
Kirana merasa malas untuk berangkat kerja.
Dia malas karena dia tau kalau nanti di tempat kerja pasti akan bertemu dengan penipu yang telah semalam hampir mencelakai nya.
Tapi lagi lagi.
Kirana adalah gadis yang bertanggung jawab.
Dia tidak mau mencampur adukan masalah pribadi nya dengan pekerjaannya.
"Huh! Aku harus bisa"
"Semangat!"
Kirana berangkat ke tempat kerja dengan memantapkan hati nya.
"Hidupku harus terus berjalan, aku tidak mau hanya karena orang orang munafik yang jahat padaku menghancurkan nya begitu saja"
Kirana duduk di bangku kerja nya.
Tiba tiba datang teman Kirana yang kemarin mengajaknya pergi.
"An" Sapa nya.
"Aku minta maaf atas kejadian semalam" Kata nya lagi.
"Aku tidak me per masalah kan nya,tapi mulai hari ini kumohon jauhi aku!" Ketus Kirana.
Kirana benar benar tidak mau ber urusan dengan orang orang seperti mereka.
Itu hanya akan membuat hidupnya menjadi hitam kelam.
"Stt..,stt..Kirana!" Tiba tiba terdengar suara memanggil nya.
Kirana menoleh ke arah suara itu.
"Iis? Kenapa?" Tanya Kirana sambil mengerutkan alisnya.
"Nanti makan siang bareng ya" Kata Iis teman kerja Kirana.
"Oke,baiklah" Balas Kirana.
Kirana lalu kembali ke pekerjaan ya.
Dia tau, untuk masuk di perusahaan ini sangat lah sulit.
Maka dari itu dia tidak akan menyia nyiakan nya hanya karena mereka orang orang munafik.
Jam makan siang pun tiba.
Kirana dan Iis pergi ke kantin kantor untuk makan siang bersama.
"Tumben,kenapa?heh?" Tanya Kirana.
"Tadi dia kenapa?kenapa aku melihat tadi dia seperti minta maaf padamu" Tanya Iis.
"Oh,tadi?nggak pa pa koq" Jawab Kirana sambil menikmati makan siangnya.
"Kau ini selalu seperti itu ya! Apa apa selalu di sembunyikan!sebal!" Ketus Iis.
"Kalau itu tidak ada hubungannya denganmu,kenapa kau harus tau" Jawab Kirana sambil tersenyum.
Kirana! Kau memang seperti itu! Selalu saja semua di hadapi sendiri. Kau memang wanita kuat
"Kau mengajaku makan siang bersama hanya ingin menanyakan itu ?" Tanya Kirana.
__ADS_1
"O iya,aku sampai lupa!" Pekik Iis sambil tertawa.
"Aku mau curhat padamu" Kata Iis.
"Tentang apa?kau sudah punya pacar baru?" Tanya Kirana.
"Ya ampun,kau seperti peramal ya! Aku bahkan belum cerita tapi kau sudah tau!" Pekik Iis.
"Memang apa masalah terhebohmu selain masalah cowok?" Ejek Kirana.
"Beberapa hari yang lalu aku di kenalkan oleh seorang cowok! Dia sangat manis dan baik" Iis mulai bercerita.
"Siapa?" Tanya Kirana.
"Aku tidak tau apa maksutnya,tapi dia mengajaku berkencan! Padahal kami baru saja berkenalan" Jawab Iis.
"Apa dia mau menembaku ya? kirana bantu aku ya" Rengek Iis.
"Bantu apa? Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku" Jawab Kirana.
"Siapa namanya?" Tanya Kirana.
"Namanya Candra!" Jawab Iis semangat.
Hukk..,hukk!!
Kirana,mendadak tersedak mendengar Iis menyebut nama itu.
"Na,kau kenapa?ini minum dulu" Kata Iis panik.
Kirana mengambil nafas panjang.
Hatinya kembali merasa sesak.
Kirana mencoba menebak nebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa Candramu seperti ini ?" Tanya Kirana sambil memperlihatkan foto profil dari nomor Candra.
"Kau? Kau kenapa punya nomor nya?" Pekik Iis.
Benarkan dugaanku!
Kirana hanya tersenyum pura pura tidak tau.
"Dia..,aku tidak kenal! Aku pergi dulu! Jam makan siang sudah habis!" Kata Kirana sambil berlalu pergi meninggalkan Iis.
Kirana merasa di permainkan oleh nasib.
Bagaimana tidak?
Selama ini dia berusaha melupakan kepahitan tentang nya.
Tapi saat semua mulai normal.
Dia kembali muncul.
Parahnya,dia kini mendekati temanku.
"Dasar gila! Apa belum puas dia menyakitiku?"
"Masalah dia kan awalnya dengan Vita, kenapa aku yang menjadi sasaran"
Kirana merasa sangat marah.
Dia merasa tengah di teror Candra.
__ADS_1
Sementara itu, Iis yang tengah bingung dengan kelakuan Kirana masih tidak mengerti.
"Dia kenapa sih?" Gumam Iis.
Sejak saat itu, Kirana merasa risih bila dekat dengan Iis.
Bagaimana tidak?
Setiap kali bertemu dengan Kirana, Iis selalu bercerita tentang Candra.
Ingin sekali Kirana menutup telinganya.
Ujian apa ini Tuhan?
Kirana berusaha menghindari Iis.
Tapi sering kali masih saja bertemu.
Kirana khawatir,kalau Iis akan bernasib sama seperti nya.
Mendengar cerita Iis yang hanya bercerita tentang kedekatannya saja.
Tapi belum pernah Iis bercerita kalau dia sudah berpacaran.
Kirana merasa iba.
Sakit yang dia rasakan bahkan belum hilang sampai sekarang.
Kirana berjalan sambil termenung.
Tiba tiba
Plak!!
"Hei!!jangan melamun!" Tegur Catur tiba tiba datang dan menepuk bahunya.
"Kau ini selalu mengagetkanku!" Ketus Kirana.
"Heee,maaf" Jawab Catur.
"Kau masih memikirkan Candra?" Tanya Catur.
"Tidak!untuk apa aku memikirkannya?" Ketus Kirana.
"Sebenarnya kemarin aku bertemu Candra,dan dia bertanya tentang keadaanmu" Kata Catur.
"Dia khawatir kau akan sedih saat dia meninggalkanmu" Kata Catur.
"Huh! Memangnya dia siapa?! Sampai aku harus meratapinya!" Kata Kirana.
"Kalau kau bertemu dengannya lagi, tolong sampaikan padanya! Katakan kalau aku tidak lagi membutuhkannya! Dan aku telah menganggapnya mati! Sehingga tidak perlu bagiku untuk memikirkannya lagi!" Cecar Kirana geram dan pergi meninggalkan Catur.
Catur tercengah melihat Kirana marah.
"Kenapa aku yang di maki?"
"Dasar Kirana! Aku kan hanya menyampaikan pesan" Gumam Catur.
Kirana benar benar tidak mengerti pada sikap Candra.
"Kenapa dia menerorku seperti ini?"
"Kalau dia memang sudah meninggalkanku,ya sudah pergi saja yang jauh! Kenapa sampai sekarang aku merasa dia terus ada di sekelilingku"
Oh Tuhan, jika memang dia bukan takdir ku. Maka tolong jauhkan aku dari segala apapun tentangnya. Biarkan aku menjalani hidupku dengan normal
__ADS_1