
Iren tersenyum menatap Liam.
''Kopi itu pasti untuk Leon kan ?'' tanya Iren sambil memegang dada Liam yang terbungkus kemeja.
Liam menepis tangan Iren yang berada di dadanya.
''Ada perlu apa Kau datang kemari ?'' tanya Liam menatap dingin Iren.
Iren tersenyum dan kembali melangkah mencoba menggoda Liam.
Liam memejamkan matanya saat Iren mengelus dada Liam yang masih terbungkus Kemeja yang di pakainya.
Iren tersenyum saat menatap Liam yang memejamkan matanya.Iren mengambil cangkir kopi yang di pegang oleh Liam,dan diletakkan di atas galon.Dengan Liar Iren mencium bibir Liam.Liam yang terbawa suasana membalas ciuman dari Iren.Sebagai Lelaki normal liam tergoda dengan penampilan Iren.
Liam memegang Pinggang Iren,tangan Iren tidak tinggal diam,Ia membuka kancing kemeja yang di pakai oleh Liam.Iren mengelus sensual dada Liam yang tidak terbungkus kemeja lagi.
Lidah Iren dan Liam saling membelit,Mereka bertukar saliva.tangan Iren memegang tangan Liam agar Liam memegang buah dadanya yang masih terbungkus kaos yang di kenakan Iren.
''Eung ,'' lenguh Iren di sela-sela ciumannya saat tangan liam yang di tuntun Iren meremah buah dadanya.
__ADS_1
Mata Liam terbuka saat Iren akan melepas gesper yang di pakai Liam,Liam memegang tangan Iren yang akan melepas gesper yang di pakainya.
''Maaf ,'' ucap Liam sambil berlalu pergi dan mengancingkan kembali kemeja yang di buka Iren tadi, dan tidak mempedulikan kopi yang di buatnya tadi,Ia mengumpat kesal dirinya sendiri yang sudah tergoda dengan godaan dari Iren.
Iren tersenyum menatap kepergian Liam yang keluar dari pantri hingga punggung Liam menghilang di balik pintu.Iren mengambil cangkir yang berisi kopi yang ada di atas galon.
Iren membuka tas miliknya dan mengambil botol obat yang berisikan cairan bening,lalu Ia memasukkan dua tetes ke dalam kopi itu.Setelah itu Ia kembali memasukkan Botol obat itu ke dalam tasnya lagi. Dengan gaya anggunnya Ia keluar dari pantri dengan secangkir kopi yang ada di tangannya.
''Maaf Nona,Nona mau kemana ?'' tanya Nindi saat melihat Iren akan masuk ke dalam lift khusus Ceo.
''Aku ingin ke ruangan Kakak Ku ,'' jawab Iren tersenyum manis menatap Nindi.
Iren terdiam.
''Sial,pergi kemana Dia,bisa gagal rencanaKu kalau begini ,'' ucap Iren dalam hati. ''Tak ada Leon,Liam pun jadi,mumpung tak ada Mama ,'' ucapnya lagi dalam hati.
''Nona ,'' panggil Nindi yang melihat Iren diam saja.
Iren tersadar dari lamunannya,Ia pun kembali tersenyum menatap Nindi yang ada di hadapannya.
__ADS_1
''Kalau Liam apa ada di ruangannya ?'' tanya Iren penuh harap kalau Liam ada di ruangannya.
''Maaf Nona,Pak Liam juga ikut pergi dengannya ,'' jawab Nindi.
''Sial ,'' umpat Iren dalam hati yang mengetahui incarannya juga ikut pergi.
''Kalau begitu ini kopi untuk Kamu,mubajir kalau di buang ,'' ucap Iren sambil menyodorkan cangkir kopi itu ke hadapan Nindi.
Nindi tersenyum senang saat menerima cangkir kopi yang di berikan Iren tanpa tahu kalau kopi itu di beri obat perangsang.
Iren yang kesal pun berlalu pergi keluar dari kantor, tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi nantinya pada Nindi setelah Ia meminum kopi pemberian darinya.
...****************...
Sedangkan Leon berada di dalam mobil.
''Kau liar juga Liam ,'' sindir Leon sambil tersenyum menyeringai menatap Liam yang ada di depan samping pak supir.
Liam tertegun dan menoleh menatap Leon yang tersenyum menyeringai ke arahnya,
__ADS_1
''Sial,apa Leon tahu Aku berciuman dengan Iren ,'' ucap Liam dalam hati,kembali menoleh menatap leon yang kembali fokus melihat tablet yang ada di tangannya.