunggung Maya)
Sejak memulai permainannya Maya, Arin terus memantau dari balik kamar hotel.
Mulut Arin terus berkomat kamit untuk kesuksesan Maya. Meskipun dengan cara yang tidak baik, mungkin itu yang bisa membuat Maya puas.
"Sumpah gila lo May... Aku sedari tadi melihat lo dari balik jendela kamar. Tau gak, gue sedari tadi berkomat kamit tak jelas. Semoga kamu segera mengakhirinya dan tak berpura-pura." (Isi pesan Arin)
Maya pun membalasnya dengan ucapan terimakasih atas segala pertolongan Arin. Tanpa Arin, permainan ini tidak semulus yang dipikirkan. Demi menghempaskan sang bodyguard tolil itu. Tak lupa juga menghapus pesan Arin.
__ADS_1
Ting...Tong...
Bunyi bel pintu depan, pertanda makanan sudah datang. Maya berjalan lemes dan pelan. Belum sampai pintu, Arman menghampiri merangkul pundak Maya. Mendudukkan Maya disofa dan mencium kecil kening Maya.
Arman meninggalkan Maya dan membuaka pintu. Tanpa basa basi, Arman menerima meja makanan itu, dan menuntun Maya sambil mendorong meja makanan itu ketempat makan dengan sangat hati-hati.
Dibayangkan saja sudah sangat romantis bukan, apalagi aslinya cobak. Sudah lah May... Terimalah Arman dengan hatimu, meskipun sudah nama lain tapi ntar lama-lama kamu baper terus loooo....
Apaan sih thor...
Eeehhh... Terserah yang nulis dong, Maya kan hanya ngikut Authornya gak noleh protes kan....
kita lanjut ke episode selanjutnya.
TERIMAKASIH PARA READERSKU YANG MASIH SETIA DENGAN NOVEL "CINTA MAYA".
MAAF AUTHORNYA LAGI SIBUK DIDUNIA NYATA, SAMPEK LAMA BANGET UNTUK UPDATE NYA.
__ADS_1